Right Issue BRNA vs BUVA, Cek Skema, Kinerja, dan Strategi Sebelum Trading
ajaib•August 19, 2026

Key Takeaways
- BRNA dan BUVA sama-sama menjalankan rights issue pada paruh kedua 2026, tetapi dengan tujuan yang berbeda. BRNA mengonversi utang pengendali menjadi saham, sementara BUVA mengumpulkan dana tunai untuk ekspansi proyek.
- Harga pelaksanaan BRNA ditetapkan Rp685 dengan rasio 9:5, sedangkan BUVA Rp250 dengan rasio 4:1.
- Trader yang memegang atau memantau kedua saham perlu memahami tiga hal sebelum masuk, yaitu skema dan jadwalnya, kondisi keuangan terbaru, serta bagaimana harga menyesuaikan setelah ex-date.
PT Berlina Tbk (BRNA) yang bergerak di kemasan plastik dan PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) yang berbisnis perhotelan menempuh aksi korporasi serupa pada paruh kedua 2026, yaitu rights issue atau penerbitan saham baru yang lebih dulu ditawarkan kepada pemegang saham lama sesuai porsi kepemilikannya.
Kesamaan itu berhenti di label aksinya. Begitu masuk ke skema, penggunaan dana, dan kondisi neraca, keduanya bercerita tentang persoalan yang berbeda. Bagi trader, perbedaan itulah yang menentukan cara membaca risikonya.
Skema, Penggunaan Dana, dan Timeline Rights Issue BRNA vs BUVA
BRNA menggelar Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) III senilai maksimal Rp372,61 miliar. Sebagian besar dana tersebut dipakai menyelesaikan utang kepada pemegang saham pengendali, bukan untuk ekspansi. Sementara itu, BUVA menggelar PMHMETD II senilai maksimal Rp1,54 triliun untuk pengembangan proyek di Bali dan Bintan, penyertaan modal ke anak usaha, serta pelunasan utang.
Karena tujuannya berbeda, ukuran penilaiannya pun berbeda. Pada BRNA, yang dinilai adalah seberapa jauh neraca membaik, sedangkan pada BUVA adalah seberapa baik proyeknya dieksekusi.
1. Skema dan Rasio: Rp685 dengan Rasio 9:5 vs Rp250 dengan Rasio 4:1
Berikut perbandingan angka dasar dari kedua skema tersebut.
Tabel 1. Perbandingan skema PMHMETD BRNA dan BUVA
| Komponen skema | BRNA (PMHMETD III) | BUVA (PMHMETD II) |
|---|---|---|
| Saham baru | maks. 543,95 juta | 6.154.263.660 |
| Nilai nominal | Rp50 | Rp50 |
| Harga pelaksanaan | Rp685 | Rp250 |
| Rasio HMETD | 9:5 | 4:1 |
| Target dana | maks. Rp372,61 miliar | maks. Rp1.538.565.915.000 |
| Porsi saham baru | 55,56% dari modal disetor sebelum aksi | 20% dari modal disetor setelah aksi |
| Dilusi maksimum | 35,71% | 20,00% |
| Pengendali & pembeli siaga | DSU (54,57%) via set-off utang | NUI tunai Rp600 miliar, ditambah empat pembeli siaga |
Rasio 9:5 pada BRNA berarti setiap pemegang 9 saham lama berhak atas 5 Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD), sementara rasio 4:1 pada BUVA berarti setiap 4 saham lama hanya menghasilkan 1 HMETD. Selisih rasio itu berpengaruh langsung pada tingkat dilusi, yaitu menyusutnya persentase kepemilikan pemegang saham lama karena bertambahnya jumlah saham beredar.
Ukuran penerbitan BRNA jauh lebih besar secara relatif terhadap saham beredar, sehingga risiko dilusinya hampir dua kali lipat dibandingkan BUVA meski nilai dananya lebih kecil. Saham beredar BUVA berpotensi naik dari 24,62 miliar menjadi sekitar 30,77 miliar lembar, sedangkan BRNA dari 979,11 juta menjadi sekitar 1,52 miliar lembar.
Waran Seri I BRNA sebagai Pembeda Skema
BRNA menerbitkan maksimal 181,32 juta Waran Seri I secara cuma-cuma dengan rasio setiap 3 saham baru hasil pelaksanaan HMETD memperoleh 1 waran, sedangkan BUVA tidak menyertakan waran dalam skemanya. Waran sendiri merupakan hak untuk membeli saham pada harga tertentu di masa mendatang.
Harga pelaksanaan waran ditetapkan Rp800 per saham dan dapat dilaksanakan pada 7 April 2027 hingga 8 Oktober 2029, dengan potensi tambahan dana maksimal Rp145,05 miliar. Pemegang saham BRNA yang tidak melaksanakan waran berpotensi terdilusi hingga 42,55%, sehingga dilusi berlangsung dalam dua lapis sampai 2029. Sebaliknya, dilusi BUVA berhenti pada 20% karena tidak ada instrumen lanjutan setelah rights issue selesai.
2. Penggunaan Dana: Konversi Utang vs Kas untuk Ekspansi
Perbedaan arah dana kedua emiten terlihat pada rincian alokasinya.
Tabel 2. Rencana penggunaan dana hasil rights issue BRNA dan BUVA
| Alokasi Dana | BRNA | BUVA |
|---|---|---|
| Pelunasan utang | Rp264,37 miliar (set-off utang ke DSU) | Rp417,80 miliar |
| Penyertaan modal anak usaha | Tidak ada | Rp420,49 miliar ke PT Bukit Permai Properti dan Rp150,00 miliar ke PT Bukit Lagoi Villa |
| Pengembangan proyek | Tidak ada | Rp396,19 miliar infrastruktur Uluwatu Estate dan Rp150,00 miliar renovasi Alila Ubud |
| Modal kerja | ±Rp108,2 miliar | Tidak ada |
Porsi terbesar dana BRNA tidak masuk sebagai kas baru karena Rp264,37 miliar diselesaikan lewat kompensasi hak tagih atau set-off, yaitu penyelesaian utang dengan menukarnya menjadi saham tanpa aliran uang tunai. Oleh karena itu, tambahan likuiditas riil yang benar-benar masuk ke kas hanya sekitar Rp108,2 miliar.
Seluruh dana BUVA berbentuk setoran tunai, dengan komitmen Rp600 miliar dari NUI dan Rp938,57 miliar dari empat pembeli siaga yang menutup seluruh nilai emisi. Pembeli siaga adalah pihak yang bersedia menyerap sisa saham baru apabila pemegang saham lama tidak menggunakan haknya.
Satu hal yang perlu dicatat trader, bunga pinjaman BRNA kepada Dwi Satrya Utama (DSU) yang telah terakumulasi sebesar Rp62,24 miliar tidak termasuk dalam skema konversi dan tetap menjadi kewajiban perseroan. Berdasarkan proforma per 31 Maret 2026, manajemen BRNA memperkirakan total liabilitas turun 16,4% menjadi Rp1,03 triliun dan ekuitas naik 36,6% menjadi Rp1,39 triliun, dengan rasio liabilitas terhadap ekuitas menjadi 0,74 kali.
3. Timeline dan Tanggal Penting yang Perlu Dipantau
Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BRNA telah digelar pada 5 Agustus 2026 dan rencana PMHMETD III memperoleh persetujuan pemegang saham. Meski begitu, jadwalnya baru memuat satu tanggal pasti, yaitu recording date atau tanggal pencatatan pemegang saham yang berhak, pada 5 Oktober 2026.
Tanggal cum-HMETD, ex-HMETD, distribusi, dan periode perdagangan HMETD BRNA belum dipublikasikan karena rencana tersebut masih menunggu pernyataan efektif dari OJK serta persetujuan kreditur PT Bank CIMB Niaga Tbk. Perseroan berkomitmen mengumumkan perubahan maupun penambahan informasi selambat-lambatnya dua hari bursa setelah pernyataan efektif diterbitkan.
Berbeda dengan BRNA, jadwal BUVA sudah tersusun lengkap meski masih bersifat sementara. Berikut rangkaian tanggalnya.
Tabel 3. Jadwal sementara pelaksanaan PMHMETD II BUVA
| Agenda | Tanggal |
|---|---|
| Target pernyataan efektif OJK | 16 September 2026 |
| Cum-HMETD di pasar reguler dan negosiasi | 24 September 2026 |
| Ex-HMETD di pasar reguler dan negosiasi | 25 September 2026 |
| Recording date | 28 September 2026 |
| Distribusi HMETD | 29 September 2026 |
| Pencatatan HMETD di BEI | 30 September 2026 |
| Periode perdagangan dan pelaksanaan HMETD | 1 sampai 14 Oktober 2026 |
| Batas pembayaran pembeli siaga | 21 Oktober 2026 |
Artinya, trader memiliki rentang persiapan yang jelas sebelum cum-date BUVA, berbeda dengan BRNA yang tanggal kuncinya masih terbuka untuk bergeser.
Ingin memantau BRNA dan BUVA sekaligus menjelang tanggal-tanggal tersebut? Pre-Defined Multi-Orderbook Template di Ajaib Terminal menampilkan beberapa orderbook dalam satu layar tanpa perlu menyusun layout dari awal.
Pantau BRNA dan BUVA di Ajaib Terminal →
Kinerja BRNA Semester I 2026: Tumbuh di Atas, Tertekan di Bawah
Tabel 4. Kinerja keuangan BRNA semester I 2026 dibandingkan semester I 2025
| Indikator (Rp miliar) | S1 2026 | S1 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Penjualan neto | 600,29 | 518,73 | +15,7% |
| Laba bruto | 119,35 | 97,06 | +23,0% |
| Margin bruto | 19,88% | 18,71% | +1,17 poin |
| Laba usaha | 51,65 | 56,49 | -8,6% |
| Beban keuangan | 47,01 | 44,29 | +6,1% |
| Laba periode berjalan | 1,00 | 19,82 | -94,9% |
| Laba (rugi) untuk pemilik induk | (2,43) | 15,28 | dari laba ke rugi |
| Laba (rugi) per saham dasar | (Rp2) | Rp16 | dari laba ke rugi |
Penjualan dan laba bruto BRNA tumbuh, tetapi beban keuangan sebesar Rp47,01 miliar menyerap sekitar 91% dari laba usaha Rp51,65 miliar. Beban bunga inilah yang menghabiskan hasil kerja operasional emiten tersebut. Pemilik entitas induk bahkan membukukan rugi Rp2,43 miliar meski laba konsolidasi masih positif Rp1,00 miliar, karena kepentingan non-pengendali menyumbang laba Rp3,43 miliar.
Kinerja BUVA Semester I 2026: Operasional Naik, Laba Bersih Anjlok
Tabel 5. Kinerja keuangan BUVA semester I 2026 dibandingkan semester I 2025
| Indikator (Rp miliar) | S1 2026 | S1 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Pendapatan | 173,95 | 166,12 | +4,7% |
| Laba bruto | 120,93 | 112,66 | +7,3% |
| Margin bruto | 69,52% | 67,82% | +1,70 poin |
| Laba usaha | 27,40 | 23,40 | +17,1% |
| Bagian laba entitas asosiasi | 1,99 | 77,10 | -97,4% |
| Rugi selisih kurs neto | (18,52) | (19,90) | -6,9% |
| Laba periode berjalan | 8,42 | 81,39 | -89,7% |
| Laba per saham dasar | Rp0,33 | Rp3,94 | -91,6% |
Penurunan laba bersih BUVA sebesar 89,7% bukan berasal dari pelemahan operasional, melainkan dari hilangnya bagian laba entitas asosiasi yang pada semester I 2025 mencapai Rp77,10 miliar. Di luar pos tersebut, laba usaha BUVA justru naik 17,1% dan margin bruto membaik menjadi 69,52%. Bagi trader, pembedaan ini penting agar anjloknya laba bersih tidak langsung dibaca sebagai kemunduran bisnis inti.
Perbandingan Struktur Neraca BRNA dan BUVA
Tabel 6. Perbandingan struktur neraca BRNA dan BUVA per 30 Juni 2026
| Indikator per 30 Juni 2026 | BRNA | BUVA |
|---|---|---|
| Total aset | Rp2.208,16 miliar | Rp2.732,08 miliar |
| Total liabilitas | Rp1.142,20 miliar | Rp575,58 miliar |
| Total ekuitas | Rp1.065,96 miliar | Rp2.156,50 miliar |
| Rasio liabilitas/ekuitas | 1,07x | 0,27x |
| Rasio lancar | 1,12x | 1,78x |
| Kas dan setara kas | Rp36,60 miliar | Rp230,78 miliar |
| Utang berbunga | ±Rp783,16 miliar | ±Rp455,13 miliar |
| Utang berbunga neto | ±Rp746,56 miliar | ±Rp224,35 miliar |
| Defisit saldo laba | Rp127,98 miliar | Rp1.138,51 miliar |
Struktur neraca menjelaskan mengapa skema keduanya berbeda. Leverage atau tingkat penggunaan utang pada BRNA jauh lebih tinggi, sehingga aksi korporasinya diarahkan memangkas utang, sedangkan posisi kas dan leverage BUVA lebih longgar sehingga dananya bisa diarahkan ke ekspansi.
Satu catatan penting, defisit saldo laba BUVA yang besar merupakan warisan kerugian periode sebelumnya, bukan cerminan kondisi semester I 2026, sehingga tidak dapat dibaca sebagai kerugian berjalan.
Menghitung TERP dan Nilai Teoretis HMETD
Theoretical ex-right price (TERP) menunjukkan harga wajar teoretis saham setelah saham baru masuk, dan menjadi acuan yang lebih relevan bagi trader dibandingkan harga pada cum-date. Berikut hasil perhitungannya pada masing-masing emiten.
- BRNA, dengan asumsi harga cum Rp705. Rasio 9:5 pada harga pelaksanaan Rp685 menghasilkan TERP sebesar (9 × 705 + 5 × 685) ÷ 14, atau sekitar Rp698. Selisih antara TERP dan harga pelaksanaan itulah nilai teoretis satu HMETD, yang pada BRNA hanya sekitar Rp13.
- BUVA, dengan asumsi harga cum Rp760. Rasio 4:1 pada harga pelaksanaan Rp250 menghasilkan TERP sebesar (4 × 760 + 250) ÷ 5, atau Rp658. Dengan pola perhitungan yang sama, nilai teoretis satu HMETD BUVA mencapai sekitar Rp408, jauh di atas BRNA.
*Catatan: Kedua angka tersebut merupakan hitungan teoretis berbasis asumsi harga, bukan proyeksi harga pasar, karena harga aktual dipengaruhi likuiditas, sentimen, dan permintaan riil.
Membaca Diskon Harga Pelaksanaan BRNA dan BUVA
Harga pelaksanaan BRNA Rp685 hanya berselisih sekitar 2,8% terhadap acuan harga Rp705, sehingga insentif ekonomis menebus HMETD relatif tipis. Sebaliknya, harga pelaksanaan BUVA Rp250 berselisih sekitar 67% terhadap acuan harga Rp760, sehingga HMETD BUVA secara teoretis memiliki nilai ekonomis yang jauh lebih besar.
Meski begitu, diskon besar bukan berarti keuntungan otomatis. Penyesuaian harga setelah ex-right sudah memindahkan sebagian nilai saham lama ke HMETD. Berdasarkan perhitungan teoretis, penyesuaian harga BRNA hanya sekitar 1%, sedangkan BUVA sekitar 13%, sehingga perubahan harga di sekitar ex-date berpotensi jauh lebih terasa pada BUVA.
Menimbang Keputusan Menebus atau Melepas HMETD
Setelah memahami angka teoretisnya, berikut beberapa pertimbangan yang dapat dijadikan bahan analisis.
- Tiga pilihan yang tersedia bagi pemegang saham. Pemegang saham dapat menebus HMETD, menjual HMETD selama periode perdagangan, atau tidak melakukan apa pun dan menerima dilusi. Ketiganya berdampak berbeda pada nilai portofolio, sehingga keputusannya perlu diambil sebelum periode perdagangan berakhir.
- Sikap pasif memiliki biaya tersendiri. HMETD yang tidak dilaksanakan sampai akhir periode perdagangan menjadi tidak berlaku lagi. Tidak mengambil sikap berarti kehilangan nilai ekonomis hak tersebut sekaligus tetap menanggung dilusi.
- Menebus HMETD berarti menambah eksposur. Langkah ini menjaga persentase kepemilikan, tetapi menambah modal pada emiten yang sama. Bagi trader, konsentrasi risiko pada satu saham ikut meningkat, sehingga porsinya perlu diukur terhadap ukuran portofolio.
- Skala dilusi keduanya tidak setara. Untuk BRNA, dilusi maksimum 35,71% dapat bertambah hingga 42,55% jika waran dieksekusi, sedangkan dilusi BUVA terbatas pada 20% tanpa lapisan lanjutan sehingga lebih mudah diproyeksikan.
Sudah menentukan sikap terhadap HMETD dan butuh eksekusi yang lebih ringkas saat harga bergerak cepat? Fast Trade menyatukan order book, panel beli jual, info cash, trade limit, dan max sell dalam satu panel.
Coba Fitur Fast Trade di Ajaib →
Katalis dan Level yang Perlu Dipantau Menjelang Ex-Date
Menjelang tanggal penting, ada beberapa titik data yang membantu trader membaca situasi secara lebih terukur.
- Tanggal cum dan recording date sebagai penentu hak. Kedua tanggal ini menentukan siapa yang berhak menerima HMETD. Pembelian setelah cum-date tidak lagi memberikan hak tersebut, sehingga penanggalan menjadi variabel pertama yang perlu dipastikan.
- Selisih harga antara saham dan HMETD. Selama periode perdagangan, saham dan HMETD bergerak sebagai dua instrumen yang saling terkait. Membandingkan harga saham dengan harga HMETD ditambah harga pelaksanaan membantu mendeteksi selisih harga yang tidak wajar.
- Volume dan aliran broker menjelang cum-date. Data ini berguna untuk menilai apakah kenaikan harga disertai akumulasi atau justru distribusi. Kenaikan harga tanpa dukungan volume yang meyakinkan layak dicermati lebih dulu.
- Realisasi penyerapan HMETD oleh publik. Angka ini menjadi konfirmasi penting, terutama pada BRNA yang sebagian besar haknya diserap pengendali lewat set-off. Serapan publik yang rendah mengindikasikan minat pasar yang terbatas terhadap harga pelaksanaan.
Ingin memastikan kenaikan harga menjelang cum-date disertai akumulasi atau justru distribusi? Broker Summary di Ajaib menampilkan broker net buy, net sell, beserta average price-nya.
Risiko yang Dapat Membatalkan Skenario
Seluruh perhitungan di atas berdiri pada asumsi yang bisa berubah. Berikut sejumlah risiko yang perlu diperhitungkan trader.
- Jadwal BRNA masih dapat bergeser. Rangkaian tanggalnya bersifat sementara dan bergantung pada pernyataan efektif OJK serta persetujuan kreditur. Selama belum ada kepastian, rencana masuk yang disusun berdasarkan tanggal perkiraan berpotensi meleset.
- Beban bunga BRNA tidak sepenuhnya terhapus. Akumulasi bunga Rp62,24 miliar tetap menjadi kewajiban perseroan di luar skema konversi, sehingga perbaikan rasio utang tidak berarti beban keuangan langsung hilang dari laporan laba rugi berikutnya.
- Nilai tambahan modal BUVA bergantung pada eksekusi proyek. Dana Rp1,54 triliun baru bernilai jika proyek Uluwatu Estate, Alila Ubud, dan Lagoi mampu menghasilkan arus kas yang mengimbangi kenaikan jumlah saham. Selama proyek belum beroperasi, tambahan saham lebih dulu terasa dampaknya.
- Perbaikan permodalan belum tentu diikuti perbaikan laba. Penurunan laba bersih kedua emiten pada semester I 2026 menunjukkan bahwa struktur permodalan yang membaik tidak otomatis berbanding lurus dengan kinerja laba jangka pendek.
Rights issue BRNA dan BUVA berangkat dari kondisi neraca yang berbeda, sehingga keduanya tidak dapat dinilai dengan ukuran yang sama. Bagi trader, variabel penentunya bukan besarnya diskon harga pelaksanaan, melainkan kombinasi TERP, nilai HMETD, jadwal cum dan ex-date, tingkat dilusi, serta arah arus dana masing-masing emiten. Keputusan menebus, menjual hak, atau menunggu sebaiknya dikembalikan pada horizon waktu, toleransi risiko, dan konfirmasi data menjelang setiap tanggal penting.
Cara Exercise HMETD Rights Issue di Aplikasi Ajaib
Bagi yang memutuskan menebus haknya, prosesnya dapat dilakukan langsung dari aplikasi. Berikut poin-poin utamanya.
- Pastikan berstatus pemegang saham lama. Saham harus dipegang hingga cum-date di pasar reguler agar berhak menerima HMETD.
- Cek HMETD di portofolio. Hak yang terdistribusi muncul sebagai kode berakhiran “-R”, misalnya BRNA-R atau BUVA-R.
- Pantau jadwalnya lewat Kalender Agenda. HMETD yang tidak dieksekusi sampai periode perdagangan berakhir akan hangus.
- Siapkan saldo RDN. Dana yang dibutuhkan sebesar harga pelaksanaan dikalikan jumlah hak yang ditebus.
- Pilih opsi tebus hak. Buka menu Portofolio, klik HMETD tersebut, lalu pilih opsi exercise yang tersedia.
- Masukkan jumlah dan konfirmasi. Hak dapat ditebus seluruhnya atau sebagian, lalu periksa ringkasan dana yang dipotong dari buying power sebelum konfirmasi.
- Tunggu distribusi saham. Saham induk hasil tebusan masuk ke portofolio sesuai tanggal penjatahan dari KSEI.
Ingin memahami setiap tahapnya secara lebih detail, termasuk tampilan menunya di aplikasi? Simak panduan lengkapnya di artikel berikut.
Cara Exercise Saham Right Issue di Ajaib →
Pantau Periode Rights Issue Lebih Terukur Bersama Ajaib
Jarak antara cum-date dan akhir periode perdagangan HMETD berjalan singkat, sehingga pemantauan harian membantu menjaga keputusan tetap terukur. Multi-Orderbook Template, Broker Summary, dan Fast Trade dapat digunakan dalam satu alur pemantauan, mulai dari membaca arah transaksi hingga eksekusi.
Download Ajaib dan susun watchlist ebelum tanggal-tanggal penting rights issue berjalan mulai dari sekarang!
Profil Penulis

Writer
Ajaib merupakan aplikasi investasi online yang rilis sejak 2019. Ajaib mudah digunakan bagi investor pemula maupun berpengalaman, sesuai dengan visi untuk meningkatkan angka inklusi keuangan masyarakat Indonesia melalui investasi.
Disclaimer: Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Sekuritas membuat informasi ini melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.
Sumber:
[1] Laporan Keuangan Konsolidasian PT Berlina Tbk periode enam bulan berakhir 30 Juni 2026
[2] Laporan Keuangan Konsolidasian PT Bukit Uluwatu Villa Tbk periode enam bulan berakhir 30 Juni 2026
[3] Bisnis.com, “Emiten Kemasan Berlina (BRNA) Rights Issue Incar Rp372,61 Miliar”
[4] Kontan, “Bukit Uluwatu (BUVA) Rights Issue Rp 1,53 Triliun, Ada Empat Pembeli Siaga” (4 Agustus 2026)
[5] Investortrust.id, “Bukit Uluwatu (BUVA) Akan Rights Issue Rp1,54 Triliun, Happy Hapsoro Jadi Pembeli Siaga”
Artikel Terkait





Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!