BEI Pangkas Batas ARB Jadi 7 Persen, Begini Dampaknya ke Likuiditas dan Antrean Jual
Afif Alfaris•October 21, 2026

Key Takeaways
- Lewat Kep-00157/BEI/10-2026, batas ARB turun dari 15% ke 7% untuk saham di atas Rp10 sepanjang 19 Oktober hingga 31 Desember 2026, dengan batas ARA tetap.
- Di hari pertama, 351 saham atau 36% emiten tertahan di ARB. IHSG yang sempat turun 5,36% ditutup melemah 3,64% di 4.996,61.
- Dengan ARB 7%, penurunan 20% butuh empat hari ARB beruntun, sedangkan dengan ARB 15% cukup dua hari. Harga turun lebih pelan, tetapi prosesnya lebih lama.
- Risiko utamanya antrean jual yang menumpuk di harga ARB dan berlanjut ke hari berikutnya, sehingga harga yang berhenti turun belum tentu bebas tekanan jual.
BEI Pangkas Batas ARB Jadi 7 Persen, Apa yang Berubah?
ARB (auto rejection bawah) adalah batas maksimal penurunan harga saham per hari. Sejak 19 Oktober 2026, BEI memangkasnya menjadi 7%, sedangkan ARA (batas kenaikan harian) tetap. Berikut perbandingannya.
Tabel 1. Batas Auto Rejection Sebelum dan Sesudah 19 Oktober 2026
| Rentang harga | ARA (tetap) | ARB sebelumnya | ARB baru |
| Rp1—Rp10 | Rp1 | Rp1 | Rp1 |
| Rp11—Rp14 | 35% | 15% | Rp1 (mulai 20 Oktober) |
| Rp15—Rp200 | 35% | 15% | 7% |
| >Rp200—Rp5.000 | 25% | 15% | 7% |
| >Rp5.000 | 20% | 15% | 7% |
*Kep-00157/BEI/10-2026 menggantikan Kep-00136/BEI/09-2026 dengan dukungan OJK. Kep-00158/BEI/10-2026 lalu menetapkan ARB Rp1 untuk saham Rp11 hingga Rp14, yang 7%-nya di bawah Rp1. Trading halt IHSG tetap 8% dan 15% (masing-masing 30 menit), dan trading suspend 20%.
Pemicunya usulan MSCI pada 15 Oktober untuk memindahkan Indonesia ke status Standalone. Esoknya, IHSG dibuka turun 8,01% hingga terkena trading halt (penghentian sementara) 30 menit, lalu ditutup turun 11,57%. BEI menyebut tujuannya menjaga perdagangan tetap teratur dan memberi investor waktu mencerna informasi.
Bukan yang Pertama, Jejak ARB 7% Era Pandemi
Kebijakan serupa pernah berlaku saat pandemi, berikut lini masanya.
Tabel 2. Lini Masa Kebijakan ARB
| Tanggal | Kebijakan |
| 10 Maret 2020 | ARB asimetris 10% |
| 13 Maret 2020 | ARB menjadi 7% |
| 5 Juni 2023 | ARB naik ke 15% |
| 4 September 2023 | ARA dan ARB kembali simetris |
| 8 April 2025 | ARB asimetris 15%, ambang trading halt naik ke 8% |
| 28 September 2026 | Harga minimum Rp1, ARB tetap 15% |
| 19 Oktober 2026 | ARB menjadi 7% |
| 20 Oktober 2026 | ARB Rp1 untuk saham Rp11 hingga Rp14 |
Pelajarannya, ARB 7% era pandemi bertahan lebih dari tiga tahun dan dilonggarkan bertahap, sehingga tenggat 31 Desember 2026 masih bisa diperpanjang atau disesuaikan.
Baca juga: Aturan Baru ARA dan ARB Saham 28 September 2026
Hari Pertama ARB 7%, Apa Kata Data?
Data hari pertama memberi gambaran awal efektivitas aturan baru ini.
Tabel 3. Perbandingan Perdagangan 16 dan 19 Oktober 2026
| Metrik | 16 Oktober (ARB 15%) | 19 Oktober (ARB 7%) |
| Perubahan IHSG | -11,57% ke 5.185,11 | -3,64% ke 4.996,61 |
| Titik terendah harian | 5.185,11 (ditutup di level terendah) | 4.907,37 (-5,36%) |
| Nilai transaksi | ±Rp32 triliun | Rp19,52 triliun |
| Saham di ARB | Data resmi belum dirilis | 351 saham (36% emiten) |
| Jual bersih asing, seluruh pasar | Rp3,34 triliun | Rp1,72 triliun |
*Sumber lain mencatat nilai transaksi 19 Oktober Rp25,13 triliun. Jual bersih asing 19 Oktober di pasar reguler Rp2,28 triliun. Kapitalisasi saham yang ARB ±Rp3.197 triliun.

*Tangkapan layar Ajaib Terminal yang menunjukkan IHSG turun 14,79% dalam dua hari, 16 dan 19 Oktober, lalu naik 5,65% pada 20 Oktober.
Saham besar yang tertahan di ARB antara lain BBCA (-6,86% ke Rp4.820), TLKM, BYAN, AMMN, ICBP, dan TPIA, sementara BBRI sempat menyentuh ARB di sesi I. BBCA tidak turun tepat 7% karena harga ARB dibulatkan ke fraksi harga (satuan perubahan harga) terdekat, dan efeknya lebih besar di saham murah, misalnya GOTO yang turun Rp1 ke Rp24 (±4%).
Secara intraday, IHSG pulih 1,8% dari titik terendahnya, lalu ditutup naik 5,65% ke 5.278,89 pada 20 Oktober. Dua tafsirannya, kepanikan memang mereda atau tekanan jual hanya tertunda karena antrean di ARB belum terserap.
Anda dapat menggunakan fitur Broker Summary di Ajaib Terminal dengan filter investor asing untuk melihat apakah tekanan jual pada saham yang ARB datang dari asing atau lokal.
Dampak ke Likuiditas, Harga Turun Lebih Pelan tetapi Lebih Lama
Penurunan yang tampak lebih jinak perlu dilihat dari cara batas 7% mengubah pergerakan harga dan likuiditas.
Simulasi ARB Beruntun, 7% vs 15%
Tabel berikut menunjukkan total penurunan saat ARB beberapa hari beruntun.
Tabel 4. Penurunan Kumulatif Akibat ARB Beruntun
| Hari ARB beruntun | ARB 7% | ARB 15% |
| 1 | -7,0% | -15,0% |
| 2 | -13,5% | -27,8% |
| 3 | -19,6% | -38,6% |
| 4 | -25,2% | -47,8% |
| 5 | -30,4% | -55,6% |
*Penurunan dihitung bertingkat dari harga hari sebelumnya, bukan 7% dikali jumlah hari. Untuk turun 20%, butuh 4 hari ARB beruntun dengan batas 7% dibanding 2 hari dengan batas 15%, dan untuk turun 40% butuh 8 hari dibanding 4 hari.
Sederhananya, batas 7% memberi jeda berpikir, tetapi jika harga wajar baru jauh lebih rendah, penyesuaiannya menjadi lebih panjang.
Asimetri ARA dan ARB, Pantulan Bisa Lebih Tajam
ARA tetap 20% hingga 35%, atau 2,9 hingga 5 kali batas ARB, sehingga harga dapat naik dalam sehari jauh lebih besar daripada kemampuannya turun. Pantulan seperti pagi 20 Oktober bisa cepat, tetapi belum tentu menandakan arah baru karena volatilitas harian bisa berbalik sewaktu-waktu.
Trading Halt 8% Kini Sulit Tersentuh
Saham di atas Rp10 hanya bisa turun sekitar 7% per hari, sehingga IHSG secara praktis sulit turun lebih dari 8% dalam sehari. Akibatnya, tekanan yang biasanya ditahan trading halt kini tersebar ke beberapa hari.
Antrean Jual di Harga ARB, Risiko yang Sering Tidak Terlihat
Ketika harga tidak bisa turun lagi dalam sehari, tekanan jual berpindah ke antrean di harga ARB.

Di harga ARB, order jual dicocokkan berdasarkan prioritas harga lalu waktu, sehingga penjual yang masuk belakangan bisa tidak terisi jika pembeli terbatas dan umumnya kembali mengantre esok hari. Contohnya GOTO pada 19 Oktober: volume 9,56 miliar saham, tetapi sisa antrean jual sekitar 1,2 miliar saham saat penutupan, setara 12,6% volume harian.
Dari mekanisme ini, ada dua sisi risiko.
- Bagi pemegang posisi. Harga yang berhenti turun tidak sama dengan tekanan jual yang hilang. Posisi margin juga berisiko terkena jual paksa (forced sell) bila ARB berlangsung beberapa hari.
- Bagi pembeli. Membeli di antrean ARB berarti menangkap harga yang masih bisa turun esok hari, dan antrean beli besar bisa ditarik sebelum terisi.
Untuk membaca kondisi antrean, kerangka berikut dapat membantu.
Tabel 5. Cara Membaca Antrean di Harga ARB
| Kondisi | Tafsiran yang mungkin | Yang perlu dikonfirmasi |
| Antrean jual cepat menyusut, harga ditutup di atas ARB | Ada pembeli yang menyerap | Siapa penyerapnya dan apakah berlanjut esok hari |
| Antrean jual menumpuk, harga ditutup di ARB | Tekanan berlanjut ke hari berikutnya | Ukuran antrean dibanding volume harian |
| Bid besar muncul lalu menghilang | Kemungkinan order semu | Pola berulang di beberapa sesi |
| Broker asing dominan menjual | Outflow (dana keluar) belum selesai | Akumulasi bersih beberapa hari |
*Tabel ini kerangka membaca, bukan sinyal beli atau jual.
Anda dapat menggunakan fitur Order Queue di Ajaib Terminal untuk melihat ukuran antrean di harga ARB serta mendeteksi order jumbo atau order semu yang muncul dan hilang.
Sampai Kapan ARB 7%? Skenario dan Agenda Penting
Antrean hari ini juga dipengaruhi seberapa lama ARB 7% bertahan.
Tabel 6. Skenario Kebijakan ARB Setelah 31 Desember 2026
| Skenario | Kondisi pendukung | Dampak ke perdagangan |
| Dilonggarkan bertahap | Volatilitas mereda dan tekanan jual asing melambat | Rentang harga melebar, penyesuaian lebih cepat |
| Diperpanjang | Ketidakpastian MSCI berlanjut hingga keputusan Juni 2027 | Pola turun pelan tetapi lama berlanjut |
| Kembali simetris sesuai rencana awal | Rencana 1 Januari 2027 dari aturan September dijalankan | ARB melebar ke 20% hingga 35%, risiko turun harian membesar |
*Rencana simetris 1 Januari 2027 berasal dari Kep-00136, sedangkan Kep-00157 penggantinya hanya berlaku hingga 31 Desember 2026, sehingga statusnya perlu dikonfirmasi ke BEI.
Agenda yang Perlu Dipantau
Agenda terdekat adalah RDG (Rapat Dewan Gubernur) BI 21 Oktober dengan BI Rate kini 5,75%, FOMC (rapat suku bunga The Fed) 28 Oktober waktu AS atau sekitar 01.00 WIB 29 Oktober, dan review indeks MSCI 11 November. Berikutnya, review FTSE Russell Desember, evaluasi ARB 7% pada 31 Desember 2026, dan batas akhir konsultasi MSCI 30 April 2027.
Baca juga: MSCI Usulkan Indonesia ke Standalone Market, Risiko Outflow dan Free Float
Cara Memantau Antrean ARB di Ajaib Terminal, Langkah demi Langkah
Dengan agenda sepadat ini, antrean di harga ARB perlu dipantau harian lewat lima langkah berikut.
Langkah 1, Ukur Antrean di Order Queue

Lihat jumlah lot di harga ARB, lalu bandingkan dengan volume harian. Tandai order jumbo yang menjaga harga tertentu.
Langkah 2, Telusuri Penyerap Antrean di Done Details

Periksa broker di balik transaksi besar dan pola pecahan order (fragmentasi) saat antrean berkurang.
Langkah 3, Cek Tekanan Jual Asing di Broker Summary

Aktifkan filter investor asing untuk melihat porsi jual asing di saham ARB.
Langkah 4, Lacak Akumulasi Beberapa Hari di Inventory Analysis

Pastikan apakah broker besar konsisten menambah barang atau hanya menyerap sesaat.
Langkah 5, Pantau Banyak Saham Sekaligus dengan Multi-Orderbook

Gunakan Pre-Defined Multi-Orderbook Template untuk memantau antrean BBCA, BBRI, TLKM, dan saham lain dalam satu layar.
Maksimalkan Portofolio Investasimu Bersama Ajaib!
Menghadapi pergerakan pasar yang cepat, penerapan strategi yang tepat dan eksekusi terukur menjadi kunci utama kestabilan portofolio. Kamu bisa menyebar risiko secara optimal dengan memanfaatkan berbagai fitur serta pilihan instrumen investasi yang lengkap.
Ajaib menyediakan platform tepercaya yang memudahkan kamu mengelola seluruh aset secara praktis dalam satu aplikasi. Download aplikasi Ajaib sekarang dan mulai capai tujuan finansialmu hari ini!
Disclaimer: Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Sekuritas membuat informasi ini melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.
Profil Penulis
Writer
-
Artikel Terkait





Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!