Aturan Harga Minimum Saham Rp1: Apa Plus Minusnya bagi Pasar?
Maulida•September 23, 2026

Key Takeaways
- Aturan harga minimum saham Rp1 dapat membuka lebih banyak level harga sehingga saham yang selama ini tertahan di Rp50 bisa mengalami proses pembentukan harga yang lebih granular.
- Likuiditas berpotensi meningkat karena transaksi tidak lagi terkonsentrasi pada satu batas harga, tetapi manfaatnya tidak otomatis terjadi pada setiap saham berharga rendah.
- Di sisi lain, saham pada harga sangat rendah dapat mengalami perubahan persentase yang besar hanya dari pergerakan nominal beberapa rupiah.
- Harga murah secara nominal berpotensi menarik aktivitas spekulatif, sehingga trader perlu membedakan antara saham yang aktif karena likuiditas membaik dan saham yang sekadar mengalami lonjakan transaksi jangka pendek.
Rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) menghapus batas harga minimum Rp50 dan membuka perdagangan saham hingga Rp1 membawa perubahan besar bagi saham-saham berharga rendah.
Di satu sisi, kebijakan ini berpotensi membuka likuiditas yang selama ini tertahan dan membuat harga mencerminkan kondisi pasar dengan lebih baik. Di sisi lain, rentang harga yang semakin lebar juga dapat membawa risiko baru, mulai dari volatilitas tinggi hingga meningkatnya perhatian terhadap saham berharga sangat rendah.
Karena itu, aturan saham Rp1 sebaiknya tidak langsung dilihat sebagai kebijakan yang sepenuhnya positif atau negatif. Dampaknya dapat berbeda-beda tergantung kondisi saham, likuiditas, serta perilaku pelaku pasar setelah aturan diterapkan.
Aturan Saham Rp1 Punya Dua Sisi
BEI menargetkan perubahan batas minimum harga untuk meningkatkan akses likuiditas dan memperbaiki proses price discovery. Saham yang selama ini berhenti di Rp50 nantinya mempunyai ruang lebih luas untuk bergerak mengikuti permintaan dan penawaran.
Namun, membuka rentang harga sampai Rp1 juga berarti mekanisme pasar mempunyai ruang lebih luas untuk melakukan repricing.
Saham yang sebelumnya terlihat stabil karena tidak bisa turun dari Rp50 dapat kembali bergerak. Transaksi baru dapat muncul, tetapi harga juga dapat menemukan keseimbangan pada level yang jauh berbeda dibandingkan sebelumnya.
Secara sederhana, trade-off aturan ini dapat digambarkan sebagai berikut:
| Potensi Plus | Potensi Minus |
| Lebih banyak ruang untuk pembentukan harga | Harga dapat mengalami repricing lebih tajam |
| Likuiditas berpotensi meningkat | Volatilitas persentase bisa tinggi pada harga rendah |
| Antrean transaksi tidak lagi berhenti hanya di Rp50 | Harga nominal murah bisa memicu persepsi keliru |
| Informasi harga menjadi lebih granular | Aktivitas spekulatif berpotensi meningkat |
| Sebagian saham dapat kembali lebih aktif diperdagangkan | Transisi membutuhkan kesiapan sistem perdagangan |
Pelajari lebih lanjut mengenai daftar saham Gocap dan strategi bagi investor.
Kelebihan Aturan Saham Rp1
1. Saham Gocap Tidak Lagi Terlihat “Sama”
Salah satu efek menarik dari batas minimum Rp50 adalah banyak saham dengan kondisi berbeda akhirnya berada pada harga yang sama.
Sebuah perusahaan dengan prospek perbaikan bisnis bisa berada di Rp50. Di sisi lain, perusahaan dengan kondisi fundamental jauh lebih lemah juga dapat berada di harga yang sama karena keduanya sudah mencapai batas minimum.
Akibatnya, harga Rp50 tidak memberikan banyak informasi mengenai seberapa besar pasar sebenarnya menghargai masing-masing saham tersebut.
Jika batas minimum berubah menjadi Rp1, harga dapat terbentuk pada lebih banyak level.
Saham A mungkin menemukan keseimbangan baru di sekitar Rp40, sementara saham lain mungkin hanya memperoleh permintaan yang cukup pada harga yang jauh lebih rendah.
Perbedaan tersebut dapat memberikan informasi tambahan kepada pasar karena harga tidak lagi terkumpul pada satu level yang sama.
Ini menjadi salah satu manfaat penting dari price discovery yang lebih granular.
2. Antrean Transaksi Punya Lebih Banyak Ruang untuk Menemukan Pembeli
Pada kondisi saat ini, tekanan jual pada saham Rp50 dapat berakhir dengan antrean offer yang menumpuk di harga minimum.
Permasalahan utamanya bukan sekadar harga tidak dapat turun. Penjual dan calon pembeli juga tidak mempunyai banyak pilihan untuk mencari titik transaksi lain di pasar reguler.
Setelah batas Rp50 dibuka, calon pembeli mempunyai lebih banyak level harga untuk memasukkan permintaan.
Jika pembeli belum tertarik di Rp50, mungkin permintaan baru muncul pada level yang lebih rendah.
Dengan begitu, likuiditas yang sebelumnya tertahan berpotensi kembali bergerak.
BEI sendiri menargetkan kebijakan tersebut untuk menghasilkan likuiditas dan price discovery yang lebih baik.
3. Aktivitas Perdagangan Sebagian Saham Berpotensi Meningkat
BEI juga memperkirakan frekuensi dan nilai transaksi dapat meningkat sekitar dua sampai tiga kali lipat apabila saham tertentu di Papan Pemantauan Khusus yang saat ini menggunakan call auction dapat kembali masuk ke pasar reguler dengan mekanisme continuous auction.
Hal tersebut dapat membuat aktivitas perdagangan menjadi lebih dinamis.
Namun, potensi kenaikan aktivitas transaksi tidak berarti seluruh saham di Rp50 akan langsung ramai.
Data dari Ajaib menunjukkan dari sekitar 48 saham yang berada di level Rp50 per 27 Agustus 2026, 34 di antaranya mengalami suspensi jangka panjang dan hanya sekitar 14 saham yang masih mencatatkan volume aktif.
Angka tersebut menunjukkan bahwa harga Rp50 saja tidak cukup untuk menciptakan likuiditas.
Perusahaan tetap membutuhkan minat dari pelaku pasar agar transaksi dapat berlangsung secara berkelanjutan.
4. Pasar Mendapat Informasi Harga yang Lebih Detail
Bagi trader, satu keuntungan lain adalah munculnya lebih banyak informasi dari pergerakan harga dan transaksi.
Ketika sebuah saham hanya dapat berhenti di Rp50, trader tidak dapat melihat bagaimana permintaan terbentuk apabila harga bergerak lebih rendah.
Setelah tersedia lebih banyak level harga, trader dapat mengamati apakah:
- pembeli mulai masuk secara bertahap;
- antrean bid terkonsentrasi pada level tertentu;
- transaksi terus terjadi meskipun harga turun;
- volume hanya muncul sesaat; atau
- permintaan mulai mampu menyerap tekanan jual.
Informasi tersebut dapat membantu trader memahami bagaimana pasar menilai saham setelah batas harga lama dilepas.
Kekurangan Aturan Saham Rp1
1. Price Discovery Bisa Berarti Harga Turun Cukup Jauh
Price discovery sering terdengar positif karena harga menjadi lebih mencerminkan kondisi pasar.
Namun, proses penemuan harga tidak selalu berarti harga akan bergerak ke arah yang menguntungkan pemegang saham.
Jika setelah batas Rp50 dilepas ternyata permintaan pada harga tersebut masih sangat kecil, pasar dapat mencari keseimbangan baru pada harga yang lebih rendah.
Dengan kata lain, salah satu konsekuensi dari harga yang lebih efisien adalah investor juga harus menerima kemungkinan bahwa pasar memberikan valuasi lebih rendah dari Rp50.
Karena itu, aturan baru tidak menghilangkan risiko. Sebaliknya, beberapa risiko yang sebelumnya tertahan oleh batas sistem dapat menjadi lebih terlihat melalui harga pasar.
2. Pergerakan Kecil Bisa Menjadi Besar secara Persentase
Semakin rendah harga saham, semakin besar dampak perubahan satu rupiah secara persentase.
Pada saham berharga ratusan atau ribuan rupiah, perubahan Rp1 relatif kecil terhadap harga keseluruhan.
Namun, ketika saham sudah diperdagangkan pada angka satu digit, pergerakan satu rupiah saja dapat menghasilkan perubahan persentase yang jauh lebih besar.
Karakter tersebut dapat membuat saham berharga sangat rendah lebih sensitif terhadap perubahan permintaan dan penawaran.
Trader yang hanya melihat besarnya perubahan dalam rupiah berisiko meremehkan volatilitas sebenarnya.
3. Harga Rp1 Bisa Menciptakan Ilusi “Murah”
Risiko berikutnya lebih berkaitan dengan perilaku investor.
Saham seharga Rp5 atau Rp10 secara psikologis dapat terlihat sangat murah dibandingkan saham seharga Rp1.000 atau Rp5.000.
Padahal, harga per lembar tidak dapat digunakan sendirian untuk menentukan apakah sebuah perusahaan murah secara valuasi.
Dua perusahaan dengan harga saham yang sangat berbeda dapat mempunyai kapitalisasi pasar yang sama karena jumlah saham beredarnya berbeda.
Karena itu, munculnya saham pada harga satu digit berpotensi membuat sebagian investor terlalu fokus pada nominal harga.
Narasi seperti “sudah sangat murah” atau “tinggal naik beberapa rupiah” perlu disikapi hati-hati apabila tidak didukung analisis mengenai fundamental, kapitalisasi pasar, prospek bisnis, dan kondisi keuangan perusahaan.
4. Aktivitas Tinggi Belum Tentu Berarti Likuiditas Berkualitas
Setelah aturan diterapkan, trader mungkin melihat lonjakan volume atau antrean besar pada beberapa saham.
Namun, aktivitas tinggi tidak selalu berarti saham memiliki likuiditas yang sehat.
Order Book, misalnya, hanya menunjukkan kondisi antrean pada suatu waktu. Antrean tersebut dapat berubah seiring masuk, terisi, atau dibatalkannya order.
Begitu pula dengan volume transaksi. Kenaikan volume perlu dilihat bersama harga, frekuensi, dan bagaimana transaksi berlangsung selama sesi perdagangan.
Artinya, trader perlu membedakan antara likuiditas yang konsisten dengan lonjakan aktivitas sementara yang muncul karena perhatian pasar terhadap saham Rp1.
Pantau pergerakan saham setelah penerapan aturan baru, trader dapat menggunakan Ajaib Terminal untuk melihat Order Book, Running Trade, dan Done Details.
5. Transisi Sistem Perdagangan Juga Menjadi Tantangan
Sisi minus aturan Rp1 tidak hanya berkaitan dengan perilaku harga.
Perubahan batas harga juga membutuhkan penyesuaian pada sistem perdagangan Anggota Bursa.
BEI telah melakukan dua kali mock trading pada 22 dan 29 Agustus 2026. Dari hasil tersebut, 83 Anggota Bursa dinyatakan siap, sementara delapan lainnya masih membutuhkan penyesuaian. Kondisi inilah yang membuat implementasi yang semula ditargetkan pada 7 September ditunda ke pekan ketiga atau keempat September.
Penundaan tersebut memperlihatkan bahwa perubahan batas harga bukan hanya mengganti angka dari Rp50 menjadi Rp1.
Sistem order, pengelolaan transaksi, hingga infrastruktur masing-masing Anggota Bursa juga perlu dapat menangani struktur harga baru dengan baik.
Dari sisi pasar, kesiapan teknis penting untuk memastikan transisi berlangsung tanpa mengganggu aktivitas investor.
Tidak Semua Saham Rp50 Akan Mendapat Manfaat yang Sama
Salah satu kesalahan yang perlu dihindari adalah menganggap seluruh saham yang saat ini berada di Rp50 akan otomatis memperoleh manfaat dari aturan baru.
Likuiditas baru dapat muncul apabila memang ada pembeli dan penjual yang bersedia bertransaksi.
Saham yang sudah lama tidak aktif, terkena suspensi, atau memiliki persoalan fundamental tetap mempunyai risiko tersendiri meskipun rentang harganya diperluas.
Sebaliknya, saham yang masih aktif diperdagangkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai efek perubahan aturan.
Sebagai contoh, saham PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP) tercatat berada di Rp50 per 12 September 2026.
Jika aturan baru berlaku dan harga ADCP atau saham aktif lain yang berada di Rp50 mulai bergerak di bawah level tersebut, trader nantinya dapat mengamati di harga mana permintaan baru mulai terbentuk.
Namun, contoh tersebut bukan berarti ADCP akan turun atau naik setelah perubahan aturan. Arah harga tetap ditentukan oleh transaksi serta kondisi pasar masing-masing saham.
Apa yang Menentukan Aturan Saham Rp1 Berhasil?
Keberhasilan kebijakan ini pada akhirnya tidak cukup dinilai dari banyaknya saham yang turun di bawah Rp50.
Ada beberapa hal yang lebih relevan untuk diamati setelah implementasi.
- Apakah saham yang sebelumnya sulit ditransaksikan benar-benar memperoleh likuiditas baru.
- Apakah transaksi dapat berlangsung secara konsisten pada lebih banyak level harga, bukan hanya mengalami lonjakan volume sesaat.
- Apakah harga baru yang terbentuk membuat antrean pembeli dan penjual menjadi lebih seimbang.
- Apakah mekanisme baru dapat berjalan dengan stabil setelah seluruh infrastruktur Anggota Bursa disesuaikan.
Dengan demikian, indikator keberhasilan kebijakan bukan sekadar “berapa banyak saham yang menjadi Rp1”, melainkan apakah perubahan tersebut membuat mekanisme perdagangan bekerja lebih efektif.
Mulai Trading Saham di Ajaib
Aturan saham Rp1 membawa trade-off yang cukup jelas. Bagi pasar, rentang harga yang lebih luas dapat membantu membuka likuiditas, menghasilkan informasi harga yang lebih granular, dan memberikan ruang lebih besar untuk proses pembentukan harga.
Namun, manfaat tersebut datang bersama konsekuensi. Harga dapat mengalami repricing yang lebih tajam, volatilitas persentase meningkat pada saham sangat murah, dan nominal harga yang rendah berpotensi mendorong keputusan trading yang terlalu spekulatif.
Karena itu, keberadaan harga Rp1 nantinya tidak seharusnya menjadi alasan utama membeli suatu saham.
Trader tetap perlu melihat bagaimana harga bergerak, apakah volume didukung transaksi yang konsisten, bagaimana kondisi bid dan offer, serta apakah risiko pergerakannya sesuai dengan strategi yang digunakan.
Ingin lebih aktif mengikuti peluang di pasar saham? Trading saham di Ajaib dan gunakan strategi yang sesuai dengan kebutuhan kamu.
Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Informasi dalam artikel ini bersifat edukasi dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, atau paksaan untuk melakukan transaksi jual maupun beli Efek. Harga saham dapat berfluktuasi secara real-time. Pertimbangkan profil risiko dan lakukan analisis sebelum mengambil keputusan investasi.
Profil Penulis
Writer
-
Artikel Terkait





Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!