Ajaib
Menu

Saham

7 Saham LQ45 dengan Valuasi Murah Juli 2026, Cek PER dan PBV-nya

MaulidaJuly 29, 2026

dividen saham

Key Takeaways

  • BBTN, INKP, dan INDF menempati posisi teratas dalam penyaringan ini karena memiliki PER TTM relatif rendah sekaligus diperdagangkan di bawah nilai bukunya.
  • Rendahnya PER dan PBV belum otomatis membuat sebuah saham layak dibeli. Faktor seperti kualitas laba, arus kas, utang, dan prospek sektornya tetap perlu diperiksa.
  • Saham dalam daftar berasal dari sektor berbeda, mulai dari perbankan dan barang konsumsi hingga otomotif, komoditas, dan energi. Karena itu, sumber risiko masing-masing juga tidak sama.

Harga saham yang rendah secara nominal belum tentu berarti murah. Saham seharga Rp500 bisa saja memiliki valuasi lebih tinggi daripada saham seharga Rp5.000 apabila laba dan nilai bukunya jauh lebih kecil.

Untuk mencari saham yang relatif murah secara fundamental, investor dapat menggunakan price-to-earnings ratio atau PER dan price-to-book value atau PBV. BEI mendefinisikan PER sebagai harga saham dibagi laba per saham, sedangkan PBV membandingkan harga saham dengan nilai bukunya.

Artikel ini menyaring konstituen LQ45 periode Mei–Juli 2026 yang memiliki PER TTM positif dan PBV di bawah 1 kali. PER TTM dipilih karena menggunakan laba aktual selama 12 bulan terakhir, bukan proyeksi atau hasil annualisasi satu kuartal.

Perlu dicatat, komposisi LQ45 akan kembali berubah pada 3 Agustus 2026. Dalam evaluasi terbaru, INDY dan NCKL masuk menggantikan SMGR dan TOWR. Namun, seluruh saham yang dibahas berikut masih bertahan dalam indeks untuk periode berikutnya.

Daftar Saham LQ45 Termurah Berdasarkan PER dan PBV

Berikut tujuh saham yang menonjol dalam penyaringan valuasi berdasarkan data pada 29 Juli 2026.

PeringkatSahamPER TTMPBVSektor
1BBTN3,97 kali0,44 kaliPerbankan
2INKP5,39 kali0,36 kaliPulp dan kertas
3INDF5,55 kali0,78 kaliBarang konsumsi
4BBNI6,34 kali0,80 kaliPerbankan
5ASII6,36 kali0,87 kaliKonglomerasi
6ADRO8,58 kali0,87 kaliEnergi dan pertambangan
7PGAS8,90 kali0,76 kaliInfrastruktur gas

Data valuasi dapat berubah mengikuti pergerakan harga saham dan laporan keuangan terbaru. Karena berasal dari industri berbeda, perbandingan PER dan PBV sebaiknya tidak menjadi satu-satunya dasar pengambilan keputusan.

1. BBTN: Valuasi Terendah, Kinerja Mulai Membaik

Saham Bank Tabungan Negara (BBTN) memiliki PER TTM 3,97 kali dan PBV 0,44 kali. Artinya, saham BBTN diperdagangkan pada harga kurang dari separuh nilai bukunya dan menjadi saham dengan PER terendah dalam daftar ini.

Valuasi tersebut menjadi lebih menarik ketika disandingkan dengan perbaikan kinerja terbaru. BTN mencatat pertumbuhan laba bersih semester I-2026 sebesar 40,8% secara tahunan, sementara rasio kredit bermasalah atau NPL turun menjadi 2,99%. Sebelumnya, laba hingga April juga naik 55,84%, ditopang kenaikan pendapatan bunga bersih serta penurunan beban bunga.

Potensi BBTN terutama berasal dari posisinya sebagai pemain utama kredit perumahan dan penyaluran pembiayaan rumah bersubsidi. Namun, investor tetap perlu memantau biaya dana, kualitas kredit, serta kemampuan bank meningkatkan profitabilitas modalnya.

Dengan PBV yang sangat rendah, pasar tampaknya masih memberikan diskon terhadap risiko tersebut. BBTN baru akan terlihat semakin menarik apabila pertumbuhan laba dan penurunan NPL dapat dipertahankan dalam beberapa kuartal berikutnya.

2. INKP: Diskon Terbesar terhadap Nilai Buku

Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) memiliki PER TTM 5,39 kali dan PBV 0,36 kali. PBV tersebut merupakan yang terendah di antara saham dalam daftar ini. Dengan kata lain, harga pasar INKP hanya setara sekitar 36% dari nilai buku per sahamnya.

Secara bisnis, INKP merupakan produsen terintegrasi untuk produk pulp, kertas budaya, kertas industri, dan tisu. Bisnisnya memiliki skala besar dan eksposur ekspor, tetapi sangat dipengaruhi siklus harga pulp dan kertas, biaya energi, permintaan global, serta pergerakan nilai tukar.

PBV yang rendah belum tentu berarti aset perusahaan dapat langsung direalisasikan sesuai nilai yang tercatat di laporan keuangan. Pabrik, mesin, dan aset industri membutuhkan modal besar, sedangkan keuntungan yang dihasilkan dapat berubah mengikuti siklus komoditas.

Investor yang mempertimbangkan INKP perlu memeriksa arus kas operasional, belanja modal, posisi utang, dan kemampuan perusahaan mengubah laba akuntansi menjadi kas. Jika harga pulp dan permintaan global membaik, diskon valuasinya dapat mengecil. Sebaliknya, pelemahan siklus industri dapat membuat saham bertahan murah cukup lama.

3. INDF: Valuasi Murah dengan Bisnis yang Relatif Defensif

Saham Indofood Sukses Makmur (INDF) diperdagangkan pada PER TTM 5,55 kali dan PBV 0,78 kali. Rasio tersebut relatif rendah untuk perusahaan dengan bisnis yang mencakup produk konsumen bermerek, tepung, agribisnis, dan distribusi.

Pada kuartal I-2026, penjualan konsolidasian Indofood naik 7% menjadi Rp33,89 triliun. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga tumbuh 9% menjadi Rp2,96 triliun. Namun, laba usaha turun 6%, menunjukkan bahwa tekanan biaya dan margin tetap perlu diperhatikan.

Kekuatan utama INDF adalah permintaan makanan yang cenderung lebih stabil dibandingkan sektor siklikal. Diversifikasi bisnis juga membantu mengurangi ketergantungan terhadap satu segmen.

Meski demikian, harga bahan baku, pelemahan rupiah, dan perubahan margin pada bisnis agribisnis maupun produk konsumen dapat memengaruhi laba. INDF juga kerap diperdagangkan dengan diskon sebagai perusahaan induk karena nilai anak usaha belum selalu tercermin penuh dalam harga saham induknya.

Di antara saham dalam daftar ini, INDF dapat menjadi pilihan yang lebih defensif. Namun, investor tetap perlu memastikan pertumbuhan laba berasal dari operasi utama dan bukan semata-mata keuntungan kurs atau faktor non-operasional.

4. BBNI: Bank Besar dengan PBV di Bawah Satu Kali

Bank Negara Indonesia (BBNI) memiliki PER TTM 6,34 kali dan PBV 0,80 kali. Valuasi tersebut menempatkan BBNI sebagai salah satu saham bank besar dengan harga relatif rendah terhadap laba dan nilai bukunya.

Kinerja awal 2026 memperlihatkan beberapa perkembangan positif. Pada kuartal I-2026, dana murah atau CASA BNI tumbuh 26,6% secara tahunan menjadi Rp731,6 triliun. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik juga meningkat menjadi sekitar Rp5,66 triliun dari Rp5,38 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan dana murah penting karena dapat membantu bank menjaga biaya pendanaan dan margin bunga. BNI juga memiliki keunggulan melalui jaringan korporasi, bisnis internasional, dan hubungan dengan perusahaan milik negara.

Namun, valuasi bank tidak cukup dilihat dari PBV. Investor juga perlu membandingkannya dengan return on equity, pertumbuhan kredit, NIM, biaya kredit, dan kualitas aset. PBV rendah dapat bertahan apabila tingkat pengembalian atas modal belum memenuhi harapan pasar.

5. ASII: Murah, tetapi Laba Sedang Menghadapi Tekanan

Saham Astra International (ASII) mencatat PER TTM 6,36 kali dan PBV 0,87 kali. Valuasinya terlihat rendah jika dibandingkan dengan luasnya portofolio bisnis Astra, mulai dari otomotif, pembiayaan, alat berat, pertambangan, agribisnis, hingga infrastruktur.

Diskon tersebut bukan tanpa alasan. Pada kuartal I-2026, pendapatan konsolidasian Astra turun 6% menjadi Rp78,7 triliun, sedangkan laba bersih turun 16% menjadi Rp5,9 triliun. Tekanan utama berasal dari bisnis alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi.

Di sisi lain, diversifikasi membuat Astra tidak sepenuhnya bergantung pada penjualan kendaraan atau harga batu bara. Bisnis jasa keuangan, komponen otomotif, transportasi, dan logistik masih dapat memberikan penyeimbang ketika salah satu segmen melemah.

Investor perlu mencermati pemulihan pasar otomotif, kinerja United Tractors, kontribusi bisnis tambang, serta hasil strategi penataan portofolio Astra. Valuasi murah akan lebih bermakna apabila laba mulai kembali tumbuh secara berkelanjutan.

6. ADRO: Pertumbuhan Laba Kuat, tetapi Tetap Siklikal

Alamtri Resources Indonesia (ADRO) diperdagangkan pada PER TTM 8,58 kali dan PBV 0,87 kali. Meski PER-nya lebih tinggi dibanding lima saham sebelumnya, ADRO masih berada di bawah nilai buku dan memiliki earnings yield sekitar 11,7%.

Kinerja kuartal I-2026 terbilang solid. Pendapatan tumbuh 23,4% menjadi US$470,91 juta, sedangkan laba bersih naik sekitar 67% menjadi US$128,14 juta.

Setelah restrukturisasi grup dan pemisahan bisnis Adaro Andalan Indonesia, profil ADRO kini lebih banyak dipengaruhi investasi pada mineral, energi, dan proyek hilirisasi, termasuk aluminium. Perubahan tersebut dapat membuka sumber pertumbuhan baru, tetapi juga membutuhkan belanja modal dan eksekusi proyek yang tidak kecil.

Risiko utamanya tetap berasal dari harga komoditas, keterlambatan proyek, kenaikan biaya, dan kebutuhan pendanaan. Pertumbuhan laba satu kuartal perlu diuji kembali pada laporan berikutnya sebelum dianggap sebagai tren jangka panjang.

7. PGAS: Laba Naik di Tengah Tekanan Pendapatan

Saham Perusahaan Gas Negara (PGAS) memiliki PER TTM 8,90 kali dan PBV 0,76 kali. Valuasinya berada di bawah nilai buku, meskipun tidak serendah BBTN atau INKP.

Pada kuartal I-2026, pendapatan PGAS turun dari US$966,56 juta menjadi US$929,56 juta. Namun, laba bersih meningkat dari US$62,02 juta menjadi US$90,45 juta. Volume distribusi gas pada periode tersebut tercatat sekitar 777 BBTUD.

PGAS memiliki posisi strategis dalam infrastruktur, transmisi, dan distribusi gas bumi nasional. Prospeknya dapat ditopang peningkatan penggunaan gas untuk industri, pembangkit listrik, serta rumah tangga.

Tantangannya terdapat pada kepastian pasokan gas, volume penjualan, regulasi harga, biaya LNG, dan margin distribusi. Fitch memperkirakan volume distribusi PGAS berpeluang pulih pada 2026, tetapi realisasinya tetap bergantung pada pasokan dan permintaan pelanggan industri.

Apakah PER dan PBV Rendah Berarti Sahamnya Layak Dibeli?

Belum tentu. Valuasi rendah dapat menunjukkan peluang, tetapi juga dapat mencerminkan risiko yang sudah diperhitungkan pasar.

Sebelum memilih saham LQ45 dengan PER dan PBV rendah, perhatikan beberapa hal berikut:

  • Bandingkan dengan perusahaan sejenis. PER bank tidak bisa dibandingkan langsung dengan produsen kertas atau perusahaan energi.
  • Periksa tren laba. PER dapat terlihat rendah ketika laba sedang berada di puncak siklus.
  • Cermati ROE. PBV di bawah satu kali kurang menarik apabila perusahaan terus menghasilkan pengembalian modal yang rendah.
  • Lihat arus kas dan utang. Laba besar belum tentu berkualitas apabila tidak diikuti arus kas operasional.
  • Kenali katalisnya. Saham murah membutuhkan pemicu agar pasar bersedia memberikan valuasi lebih tinggi.

Dari sisi karakter bisnis, INDF relatif lebih defensif, sedangkan ASII menawarkan diversifikasi. BBTN dan BBNI lebih sensitif terhadap margin bunga serta kualitas kredit. Sementara itu, INKP, ADRO, dan PGAS memiliki eksposur lebih besar terhadap siklus komoditas dan energi.

Karena itu, pilihan terbaik tidak selalu saham dengan PER paling rendah, melainkan saham yang memiliki kombinasi valuasi, kualitas bisnis, dan prospek pertumbuhan paling sesuai dengan strategi investor.

Pantau Saham LQ45 Lebih Mudah di Ajaib

PER dan PBV dapat menjadi titik awal untuk menemukan saham yang sedang diperdagangkan pada valuasi menarik. Namun, keputusan investasi tetap perlu dilengkapi dengan analisis laporan keuangan, prospek industri, dan manajemen risiko.

Kamu dapat memantau valuasi, laporan keuangan, pergerakan harga, serta perkembangan BBTN, INKP, INDF, BBNI, ASII, ADRO, dan PGAS melalui aplikasi Ajaib.

Sebagai platform investasi saham yang berizin dan diawasi OJK, Ajaib memberikan akses transaksi yang praktis serta berbagai informasi pasar untuk membantu investor mengambil keputusan dengan lebih terukur. Download aplikasi Ajaib dan mulai jelajahi peluang investasi di pasar saham Indonesia sesuai tujuan dan profil risiko kamu.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko. Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan merupakan rekomendasi, ajakan, atau paksaan untuk membeli maupun menjual saham tertentu. Data valuasi dapat berubah mengikuti harga pasar dan laporan keuangan terbaru. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor.

Google Play StoreApple App Store

Sumber:

  • https://www.idx.co.id/id/investor/stock-screener-column-explanation/
  • https://www.btn.co.id/en/about/investor-relation/investor-relation
  • https://www.bni.co.id/en-us/home/bni-news/news/articleid/27149/bni-reports-strong-first-quarter-2026-results-driven-by-strong-fundamentals-and-business-transformation
  • https://www.firstpacific.com/media/normal/17183_Indofood%20FY25%20results.pdf
  • https://www.astra.co.id/en/press-release/29-april-2026-pt-astra-international-tbk-perseroan-atau-astra-laporan-keuangan-kuartal-i-tahun-2026
  • https://www.alamtri.com/pages/read/10/41/Kinerja%20Perusahaan
  • https://www.idx.co.id/StaticData/NewsAndAnnouncement/ANNOUNCEMENTSTOCK/From_EREP/202604/20260424184938-61479-0/FinancialStatement-2026-I-PGAS.pdf

Artikel Populer

Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi

Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!