Saham

Ketahui Kapan “Bandar” Akan Beraksi di Pasar Saham

bandar-saham

Ajaib.co.id – Seringkali kita yang takjub akan fenomena terbang atau jatuhnya saham dalam satu waktu. Ada hari-hari di mana saham perbankan naik, lalu bersamaan dengan itu saham-saham di sektor mineral seperti batubara dan minyak turun. Ada gilirannya saham-saham sektor properti naik beriringan dengan saham sektor unggas dan konstruksi.

Tentu itu berhubungan dengan fundamental sektornya. Di samping itu juga ada Bandar yang bertugas untuk mengatur siklus supply dan demand saham untuk memastikan kenaikan laba bersih atau berita baik lainnya yang dialami perusahaan diketahui secara masal.

Saat Jadwal “Manggung” Emiten

Dalam pandangan seorang analis bandarmologi Bursa Saham tidak lain sama halnya seperti sebuah panggung pertunjukkan. Emiten-emiten dianalogikan sebagai performer/artis-artis yang siap “manggung” dan Bandar atau grup-grup perbandaran dianggap sebagai manajer para artis. Para “manajer” bekerja untuk membuat show yang memikat dan memancing masuknya uang para penonton alias para investor ritel.

Tentu tidak semua “artis” tampil sekaligus secara bersamaan, harus ada giliran tampil supaya perhatian penonton tidak terpecah. Dan kita percaya bahwa fundamental dari setiap sektor adalah penentu “jadwal manggung” saham-saham dalam setiap sektor.

Namun jangan diartikan juga bahwa ketika sektor unggas jatuh artinya orang-orang berhenti makan ayam, dan ketika sektor perbankan naik maka ada lebih banyak orang yang berutang atau menabung di bank. Tidak, bukan begitu. Ketika saham BBRI dinyatakan sedang “didistribusi” oleh bandarnya bukan berarti harganya tidak akan pulih dan besok akan bangkrut, bukan? Kini kita bisa lihat BBRI sudah naik ke level Rp3000an per lembar sahamnya dari yang sebelumnya didistribusi di hargaRp2000an.

Fundamental berpengaruh pada “jadwal manggung” saham-saham karena pada dasarnya sebuah saham dibeli atas faktor-faktor yang mempengaruhi masa depannya. Misalnya saham-saham sektor farmasi yang “terbang” di masa pandemi ini.

Secara fundamental hanya Biofarma (kode saham: MERK) yang diuntungkan. Karena Biofarma saja yang bertugas menangani vaksin dan uji klinisnya. Namun saham-saham lain yang berada dalam sektor farmasi juga ikutan naik. Hal ini lantaran publik percaya bahwa keuntungan yang diterima industri kesehatan bukan hanya terletak pada produksi vaksin saja namun juga penunjang kesehatan lainnya seperti vitamin, hand sanitizer dan masker. Jadi terbangnya saham-saham bukan hanya karena memang dibandari saja, tapi ada alasan fundamental juga dibaliknya. Dengan adanya fundamental yang mengiringi tentunya akan ada “penonton” yang tertarik untuk berpartipasi.

Kita harus paham bahwa tidak semua saham “naik panggung” setiap saat, ada gilirannya. Maka jika kamu bertanya kapan jadwal Bandar saham beraksi, kamu bisa perhatikan beberapa momen yang akan dijelaskan di bawah ini.

Berdasarkan Siklus Sektornya

Sejatinya investasi baik jangka pendek atau jangka panjang adalah tentang membeli peluang profit di masa depan. Seringkali meskipun saat ini laba belum tercetak pada laporan keuangan, tapi sahamnya sudah terbang duluan dikarenakan euforia para pelaku pasar terhadap berita baik emiten. Oleh karenanya dengan memahami katalis setiap sektor bisnis kita bisa memahami di mana saja letak peluang yang ada saat ini.

Proses bisnis tentu bergerak secara dinamis, seringkali permintaan pelanggan dipengaruhi juga oleh lingkungannya. Karena itu juga ketika katalisnya menghilang, jangan heran laba saham turun dalam satu atau beberapa periode. Saat katalisnya muncul lagi, laba saham akan naik dan mengundang banyak pelaku pasar untuk berpartisipasi. Muncul-hilangnya katalis menjadi pergerakan bisnis berada dalam sebuah siklus. Perhatikan gambar di bawah ini.

Saat ini kita tahu bahwa saham-saham yang sedang manggung adalah saham-saham yang berada di sektor kesehatan/healthcare, telekomunikasi, bahan pokok, dan infrastruktur utama seperti listrik dan menara BTS. Hal itu dikarenakan pandemi yang membuat negeri ini berada di ambang resesi.

Bagan di atas adalah siklus yang akan membantu kamu memetakan sektor mana saja yang kiranya akan manggung saat ini. Bagan di atas cukup manjur, sebelumnya di tahun 2017 dan 2018 kita mendapati bahwa sektor yang manggung adalah batubara, minyak dan mineral yang menjadi sumber listrik lainnya yaitu nikel (perhatikan fase Late Expansion di atas!).

Dengan berpedoman pada bagan seperti di atas maka kamu bisa memusatkan strategi trading-mu di saham-saham yang sektornya sedang manggung. Biasanya masing-masing sekuritas menyediakan analisis sektoral, kamu bisa juga dapatkan secara online karena riset-riset pasar saham biasanya tersedia secara umum. Biasanya analisis siklus bisnis akan didasarkan pada pedoman S&P “Business Cycle and Relative Stock Performance” sebagaimana ditampilkan secara sederhana dalam gambar di bawah ini;

Rotasi sektor selain terjadi dalam periode satu-dua tahun juga terjadi dalam beberapa minggu. Kamu bahkan bisa pantau rotasi sektor harian atau mingguan dengan bantuan grafik rotasi sektor yang sudah divisualisasi seperti ini;

Sumber: https://www.relativerotationgraphs.com/online/index.php

Menurut RRG di atas, sektor yang sedang baik saat ini adalah sektor infrastruktur seperti TOWR dan TBIG, unggas; CPIN dan consumer; UNVR.

Tentunya Bandar tidak akan asal memilih saham untuk dikendarai, Bandar akan memilih saham-saham yang sektornya sedang mendukung. Fungsi Bandar tidak hanya untuk menaik-turunkan saham melainkan juga untuk menjaga agar harga saham tertentu berada dalam suatu range harga.

Saat Penawaran Perdana (IPO)

Bandar berjasa sejak pertama kali sebuah saham “dilahirkan” ke dunia. Tugasnya adalah untuk memastikan kelahirannya disambut baik oleh para pelaku pasar. Bandar akan melakukan manipulasi ang dinamakan special allotment tentang siapa yang diprioritaskan bisa mendapat saham dan berapa banyak yang akan diterimanya. Dengan demikian maka saham yang di-underwrite akan dinyatakan oversubscribed/kebanjiran pesanan. Hal ini adalah hal yang lumrah terjadi dan memang sudah menjadi tanggung jawab underwriter untuk menjamin emiten mendapatkan dana yang dicari melalui penawaran perdana.

Bandar terlibat bahkan sebelum saham itu diperdagangkan secara resmi di bursa untuk mensukseskan proses penawaran perdana sebuah saham sehingga emiten bisa mendapatkan dana dari IPO yang dilakukannya sesuai rencana. Ini akan berhubungan dengan reputasi sang underwriter.  

Pada penawaran perdana saham-saham bisa digoreng naik hingga menyentuh batas auto reject atas (ARA) sebesar 75% di tiga hari awal peluncurannya. Jika biasanya batas ARA adalah 20-35%, ketika IPO batas tersebut menjadi 50-75% dalam sehari. Tidak semua saham sukses ketika IPO, namun mayoritas penawaran perdana berhasil.

Orang-orang/lembaga yang terlibat dalam special allotment/penjatahan khusus biasanya diikat dengan perjanjian “Tidak dapat menjual efek selama enam bulan atau lebih”. Dengan begitu emiten punya waktu untuk menggunakan dana dengan menahan sebagian sahamnya untuk diperjualbelikan bebas di bursa.

Kamu yang membeli saham IPO melalui investor lain setelah sahamnya melantai di bursa tidak diikat perjanjian dan bisa menjual kapan saja. Tujuan goreng-menggoreng saham IPO adalah untuk menyenangkan pemilik saham yang sudah mengikuti special allotment dalam periode bookbuilding. Meski para peserta special allotment tidak dapat menjual di hari-hari pertama sahamnya melantai, minimal mereka dapat merasa bahwa investasinya memang ber-reputasi bagus.

Karena tujuannya adalah untuk menyentuh ARA, biasanya setelah beberapa hari ARA saham tersebut akan dibanting keras. Tidak sampai dasar level gocap sih, tapi cukup untuk membuat para pemula jera.

Ketika di Penghujung Tahun dan Awal Tahun

Bandar juga diperlukan untuk melakukan manipulasi berupa Pooling Interest dalam periode menyambut rilisnya Laporan Tahunan yang agung. Periode tersebut adalah Desember dan Januari. Bulan Desember adalah momen pengumpulan Laporan Tahunan untuk diaudit sebelum dirilis ke masyarakat. Periode ini dijadikan sebagai ajang “rias diri” oleh para emiten. Beramai-ramai emiten akan meningkatkan volume transaksi saham agar harganya meningkat. Dengan demikian harga sahamnya dapat dibukukan secara elegan dalam Laporan Tahunannya. Periode rias diri ini dinamakan Window Dressing. 

Transaksi kemudian ramai terjadi dengan jumlah lot yang sama atau bahkan lebih besar dari hari ke hari dan secara umum saham-saham akan naik harganya. Tujuan utamanya bukan untuk mencari keuntungan tapi sekedar meramaikan volume transaksi. Perusahaan hanya akan keluar modal fee transaksi saja tapi itu sudah diperhitungkan.

Window Dressing kemudian masih akan berlanjut ke bulan Januari. Bulan Januari juga krusial karena hendaknya awal tahun dihiasi oleh sesuatu yang positif. Sudah menjadi semacam tradisi bahwa Window Dressing di bulan Desember dilanjutkan dengan January Effect. January Effect adalah kenaikan harga saham-saham menyambut awal tahun dan biasanya berlangsung cukup lama bahkan hingga bulan Maret.

Sell in May and Go Away

Ketika saham-saham naik cukup tinggi, maka ada waktunya untuk turun sedikit sebelum melanjutkan kenaikan. Itu adalah pergerakan saham yang sehat, naik membentuk puncak lalu turun dan membentuk lembah yang meninggi. Penurunan tersebut biasanya umum terjadi di bulan Mei.

Ada sebuah tradisi di pasar, secara beramai-ramai saham-saham jatuh di bulan Mei dan kembali bangkit perlahan-lahan di bulan November. Hal ini disebut juga dengan istilah “Sell in May and Go Away”. Tradisi ini tidak selalu terjadi, namun cukup umum bahwa saham-saham dibanting berbarengan di bulan Mei oleh mereka yang menguasai sejumlah besar lembar saham. Sebenarnya tradisi Sell on May ini berkenaan dengan libur musim panas di negara-negara empat musim.

Mengapa Indonesia yang hanya mengenal dua musim mendapat pengaruh Sell in May juga? Itu karena dana asing di Indonesia melakukan transaksi net sell, lebih banyak menjual daripada membeli di bulan Mei. Secara jumlah peserta bursa dan total dana, asing menguasai 40% bursa saham Indonesia. Dan mereka cenderung bergerak secara lebih terorganisir dan terpusat di beberapa saham saja. Sehingga pergerakan Bandar-bandar asing/foreign flow mendapat cukup banyak perhatian dari para analis bandarmologi.

Di bulan Mei mereka cenderung melepas sahamnya agar bisa fokus menjalani liburan musim panasnya. Saham-saham yang dikoleksi asing biasanya adalah saham-saham lapis satu atau lapis dua yang kapitalisasi pasarnya besar. Sehingga IHSG yang menjadi acuan pasar seringkali jatuh saat saham-saham lapis satu dan dua dilepas di bulan Mei. Tentu tidak akan jatuh sampai tengkurap karena saham-saham baik selalu siap diserap oleh investor domestik meski kekuatannya berbeda dengan asing yang lebih terpusat. Fenomena ini juga sempat diuji keakurasiannya dan berikut adalah hasilnya;

Sumber: http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2018/04/13/menguji-akurasi-strategy-sell-in-may-and-go-away/ 

Berdasarkan hasil pengujian di atas selama 17 tahun, ternyata akurasi teori Sell In May And Go Away (SIMAGA) adalah sebesar 61%. 21 kali benar dan 13 kali salah. Semakin besar kekuatan dana investor domestik maka semakin kecil-lah pengaruh dana asing di bursa saham kita.

Saat MSCI indeks Rilis

Kali ini kita akan membicarakan kekuatan smart money/dana kelolaan para manajer investasi. Kita mengetahui bahwa manajer investasi mengelola dana investasi dengan jumlah raksasa, kadang bisa mencapai triliunan rupiah untuk satu portofolio. Mereka bukan Bandar yang memiliki tujuan goreng-menggoreng. Mereka adalah smart money yang punya kekuatan selevel atau lebih dari Bandar.

Mereka melakukan jual-beli saham dengan tujuan diversifikasi portofolio. Mereka akan menyesuaikan alokasi aset mereka dan me-review portofolio kelolaannya secara rutin setiap tiga bulan sekali/per kuartal atau setiap ada situasi yang mengharuskan mereka kocok ulang portofolio.

Setiap portofolio yang dikelola memiliki benchmark yang dijadikan acuan. Salah satu benchmark tersebut adalah Indeks MSCI. Indeks ini dirilis oleh badan penasehat investasi terpandang Morgan Stanley. Morgan Stanley merilis indeks-indeks yang dijadikan acuan seluruh dunia, untuk indeks MSCI Indonesia, dirilis setiap Mei dan Oktober [1].  

Ada banyak dana asing yang dikelola secara pasif yang beracuan pada MSCI, atau sedikitnya mempertimbangkan keputusan MSCI. Para Manajer Investasi ini akan mengubah portofolionya sesuai dengan perubahan yang terjadi pada MSCI. Jadi misalnya ketika saham SMRA, BBTN dan CPIN masuk indeks MSCI maka kamu bisa melihat setelahnya akan ada transaksi besar yang mengalir masuk ke saham-saham tersebut [3].

Pengaruh MSCI ini terhitung besar, terakhir kali perubahan pada indeks MSCI mengakibatkan IHSG turun 5% dalam sehari dan 29% secara Ytd sejalan dengan penurunan MSCI index yaitu 28% [3]. Hal ini karena saham-saham pilihan MSCI berubah dari saham-saham berkapitalisasi besar ke saham-saham yang kapitalisasinya lebih kecil [3].

Selain MSCI, indeks FTSE juga memberikan pengaruh ke bursa saham Indonesia namun lebih kecil efeknya dibandingkan MSCI. Kamu bisa tunggu rilis MSCI dengan memantau berita seputar kocok ulang indeks MSCI di pertengahan bulan Mei dan Oktober karena biasanya dirilis di akhir bulan dan sudah ramai diberitakan sejak pertengahan bulan.  

Sikap yang Bisa Kamu Ambil

Kamu boleh cuek saja karena walau secara jangka pendek saham-saham naik dan turun dan seperti disetir oleh Bandar, namun secara jangka panjang saham-saham tetap bergerak mengikuti fundamentalnya.

Kamu bisa perhatikan saham-saham lapis satu yang naik-turun secara jangka pendek namun dengan horison investasi yang panjang kamu akan dapati investasimu membuahkan hasil.

Jika kamu trading secara jangka pendek maka sebaiknya kamu memperhatikan jadwal “manggung” emiten-emiten yang dimanajer-i Bandar-bandarnya. Pelajari juga ilmu seputar bandarmologi dengan membaca artikel Bandarmologi – Cerdas Menyikapi Aktivitas Bandar Saham dari Ajaib sebagai bekal pertamamu. Semoga bermanfaat!

Referensi

[1] https://www.cnbcindonesia.com/market/20191108171932-17-113862/8-anggota-baru-indeks-msci-indonesia-bagaimana-kinerjanya

[2] https://www.relativerotationgraphs.com/online/index.php

[3] https://www.indopremier.com/ipotnews/newsDetail.php?jdl=Penurunan_IHSG_Masih_Sejalan_dengan_MSCI__Investor_Disarankan_Tetap_Defensif&news_id=117165&group_news=IPOTNEWS&taging_subtype=PG002&name=&search=y_general&q=,&halaman=1

Artikel Terkait