ADRO-ADMR-AADI Kompak Rilis Kinerja Semester I/2026. Siapa Paling Menarik?
Mikirduit•September 8, 2026

Key Takeaways:
- Tiga emiten dari Grup AlamTri yang telah melaporkan kinerja semester I/2026 adalah ADRO, ADMR, dan AADI, dengan pertumbuhan kinerja dan katalis yang berbeda.
- ADRO mencatat pertumbuhan laba bersih tertinggi sebesar 76,8% menjadi US$309 juta, didukung pertumbuhan pendapatan dan efisiensi biaya.
- ADMR membukukan pertumbuhan pendapatan 31,5% menjadi US$583 juta dan laba bersih 24% menjadi US$174 juta, dengan bisnis batu bara metalurgi sebagai penopang utama. Smelter aluminium masih mencatat rugi US$45,5 juta, tetapi ekspor aluminium perdana menjadi katalis yang perlu diperhatikan pada semester II/2026.
- AADI mencatat laba bersih US$473 juta, tumbuh 10,5%, dengan pendapatan sekitar US$2,5 miliar. Selain bisnis batu bara dan logistik, segmen penyewaan aset pembangkit listrik mulai memberikan kontribusi laba.
Kinerja Tiga Emiten Grup AlamTri di Semester I/2026
Tiga emitern dari grup AlamTri yang dulunya Adaro terpantau sudah menerbitkan kinerja sepanjang semester I/2026. Mereka adalah PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI).
Menariknya, sebelum ini ADMR mengumumkan sudah ekspor aluminium perdana. AADI juga dapat katalis dari kenaikan harga btu bara tahun ini. ADRO sebagai induk usaha tentu dapat berkah nya, kira-kira gimana kinerja terbarunya dan prospek ke depan? mari kita bahas satu per satu.
Saham ADRO
ADRO menjadi emiten dengan pertumbuhan laba paling tinggi di antara ketiganya. Laba bersihnya melonjak 76,8 persen menjadi US$309 juta, sementara pendapatan tumbuh 16,5 persen menjadi US$999,2 juta.
Pertumbuhan laba yang jauh lebih cepat dari pendapatan ditopang efisiensi biaya. Saat pendapatan naik 16,5 persen, beban pokok pendapatan hanya meningkat 0,5 persen. Alhasil, laba kotor tumbuh 48,7 persen menjadi US$422,7 juta dan GPM meningkat dari 33,1 persen menjadi 42,3 persen.
Efisiensi tersebut salah satunya berasal dari jasa pertambangan. Beban pokok segmen turun 10 persen menjadi US$276 juta, sementara pendapatannya tumbuh 3,3 persen menjadi US$470,8 juta. Dampaknya, laba segmen justru melonjak 53,9 persen menjadi US$92,6 juta.
Bisnis pertambangan metalurgi ADMR juga menjadi penopang, dengan pertumbuhan sekitar 31,4 persen. Selain itu, ADRO mendapat tambahan pendapatan dividen sebesar US$33,53 juta yang sebelumnya belum ada. Alhasil, pendapatan dan beban lain-lain berbalik menjadi positif US$17,42 juta dari negatif US$20,6 juta.
Namun, ada catatan pada arus kas. Arus kas operasi ADRO berbalik negatif US$42,91 juta dari positif US$333,2 juta. Salah satu penyebabnya adalah pembayaran kepada pemasok dan kontraktor yang melonjak menjadi US$803 juta dari US$339,9 juta. Kondisi ini mengindikasikan besarnya kebutuhan kas untuk ekspansi grup, termasuk smelter aluminium ADMR yang arus kas operasinya juga negatif sekitar US$173 juta.
Dari neraca, utang bank naik sekitar 58 persen menjadi US$1,18 miliar, sedangkan liabilitas sewa melonjak 890 persen menjadi US$755 juta. Kenaikan liabilitas sewa tersebut berkaitan dengan penyewaan pembangkit listrik kepada PT Kaltara Power Indonesia, anak usaha AADI, senilai sekitar US$690,65 juta.
Jadi, ADRO ini menawarkan pertumbuhan laba dan efisiensi yang kuat, tetapi investor tetap perlu mencermati arus kas dan kenaikan kewajiban seiring agresifnya ekspansi grup.
Secara teknikal, pergerakannya juga dekat resistance 2950 dengan posisi RSI yang sudah overbought. Dalam jangka pendek perlu diantisipasi adanya risiko profit taking, tetapi masih menarik mengikuti tren yang sudah mulai naik.
Jika ada koreksi menarik dimanfaatkan sebagai peluang buy on retracement mendekati area support di 2.560.

Saham ADMR
Berikutnya ADMR, yang mencatatkan pertumbuhan pendapatan 31,5 persen menjadi US$583 juta dan laba bersih 24 persen menjadi US$174 juta. Laba kotor bahkan tumbuh 54,2 persen menjadi US$277,8 juta, membuat GPM naik dari 40,6 persen menjadi 47,6 persen.
Motor utama kinerja masih berasal dari batu bara metalurgi. Pendapatannya tumbuh 31,7 persen menjadi sekitar US$581 juta, sedangkan laba segmen meningkat 45,5 persen menjadi US$209,5 juta.
Di sisi lain, smelter aluminium masih menjadi beban karena mencatatkan kerugian US$45,5 juta hingga semester I/2026. Namun, bisnis ini berpotensi menjadi katalis pada semester II/2026 setelah ADMR mulai melakukan ekspor aluminium perdana.
Dalam laporan kuartal II/2026, ADMR mencatat persediaan aluminium sekitar US$319 juta dan telah melakukan hedging sekitar 60.675 ton untuk periode Juli–September 2026.
Karena itu, kuartal III/2026 akan menjadi periode penting untuk melihat berapa besar persediaan tersebut masuk menjadi pendapatan serta bagaimana perkembangan laba-rugi segmen aluminium.
Meski begitu, ekspektasi tetap perlu realistis karena smelter yang baru beroperasi biasanya belum mencapai efisiensi optimal. Jadi, meskipun pendapatan sudah mulai masuk, segmen aluminium masih berpotensi mencatatkan kerugian.
Dari segi teknikal, menurut kami saham ADMR sudah dalam tren naik dalam jangka pendek, geraknya rapi mengikuti MA20 daily, garis ini bisa dijadikan support untuk dipantau sebagai demand area lagi di 1650. Adapun target resistance bisa dipantau di area 1920.

Saham AADI
Terakhir ada AADI, sebelum bahas kinerjanya, mengingatkan juga soal hubungannya dengan ADRO meskipun sudah spin off hampir dua tahun, mereka tetap punya hubungan.
ADRO sudah tidak punya kendali, tetapi punya kepemilikan saham sekitar 15 persenan atas kepemilikan AADI.
Beralih ke kinerja, AADI mencatat pertumbuhan paling moderat. Laba bersih yang dicetak sebesar US$473 juta atau tumbuh 10,5 persen, dengan pendapatan naik 6,1 persen menjadi sekitar US$2,5 miliar pada paruh pertama tahun ini.
Efisiensi biaya membuat GPM meningkat dari 29 persen menjadi 30,7 persen dan laba kotor tumbuh 12,5 persen.
Pertambangan batu bara tetap menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan sekitar US$2,38 miliar atau tumbuh 3,8 persen. Namun, bisnis logistik tumbuh lebih cepat sebesar 20,2 persen.
Bisnis penyewaan aset pembangkit listrik dan jasa penunjangnya juga mulai berkontribusi dengan pendapatan perdana US$44,21 juta.
Segmen listrik tersebut bahkan mencatatkan laba sekitar US$22,6 juta, berbalik dari rugi US$1,1 juta. Bisnis ini dijalankan melalui PT Kaltara Power Indonesia yang mendapatkan transaksi dari PT Kalimantan Aluminium Industry untuk mendukung smelter aluminium ADMR.
Selain kinerja operasional, katalis terbesar AADI berasal dari rencana divestasi saham Kestrel kepada Yancoal Australia Ltd. Transaksi tersebut belum masuk laporan semester I/2026 karena masih dalam proses.
Berdasarkan data yang tersedia, AADI berpotensi memperoleh keuntungan sekitar US$152,3 juta. Angka tersebut berasal dari nilai tercatat Kestrel sekitar US$735 juta dibandingkan nilai transaksi yang berpotensi diterima AADI sebagai pemilik 47,9 persen saham Kestrel, sekitar US$888 juta.
Jika transaksi selesai pada semester II/2026, laba bersih AADI 2026 berpotensi meningkat. Dengan annualized laba semester I sebesar US$947,5 juta dan tambahan keuntungan divestasi sekitar US$121 juta–US$152 juta, laba bersih berpotensi mencapai US$1,06 miliar–US$1,09 miliar.
Dengan asumsi payout ratio 60 persen, kurang lebih sama seperti tahun buku 2025, dividen berpotensi sekitar Rp1.215 per saham dengan asumsi kurs Rp17.757 per dolar AS.
Beralih ke teknikal, kami melihat kenaikan AADI sudah cukup kencang bahkan sempat terbentuk gap up, area ini bisa menjadi support terdekat yang perlu dipantau di 10.300.
Kenaikan yang pesat ini membuat posisi harga saham AADI sudah dekat resistance di 11.625. Menurut kami tidak terlalu worth it untuk dikejar, kecuali bagi yang siap dengan volatilitasnya karena volume beli masih cukup tinggi dalam jangka pendek.

Kesimpulan
Secara teknikal, semua sudah dalam tren kenaikan, strategi buy on retracement menarik untuk dilakukan, tetapi harus tetap memperhatikan trading plan masing-masing dengan profil risiko.
Dari segi prospek bisnis dan kinerja keuangan. Ketiganya punya cerita masing-masing.
ADRO unggul dari sisi pertumbuhan laba dan efisiensi, tetapi perlu mencermati arus kas serta kenaikan kewajiban. ADMR menawarkan katalis dari ekspansi aluminium, meski profitabilitas smelter masih perlu dibuktikan. Sementara itu, AADI memiliki kombinasi kinerja operasional yang solid, potensi divestasi Kestrel, dan peluang dividen yang menarik.
Dengan begitu, semester II/2026 akan menjadi periode penting, di mana ADRO perlu membuktikan ekspansinya menghasilkan arus kas, ADMR perlu menunjukkan perbaikan bisnis aluminium, sementara AADI berpeluang mendapat tambahan laba material jika divestasi Kestrel terealisasi.
Gimana, menurut kalian dari tiga emiten grup Alamtri ini siapa jadinya yang paling menarik?
Pantau Pergerakan Saham-Saham Potensial di Ajaib
Ingin memantau kinerja ADRO, ADMR, dan AADI setelah laporan semester I/2026? Cek harga saham, pergerakan grafik, dan informasi emiten secara real-time melalui Ajaib.
Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Sekuritas membuat informasi ini melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.
Profil Penulis
Writer
-
Artikel Terkait





Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!