BI Rate Ditahan di Level 5,75%, Tekanan Belum Reda Pada BBRI, BBCA, dan BMRI
ajaib•July 27, 2026

Key Takeaways
- Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur 21-22 Juli 2026, berbeda dari konsensus pasar yang mayoritas memperkirakan kenaikan menjadi 6%.
- Saham bank berkapitalisasi besar tetap tertekan sehari setelah keputusan. BBRI turun 0,99% ke Rp2.990, BBCA turun 3,46% ke Rp6.275, dan BMRI turun 0,90% ke Rp4.380.
- Perbandingan laporan keuangan bulanan April dan Mei 2026 menunjukkan tekanan biaya dana sudah masuk ke pembukuan BBRI dan BMRI, sementara BBCA relatif belum terpengaruh.
- Margin bunga bersih BBRI menyusut sekitar 71 basis poin dalam satu bulan, namun laba bersihnya justru naik 10,22% karena topangan pendapatan dividen Rp4,17 triliun.
Keputusan Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan sempat dibaca sebagian pelaku pasar sebagai kabar yang meredakan ketidakpastian. Namun reaksi saham perbankan menunjukkan hal berbeda. Tiga emiten bank terbesar di Bursa Efek Indonesia, yakni BBRI, BBCA, dan BMRI, kompak melemah pada perdagangan berikutnya. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai apa sebenarnya yang masih membebani sektor perbankan meski bunga acuan sudah berhenti naik.
Suku Bunga Ditahan, Tekanan pada Saham Bank Juga Belum Usai
BI memutuskan mempertahankan BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur yang berlangsung pada 21-22 Juli 2026. Keputusan tersebut diikuti penetapan suku bunga Deposit Facility di 4,75% dan Lending Facility di 6,50%. Arah kebijakan ini berlawanan dengan perkiraan mayoritas ekonom yang sebelumnya memproyeksikan kenaikan 25 basis poin menjadi 6%, terutama setelah bank sentral menaikkan bunga acuan secara kumulatif 100 basis poin sepanjang semester I 2026.
Respons pasar justru datar hingga negatif. Pada perdagangan 22 Juli, Indeks Harga Saham Gabungan melemah tipis 0,09% ke level 6.334,48 dan mengakhiri reli sembilan hari berturut-turut. Investor asing membukukan net sell atau penjualan bersih senilai Rp920,3 miliar, dengan BBRI melemah 1,63% dan BMRI melemah 1,34%. Keesokan harinya indeks sempat menguat lebih dari 1%, tetapi berbalik ditutup melemah 0,30% ke level 6.315,31 setelah bergerak pada kisaran 6.306 hingga 6.454.
Kenapa Tekanan ke Saham Bank Belum Reda?
Bunga acuan yang berhenti naik tidak otomatis berarti biaya pendanaan perbankan ikut berhenti naik. Ada jeda waktu antara keputusan bank sentral dan dampaknya pada pembukuan bank. Setidaknya ada tiga faktor yang membuat tekanan terhadap sektor ini belum mereda.
1. Biaya Dana Masih Menanjak
Bunga simpanan berjangka umumnya menyesuaikan lebih cepat dibandingkan bunga kredit. Oleh karena itu, dampak terbesar dari kenaikan bunga acuan justru diperkirakan baru terasa pada semester II 2026, ketika bunga deposito yang lebih tinggi mulai masuk ke dalam struktur pendanaan bank.
2. Bunga Simpanan Sudah Mulai Bergerak Naik
Kenaikan bunga acuan mulai terlihat pada sisi pendanaan. Rata-rata suku bunga dana pihak ketiga perbankan naik dari 2,65% pada April 2026 menjadi 2,70% pada Mei 2026. Kenaikan tersebut memang masih tipis, tetapi arahnya menunjukkan bahwa penyesuaian sudah dimulai.
Risiko yang lebih besar diperkirakan muncul pada semester II 2026, ketika bunga deposito yang lebih tinggi mulai masuk ke dalam struktur pendanaan dan menekan margin serta laju pertumbuhan laba.
3. Pertumbuhan Kredit dan Permintaan Belum Seimbang
Penyaluran kredit perbankan secara industri tumbuh 11,51% secara tahunan pada Mei 2026, lebih tinggi dibandingkan April yang sebesar 9,98%. Namun capaian tersebut masih diiringi fasilitas pinjaman yang belum ditarik atau undisbursed loan sebesar Rp2.576 triliun, setara 22,41% dari plafon kredit yang tersedia.
Kondisi ini menunjukkan perbankan masih memiliki kapasitas menyalurkan kredit, tetapi permintaannya belum sekuat kapasitas tersebut. BI sendiri memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 tetap berada pada kisaran 8% hingga 12%.
Apa Dampak ke BBRI, BBCA, dan BMRI yang Perlu Dicermati
Gambaran industri tersebut akan lebih mudah dipahami bila ditarik ke masing-masing emiten. Mari kita lihat bagaimana harga sahamnya bereaksi sehari setelah keputusan bunga diumumkan.
Tabel 1. Harga Penutupan Saham BBRI, BBCA, dan BMRI pada 23 Juli 2026
*Harga saham berfluktuasi secara real time. Kinerja saham pada hari ini tidak dapat dijadikan jaminan atau indikator atas kinerja di masa mendatang.
Dari sisi risiko, tekanan biaya dana umumnya baru terlihat penuh beberapa bulan setelah bunga acuan naik, sehingga laporan keuangan terkini belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya. Margin bunga bersih atau net interest margin, yaitu selisih antara pendapatan bunga dan biaya dana dibandingkan aset produktif, berpotensi terus menyempit selama bunga simpanan menyesuaikan lebih cepat dibandingkan bunga kredit.
Di sisi lain, keputusan menahan bunga acuan memberi ruang bagi perbankan untuk menstabilkan biaya dananya. BI juga menyatakan keputusan tersebut merupakan bagian dari bauran kebijakan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi, disertai perluasan insentif guna meningkatkan likuiditas perbankan dan aliran masuk investasi portofolio asing.
Bagi emiten dengan struktur pendanaan yang kuat, kondisi ini berarti tekanan margin dapat tertahan meski ruang ekspansi kredit tidak seagresif jika bunga acuan mulai diturunkan.
Untuk melihat gambaran yang lebih konkret, perbandingan laporan keuangan publikasi bulanan April dan Mei 2026 dapat memberi petunjuk yang lebih jelas dibandingkan pergerakan harga harian.
Tabel 2. Perbandingan Indikator Kinerja BBRI, BBCA, dan BMRI, Mei 2026 terhadap Rata-Rata Januari hingga April 2026
| Indikator Kinerja | BBRI | BBCA | BMRI |
| Pendapatan bunga | −4,02% | −0,21% | −0,26% |
| Beban bunga | +13,47% | −1,68% | +6,65% |
| Pendapatan bunga bersih | −10,30% | +0,04% | −3,74% |
| Cost of fund | 2,54% → 2,86% | 1,04% → 1,02% | 2,25% → 2,35% |
| NIM proxy | 6,43% → 5,72% | 5,34% → 5,31% | 4,14% → 3,94% |
| Deposito (bulanan) | +3,91% | −0,05% | +3,97% |
| Rasio CASA | 70,8% → 70,6% | 85,0% → 85,1% | 71,2% → 71,2% |
| Cost of credit | 3,23% → 3,68% | 0,34% → 0,18% | 0,49% → 0,53% |
| Laba bersih | +10,22% | −9,52% | +12,92% |
*Data diolah dari laporan keuangan publikasi bulanan masing-masing emiten, basis individual dan belum diaudit. Cost of fund adalah biaya rata-rata yang dibayar bank atas dana yang dihimpun, sedangkan rasio CASA menunjukkan porsi dana murah berupa giro dan tabungan terhadap total simpanan. Cost of credit menggambarkan beban pencadangan terhadap kredit yang disalurkan.
Angka tersebut menjawab pertanyaan yang sedang ramai di pasar, yaitu apakah kenaikan bunga acuan sudah benar-benar menggerus kinerja bank besar. Jawabannya berbeda untuk setiap emiten, dan perbedaannya sangat ditentukan oleh struktur pendanaan masing-masing.
BBCA praktis tidak tersentuh. Biaya dananya justru turun tipis ke 1,02% dan pendapatan bunga bersihnya nyaris tidak bergerak. Kuncinya ada pada rasio CASA yang mencapai 85%, sehingga mayoritas dananya berupa giro dan tabungan yang bunganya tidak banyak berubah saat bunga acuan naik. Depositonya pun tidak tumbuh, tanda tidak ada perpindahan nasabah yang mengejar bunga lebih tinggi.
BBRI dan BMRI menunjukkan pola berbeda. Keduanya mencatat kenaikan deposito hampir 4% hanya dalam sebulan, dan biaya dana langsung ikut naik. Tekanan terberat dialami BBRI, dengan beban bunga melonjak 13,47% sementara pendapatan bunganya justru turun 4,02% meski kredit tetap tumbuh. Margin bunga bersihnya tergerus sekitar 71 basis poin dalam satu bulan, diperberat biaya pencadangan yang naik ke 3,68%. BMRI mengalami hal serupa dengan skala lebih ringan, yakni penurunan margin sekitar 20 basis poin.
Ada satu hal yang perlu dibaca dengan hati-hati. Baris laba bersih justru memberi sinyal yang berlawanan dengan kondisi marginnya. Laba BBRI naik 10,22% dan BMRI naik 12,92%, sedangkan BBCA turun 9,52%. Kenaikan laba BBRI ditopang pendapatan dividen Rp4,17 triliun yang seluruhnya masuk pada Mei, dan BMRI memperoleh dorongan serupa senilai Rp0,78 triliun.
Sebaliknya, penurunan laba BBCA terjadi karena pendapatan dividennya terkonsentrasi pada Januari hingga April, bukan karena kinerja operasionalnya memburuk. Waktu masuknya dividen dari anak usaha memang dapat berbeda setiap tahun, sehingga pola ini belum tentu berulang pada periode berikutnya.
Artinya, emiten yang labanya terlihat paling menarik justru yang marginnya paling tertekan. Kondisi ini menjelaskan mengapa sebaiknya tidak memperlakukan ketiga saham tersebut sebagai satu kelompok yang seragam.
Perlu ditegaskan bahwa perbandingan laporan keuangan ini menggambarkan kondisi fundamental masing-masing emiten, bukan penyebab pergerakan harga hariannya. Keduanya bahkan tidak sejalan. BBCA yang kondisi pendanaannya paling terjaga justru mengalami koreksi terdalam pada 23 Juli, sementara BBRI yang marginnya paling tergerus hanya melemah tipis. Pergerakan harga harian dipengaruhi banyak faktor lain, seperti arus dana asing, valuasi, dan posisi kepemilikan, yang berada di luar cakupan data ini.
Perlu dicatat pula, perbandingan tersebut merekam periode ketika bunga acuan baru naik ke level 5,25% pada Mei, bukan kondisi bertahan seperti sekarang. Karena itu, data ini menggambarkan tahap awal transmisi kebijakan, bukan dampak penuhnya, dan rentang satu bulan masih terlalu pendek untuk dijadikan kesimpulan tetap. Laporan bulanan Juni 2026 yang belum dirilis akan menjadi pengujian yang lebih relevan, karena periode tersebut mencakup dua kali kenaikan bunga acuan.
Hal yang Perlu Dicermati Trader dan Investor Saham
Dari keseluruhan gambaran tersebut, ada beberapa hal yang layak masuk daftar pantauan dalam beberapa pekan ke depan.
1. Perhatikan Pola Pergerakan Intraday, Bukan Hanya Persentase Harian
Pada 23 Juli, BBCA bertahan di kisaran Rp6.450 hingga Rp6.475 sepanjang sesi pertama sebelum turun bertingkat sepanjang sesi kedua dan ditutup mendekati level terendah harian. Penurunan tersebut disertai nilai transaksi Rp1,31 triliun, salah satu yang terbesar pada hari itu, sehingga pelemahannya terjadi dengan volume yang tebal.
2. Tandai Musim Laporan Keuangan dan Agenda Bank Sentral
BBCA menjadwalkan rilis laporan keuangan pada 29 Juli 2026, yang akan menjadi konfirmasi pertama apakah tekanan biaya dana sudah terlihat pada angka kuartal II. Pada pekan yang sama, Federal Open Market Committee menggelar rapat pada 28-29 Juli 2026. Keputusan suku bunga dan pernyataan kebijakannya dirilis pada 29 Juli 2026 pukul 14.00 waktu setempat, atau 30 Juli 2026 pukul 01.00 WIB dini hari.
Momen seperti ini lebih berguna untuk menakar ulang risiko dibandingkan untuk terburu-buru mengambil posisi. Sebagai acuan teknikal, IHSG memiliki level support atau area penahan di 6.200 dan resistance atau area hambatan di 6.400. Selama indeks bertahan di atas area penahan tersebut, peluang konsolidasi masih terbuka meski volatilitas berpotensi meningkat.
Analisa Pergerakan Saham yang Lebih Komprehensif dengan Ajaib Terminal
Situasi ketika kebijakan moneter dan rilis laporan keuangan datang berdekatan menuntut akses informasi yang cepat dan akurat. Untuk memantau respons pasar terhadap perubahan suku bunga, aksi korporasi, hingga kinerja emiten, Anda dapat memanfaatkan Ajaib Terminal.
Dengan tampilan desktop yang lebih komprehensif dan fleksibel, Ajaib Terminal membantu Anda menganalisis pergerakan harga saham secara lebih mendalam melalui berbagai fitur, seperti chart, order book, running trade, Broker Summary, Broker Distribution, hingga Corp Action.
Berbagai fitur tersebut memudahkan Anda melihat bagaimana pelaku pasar merespons kebijakan moneter, apakah suatu saham sedang berada dalam fase akumulasi atau distribusi, broker mana yang aktif melakukan transaksi, hingga mengidentifikasi potensi perubahan momentum. Dengan begitu, keputusan investasi maupun trading dapat didasarkan pada analisis data yang lebih komprehensif, bukan hanya sentimen pasar sesaat.
Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Sekuritas membuat informasi ini melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.
Sumber: Laporan Keuangan Bulanan BBRI, Laporan Keuangan Bulanan BBCA, Laporan Keuangan Bulanan BMRI, Ajaib Terminal, dan IDXChannel, “Pelemahan Rupiah dan Suku Bunga Tinggi Diproyeksi Tekan Laba Perbankan 2026” (https://www.idxchannel.com/market-news/pelemahan-rupiah-dan-suku-bunga-tinggi-diproyeksi-tekan-laba-perbankan-2026)
Artikel Terkait




Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!
