Ajaib
Menu

Saham

Saham RATU dan FILM Didepak MSCI, Begini Dampak ke Harga Sahamnya

MikirduitAugust 20, 2026

Saham RATU dan FILM Didepak MSCI, Begini Dampak ke Harga Sahamnya

key takeaways

  • Keluar MSCI tidak otomatis membuat saham terus turun. Historis menunjukkan beberapa saham justru rebound setelah tekanan awal mereda.
  • RATU dan FILM masih menghadapi tekanan jual, tetapi masing-masing memiliki level teknikal dan katalis yang perlu dipantau sebelum mencari peluang rebound.
  • Trader perlu mencari katalis baru setelah MSCI play selesai, termasuk akumulasi broker, fundamental, valuasi, aksi korporasi, dan tanda reversal.

Saham PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) dan PT MD Entertainment Tbk. (FILM) setelah diumumkan keluar dari konstituen indeks MSCI terpantau mengalami tekanan jual yang tinggi. Outflow berpotensi lanjut sampai akhir bulan. 

Kira-kira penurunan bisa sampai ke berapa? sebaiknya hindari dulu atau justru tunggu peluang untuk masuk lagi? 

Historis Saham yang Keluar MSCI 

Jika melihat data historis pergerakan harga saham setelah dikeluarkan MSCI, terdapat 9 saham yang dikeluarkan pada periode Februari dan Juni 2026. Terpantau ada 6 saham turun dari saat pengumuman hingga hari efektif, sementara hanya 3 saham yang menguat.

Namun, setelah resmi keluar dari indeks, pergerakannya mulai lebih beragam. Ada saham yang masih tertekan seperti PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT), PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk. (ACES), dan PT Sariguna Primatirta Tbk. (CLEO), tetapi ada juga yang justru mulai rebound cukup signifikan. PT Dian Swastatika Sentosa  Tbk. (DSSA) misalnya, sudah naik 56,91 persen dari hari efektif hingga 19 Agustus 2026, disusul PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) yang naik 13,67 persen.

Artinya, efek keluar dari MSCI memang bisa menciptakan tekanan jual dalam jangka pendek, tetapi tidak otomatis membuat harga saham terus turun setelahnya. 

Karena itu, untuk RATU dan FILM, sebaiknya jangan terburu-buru mengejar harga saat tekanan jual masih tinggi. Lebih menarik untuk menunggu sampai tekanan mereda dan melihat apakah mulai muncul tanda-tanda akumulasi atau reversal.

Jadi, bukan berarti saham yang keluar MSCI harus dihindari selamanya. Justru fase setelah tekanan jual berlebihan bisa menjadi peluang, tetapi timing masuknya perlu lebih selektif. Lantas, bagaimana posisi RATU dan FILM saat ini? 

Mengingat saham RATU dan FILM baru diumumkan keluar dari MSCI pada 13 Agustus lalu, masih ada waktu sekitar dua minggu hingga tanggal efektif pada awal September. 

Periode ini menjadi tantangan karena tekanan jual dan potensi outflow masih bisa berlanjut hingga mendekati tanggal efektif. Supaya bisa mengejar timing yang lebih efektif, kita bisa melihat lebih jauh menggunakan analisis teknikal, ditambah katalis lainnya. 

Saham RATU 

Mulai dari saham RATU dulu. Sejak diumumkan keluar dari MSCI, saham ini terpantau sudah turun sekitar 16 persen dan membentuk death cross, yang menunjukkan momentum jangka pendek mulai melemah.

Secara teknikal, tren harga masih rawan kembali melemah setelah sempat berkonsolidasi selama beberapa minggu. Area support terdekat di kisaran 3.800 masih berpotensi diuji. Jika level tersebut ditembus dan membentuk low baru, tren penurunan berpotensi berlanjut.

Sebagai informasi, salah satu alasan RATU terdepak dari MSCI adalah likuiditas yang belum konsisten, baik dari sisi daily turnover maupun free float liquidity, sehingga kurang ideal untuk replikasi portofolio investor asing pasif.

Menariknya, rebound RATU juga kerap berlangsung sangat agresif. Kondisi ini perlu diperhatikan karena MSCI memiliki Extreme Price Increase (EPI), yang memberikan penyaringan tambahan bagi saham dengan kenaikan harga ekstrem.

Artinya, jika ingin kembali masuk MSCI, RATU bukan hanya perlu memperbaiki likuiditas dan free float, tetapi juga perlu menunjukkan pergerakan harga yang lebih stabil dan tidak terlalu ekstrem.

Meski begitu, bagi pelaku pasar, sentimen MSCI play rasanya sudah tidak mempan untuk saham RATU.

Dengan tipe saham yang punya volatilitas tinggi, fokus pasar justru akan melihat katalis lainnya, terutama saham ini di grup konglomerasi Happy Hapsoro yang terpantau punya agenda korporasi lumayan sering pada tahun ini. 

Agenda terdekat RATU yang paling dinanti pasar adalah private placement maksimal 271,5 juta saham. Perseroan membuat simulasi harga pelaksanaan private placement di harga Rp6.000 per saham dalam prospektusnya. Aksi ini berpotensi meraup dana hingga Rp1,62 triliun dan akan dimintai persetujuan dalam RUPSLB 8 September 2026.

Dana tersebut akan memperkuat neraca setelah RATU mengakuisisi 100 persen SMS Development Limited, yang membuat perseroan secara tidak langsung mengantongi 20 persen participating interest di Blok Madura Strait PSC. Untuk mendukung modal kerja, RATU juga sudah mengamankan pendanaan Rp800 miliar melalui obligasi dan sukuk yang oversubscribed hingga 6,8 kali.

Sentimen RATU juga makin menarik setelah jaringan bisnis Prajogo Pangestu masuk ke pemegang saham di atas 1 persen melalui PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN), PT Petrosea Tbk. (PTRO), dan PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA). Ke depan, manajemen masih agresif mencari peluang akuisisi aset migas produktif, termasuk di luar negeri.

Saham FILM 

Berikutnya ada FILM. Secara teknikal, saham ini masih berada dalam tren turun. Tekanan jual juga masih cukup deras dan belum terlihat tanda-tanda reversal. Support terdekat ada di sekitar 670, jadi level ini masih berpotensi diuji dan risiko turun lebih lanjut tetap perlu diperhatikan.

FILM sendiri keluar dari MSCI karena masuk kategori HSC, sehingga peluang untuk kembali masuk indeks setidaknya dalam 12 bulan ke depan masih tertutup. Artinya, sentimen MSCI masih bisa menjadi beban untuk saham ini dalam jangka pendek.

Tapi kalau tekanan jual mulai reda, cerita FILM akan kembali ke fundamentalnya. Setelah rugi Rp257 miliar pada 2025, kinerja tahun ini mulai menunjukkan perbaikan. Kuartal I sudah mencetak laba Rp13 miliar, meski kuartal II kembali rugi Rp2 miliar. Secara kumulatif, FILM masih mencatat laba Rp10,6 miliar di semester I 2026.

Ada juga transaksi jumbo dari manajemen/Direksi FILM yang sempat jadi perhatian pasar. Namun, transaksi tersebut menggunakan skema repo atau penjaminan saham untuk pendanaan, jadi tidak bisa langsung dianggap sebagai aksi beli biasa. Di sisi lain, Samuel Sekuritas Indonesia juga terpantau mengurangi kepemilikan FILM untuk pencairan repo, yang ikut menambah tekanan jual.

Meski begitu, kalau kinerja FILM bisa kembali konsisten positif di kuartal berikutnya, story turnaround mulai menarik untuk diperhatikan. Apalagi harga sahamnya sudah ambles sekitar 94 persen sejak awal tahun, sementara PBV turun ke 2,83 kali atau sudah berada di bawah -1 standar deviasi historis lima tahun.

Jadi, risiko turun masih ada, tapi valuasinya sekarang mulai menarik. Kalau tekanan jual sudah mereda dan turnaround benar-benar terbukti, FILM bisa punya cerita yang berbeda dari sekadar saham yang keluar MSCI.

Era MSCI Play Selesai, Pasar Mencari Katalis Lain

Setelah resmi dikeluarkan dari indeks, investor tidak bisa lagi mengandalkan katalis berupa potensi inflow dari investor pasif yang mengikuti MSCI. Sebaliknya, justru ada risiko outflow dan tekanan jual dari proses penyesuaian portofolio.

Karena itu, setelah efek MSCI selesai, saham membutuhkan cerita baru agar bisa kembali naik. Di sinilah fundamental, valuasi, dan katalis perusahaan menjadi semakin penting.

Ada beberapa hal yang bisa menjadi pemicu:

  • Fundamental membaik. Pertumbuhan laba, pendapatan, atau arus kas yang lebih kuat bisa kembali menarik minat investor.
  • Ada katalis baru. Aksi korporasi, ekspansi bisnis, akuisisi, atau perkembangan proyek bisa menggantikan story MSCI.
  • Valuasi sudah terlalu murah. Setelah terkoreksi dalam, saham bisa masuk zona yang menarik untuk bargain hunting jika harga sudah jauh di bawah nilai wajarnya.
  • Turnaround bisnis. Perubahan dari rugi menjadi laba atau perbaikan kinerja bisa menjadi cerita baru yang lebih fundamental.
  • Tekanan jual selesai. Setelah forced selling mereda, saham punya ruang untuk membentuk tren baru jika mulai muncul akumulasi.

Jadi, keluar dari MSCI memang menghilangkan satu katalis penting, tetapi bukan berarti saham tidak bisa naik lagi. Hanya saja, kenaikan berikutnya harus punya alasan yang berbeda.

Untuk RATU dan FILM, pertanyaannya bukan lagi “kapan masuk MSCI?”, tetapi “apa katalis berikutnya yang bisa membuat investor kembali membeli saham ini?” Kalau jawabannya mulai terlihat dari sisi fundamental, valuasi, atau aksi korporasi, maka peluang rebound menjadi lebih masuk akal. Gimana, menurut kalian saham yang dikeluarkan sudah mulai layak diperhatikan atau masih tunggu momentum dulu? 

Mulai Trading Saham Lebih Mudah di Ajaib

Tekanan setelah keluar MSCI tidak selalu berarti saham akan terus turun, yang lebih penting adalah memahami penyebab tekanan, memantau perubahan aktivitas transaksi, dan menunggu konfirmasi sebelum mengambil posisi.

Melalui aplikasi Ajaib, kamu bisa memantau pergerakan saham MSCI seperti RATU dan FILM serta aktivitas broker untuk membantu proses analisis sebelum trading. Download aplikasi Ajaib di Play Store & App Store sekarang!

Google Play StoreApple App Store

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Sekuritas membuat informasi ini melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Profil Penulis

Mikirduit
Mikirduit

Writer

-

Artikel Populer

Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi

Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!