Ekonomi

Penyebab Inflasi, dari Cabai Hingga Terlalu Banyak Uang

Ajaib.co.id – Segala sesuatu ada penyebabnya. Begitu pula dengan inflasi. Inflasi tidak terjadi begitu saja. Ada sejumlah faktor penyebab inflasi.

Inflasi merupakan meningkatnya harga secara signifikan yang disebabkan karena banyak faktor.

Faktor-faktor apa sajakah yang bisa menyebabkan terjadinya inflasi? Nah, berikut adalah beberapa penyebab inflasi:

Meningkatnya Permintaan (Demand Pull Inflation)

Peningkatan permintaan untuk jenis barang/jasa tertentu dapat menyebabkan naiknya inflasi. Peningkatan permintaan jenis barang/jasa di sini terjadi secara menyeluruh (agregat demand).

Saat permintaan terhadap barang/jasa naik, namun stok atau suplai terbatas, pasti akan terjadi kenaikan harga barang/jasa tersebut.

Beberapa tahun lalu, contohnya, harga cabai rawit merah di tanah air sempat menembus Rp120 ribu per kg. Saat itu, harga cabai rawit merah nyaris setara dengan harga daging sapi.

Kala itu, faktor penyebab harga cabai rawit membumbung tinggi karena terbatasnya stok. Pasokan yang terbatas ini akibat gangguan cuaca.

Cabai rawit termasuk kebutuhan masyarakat yang biasanya dimanfaatkan sebagai bumbu masak. Jadi, meski harganya naik cukup signifikan, permintaannya tetap tinggi.

Tidak sedikit pengusaha warung makan, restoran, katering dan sebagainya memborong cabai rawit merah karena khawatir barang tersebut semakin langka dan harganya makin tak terkendali. Hal inilah yang turut meningkatkan inflasi.

Tapi, bagi sebagian orang, kenaikan harga cabai rawit merah cukup berdampak. Dalam sehari, misalnya, seorang ibu rumah tangga dengan tingkat ekonomi menengah biasa membeli seperempat kg cabai rawit merah seharga Rp5.000.

Setelah harga cabai rawit merah melonjak, nilai uang yang sama hanya mendapat sejumput cabai yang bisa dihitung jumlahnya. Dengan kata lain, konsumsi masyarakat ikut merosot lantaran harga cabai rawit merah meroket kala itu.

Tak hanya makanan, barang atau jasa juga bisa mengalami hal serupa dengan yang menimpa cabai rawit merah.

Badan Pusat Statistik (BPS) setidaknya menghitung inflasi dari sejumlah kelompok pengeluaran masyarakat antara lain makanan, perumahan, air, listrik, gas, bahan bakar, kesehatan, pendidikan dan sebagainya.

Naiknya permintaan terhadap barang juga bisa terjadi waktu-waktu tertentu, seperti menjelang hari raya Idul Fitri. Peningkatan permintaan menjelang Idul Fitri belum tentu bisa diimbangi dengan penawaran karena berbagai hal.

Contohnya sebagian penjual justru berhenti berdagang sementara karena ingin libur. Ini pula yang bisa mendongkrak inflasi.

Meningkatnya Biaya Produksi (Cost Pull Inflation)

Inflasi juga bisa disebabkan karena adanya suatu dorongan kenaikan biaya produksi. Kenaikan biaya produksi ini berlangsung dalam jangka waktu tertentu secara terus-menerus.

Salah satu latar belakang meningkatnya biaya produksi ialah turunnya jumlah nilai tukar mata uang dalam negeri dengan mata uang asing atau depresiasi.

Kondisi ini menyebabkan harga barang impor menjadi lebih mahal daripada biasanya. Harga barang domestik yang menggunakan bahan baku impor pun turut terkerek naik.

Naiknya harga bahan bakar juga bisa memicu naiknya biaya produksi. Biasanya, produsen akan mengalihkan beban ke konsumen akibat meningkatnya harga bahan bakar. Begitu pula dengan perubahan harga bahan baku.

Umumnya, naiknya harga bahan baku disebabkan oleh kelangkaan bahan baku tersebut (hukum supply-demand).

Kenaikan pajak atau cukai juga bisa mendorong kenaikan biaya produksi. Ketika bea cukai rokok meningkat, misalnya, masyarakat perlu mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli rokok.

Adanya tuntutan kenaikan upah pekerja juga bisa menyebabkan terjadinya inflasi. Kondisi ini akan membuat biaya opersional dalam memproduksi barang atau jasa menjadi naik seiring dengan meningkatnya upah para pekerja sebagai ciri-ciri ekonomi konvensional.

Jumlah Uang yang Beredar Terlalu Banyak (Quantity Theory Inflation)

Bukan rahasia lagi bahwa utang Indonesia masih sangat banyak. Lalu, kenapa Bank Indonesia (BI) tidak mencetak uang yang banyak guna melunasi utang tersebut?

Justru, mencetak banyak uang dan mengedarkannya ke masyarakat melebihi kebutuhan bisa membuat ekonomi terganggu.

Pasalnya, jumlah uang yang beredar sangat memiliki peran dalam menentukan nilai mata uang tersebut. Bila masyarakat memegang terlalu banyak uang, namun di saat bersamaan jumlah barang yang dijual tetap atau lebih sedikit, maka harga barang akan melonjak.

Logikanya, jika uang beredar dua kali lipat, maka harga barang pun akan ikut naik dua kali lipat.

Struktur Ekonomi yang Kaku (Structural Theory Inflation)

Inflasi akibat struktur ekonomi yang kaku berkaitan dengan pertumbuhan penduduk. Inflasi ini terjadi saat produsen tidak bisa mencegah dengan cepat kenaikan permintaan yang diakibatkan oleh pertumbuhan penduduk.

Pada akhirnya, permintaan sulit terpenuhi saat terjadi pertumbuhan jumlah penduduk.

Campuran (Mixed Inflation)

Inflasi ini terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan. Sebagai ilustrasi, terjadi peningkatan permintaan pada barang/jasa A. Namun, persediaan barang/jasa A turun. Di saat bersamaan, pengganti atau substitusi barang/jasa A terbatas atau bahkan tidak ada.

Ketidakseimbangan ini akan mengakibatkan terjadinya inflasi. Bila terjadi kesenjangan yang tinggi di antara permintaan dan penawaran, inflasi ini sulit diatasi dan dikendalikan.

Dinamika Politik serta Ekonomi Dalam dan Luar Negeri

Kondisi politik dan pemerintahan dalam negeri krusial terhadap laju inflasi. Stabilitas politik menimbulkan dampak di bidang lain, termasuk ekonomi. Lazimnya, produsen akan menaikkan harga barang dan jasa jika terjadi ketidakstabilan politik yang cukup masif.

Dinamika politik dan ekonomi luar negeri juga bisa jadi faktor penyebab terjadinya inflasi di negara lain. Hal ini karena berhubungan dengan jumlah ekspor dan impor serta investasi asing di negara tersebut.

Satu hal yang pasti, inflasi adalah sesuatu yang wajar terjadi. Inflasi merupakan gejala ekonomi yang tidak bisa dihilangkan secara tuntas. Yang harus diperhatikan, inflasi akan memberi dampak yang besar jika tidak segera dicarikan solusi untuk mengendalikannya.

Artikel Terkait