Ekonomi

Penjelasan Hukum Riba dan Kiat Investasi Saham Syariah

Hukum riba
Hukum riba

Ajaib.co.id – Hukum riba dalam Islam adalah haram. Bagaimana penjelasannya dan penerapan soal investasi saham syariah? Cek di bawah ini. Berdasarkan bahasa Arab, riba adalah az ziyadah yang artinya penambahan. Arti lainnya, Riba merupakan kegiatan yang mengambil nilai tambah dan memberatkan dari suatu akad perekonomian.

Menurut Syaikh Abu Bakar Jabir al Jazairi di Kitab Minhajul Muslim sekaligus mantan pengajar tetap di Masjid Nabawi, riba adalah penambahan sejumlah harta bersifat khusus, detik.com (12/08/2020). Dalam kegiatan ekonomi, seperti meminjam uang, riba merujuk pada kelebihan pengembalian dari jumlah uang pokok pinjaman.

Misal Pak Tarno pinjam uang Rp1 juta pada pihak A, syaratnya pinjaman bunga 10 persen. Jadi ia harus mengembalikan sejumlah Rp1,1 juta. Dalam Islam, hal tersebut adalah haram. Namun bagaimana jika ingin investasi tetapi tidak terkena hukum riba? Sebenarnya cukup mudah menghindari hukum riba dalam investasi.

Kamu cukup mengikuti imbauan Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Dewan Syariah Nasional (DSN). Pada fatwa Nomor 40/DSN-MUI/X/2003 tentang Pasar Modal disebutkan bahwa investasi di pasar modal adalah halal. Dengan syarat investasi harus dijalankan sesuai prinsip syariah.

Dalam Bab III Pasal 3, Emiten atau Perusahaan Publik yang bermaksud menerbitkan Efek Syariah wajib untuk menandatangani dan memenuhi ketentuan akad yang sesuai dengan syariah atas Efek Syariah yang dikeluarkan. Jenis kegiatan emiten juga tidak boleh bertentangan dengan prinsip syariah. Seperti perjudian, produsen minuman haram, lembaga keuangan konvensional, dan lainnya.

Kiat Investasi Saham Syariah

Investasi saham syariah sama seperti saham konvensional. Hanya saja dalam proses, pemilihan, dan transaksi saham berdasarkan syariat Islam. Namun yang jadi pertanyaan, jika prinsip syariah tidak mengenal hukum riba, dari mana keuntungan yang diperoleh investor?

Jawabannya sama seperti saham konvensional, yaitu capital gain dan dividen. Capital gain kondisi di mana harga saham jual lebih tinggi dari harga beli. Sedangkan dividen adalah bagi hasil yang berasal dari perusahaan karena kinerja perusahaan mencatatkan laba. Meski demikian tidak semua perusahaan yang membukukan laba membagikan dividen.

Dalam investasi saham syariah, ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan agar memperoleh untung dan tetap berkah di jalan Allah, yaitu:

●      Rekening Efek Syariah

Rekening efek wajib dimiliki oleh investor saham. Jika ingin investasi saham bebas hukum riba, kamu harus membuat rekening efek syariah di perusahaan sekuritas syariah. Karena jika rekening telah siap digunakan, kamu akan melakukan transaksi pasar modal dengan sistem syariah. Perusahaan sekuritas yang berprinsip syariah di antaranya Mandiri Sekuritas, BNI Sekuritas, dan Mirae Asset Sekuritas Indonesia.

●      Indeks Saham Syariah

Salah satu cara untuk mempermudah kamu dalam membeli saham syariah adalah melihat indeks saham syariah. Seperti Jakarta Islamic Index (JII), Index Saham Syariah Indonesia (ISSI), dan Jakarta Islamic Index 70 (JII70). Pada perdagangan saham konvensional ISSI sama seperti indeks LQ45.

Namun emiten yang berada pada sistem syariah telah dipastikan sahamnya halal. Bahkan bisnis emiten tidak ada transaksi meragukan (gharar), spekulatif, judi (termasuk margin trading), tak ada keterlibatan bank konvensional, perusahaan tidak menjalankan bisnis haram (memproduksi, mendistribusikan, dan menjual minuman beralkohol, rokok, dan lainnya), dan pastinya bebas riba.

●      Memperdalam Seputar Saham

Sebagai investor saham, memperdalam ilmu dan informasi seputar saham adalah suatu kewajiban. Dengan hal tersebut kamu bisa memilih emiten yang tepat atau menghindari saham gorengan. Sehingga kamu akan mendapatkan keuntungan optimal.

Memperdalam ilmu saham tak bisa dilakukan dalam sehari, tetapi luangkan waktu satu-dua jam setiap hari untuk mempelajari analisis fundamental seperti laporan keuangan masing-masing perusahaan. Laporan itu bisa diakses di laman Bursa Efek Indonesia (BEI). Pelajari PER, EPS, BV, perkembangan perusahaan, pertumbuhan industri, dan lainnya.

Selain itu, pelajari juga analisis teknikal untuk mengetahui tren saham naik (uptrend) atau turun (downtrend) dan melihat pergerakan saham dari waktu ke waktu. Satu lagi, tak ada salahnya membaca buku atau menyimak video edukasi dari Ryan Filbert, Ellen May, TICMI, bergabung dalam forum atau grup WhatsApp sesama investor, dan masih banyak lagi.

Investasi Syariah Lain

Selain saham, masih ada investasi lain yang berbasis syariah. Investasi tersebut bisa kamu gunakan untuk tujuan jangka pendek hingga panjang.

●      Reksa Dana Syariah

DSN-MUI telah mengeluarkan fatwa mengenai reksa dana syariah. Jadi bisa dipastikan bahwa semua produk reksa dana syariah bebas riba, masyir, dan ghahar dalam pengelolaan sekaligus pembagian keuntungannya.

Reksa dana syariah juga telah melewati proses cleansing, yang tak ada di reksa dana konvensional. Dengan kata lain, produk sudah dibersihkan dari hal-hal yang tidak sesuai prinsip syariat Islam. Sehingga reksa dana syariah merupakan produk investasi halal.

●      Surat Berharga Syariah Negara

Surat Berharga Negara (SBN) atau obligasi juga ada yang berbasis syariah. Surat-surat yang diperdagangkan berasal dari produk-produk halal, data transparan, sehingga aman untuk investasi syariah.

Buat kamu yang ingin investasi reksa dana maupun obligasi syariah, cek di Ajaib. Aplikasi tersebut memungkinkan kamu memilih jenis investasi sesuai dengan tujuanmu. Produknya pun beragam, mulai dari konvensional hingga syariah. Dan Ajaib telah berizin dari OJK.

●      Logam Mulia

Logam mulia atau biasa disebut emas juga memiliki metode pembelian secara syariah. Fatwa MUI pun telah memberikan lampu hijau terhadap transaksi emas. Investasi emas tanpa riba bisa dilakukan dengan cara:

–         Tabungan emas di Pegadaian Syariah.

–         Membeli emas di bank syariah.

Harga emas PT Antam per gram pada 25 Oktober 2020 sebesar Rp1.009.000, CNBCIndonesia.com (03/10/2020). Harga tersebut telah naik sebanyak Rp247.000, jika dibandingkan harga per gram pada 1 Januari 2019 sebesar Rp762.000.

Artikel Terkait