Pengertian yang Benar Soal Wajib Pajak Adalah Berikut Ini

wajib pajak adalah
wajib pajak adalah

Wajib pajak adalah mereka yang membayar pajak. Apa pengertian Wajib Pajak sesederhana itu? Untuk mendapatkan jawabannya, simak ulasan redaksi Ajaib berikut ini.

Kita semua pasti sudah pernah mendengar frasa “Wajib Pajak”, tidak terkecuali para milenial. Frasa ini sering sekali digaungkan seiring berkembangnya kampanye untuk taat kepada peraturan pajak. Namun, tidak sedikit orang yang sebenarnya paham definisi dari frasa ini. Lalu, apa pengertian yang sebenarnya dari “Wajib Pajak”?

Menurut Undang-undang

Menurut Undang-Undang Perpajakan tahun Nomor 6 tahun 1983 yang diperbarui dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Lalu, apa definisi dari pajak itu sendiri? Pengertian dari pajak berdasarkan Undang-Undang KUP Nomor 28 Tahun 2007 Pasal 1 Ayat 1 Wajib Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Tidak sedikit orang yang memaknai Wajib Pajak sebagai orang pribadi atau badan sebatas melaporkan dan membayar pajak. Akibatnya, pengertian dan pemahaman akan hak dan kewajiban Wajib Pajak menjadi tidak jelas. Ditambah lagi dengan kemunculan asumsi yang beranggapan bahwa Wajib Pajak adalah hanya orang pribadi atau badan yang memiliki NPWP. Bagaimana menurut kamu, apakah asumsi ini benar?

Memahami Pengertian NPWP

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus memahami dulu pengertian dari NPWP. Menurut Undang-undang Perpajakan, NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) adalah nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang digunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajibannya. NPWP tidak akan berubah meskipun Wajib Pajak pindah tempat tinggal/tempat kedudukan atau mengalami pemindahan tempat terdaftar.

NPWP ini diberikan kepada Wajib Pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sebagaimana telah diatur dalam peraturan perundang-undangan perpajakan. Syarat subjektif pajak yaitu sesuai dengan kriteria subjek dari pembayaran dan syarat objektif pajak yaitu memiliki transaksi atau sumber pendapatan yang bisa dikenakan pajak.

Dengan adanya dua syarat ini, Wajib Pajak harus memiliki NPWP ketika akan membayar kewajibannya, termasuk membayar, memotong, dan memungut pajak. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pendataan dan pedokumentasian.

Asumsi yang Salah

Kembali ke pertanyaan, apakah benar Wajib Pajak adalah hanya mereka yang memiliki NPWP? Tentu saja asumsi ini salah. Tahukah kamu bahwa Wajib Pajak bisa jadi belum tentu memiliki NPWP?

Ya, Wajib Pajak juga termasuk pribadi yang belum atau tidak memiliki NPWP, contohnya seorang karyawan yang bekerja pada satu perusahaan tetapi tidak menginformasikan NPWP ke perusahaannya padahal menerima gaji setiap bulannya. Staff ini tetap disebut Wajib Pajak karena harus tetap membayar dan melaporkan pajaknya melalui perusahaan.

Wajib pajak yang seperti ini berkewajiban untuk melaporkan pajak pribadinya seperti yang telah tertulis di Undang-undang Perpajakan. Berdasarkan ketentuan pajak yang juga diatur dalam Undang-undang tersebut, Wajib Pajak yang tidak memiliki NPWP akan dipotong pajaknya lebih besar 20% dari jumlah pemotongan yang seharusnya.

Kemudian, banyak juga yang berasumsi bahwa Wajib Pajak adalah hanya mereka yang memiliki penghasilan di atas PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak). Padahal orang pribadi atau badan yang memiliki penghasilan di bawah PTKP tetap dianggap sebagai Wajib Pajak dan berkewajiban untuk melaporkan pajaknya.

Wajib Pajak Memiliki Wewenang Memungut Pajak

Asumsi keliru mengenai Wajib Pajak yang terakhir yaitu Wajib Pajak hanya untuk membayar pajak. Padahal, Wajib Pajak juga memiliki wewenang untuk memungut pajak, seperti bendahara atau staff pemegang kas, bahkan termasuk badan tertentu baik swasta atau pemerintah yang berkenaan dengan impor dan usaha produksi otomotif dan semen serta badan tertentu yang memungut pajak dari pembeli atas penjualan barang sangat mewah. Hal ini sendiri juga telah diatur dalam Undang-undang Perpajakan.

Bagaimana, sudah cukup memahami definisi pajak dan Wajib Pajak, ‘kan? Pengetahuan umum seperti ini harus kamu ketahui, ya! Generasi milenial bukan berarti generasi muda yang tidak tahu apa-apa.

Buktikan kalau kamu juga tidak tutup mata mengenai pengabdian kepada negara, termasuk urusan mengenai pajak ini. Jangan lupa juga untuk cek diri kamu apakah kamu termasuk Wajib Pajak atau bukan. Jika iya, jangan lupa untuk memenuhi hak dan kewajibanmu, ya! Mari menjadi warga negara yang taat dan tertib akan aturan negara.

Bacaan menarik lainnya:

Nurmantu, Safri. 2003. Pengantar Perpajakan. Kelompok Yayasan Obor: Jakarta.


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.  

Mulai Investasi Reksa Dana Dengan Ajaib.
Ayo bergabung dengan Ajaib, aplikasi investasi online terbaik! Bebas biaya pendaftaran, bisa tarik dana kapan saja. Modal awal min. Rp10.000.
Facebook Comment
Artikel Terkait