BI Tahan Suku Bunga di 5,75% Meski Fed dan BoJ Kompak Naik, Ini Alasan dan Risikonya bagi Trader
Afif Alfaris•September 24, 2026

Key Takeaways
- Fed naik 25 bps ke 3,75-4,00% (16 Sep), BoJ ke 1,25% (18 Sep), sedangkan BI menahan di 5,75% untuk ketiga kalinya berturut-turut (23 Sep).
- Setelah naik 100 bps pada Mei-Juni 2026 dan inflasi Agustus 3,19% masih dalam sasaran, BI memperkuat intervensi rupiah dan insentif lindung nilai hingga 30%.
- Rupiah di Rp17.855 per 22 September, melemah 0,78% dari akhir Agustus, dekat rekor terlemah di atas Rp18.000.
- Selisih BI Rate dengan batas atas Fed Funds tinggal 175 bps, dan selisih yield SBN dengan US Treasury 10 tahun sekitar 200 bps.
- SRBI dan SBN mencatat inflow, saham net sell sekitar Rp70 triliun sepanjang 2026, dan inflow portofolio neto kuartal III hingga 21 September US$0,4 miliar.
BI Tahan Bunga di Tengah Perubahan Kebijakan Global
Bank Indonesia (BI) menahan BI Rate September 2026 di 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 22-23 September 2026, dengan Deposit Facility 4,75% dan Lending Facility 6,50%. Arahnya menstabilkan rupiah dan menjaga inflasi di sasaran 2,5±1% pada 2026 dan 2027.
Keputusan BI tahan suku bunga ini datang beberapa hari setelah The Fed menaikkan bunga pertama kalinya sejak Juli 2023, dan Bank of Japan (BoJ) membawa bunganya ke level tertinggi dalam sekitar tiga dekade.
IHSG naik 1,56% ke 6.374,91 saat pengumuman. Namun, asing masih melepas saham bank besar dan rupiah kembali ke kisaran Rp17.890 keesokan paginya, sehingga rupiah dan dana asing menjadi fokus trader.
Tiga Bank Sentral, Tiga Keputusan dalam Satu Pekan
Keputusan BI lebih mudah dibaca bila disandingkan dengan Fed dan BoJ, yang ikut menggerakkan dolar AS terhadap rupiah.
Tabel 1. Keputusan Tiga Bank Sentral, September 2026
| Keterangan | The Fed | BoJ | BI |
| Tanggal | 16 Sep | 18 Sep | 23 Sep |
| Keputusan | Naik 25 bps | Naik 25 bps | Tetap |
| Level | 3,75-4,00% | 1,25% | 5,75% |
| Suara | Bulat | 7 banding 2 | Tidak diungkapkan |
| Inflasi acuan | Proyeksi PCE 2026 3,7% | Inti menuju >2% | IHK 3,19%, inti 2,92% (Agu) |
| Sinyal lanjutan | Dot plot median 2026 4,1% | Tanpa panduan arah | Fokus stabilisasi rupiah |
*Data per keputusan masing-masing bank sentral, September 2026.
Fed Kembali ke Mode Pengetatan
Fed di bawah Kevin Warsh menaikkan bunga karena banyak kategori harga masih naik di atas 3%, dan median dot plot 2026 di 4,1% membuka peluang satu kenaikan lagi. Yield US Treasury 10 tahun menembus sekitar 5,1%, tertinggi sejak 2007, dan DXY di kisaran 100,8.
BoJ Naik, tetapi Yen Tetap Lemah
BoJ menaikkan bunga ke 1,25% dengan dua anggota dewan menolak, tanpa panduan arah dari Kazuo Ueda. Sinyal yang belum tegas membuat yen tidak menguat berarti, dan dolar AS tetap kuat terhadap mata uang Asia.
Mengapa BI Memilih Menahan Suku Bunga?
Menahan suku bunga tidak berarti BI pasif. Ada sejumlah pertimbangan yang mendasari keputusan tersebut, termasuk langkah kenaikan bunga yang sudah dilakukan sebelumnya, kondisi inflasi, serta penggunaan instrumen stabilisasi rupiah.
1. BI Sudah Menaikkan Bunga Lebih Dulu
BI menaikkan BI Rate total 100 bps pada Mei-Juni 2026, dari 4,75% menjadi 5,75%, ketika rupiah menembus Rp18.000 dan mencetak rekor terlemah. Dengan front loading atau kenaikan di depan tersebut, BI memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga sambil melihat perkembangan ekonomi dan pasar.
2. Inflasi Masih di Dalam Sasaran
Inflasi IHK Agustus 3,19% yoy, inti 2,92%, pangan bergejolak 4,06%, dan harga diatur pemerintah 3,32%. Suku bunga riil BI sekitar 2,56% (hitungan Ajaib), di atas suku bunga riil Fed yang mendekati nol terhadap proyeksi PCE, sehingga kondisi suku bunga tetap menjadi salah satu faktor yang mendukung aset berbasis rupiah.
3. Instrumen Selain Suku Bunga Diperkuat
BI memperbesar insentif lindung nilai atau hedging agar investor asing tidak menanggung seluruh risiko kurs.
Tabel 2. Insentif Lindung Nilai BI yang Diperbesar
| Instrumen | Sebelumnya | Sekarang |
| Swap Beli Lindung Nilai 3 bulan | 12,5% | 15% |
| Swap Beli Lindung Nilai 6 bulan | 12,5% | 20% |
| Swap Beli Lindung Nilai 12 bulan | 12,5% | 25% |
| DNDF Lindung Nilai 6 bulan | 15% | 25% |
| DNDF Lindung Nilai 12 bulan | 15% | 30% |
*Berlaku awal untuk USD dan RMB (CNY dan CNH). Transaksi LCT mendapat tambahan premi swap 10% dan pengurangan premi DNDF 10%.
Insentif ini menyasar inflow portofolio, pinjaman luar negeri perbankan, dan PMA, disertai intervensi NDF luar negeri, DNDF, dan spot dengan cadangan devisa US$146,5 miliar (5,4 bulan impor) sebagai penyangga.
4. Pertumbuhan dan Kredit Perlu Dijaga
Proyeksi pertumbuhan 2026 tetap 4,9-5,7%, dengan kredit Agustus tumbuh 13,65% yoy dan insentif KLM tersalurkan Rp461,2 triliun. Dengan kondisi tersebut, BI juga perlu menjaga keseimbangan antara stabilitas rupiah dan momentum pertumbuhan ekonomi. Perbankan tetap solid dengan CAR 23,84% dan NPL gross 2,10%.
Baca juga: Breaking News! BI Rate September 2026 Tetap 5,75%
Risiko Menahan Suku Bunga bagi Rupiah dan Foreign Flow
Alasan BI mempertahankan suku bunga perlu dilihat bersama perkembangan selisih imbal hasil, arus dana asing, nilai tukar, serta kondisi pasar global. Empat faktor berikut menjadi indikator yang dapat dipantau dalam beberapa pekan ke depan.
1. Selisih Imbal Hasil Makin Tipis
Tabel 3. Selisih Suku Bunga dan Yield Indonesia vs AS
| Pembanding | Indonesia | AS | Selisih |
| Suku bunga kebijakan | 5,75% | 4,00% (batas atas) | 175 bps |
| Yield obligasi 10 tahun | ±7,12% | ±5,11% | ±200 bps |
*Yield SBN per 22 September dan US Treasury per 23 September 2026. Selisih adalah hitungan Ajaib dan bersifat indikatif.
Setiap kenaikan Fed yang tidak diikuti BI mempersempit bantalan imbal hasil. Jika dot plot terealisasi, selisih suku bunga kebijakan dapat turun ke sekitar 150 bps dan mendorong keluarnya dana jangka pendek.
2. Arus Dana Asing Terbelah antara Obligasi dan Saham
Tabel 4. Arus Dana Asing per Instrumen, 2026
| Instrumen | Posisi year to date | Tren terbaru |
| SRBI | Inflow ±Rp163-172 T | Outflow 5 pekan beruntun, termasuk Rp4,7 T (14-17 Sep) |
| SBN | Inflow ±Rp28-41 T | Inflow Rp7,1 T (14-17 Sep) |
| Saham | Outflow ±Rp70,7-75 T | Net sell Rp3,36 T (7-11 Sep) dan Rp1,2 T (14-17 Sep) |
*Rentang angka mencerminkan perbedaan periode pencatatan, 11-22 September 2026.
Dana asing yang masuk dapat merespons perubahan imbal hasil dan risiko kurs. Karena itu, outflow SRBI selama lima pekan dan inflow portofolio kuartal III sebesar US$0,4 miliar menjadi data yang dapat dipantau bersama pergerakan saham dan obligasi.
3. Rupiah Dekat Zona Psikologis Rp18.000
Rupiah sempat menguat ke Rp17.795 setelah pengumuman BI, lalu kembali ke sekitar Rp17.896 pagi 24 September. Zona Rp18.000-18.033, rekor terlemah Juni 2026, menjadi salah satu level yang perlu diperhatikan karena perubahan nilai tukar dapat memengaruhi emiten dengan eksposur impor maupun utang dolar.
4. Harga Minyak dan Arah BoJ
Minyak sempat mencapai US$132 per barel akibat ketegangan Timur Tengah sebelum turun ke bawah US$100 pada 22 September. Pergerakan minyak berikutnya dapat memengaruhi inflasi dan kebutuhan dolar.
Sementara itu, arah kebijakan BoJ juga menjadi faktor yang perlu dipantau karena dapat memengaruhi pergerakan yen dan carry trade. Perubahan kebijakan yang lebih agresif dapat turut memengaruhi sentimen risiko di pasar negara berkembang.
Di sisi lain, kondisi inflasi global, harga minyak, dan efektivitas instrumen lindung nilai BI akan menjadi bagian penting dalam melihat bagaimana kebijakan suku bunga saat ini berdampak pada rupiah dan arus modal.
Apa Artinya bagi Trader Saham?
Dampak suku bunga ke saham tidak merata, sehingga trader perlu memetakan kelompok saham yang sensitif terhadap rupiah dan dana asing.
Tabel 5. Peta Sensitivitas Sektor
| Kelompok | Kondisi saat ini | Yang perlu dipantau |
| Bank besar (BBRI, BMRI, BBCA) | Masih net sell asing, walau kredit tumbuh 13,65% | Foreign flow harian dan level support |
| Eksportir komoditas (ANTM, PTBA, AADI, MDKA) | Net buy asing, diuntungkan rupiah lemah | Harga komoditas dan konsistensi akumulasi |
| Emiten importir dan berutang dolar | Sensitif jika rupiah menembus Rp18.000 | Pergerakan rupiah dan laporan kuartal III |
| Konsumer siklikal | Memimpin kenaikan (+4,6%) 23 Sep | Reli berlanjut atau technical rebound |
*Data sektor dan aliran asing per 11-23 September 2026.
Anda dapat memakai fitur Foreign Flow di aplikasi Ajaib untuk memantau apakah asing kembali ke saham bank besar.
Skenario dan Kalender yang Perlu Diperhatikan
Tiga skenario yang dapat menjadi acuan:
- Positif. Rupiah bertahan di bawah Rp17.800, net sell asing di saham bank mereda, dan IHSG di atas 6.300.
- Negatif. Rupiah menembus Rp18.000, outflow SRBI berlanjut, dan IHSG kembali ke 6.277.
- Netral. Rupiah bergerak di Rp17.700-17.950 sambil menunggu data inflasi AS.
Kalender penting: RDG BI Oktober, FOMC 27-28 Oktober, pertemuan BoJ akhir Oktober, rilis inflasi September, dan laporan keuangan kuartal III emiten.
Anda dapat memakai Inventory Analysis dan Broker Flow di Ajaib Terminal untuk melihat apakah akumulasi saham komoditas konsisten.
Pantau Dampak Kebijakan Bank Sentral Lebih Cepat dengan Ajaib Terminal
Perbedaan arah kebijakan BI, Fed, dan BoJ membuat pergerakan rupiah, dana asing, dan saham tetap menarik untuk dipantau. Karena itu, kamu bisa menggunakan Ajaib Terminal untuk mengikuti chart saham bank, komoditas, dan IHSG, sekaligus memantau order book dan aktivitas broker dalam satu layar.
Kamu juga bisa memanfaatkan Fast Trade untuk mengikuti pergerakan saham dan menyesuaikan strategi trading dengan kondisi pasar. Download Ajaib sekarang!
Disclaimer: Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Sekuritas membuat informasi ini melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.
Sumber:
- Bank Indonesia, “BI-Rate Tetap 5,75%: Memperkuat Stabilitas, Mendorong Pertumbuhan Ekonomi” (23 September 2026)
- Bisnis.com, “Rangkuman Hasil Rapat The Fed: Suku Bunga Naik, Proyeksi 2026, hingga Warsh Tanggapi Trump” (17 September 2026)
- Vibiznews, “BOJ Menaikkan Suku Bunga Sesuai Perkiraan” (18 September 2026)
- Bloomberg Technoz, “Aliran Modal Asing Tembus Rp141 T Sepanjang 2026, Mayoritas SRBI” (18 September 2026)
- Investing.com Indonesia, “BI Tahan Suku Bunga, IHSG Naik tapi Asing Masih Lepas BBCA-BBRI” (23 September 2026)
Profil Penulis
Writer
-
Artikel Terkait





Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!