Investor Pemula, Saham

Ilustrasi Diversifikasi Saham dengan Modal Rp500 ribu

Ajaib.co.id – Banyak pemula mencari contoh ilustrasi diversifikasi saham untuk dijadikan petunjuk saat awal-awal berinvestasi. Boleh jadi sudah tahu kalau investasi saham itu tidak membutuhkan modal besar, sehingga telah menyiapkan modal Rp500 ribu. Namun, mendadak kebingungan saat menyaksikan ratusan saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Saham mana saja yang sebaiknya dibeli? Konon katanya harus diversifikasi dengan mengoleksi beberapa saham, tapi bagaimana cara memilihnya? Berapa lot yang perlu dibeli untuk masing-masing saham agar kelak bisa untung? Dilema seperti ini pasti pernah dialami oleh pemula dalam investasi saham.

Langkah pertama sebelum membeli saham, sebaiknya kamu sudah mengetahui dulu profil risiko dan target investasi. Apakah kamu tergolong investor konservatif, moderat, atau agresif? ingin berinvestasi jangka panjang atau jangka pendek? ingin memperoleh cuan dari selisih harga beli-jual saham (Capital Gain) saja, atau ingin dapat dividen juga?

Profil risiko dan target investasi ini kelak akan menentukan saham-saham apa yang sebaiknya masuk dalam portofoliomu. Coba perhatikan dua contoh ilustrasi diversifikasi saham dengan modal investasi Rp500 ribu berikut ini.

Contoh Ilustrasi Diversifikasi Saham I

Umpama investor A tergolong konservatif. Ia berencana menggunakan hasil investasi saham untuk menambah bekal pensiun sekitar 5-10 tahun mendatang, sehingga tidak merasa perlu mencairkan investasi dalam waktu dekat. Ia berkomitmen untuk menyisihkan Rp500 ribu setiap bulan, serta menginvestasikan kembali (reinvestasi) dividen yang diterimanya dalam saham yang sama.

Dalam situasi investor A, ia sebaiknya membagi dana investasi ke dalam 2-4 saham. Diversifikasi saham dapat dilakukan dengan memilih masing-masing satu emiten dari sektor perbankan, sektor properti atau infrastruktur, sektor barang konsumsi, dan sektor tambang. Setiap saham perlu memiliki riwayat pembagian dividen yang cukup bagus selama setidaknya 3 tahun terakhir.

Umpama ia memutuskan untuk diversifikasi 2 saham saja, maka ia dapat mengalokasikan dana Rp250.000 untuk pembelian setiap saham per bulan. Tapi kalau ia memilih diversifikasi 4 saham, maka alokasi dana untuk setiap membeli setiap saham adalah Rp125.000.

Sang investor A kemudian melakukan analisis fundamental untuk menemukan beberapa saham favorit. Pilihannya jatuh pada BJTM (Bank Jatim), Sarana Menara Nusantara (TOWR), Astra Internasional (ASII) dan Gas Negara (PGAS). Harga saham per lot saat ini untuk BJTM Rp57.500, TOWR Rp114.500, ASII Rp460.000, dan PGAS Rp114.500. Total pembelian 1 lot per saham akan berjumlah lebih dari modal bulanan yang sebesar Rp500.000. Apa yang harus dilakukan oleh investor A?

Sebagaimana telah diputuskan sebelumnya, alokasi investasi dana per saham adalah Rp125.000. Jadi investor A akan membeli dua lot saham BJTM, 1 lot saham TOWR, dan 1 lot saham PGAS. Kemudian ia akan menabung dulu dana Rp125.000 yang dialokasikan untuk saham ASII dalam rekening dana nasabah (RDN) hingga terakumulasi cukup guna membeli 1 lot. Sisa dana pembelian saham BJTM, TOWR, dan PGAS juga akan disimpan untuk pembelian saham yang sama di kemudian hari.

Singkatnya, ada lima langkah dalam diversifikasi untuk nabung saham ala investor A:

  1. Menentukan target investasi, yaitu jangka panjang.
  2. Menentukan ragam saham, yaitu 4 saham dari sektor perbankan, sektor infrastruktur, sektor barang konsumsi, dan sektor tambang.
  3. Menentukan alokasi dana untuk pembelian setiap saham per bulan, yaitu Rp125.000.
  4. Memilih saham-saham unggulan yang akan dikoleksi dalam portofolio.
  5. Mengakumulasi saham setiap bulan sesuai dengan anggaran yang telah ditentukan. Apabila ada dana yang belum dapat dibelikan saham pada bulan ini, maka akan ditabung untuk dibelikan saham yang sama pada bulan berikutnya.

Strategi diversifikasi saham seperti ini menjamin risiko investasi terbagi rata antara 4 sektor berbeda. Investor A kemungkinan tidak dapat membeli setiap saham tiap bulan karena keterbatasan dana, tetapi ia akan terhindar dari risiko kejatuhan salah satu saham yang berharga lebih mahal. Seandainya salah satu sektor saham terpuruk, ia masih punya saham dari sektor lain yang dapat menopang kinerja portofolionya.

Contoh Ilustrasi Diversifikasi Saham II

Umpama investor B juga berencana menggunakan hasil investasi saham untuk tambahan bekal pensiun. Tapi ia memiliki profil risiko agresif. Bagaimana strategi diversifikasi saham yang cocok?

Pada tahap awal, investor B dapat membagi dana investasi ke dalam dua rekening dana nasabah (RDN). Kedua RDN akan mempermudah diversifikasi saham. Satu RDN ditujukan untuk berlatih trading saham jangka pendek, sedangkan yang satunya lagi untuk investasi jangka panjang dengan strategi “buy on weakness” dan “average down” pada saham-saham pemberi dividen besar (IDX HIDIV 20).

Ini merupakan suatu bentuk diversifikasi saham berbasis strategi investasinya, bukan berbasis sektor sahamnya. Risiko investor akan terdiversifikasi dengan asumsi saham-saham yang diperdagangkan dengan target jangka pendek itu berisiko lebih tinggi daripada saham-saham IDX HIDIV 20. Investor B selanjutnya dapat mengelola setiap RDN berdasarkan strategi yang telah ditentukan, tanpa memerhatikan ragam sektor saham pilihannya.

Kunci sukses diversifikasi saham ala investor B ini terletak pada kemampuan analisis fundamental, teknikal, serta manajemen risiko dan psikologisnya sendiri. Trading saham memang berpotensi memberikan keuntungan lebih besar daripada investasi pasif, tetapi risikonya juga lebih besar. Apalagi profit dari trading saham dengan modal minim itu awalnya akan terlihat kecil, sehingga investor B membutuhkan kesabaran dan kegigihan ekstra untuk mencapai akumulasi keuntungan yang lebih besar.

Kalau kamu masih tergolong pemula, mungkin harus memperlakukan modal investasi Rp500 ribu sebagai sarana latihan terlebih dahulu. Fokuslah untuk menimba ilmu dan memahami seluk-beluk perdagangan saham, daripada mengejar keuntungan berlipat ganda yang tidak seimbang dengan modal investasimu. Ingat, target investasi haruslah realistis.

Artikel Terkait