Ajaib
Menu

Saham

Apakah Investasi Saham Aman? Ini Faktor Risiko yang Perlu Dipahami

MaulidaSeptember 4, 2026

reksa dana vs saham

Key Takeaways

  • Investasi saham melalui perusahaan sekuritas resmi memiliki mekanisme perlindungan investor, tetapi nilai investasi tetap dapat naik maupun turun mengikuti kondisi pasar dan perusahaan.
  • Risiko saham mencakup capital loss, risiko bisnis perusahaan, volatilitas pasar, likuiditas, konsentrasi portofolio, hingga risiko menggunakan fasilitas leverage.
  • Risiko dapat dikelola dengan memilih saham berdasarkan analisis, melakukan diversifikasi, menggunakan dana yang memang dialokasikan untuk investasi, serta menyesuaikan investasi dengan tujuan dan profil risiko.

Investasi saham menawarkan peluang pertumbuhan nilai aset dalam jangka panjang sekaligus potensi memperoleh dividen. Namun, bagi investor yang baru mulai, pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah saham aman untuk dijadikan instrumen investasi?

Jawabannya bergantung pada apa yang dimaksud dengan “aman”. Dari sisi mekanisme, investasi saham melalui perusahaan sekuritas resmi berada dalam ekosistem pasar modal yang diatur dan diawasi. Dana transaksi ditempatkan di Rekening Dana Nasabah (RDN), sementara kepemilikan efek investor tercatat dalam sistem pasar modal.

Namun, saham bukan instrumen yang bebas risiko. Harga saham dapat naik maupun turun, bahkan perusahaan besar sekalipun dapat mengalami penurunan kinerja. Investor tetap berpotensi mengalami capital loss jika menjual saham pada harga yang lebih rendah daripada harga beli.

Karena itu, memahami risiko menjadi bagian penting sebelum mulai berinvestasi.

Apakah Saham Aman untuk Investasi?

Secara sederhana, ada dua sisi keamanan yang perlu dibedakan ketika membahas apakah saham aman.

1. Keamanan dari Sisi Sistem dan Legalitas

Transaksi saham di Indonesia dilakukan melalui ekosistem pasar modal yang melibatkan Bursa Efek Indonesia (BEI), Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), perusahaan sekuritas, serta lembaga terkait lainnya.

Investor juga memiliki Rekening Dana Nasabah (RDN), yaitu rekening atas nama investor yang digunakan untuk transaksi di pasar modal. Dana transaksi tersebut dipisahkan dari rekening operasional perusahaan sekuritas.

Kepemilikan efek investor juga dapat dipantau melalui fasilitas KSEI. Selain itu, Indonesia SIPF menyelenggarakan Dana Perlindungan Pemodal di bawah pengawasan OJK dengan anggota yang terdiri dari bank kustodian dan Perantara Pedagang Efek.

Artinya, menggunakan perusahaan sekuritas yang berizin merupakan salah satu fondasi penting untuk berinvestasi dengan lebih aman.

2. Keamanan dari Risiko Kerugian Investasi

Ini berbeda dengan jaminan bahwa nilai investasi tidak akan turun.

Harga saham dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kinerja perusahaan, kondisi industri, suku bunga, kondisi ekonomi, sentimen investor, hingga dinamika pasar global. Karena itu, tidak ada jaminan bahwa saham yang dibeli hari ini akan selalu memiliki harga lebih tinggi di kemudian hari.

Bahkan saham perusahaan yang fundamentalnya kuat tetap dapat mengalami koreksi harga.

Jadi, investasi saham dapat dilakukan melalui sistem yang legal dan terstruktur, tetapi risiko kerugian pasar tetap menjadi tanggung jawab investor.

Risiko Investasi Saham yang Perlu Dipahami

Sebelum membeli saham, setidaknya ada beberapa jenis risiko yang perlu dikenali.

1. Risiko Capital Loss

Capital loss terjadi ketika saham dijual pada harga lebih rendah dibandingkan harga pembelian.

Misalnya, kamu membeli saham pada harga Rp5.000 per lembar. Beberapa bulan kemudian harganya turun menjadi Rp4.000 dan kamu memutuskan menjualnya.

Secara sederhana, penurunan harga tersebut menghasilkan kerugian sebesar 20% sebelum memperhitungkan biaya transaksi.

Pergerakan tersebut dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti:

  • laba perusahaan menurun;
  • prospek industri memburuk;
  • kondisi ekonomi melemah;
  • valuasi sebelumnya terlalu tinggi; atau
  • sentimen pasar sedang negatif.

Inilah salah satu alasan investor sebaiknya tidak membeli saham hanya karena harganya sedang naik atau sedang ramai dibicarakan.

2. Risiko Kinerja Bisnis Perusahaan

Ketika membeli saham, pada dasarnya investor memiliki sebagian kecil kepemilikan atas sebuah perusahaan. Karena itu, kondisi perusahaan akan memengaruhi nilai investasi.

Risiko dapat muncul apabila perusahaan mengalami:

  • penurunan penjualan;
  • laba terus menurun;
  • beban utang meningkat;
  • margin keuntungan menyusut;
  • kehilangan pangsa pasar;
  • perubahan regulasi; atau
  • masalah pada manajemen dan tata kelola.

Misalnya, perusahaan yang sebelumnya berkembang pesat dapat kehilangan daya saing ketika muncul teknologi atau kompetitor baru.

Karena itu, memahami model bisnis dan laporan keuangan perusahaan penting sebelum berinvestasi.

3. Risiko Volatilitas Pasar

Harga saham dapat bergerak cukup signifikan dalam waktu singkat, bahkan ketika tidak terjadi perubahan besar pada bisnis perusahaan.

Pergerakan tersebut dapat dipengaruhi kondisi pasar secara keseluruhan, misalnya perubahan suku bunga, nilai tukar, inflasi, ketegangan geopolitik, ataupun sentimen investor.

Saham tertentu juga memiliki volatilitas lebih tinggi daripada saham lainnya.

Bagi investor jangka panjang, fluktuasi jangka pendek tidak selalu berarti kondisi fundamental perusahaan berubah. Namun, kamu tetap perlu memahami seberapa besar penurunan harga yang siap ditoleransi agar tidak mengambil keputusan secara emosional.

4. Risiko Likuiditas

Likuiditas menunjukkan seberapa mudah saham dapat diperjualbelikan di pasar.

Saham dengan transaksi yang aktif biasanya memiliki lebih banyak pembeli dan penjual. Sebaliknya, saham yang jarang ditransaksikan dapat memiliki antrean beli dan jual yang lebih tipis.

Pada saham yang kurang likuid, investor dapat menghadapi kondisi seperti:

  • sulit menjual dalam jumlah besar pada harga yang diinginkan;
  • selisih harga bid dan ask lebih lebar; atau
  • harga bergerak drastis akibat transaksi dalam jumlah tertentu.

Karena itu, volume dan aktivitas perdagangan juga layak diperhatikan sebelum membeli saham.

5. Risiko Konsentrasi Portofolio

Menempatkan sebagian besar dana pada satu saham membuat nilai portofolio sangat bergantung pada satu perusahaan.

Misalnya, seluruh dana investasi ditempatkan pada perusahaan sektor komoditas. Ketika harga komoditas tersebut turun dan kinerja perusahaan ikut melemah, hampir seluruh portofolio dapat terkena dampaknya.

Diversifikasi dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap satu saham, sektor, atau tema investasi.

Namun, diversifikasi juga bukan berarti membeli sebanyak mungkin saham. Investor tetap perlu memahami aset yang dimiliki dan menjaga jumlahnya agar portofolio tetap dapat dipantau dengan baik.

6. Risiko Suspensi hingga Delisting

Dalam kondisi tertentu, perdagangan saham suatu perusahaan dapat dihentikan sementara atau suspend oleh BEI. Jika masalah perusahaan berlanjut dan memenuhi kondisi tertentu, saham juga dapat mengalami delisting atau tidak lagi tercatat di bursa.

Situasi seperti ini dapat membuat investor sulit menjual saham melalui mekanisme perdagangan normal.

Karena itu, jangan hanya melihat potensi kenaikan harga. Periksa juga laporan keuangan, keterbukaan informasi, kondisi operasional, serta berbagai risiko perusahaan.

7. Risiko Leverage

Risiko investasi menjadi lebih tinggi ketika investor membeli saham menggunakan fasilitas pembiayaan seperti margin.

Leverage memungkinkan transaksi dengan nilai lebih besar daripada modal sendiri, sehingga potensi keuntungan dapat meningkat. Namun, kerugian juga dapat membesar ketika harga bergerak berlawanan dengan posisi investor.

Bagi investor pemula, memahami saham tanpa menggunakan leverage terlebih dahulu umumnya memberikan ruang belajar yang lebih sederhana.

Apakah Saham Bisa Turun Sampai Uang Investasi Habis?

Secara teori, harga suatu saham dapat turun sangat besar apabila bisnis perusahaan mengalami masalah serius. Dalam kondisi ekstrem, nilai saham bahkan dapat mendekati nol.

Namun, tingkat risiko setiap perusahaan tidak sama.

Perusahaan dengan fundamental sehat, arus kas baik, tingkat utang terkendali, dan bisnis yang kompetitif memiliki karakter risiko berbeda dibandingkan perusahaan yang terus mencatat kerugian atau sedang menghadapi masalah keuangan.

Itulah sebabnya investasi saham bukan sekadar memilih ticker, melainkan juga memilih bisnis yang akan dimiliki.

Apakah Saham Lebih Aman untuk Investasi Jangka Panjang?

Jangka waktu yang lebih panjang dapat memberikan perusahaan lebih banyak waktu untuk mengembangkan bisnis dan membantu investor menghadapi fluktuasi pasar jangka pendek. Namun, investasi jangka panjang tidak otomatis membuat sebuah saham menjadi aman.

Jika fundamental perusahaan terus memburuk, memegang saham lebih lama tidak selalu menyelesaikan masalah.

Karena itu, pendekatan jangka panjang tetap perlu disertai evaluasi berkala terhadap beberapa aspek berikut:

  • pertumbuhan pendapatan dan laba;
  • kondisi arus kas;
  • tingkat utang;
  • perkembangan industri;
  • kualitas manajemen;
  • valuasi saham; serta
  • kesesuaian dengan alasan awal membeli.

Jangka waktu investasi dan kualitas aset harus berjalan bersama.

Cara Mengurangi Risiko Saat Investasi Saham

Risiko saham tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, tetapi dapat dikelola. Beberapa langkah yang bisa diterapkan antara lain:

1. Gunakan Dana yang Memang Dialokasikan untuk Investasi

Hindari menggunakan dana kebutuhan sehari-hari maupun dana darurat untuk membeli saham.

Dengan dana yang memang dialokasikan untuk investasi, kamu tidak harus menjual saham secara terpaksa ketika sedang membutuhkan uang dan kondisi pasar sedang turun.

2. Kenali Profil Risiko

Setiap investor memiliki kemampuan dan toleransi berbeda dalam menghadapi penurunan nilai investasi.

Investor dengan toleransi risiko rendah mungkin lebih nyaman mengalokasikan porsi saham lebih kecil dibandingkan investor yang memiliki horizon investasi panjang dan siap menghadapi volatilitas lebih tinggi.

3. Pelajari Perusahaan Sebelum Membeli

Jangan membeli saham hanya karena rekomendasi media sosial atau kenaikan harga dalam waktu singkat.

Setidaknya pahami:

  • bisnis perusahaan;
  • sumber pendapatannya;
  • tren penjualan dan laba;
  • posisi utang;
  • prospek industri; dan
  • valuasinya.

Dengan mengetahui alasan membeli saham, investor juga memiliki dasar yang lebih jelas untuk menentukan kapan perlu mempertahankan atau mengevaluasi kembali investasi tersebut.

4. Lakukan Diversifikasi

Menyebarkan investasi ke beberapa perusahaan atau sektor dapat membantu mengurangi dampak ketika salah satu investasi berkinerja buruk.

Namun, pilih saham berdasarkan analisis dan bukan sekadar untuk menambah jumlah emiten dalam portofolio.

5. Mulai dari Nominal yang Nyaman

Kamu tidak harus langsung mengalokasikan dana besar saat pertama berinvestasi.

Mulai dari nominal yang sesuai kemampuan dapat membantu membiasakan diri menghadapi naik turunnya harga saham sekaligus mempelajari proses analisis dan pengelolaan portofolio.

6. Jangan Mengandalkan Kinerja Masa Lalu

Saham yang naik tinggi dalam beberapa tahun terakhir belum tentu memberikan hasil yang sama di masa depan.

Performa historis dapat menjadi bahan analisis, tetapi kondisi bisnis, valuasi, dan prospek perusahaan saat ini tetap perlu diperhatikan. Ajaib juga menegaskan bahwa data pengembalian historis tidak menjamin pengembalian pada masa mendatang dan investasi dapat bersifat volatil.

Mulai Investasi Saham dengan Aman di Ajaib

Kalau sudah memahami bahwa saham memiliki potensi sekaligus risiko, langkah berikutnya adalah berinvestasi secara lebih terukur.

Transaksi saham di Ajaib difasilitasi oleh PT Ajaib Sekuritas Asia yang memiliki izin sebagai Perantara Pedagang Efek. Dana untuk transaksi saham ditempatkan di RDN dan penarikan dana hanya dapat dilakukan menuju rekening yang terdaftar.

Melalui Ajaib, kamu juga dapat mencari lebih dari 800 saham Indonesia serta memanfaatkan informasi dan fitur seperti chart, real-time order book, watchlist, dan Screener Saham untuk membantu proses analisis.

Tetap lakukan analisis sendiri, sesuaikan pembelian dengan profil risiko, dan gunakan dana yang memang sudah dialokasikan untuk investasi.

Mulai investasi saham dengan aman di Ajaib.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Sekuritas membuat informasi  ini melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Google Play StoreApple App Store

Profil Penulis

Maulida
Maulida

Writer

-

Artikel Populer

Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi

Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!