Ajaib
Menu

Saham AS

The Fed Pertahankan Suku Bunga di 3,75%, Ini Saham AS yang Berpotensi Diuntungkan!

SalsabillaJuly 30, 2026

The Fed Pertahankan Suku Bunga 3,75%, Ini Saham AS yang Berpotensi Diuntungkan!

Key Takeaways

  • Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan menahan suku bunga acuan (Fed Funds Rate) di kisaran 3,50%-3,75% melalui hasil voting 9-3, mempertahankan level yang sama sejak keputusan Juni 2026.
  • Tiga presiden regional The Fed (Beth Hammack (Cleveland), Neel Kashkari (Minneapolis), dan Lorie Logan (Dallas)) berbeda pandangan (dissent) dan mengusulkan kenaikan 25 basis poin, menandai kali pertama sejak September 2016 tiga pejabat kompak dissent ke arah kebijakan yang sama.
  • Nada pernyataan The Fed tetap hawkish meski suku bunga ditahan, berpotensi menekan saham-saham growth khususnya sektor teknologi, sementara sektor keuangan berpotensi diuntungkan dari prospek suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama.

Suku Bunga Bertahan di 3,75%, tapi Nada The Fed Masih Hawkish

Federal Reserve resmi mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%-3,75% pada pertemuan FOMC pekan ini, sejalan dengan mandat gandanya untuk menjaga stabilitas harga dan lapangan kerja maksimum. The Fed juga menegaskan komitmennya mempertahankan likuiditas perbankan yang memadai (ample reserves) demi memastikan sistem keuangan tetap berjalan baik. Dari sisi kondisi ekonomi, aktivitas ekonomi Amerika Serikat dinilai masih berekspansi solid meski ketidakpastian tetap tinggi akibat konflik di Timur Tengah, dengan pertumbuhan lapangan kerja yang sejalan dengan pertumbuhan angkatan kerja dan tingkat pengangguran yang nyaris tidak berubah. Namun, inflasi masih berada di atas target 2% selama lebih dari lima tahun terakhir, terutama akibat guncangan pasokan (supply shocks) yang mendorong kenaikan harga di berbagai sektor, khususnya energi.

Meski suku bunga ditahan, keputusan ini tidak berjalan mulus tanpa perbedaan pandangan. Tiga pejabat regional The Fed menyatakan dissent dan menginginkan kenaikan 25 basis poin, kali pertama sejak September 2016 ada tiga pembuat kebijakan kompak berbeda pendapat ke arah yang sama. Situasi ini menjadi tantangan awal bagi Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, yang selama ini menekankan pendekatan memberi sinyal sesedikit mungkin soal langkah kebijakan berikutnya. Pasar sebagian besar sebenarnya telah memperkirakan keputusan menahan suku bunga, meski sempat ada peluang sekitar satu berbanding tiga terjadinya kenaikan mendadak berdasarkan CME FedWatch Tool.

Rincian Keputusan FOMC dan Latar Belakang Voting

Pernyataan resmi FOMC kali ini hampir identik dengan pernyataan pada keputusan 17 Juni 2026, dan konsisten dengan sikap The Fed sepanjang tahun ini yang sebelumnya sempat menurunkan suku bunga sebanyak tiga kali pada paruh kedua 2025. Pernyataan tersebut ditutup dengan komitmen singkat, “The Committee will deliver price stability.” Berikut rincian keputusan FOMC pada pertemuan kali ini.

AspekKeterangan
Hasil voting9 setuju menahan, 3 menolak (dissent)
Fed Funds RateTetap di kisaran 3,50%-3,75%
Pejabat yang dissentBeth Hammack (Cleveland), Neel Kashkari (Minneapolis), Lorie Logan (Dallas)
Usulan pejabat dissentKenaikan 25 basis poin
Proyeksi dot plot Juni 2026Satu kali kenaikan 25 bps hingga akhir 2026
Ekspektasi pasar sebelum rapat (CME FedWatch)~33% peluang kenaikan mendadak, mayoritas memperkirakan bunga ditahan

Ketiga pejabat yang dissent selama ini memang paling vokal menyuarakan perlunya suku bunga lebih tinggi untuk mengatasi inflasi yang telah berada di atas target selama lebih dari lima tahun. Komposisi komite ini mencerminkan sikap yang cenderung hawkish di kalangan sebagian anggotanya. Kondisi ini menambah tantangan bagi Warsh, mengingat pendekatannya yang menghindari pemberian arah kebijakan (forward guidance) justru membuat ketidakpastian pasar meningkat menjelang rapat, sementara pasar sebagian besar tetap memperkirakan adanya kenaikan suku bunga pada rapat September mendatang.

Perbedaan Pandangan Internal The Fed di Balik Voting 9-3

Di balik hasil voting 9-3, terdapat perbedaan pandangan yang cukup signifikan di antara para pembuat kebijakan The Fed mengenai arah suku bunga ke depan.

  • John Williams (Gubernur The Fed New York). Menilai kebijakan saat ini sudah berada pada posisi yang tepat untuk membawa inflasi kembali ke target.
  • Lorie Logan (Presiden Fed Dallas). Menilai suku bunga perlu dinaikkan secara moderat, dan menjadi salah satu dari tiga pejabat yang dissent pada rapat kali ini.
  • Beth Hammack (Presiden Fed Cleveland). Dikenal sebagai salah satu pejabat yang konsisten bersikap hawkish, dengan menyoroti tekanan harga yang terus dirasakan rumah tangga akibat inflasi yang persisten.
  • Christopher Waller (Gubernur The Fed). Turut menyampaikan kekhawatiran terhadap inflasi dan menyebut kenaikan suku bunga bisa saja diperlukan apabila kemajuan pengendalian inflasi tidak cukup terlihat, meski pada rapat ini ia tetap memilih menahan suku bunga.
  • Kevin Warsh (Ketua The Fed). Memandang inflasi sebagai bentuk pilihan kebijakan, bukan sekadar kondisi yang tak terhindarkan, dan berulang kali menekankan pentingnya mengendalikan harga dalam berbagai dengar pendapat di Capitol Hill, sekaligus menegaskan keberatannya terhadap praktik pemberian arah kebijakan ke depan yang biasa dilakukan The Fed sebelumnya.

Di tengah dinamika internal tersebut, Presiden Donald Trump turut menyampaikan dukungan publik terhadap Warsh dan melontarkan kritik terhadap sejumlah pejabat The Fed lain yang dinilainya memiliki motivasi tertentu. Perbedaan pandangan ini menegaskan bahwa arah kebijakan The Fed ke depan, khususnya menjelang rapat September, masih menyisakan ketidakpastian yang perlu terus dicermati pelaku pasar.

Dampak Keputusan The Fed ke Pasar Saham AS

Menurut Alvin Timothy Murthi, Equity Research Analyst Ajaib Sekuritas, meskipun The Fed tidak menaikkan suku bunga, nada pernyataannya tetap hawkish, dengan penekanan pada inflasi yang masih tinggi dan munculnya tiga suara yang mendukung kenaikan suku bunga. Menurutnya, kondisi ini dapat mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS dan memberikan tekanan pada saham-saham growth, terutama sektor teknologi. Sebaliknya, sektor keuangan seperti JPMorgan Chase (NYSE: JPM), Bank of America (NYSE: BAC), dan Goldman Sachs (NYSE: GS) berpotensi memperoleh manfaat dari prospek suku bunga yang tetap tinggi lebih lama.

Dengan tetap tingginya suku bunga acuan, sektor yang sensitif terhadap biaya modal seperti teknologi dan saham dengan valuasi tinggi cenderung lebih rentan terhadap tekanan, sementara sektor yang diuntungkan oleh selisih bunga seperti perbankan besar berpotensi mendapat topangan tambahan. Bagi trader yang ingin mencermati pasar saham AS jelang rapat FOMC berikutnya di September, memahami rotasi sektor semacam ini, dari saham growth ke saham dengan eksposur suku bunga yang lebih menguntungkan, bisa menjadi salah satu cara membaca peluang di tengah ketidakpastian arah kebijakan, tanpa perlu menunggu kepastian penuh sebelum menyusun strategi diversifikasi portofolio.

Pantau Saham AS yang Terdampak Kebijakan The Fed Lewat Ajaib!

Dinamika kebijakan The Fed seperti ini menjadi salah satu faktor yang bisa memengaruhi pergerakan berbagai saham global, dari sektor teknologi hingga perbankan. Supaya tidak ketinggalan momentum, kamu bisa mulai trading saham AS di Ajaib dan cari tahu sektor apa yang sedang naik dengan mudah. Download Ajaib di Play Store & App Store sekarang!

Google Play StoreApple App Store

Disclaimer: Transaksi US Stocks mengandung risiko dan berpotensi menyebabkan kerugian. Kinerja suatu produk investasi saat ini atau di masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa datang. Informasi yang terkandung dalam tulisan/artikel ini merupakan opini yang disiapkan melalui proses riset pasar dan analisis internal perusahaan. Anda tetap berkewajiban untuk menganalisis setiap produk investasi  untuk memastikan setiap keputusan investasi dan keputusan untuk menjual dan/atau membeli produk investasi adalah berdasarkan pertimbangan dan keputusan anda sendiri. Tulisan/artikel ini bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi.  Kami tidak bertanggung jawab terhadap segala bentuk kerugian maupun keuntungan yang timbul dari pengambilan keputusan transaksi.

Sumber: CNBC, Federal Reserve, Ajaib Research

Artikel Populer

Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi

Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!