Banking

Mengenal Kurs Bank Indonesia dan Faktor yang Memengaruhinya

kurs bank indonesia

Ajaib.co.id – Sebagai Bank Sentral, Bank Indonesia sangat berperan dalam menstabilkan nilai rupiah. Lalu bagaimana dengan kurs Bank Indonesia? Apa saja jenisnya? Faktor apa saja yang memengaruhi? Begini penjelasannya.

Dalam pengoperasiannya, Bank Indonesia bertujuan memelihara nilai rupiah agar stabil. Untuk mencapai tujuan tersebut, Bank Indonesia harus menjalankan tiga tugas. Pertama, menetapkan sekaligus melaksanakan kebijakan moneter. Kedua, mengatur serta menjaga kelancaran sistem pembayaran. Ketiga, menjaga stabilitas sistem keuangan di Indonesia.

Tugas mengenai kebijakan moneter berkaitan erat dengan kurs. Di mana Bank Indonesia membuat kebijakan guna mengontrol peredaran jumlah uang, yang efeknya dapat memengaruhi nilai rupiah.

Idealnya, nilai rupiah stabil. Tetapi ada dua hal yang memengaruhi kestabilan rupiah. Mereka adalah barang dan jasa (melalui pergerakan inflasi) dan mata uang negara lain (melalui kurs atau nilai tukar).

Kurs Bank Indonesia merupakan nilai mata uang rupiah yang dinyatakan dengan nilai uang negara lain berdasarkan ketetapan Bank Indonesia. Dengan kata lain, Kurs Bank Indonesia adalah nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain yang menjadi acuan bagi seluruh aktivitas industri keuangan (perbankan, sekuritas, perusahaan pembiayaan, dan lainnya) di Indonesia.

Jenis Kurs Bank Indonesia

1. Kurs jual

Kurs ini digunakan oleh pihak bank untuk menjual mata uang negara lain atau valuta asing (valas) kepada nasabah. Kurs jual juga diberlakukan pada perusahaan money changer. Jika kamu ingin menukar uang rupiah dengan dolar Amerika Serikat (USD), pedoman harganya berdasarkan kurs jual. Biasanya, nilai kurs jual lebih tinggi dan lebih mahal dibanding kurs beli.

2. Kurs beli

Kurs beli dilakukan ketika pihak bank membeli uang asing yang dimiliki nasabah. Memang, ada selisih nilai antara kurs jual dan beli. Hal itu digunakan sebagai keuntungan jasa penukaran uang. Oleh karena itu, ada baiknya sebelum menukarkan uang cek kurs di beberapa bank serta money changer.

3. Kurs tengah

Antara kurs jual dan kurs beli disebut dengan kurs tengah. Perhitungannya adalah gabungan kedua kurs (kurs jual + kurs beli) dua (2). Kurs tengah berfungsi sebagai pencatat dan penghitung nilai konversi uang asing pada laporan keuangan perusahaan atau pembukuan transaksi serta pelaporan pajak.

Selain ketiga kurs di atas, ada juga kurs referensi yang mereferensikan harga pasar yang representatif untuk transaksi spot di pasar valas Indonesia.

Faktor yang Memengaruhi Kurs Bank Indonesia

Nilai tukar mata uang merupakan salah satu indikasi suatu negara memiliki kondisi ekonomi sehat atau tidak. Pergerakan kurs uang sangat fluktuatif. Bisa naik maupun turun. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa hal. Berikut ini faktor yang memengaruhinya:

1. Suku Bunga

Perubahan suku bunga berdampak pada nilai mata uang negara setempat terhadap nilai tukar USD. dengan kata lain, ini adalah peningkatan suku bunga menyebabkan mata uang negara kita terapresiasi. Pasalnya nilai suku bunga tinggi memberikan nilai tinggi kepada debitur. Hal tersebut menarik lebih banyak pemodal asing yang menyebabkan kenaikan nilai tukar.

2. Tingkat Inflasi

Sebuah negara dengan tingkat inflasi rendah daripada negara lain akan terlihat apresiatif dalam nilai mata uangnya. Hal ini dapat terlihat dari kenaikkan harga barang dan jasa bergerak lebih lambat.

Negara dengan tingkat inflasi lebih rendah secara konsisten menunjukkan peningkatan nilai mata uang. Sebaliknya, negara dengan inflasi lebih tinggi akan mengalami depresiasi pada mata uangnya dan biasanya disertai dengan tingkat bunga yang lebih tinggi.

3. Kondisi Politik & Ekonomi Negara

Investor luar tertarik menanamkan modalnya di negara yang stabil, tidak ada perang atau kekacauan politik, dan memiliki kondisi ekonomi cenderung stabil. Pada akhirnya, peningkatan modal asing akan berdampak terhadap apresiasi nilai mata uang domestik.

Begitu pula dengan kebijakan ekonominya. Negara dengan kebijakan keuangan dan perdagangan yang sehat tidak memberikan ruang bagi ketidakpastian nilai mata uangnya. Sedangkan negara yang tidak memiliki kejelasan pada kebijakan keuangan, ditambah lagi kondisi politik tengah bergejolak, kemungkinan besar nilai tukar mata uangnya tidak kuat.

4. Utang Negara

Faktor lain yang memengaruhi kurs Bank Indonesia adalah utang negara atau utang publik atau nasional yang dimiliki oleh pemerintah pusat. Terlebih jika utangnya menggunakan mata uang asing, dalam hal ini USD, berpengaruh terhadap pelemahan nilai tukar rupiah. Karena pengembalian utang juga berupa USD, bukan rupiah. Meskipun di sisi lain, utang negara dari investor asing untuk membiayai infrastruktur.

5. Kondisi Perdagangan

Kondisi perdagangan berpengaruh pada kurs mata uang. Karena hal itu merupakan rasio harga ekspor dan impor, berhubungan pada neraca pembayaran.

Kondisi perdagangan suatu negara akan membaik, jika harga ekspornya lebih besar daripada harga impornya. Artinya negara menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi besar pula, nilai mata uang naik, permintaan komoditas ekspor lebih tinggi, serta nilai mata uangnya pun meningkat.

6. Spekulasi

Spekulasi terjadi di mana-mana, termasuk yang berkaitan dengan kurs. Jika spekulan memperkirakan nilai mata uang suatu negara akan naik, investor mengharapkan keuntungan yang lebih besar dari mata uang tersebut. Akibatnya, nilai mata uang akan naik karena permintaan meningkat. Dengan demikian nilai mata uang negara itu pun meningkat. Namun hal itu bisa berubah sebaliknya.

7. Resesi

Tak terbantahkan, resesi membuat kurs suatu negara melemah. Negara yang mengalami resesi akan memiliki suku bunga rendah. Sehingga peluang memperoleh modal asing juga berkurang. Tak hanya itu, mata uang domestik melemah yang mengakibatkan kurs terhadap mata uang lain anjlok.

Semua faktor di atas dapat memengaruhi nilai tukar mata uang domestik. Tak terkecuali dengan kurs Bank Indonesia. Faktor tersebut bisa membantumu ketika ingin menukar mata uang domestik dengan mata uang asing.

Artikel Terkait