Investasi

Apa Itu Fear of Missing Out alias FOMO dalam Trading?

fomo-trading

Ajaib.co.id – Dalam dunia investasi, dikenal istilah FOMO trading. Apa yang dimaksud dengan FOMO trading? Apakah istilah tersebut berkonotasi positif atau negatif?

Kata ‘FOMO’ sendiri merupakan akronim dari ‘fear of missing out’. Pada awalnya, FOMO dikenal di lingkup media sosial. FOMO merujuk pada seseorang yang kecanduan media sosial.

Pengguna media sosial yang kecanduan itu merasa khawatir tidak up-to-date terhadap informasi, berita, dan gosip lainnya yang beredar melalui media sosial. Oleh sebab itu, ia ‘memaksa diri’ online terus-menerus.

Seiring berjalannya waktu, kata ‘FOMO’ juga merambah ke ranah investasi dengan diikuti kata ‘trading’. Maka, mulai dikenalah istilah FOMO trading. Bisa disimpulkan, istilah ini adalah aktivitas yang dilakukan oleh trader berdasarkan kekhawatiran tertentu. Di sini, FOMO terjadi lebih karena faktor psikologis trader.

Fomo di Dunia Investasi

Istilah FOMO trading bisa dikaitkan dengan beragam instrumen investasi. Tidak sedikit investor yang ‘ikut-ikutan’ ketika menginvestasikan uangnya pada instrumen investasi tertentu yang harganya tengah melambung.

Fomo di dunia saham

Pada instrumen investasi berupa saham, misalnya, FOMO trading menggambarkan investor atau trader yang tetap membeli harga suatu saham meski harganya cenderung naik.

Mengapa investor atau trader melakukan FOMO trading? Pada konteks saham, harga saham yang terus naik menjadi dasar pertimbangan investor untuk membeli saham.

Investor memprediksi, harga saham yang dibelinya akan terus naik ke depannya. Investor tersebut merasa khawatir tidak menikmati keuntungan bila tidak segera membeli saham yang mengalami kenaikan harga tersebut.

Padahal, belum tentu apa yang diharapkan investor tersebut sesuai dengan kenyataan. Kecenderungan harga saham yang terus naik tidak menjamin harganya akan begitu di masa depan. Bisa jadi malah anjlok nantinya.

FOMO di pasar cryptocurrency

FOMO juga dijumpai di pasar cryptocurrency. Sejumlah investor membeli Bitcoin, Ethereum, Ripple atau lainnya di harga sangat tinggi. Padahal, investor tersebut belum tentu memiliki pemahaman mendalam mengenai cryptocurrency.

Mereka berharap kaya mendadak seperti orang lain yang sudah lebih dulu membelinya. Dengan kata lain, investor seperti ini bak ‘latah’ dalam melakukan aktivitas trading.

Penyebab FOMO Trading

Latar belakang utama FOMO adalah psikologi trading, terutama recency bias. Recency bias merupakan kondisi terkini yang memicu cara berpikir seseorang. Harga suatu saham yang terus meningkat, contohnya, menjadi dasar pemikiran kalau harganya cenderung naik terus di masa depan.

Lebih spesifik, FOMO dalam trading terjadi karena didorong oleh:

  • Khawatir tidak kebagian profit.
  • Serakah untuk mendapatkan profit besar dalam waktu singkat.
  • Iri pada orang-orang di sekitar yang sudah mendapat profit.

Media, terutama media sosial, juga turut berkontribusi terhadap meluasnya dampak FOMO dalam trading. Informasi mengenai harga Bitcoin yang meroket, misalnya, menjadi trending topic di sebuah komunitas berbasis media sosial. Hal ini turut membentuk cara berpikir para anggotanya.

Jelas, FOMO dalam trading adalah tindakan gegabah dan condong berbahaya. Investasi apa pun tetap harus mendahulukan analisa matang, bukannya tekanan psikologis semata.

Sikap psikologis ini umumnya dialami oleh kebanyakan investor pemula. Mereka lebih mudah ‘mengikuti arus’. Tanpa alasan rasional, sebagian investor pemula akan mengikuti langkah para investor yang lebih berpengalaman.

Jika merasa berbeda sendiri, sejumlah investor pemula akan digeluti rasa takut ketinggalan tren. Tidak sedikit investor pemula yang awalnya menerapkan prinsip kehati-hatian dalam berinvestasi. Namun, pendiriannya goyah seiring melihat teman-teman atau sesama investor menang banyak dalam waktu singkat.

FOMO dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi investor atau trader. Kemampuannya untuk mengambil keputusan objektif akan tergerus. Padahal, kemampuan analisa dalam investasi akan membaik bila disertai dengan pengalaman konkret.

Konsekuensi terparah tentu saja kerugian yang bisa diterima oleh investor. Belum cukup, FOMO yang berdasarkan emosi bisa menjadi ‘candu’. Seseorang bisa terjerat pada siklus perilaku yang sama: gelisah, beli, panik, jual, menyesal, kecewa dan seterusnya berulang kali.

Mitigasi Risiko FOMO dalam Trading

Untuk memitigasi risiko terjebak dalam aktivitas FOMO dalam trading, maka sejumlah langkah berikut bisa dicoba.

Tentukan rencana investasi

Memiliki rencana investasi yang jelas adalah kunci. Investasi bukan saja untuk jangan pendek, namun dipersiapkan untuk jangka panjang.

Terus belajar mengenai investasi

Belajar sesuatu tak mengenal ujung atau kata akhir. Begitu pula dalam belajar investasi. Menambah wawasan mengenai dunia investasi hukumnya wajib bahkan bagi investor yang berpengalaman sekalipun.

Belajar di sini juga meliputi berdiskusi atau knowledge sharing dengan trader agar lebih selektif dalam mengambil keputusan. Dengan pengetahuan yang lebih mendalam, seorang investor dapat terhindar dari fomo dalam trading.

Tak ada salahnya juga kamu harus mendalami psikologi trading. Mulailah dari melakukan analisis kekuatan dan kelemahan dengan menggunakan pendekatan SWOT (strength, weakness, opportunity, dan threat).

Buat jurnal trading

Membuat catatan aktivitas atau jurnal trading juga bisa membantu skill trading kamu. Dari jurnal trading, kamu bisa mengevaluasi setiap keputusan yang telah diambil. Evaluasi tersebut kemudian bisa menjadi pertimbangan untuk pengambilan keputusan selanjutnya, termasuk bila ada indikasi terjadinya FOMO.

Disiplin

Disiplin dalam menjalankan strategi dapat menghindarkan kamu dari tindakan gegabah, misalnya ikut-ikutan tren membeli saham yang harganya sedang melonjak.

Sabar

Kesabaran juga dibutuhkan dalam berinvestasi. Lebih khusus, kesabaran dalam konteks ini adalah tidak terpengaruh dengan orang lain yang mendapatkan untung dalam waktu singkat.

Tidak panic buying adalah langkah buruk yang bisa berakibat fatal. Maka, menjaga diri dari kepanikan akibat situasi sekitar adalah langkah bijak dalam berinvestasi.

Artikel Terkait