Geliat Aksi Korporasi 6 Saham Grup Prajogo Pangestu, Ini Prospek BREN, BRPT, hingga TPIA
Mikirduit•September 4, 2026

Key Takeaways:
- Enam emiten Grup Prajogo Pangestu (BREN, BRPT, CDIA, CUAN, PTRO, TPIA) mencatat koreksi harga saham double digit sejak awal tahun hingga 28 Agustus 2026, dengan TPIA turun paling dalam sebesar 71,43%, disusul CUAN dan BREN sekitar 64%, PTRO dan CDIA lebih dari 50%, serta BRPT sekitar 43%.
- Kinerja Semester I/2026 bervariasi: pendapatan sebagian besar emiten tumbuh, namun laba bersih TPIA, CDIA, dan BRPT tercatat turun akibat basis tinggi dari keuntungan akuisisi Shell tahun sebelumnya, sementara laba bersih BREN dan CUAN justru meningkat.
- Secara teknikal, keenam saham berada di area demand dengan level support dan resistance masing-masing yang disebutkan sebagai referensi analisis, bukan rekomendasi beli/jual.
Grup Prajogo Pangestu Ramai Aksi Korporasi dengan Agenda Berbeda
Deretan emiten di ekosistem grup Prajogo Pangestu (PP) masih ramai dengan aksi korporasi, tapi mereka semua punya cerita beda-beda. Seberapa menarik prospeknya? apakah menarik dilirik harga sahamnya?
Ada enam emiten yang tercatat dalam satu grup konglo ini, mereka adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), Barito Pacific Tbk (BRPT), Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), Petrosea Tbk (PTRO), dan Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).
Salah satu yang menjadi sorotan adalah semua saham grup PP ini sudah terjun dalam rata-rata sampai double digit persen. Berdasarkan data sejak awal tahun sampai perdagangan Jumat hari ini (28/8/2026), saham TPIA paling parah jatuhnya hingga 71,43 persen.
Disusul CUAN dan BREN ambles kisaran 64 persen, PTRO dan CDIA terperosok lebih dari 50 persen, dan yang paling buncit koreksinya BRPT sekitar 43 persen.
Namun, dari koreksi dalam itu, kami melihat peluang teknikal rebound semakin terbuka, karena valuasi sudah masuk zona yang masuk akal. Lihat saja, BREN dulu PBV-nya pernah mencapai ratusan kali, saat ini sudah kisaran 36 kali. Berikut rincian lebih lengkapnya:

Valuasi yang sudah masuk akal tentu tidak cukup. Katalis untuk saham terbang perlu dukungan dari aspek fundamental dan prospek ekspansi bisnisnya.
Menariknya, deretan emiten di bawah Grup PP ini tengah ramai dengan berbagai agenda aksi korporasi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa grup ini masih berada dalam fase pertumbuhan (growth stage), di mana ekspansi menjadi salah satu motor utama untuk memperbesar skala bisnis.
Jika ekspansi yang tengah digencarkan berhasil memberikan kontribusi positif, dampaknya potensi tercermin ke pendapatan dan laba dengan pertumbuhan eksponensial ke depan.
Lantas, seperti apa prospek bisnis dan pergerakan teknikal masing-masing saham dari grup ini? Mari kita ulas satu per satu.
Saham TPIA yang Masih Agresif Ekspansi
Pertama, ada TPIA yang kini sudah semakin berkembang. Bisnisnya bukan lagi sekadar petrokimia domestik, tetapi mulai merambah energi, infrastruktur, dan mobilitas di Asia Tenggara.
Perubahan ini terlihat dari sejumlah aksi korporasi besar. Pada April 2025, TPIA bersama Glencore mengakuisisi aset Shell Energy and Chemicals Park (SECP) di Singapura.
Ekspansi berlanjut pada Agustus 2026 lewat akuisisi bisnis dealer otomotif dan ritel bahan bakar Cycle & Carriage di Singapura dan Malaysia senilai SG$265 juta atau sekitar Rp3,1 triliun. Langkah ini membuka sumber pendapatan baru di luar bisnis petrokimia.
Di sisi lain, prospek TPIA juga mendapat dorongan dari kebijakan pembebasan bea masuk 0 persen untuk impor LPG industri dan bahan baku plastik, yang berpotensi membantu menekan biaya bahan baku. Perseroan juga mulai menjajaki bisnis hijau lewat studi kelayakan proyek Waste-to-Energy di Serang Raya.
Namun, ekspansi besar tersebut belum langsung terlihat pada laba. Pendapatan Semester I/2026 memang melonjak menjadi US$5,3 miliar, tetapi laba bersih turun 77,2 persen secara tahunan menjadi US$371,2 juta.
Penurunan ini utamanya karena tahun lalu TPIA mendapat keuntungan akuntansi satu kali dari akuisisi aset Shell, sehingga basis laba 2025 memang sangat tinggi.
Selain itu, laba Kuartal II/2026 turun menjadi US$137 juta dari US$205 juta pada kuartal sebelumnya, seiring tekanan margin petrokimia serta meningkatnya biaya penyusutan dan bunga.
Jadi, TPIA memang sedang memperbesar mesin pertumbuhannya, tetapi tantangannya sekarang adalah memastikan ekspansi tersebut bisa benar-benar menghasilkan kontribusi yang lebih besar ke laba ke depannya.
Adapun, secara teknikal saham ini masih cenderung konsolidasi, tetapi menariknya masih di demand area, selama masih di rentang 2000 ke bawah atau setidaknya sampai dekat support di 1690.
Adapun, target penguatan jangka pendek ke resistance di 2690. Namun, perlu dicatat, volatilitas saham ini cukup tinggi, terlebih setelah dikeluarkan dari MSCI. Oleh karena itu, untuk atur strategi masuk perlu lebih ketat mengatur porsi agar risiko bisa diminimalisir.

Saham CDIA Memperkuat Armada Logistik
Berikutnya ada CDIA, anak usaha TPIA yang fokus di bisnis infrastruktur dan menjadi salah satu penopang ekosistem grup. Bisnisnya cukup beragam, mulai dari penyediaan listrik dan air industri, kepelabuhanan, hingga logistik dan penyimpanan bahan kimia.
Sejak IPO pada Juli 2025, CDIA terus memperbesar kapasitas bisnisnya. Sepanjang 2026, perseroan menambah armada kapal Boreas dan Novah, mengakuisisi bisnis logistik maritim, serta mengembangkan fasilitas penyimpanan bitumen di Merak.
Ekspansi tersebut mulai terlihat dari pendapatan yang tumbuh 22,8 persen menjadi US$82,1 juta pada Semester I/2026. EBITDA juga naik 25,3 persen menjadi US$31,6 juta. Namun, laba bersih justru turun 74 persen menjadi US$19,3 juta karena biaya operasional armada baru dan penyusutan aset yang meningkat, ditambah efek keuntungan satu kali pada tahun sebelumnya.
Meski laba masih tertekan, prospek CDIA tetap menarik karena sebagian besar bisnisnya berbasis aset infrastruktur yang bisa menghasilkan pendapatan secara berulang. Ruang ekspansinya juga masih terbuka melalui tank storage, jaringan pipa, penambahan armada hingga 20 kapal, serta proyek energi surya dan fasilitas air industri.
Dengan begitu, CDIA lebih cocok dilihat sebagai pertumbuhan jangka panjang yang dibangun secara bertahap, bukan saham yang mengandalkan lonjakan laba dalam waktu singkat. Jika aset dan proyek barunya semakin produktif, CDIA berpotensi menjadi sumber recurring income sekaligus penopang stabilitas bagi TPIA.
Secara teknikal, kami masih menilai CDIA ini menarik dperhatikan. Posisinya harga sahamnya berada dekat area support MA20 daily, yang menarik untuk dicermati sebagai demand area, dengan target resistance ke 800.
Adapun, satu level penting yang perlu diperhatikan, yaitu 560 sebagai support kuat. Selama level ini mampu dipertahankan, peluang terbentuknya fase akumulasi masih terbuka.
Sebaliknya, jika support kuat itu ditembus ke bawah, CDIA berisiko kembali melanjutkan tren penurunannya.

Saham BREN Lirik Potensi Akuisisi Perusahaan Panas Bumi Filipina
Selanjutnya ada BREN, emiten dari grup PP yang fokus di bisnis energi terbarukan. Lewat Star Energy Geothermal dan Barito Wind, BREN mengelola pembangkit listrik panas bumi dan tenaga angin, dengan panas bumi masih menjadi bisnis utamanya.
Sejak IPO pada akhir 2023, BREN terus memperbesar kapasitas pembangkitnya. Hingga pertengahan 2026, kapasitas panas bumi perseroan sudah mencapai 926 MW setelah rampungnya retrofit PLTP Wayang Windu. BREN juga terus menyiapkan tambahan kapasitas melalui Salak Unit 7, Wayang Windu Unit 3, dan Darajat Unit 3.
Menariknya, ambisi BREN kini mulai mengarah ke luar negeri. Pada Juli 2026, perseroan mengajukan penawaran awal senilai US$5 miliar atau sekitar Rp90 triliun untuk mengakuisisi Energy Development Corp (EDC), salah satu pemain panas bumi terbesar di Filipina.
Memang, rencana ini masih sangat awal dan belum mengikat secara hukum. Namun, jika terealisasi, kapasitas BREN berpotensi melonjak signifikan dan memperkuat posisinya di bisnis panas bumi regional.
Dari sisi kinerja, ekspansi tersebut berjalan beriringan dengan pertumbuhan yang cukup solid. Pada Semester I/2026, pendapatan BREN naik 11,5 persen menjadi US$334,44 juta, sementara EBITDA tumbuh 13,1 persen menjadi US$293 juta. Laba bersih juga meningkat 29 persen menjadi US$106 juta.
Dengan bisnis pembangkit yang didukung kontrak penjualan listrik jangka panjang bersama PLN, BREN memiliki sumber pendapatan yang relatif stabil. Ditambah ekspansi kapasitas dan peluang akuisisi EDC, BREN masih punya ruang untuk tumbuh sekaligus menjadi salah satu penopang laba utama Grup Barito.
Adapun, secara teknikal saham ini juga masih berada di demand area, selama harganya tidak terjun dari level support kuat di 3050, menurut kami tren nya masih akan lanjut konsolidasi.
Menariknya, posisi saat ini sudah berada di zona oversold, artinya tekanan jual sudah jauh mereda, hal ini membuka peluang terjadi teknikal rebound, dengan target terdekat ke resistance di 4270.

Saham CUAN Akuisisi SINI via Right Issue
CUAN, perusahaan ini bergerak di sektor pertambangan, energi, dan jasa kontraktor. Portofolionya kini semakin beragam, mulai dari batubara, emas, dan batu gamping, hingga jasa pertambangan melalui anak usahanya, PTRO.
Sejak 2025, CUAN agresif memperluas bisnisnya. Melalui PT Kreasi Jasa Persada (KJP) dan PTRO, perseroan mengambil alih PT Singaraja Putra Tbk. (SINI) untuk memperkuat cadangan batubara dan infrastruktur logistik. Ekspansi kemudian merambah ke komoditas lain lewat investasi PTRO di Tolu Minerals di Papua Nugini serta proyek pembangkit listrik berkapasitas 680 MW di Feni Haltim, Maluku Utara, yang mendukung ekosistem industri nikel.
Perluasan bisnis tersebut mulai tercermin pada kinerja Semester I/2026. Pendapatan CUAN melonjak menjadi US$678,2 juta, dari sekitar US$309,6 juta pada periode yang sama tahun lalu. Laba bersih yang menjadi bagian pemegang saham induk juga naik lebih dari 150 persen menjadi US$18,4 juta. Pertumbuhan ini terutama ditopang konsolidasi bisnis jasa pertambangan PTRO dan meningkatnya volume ekspor batubara.
Untuk saat ini, batubara dan jasa kontraktor masih menjadi sumber utama pendapatan CUAN. Namun, ekspansi ke emas, tembaga, nikel, dan infrastruktur energi membuka sumber pertumbuhan baru ke depan. Artinya, CUAN sedang memperluas bisnisnya agar tidak hanya bergantung pada siklus batubara.
Secara teknikal, saham CUAN juga masih berada di demand area, dengan support terdekat di 750. Sementara itu, resisten di 930 bisa dijadikan target jual untuk trading jangka pendek.
Namun, perlu dicatat bahwa CUAN memiliki risiko volatilitas yang cukup tinggi. Selain itu, sebagai bagian dari grup konglomerasi Prajogo Pangestu, pergerakan CUAN juga berpotensi ikut dipengaruhi oleh sentimen terhadap saham-saham dalam grupnya.

Saham PTRO Ekspansi ke Papua Nugini
PTRO yang merupakan anak usaha CUAN sudah sempat diulas sebelumnya. Perusahaan ini bergerak di jasa pertambangan, EPC, dan logistik maritim, sekaligus menjadi salah satu penopang operasional bisnis pertambangan Grup Barito.
Menariknya, baru-baru ini langkah PTRO terkait SINI membentuk satu rangkaian transaksi yang cukup strategis. Setelah melepas kepemilikan di PT Kemilau Mulia Sakti (KMS), PTRO kemudian menjadi standby buyer dalam rights issue SINI.
Dana hasil rights issue tersebut selanjutnya digunakan SINI untuk mengakuisisi aset tambang yang sebelumnya dimiliki PTRO. Dengan skema ini, PTRO mendapatkan dana segar dari pelepasan aset sekaligus tetap memperoleh manfaat dari bisnis tambang tersebut melalui kontrak jasa pertambangan.
Hal ini kemudian diperkuat dengan dua kontrak jasa pertambangan dari anak usaha SINI dengan nilai total Rp9,3 triliun dan durasi sepanjang usia tambang. Artinya, setelah kepemilikan aset berpindah, PTRO tetap memiliki peluang mendapatkan pendapatan dari pengelolaan tambang tersebut dalam jangka panjang.
Di luar batubara, PTRO juga mulai memperluas bisnisnya ke mineral lain. Perseroan berinvestasi 23,75 juta dolar Australia di Tolu Minerals untuk masuk ke bisnis emas dan tembaga di Papua Nugini, serta mengembangkan bisnis pendukung industri nikel dan pembangkit listrik 680 MW di Feni Haltim.
Ekspansi tersebut mulai terlihat pada kinerja Semester I/2026, dengan pendapatan konsolidasian PTRO menembus US$550 juta dan laba bersih yang tetap tumbuh solid.
Ke depan, PTRO perlahan menggeser fokus dari kepemilikan aset batubara menuju jasa pertambangan dan mineral, dengan kontrak jangka panjang menjadi salah satu sumber pertumbuhan utamanya.
Adapun secara teknikal, saham ini masih cenderung konsolidasi, tetapi sudah mulai terlihat pola akumulasi karena sudah terbentuk beberapa kali higher low dan geraknya yang rapi mengikuti trendline MA50 daily.
Support terdekat di 4560, bisa jadi target demand area ketika ada pantulan dengan target ke resistance 5550

Saham BRPT, Holding Prajogo Memantau Ekspansi TPIA dan BREN
Terakhir, ada BRPT, sebagai perusahaan induk yang menaungi berbagai bisnis di ekosistem Prajogo Pangestu.
Kinerja BRPT ikut mencerminkan perkembangan sejumlah anak usahanya, mulai dari petrokimia lewat TPIA, energi terbarukan melalui BREN, hingga infrastruktur dan logistik lewat CDIA.
Dalam dua tahun terakhir, BRPT juga semakin agresif memperluas bisnisnya ke pasar regional melalui TPIA yang sudah menyelesaikan akuisisi SECP di Singapura, memperkuat bisnis energi dan infrastrukturnya, termasuk lewat aset avtur di Bandara Changi, termaruk yang terbaru ekspansi bisnis ritel BBM dan otomotif melalui Cycle & Carriage.
Skala bisnis yang semakin besar mulai terlihat pada kinerja Semester I/2026. Pendapatan konsolidasian BRPT melonjak 76,1 persen menjadi US$5,68 miliar. Namun, laba bersih yang menjadi bagian pemegang saham induk justru turun 64,8 persen menjadi US$190 juta.
Penurunan ini terutama dipengaruhi keuntungan satu kali dari akuisisi kilang Shell pada tahun lalu yang tidak berulang, ditambah margin bisnis petrokimia yang masih tertekan.
Meski begitu, penurunan laba tersebut tidak serta-merta mencerminkan pelemahan bisnis BRPT secara keseluruhan. Justru, grup ini kini punya sumber pertumbuhan yang lebih beragam, mulai dari energi panas bumi, infrastruktur, hingga logistik dan utilitas industri.
Dengan portofolio yang semakin luas, BRPT perlahan mengurangi ketergantungannya pada siklus bisnis petrokimia. Ke depan, pertumbuhan grup akan semakin ditopang oleh aset-aset infrastruktur dan energi yang bisa memberikan pendapatan berulang sekaligus membuka ruang pertumbuhan dalam jangka panjang.
Berikutnya secara teknikal, saham BRPT ini juga terlihat masih berada di demand area, tren pergerakannya masih konsolidasi, tetapi relatif masih aman selama terjaga di atas support 1690. Adapun target resistance yang perlu dicermati di 2000.

Pantau Pergerakan Saham Grup Prajogo Pangestu dan Trading di Ajaib
Pantau pergerakan saham grup konglomerasi Prajogo Pangestu dan saham potensial lainnya di Ajaib. Lihat juga aktivitas broker hingga foreign flow secara lebih mendalam di Ajaib Terminal. Gunakan fitur Inventory Analysis untuk melihat jejak akumulasi dan distribusi broker. Semakin nyaman untuk melakukan analisis dengan layar yang lebih lebar di Ajaib Terminal sebelum mengambil keputusan trading.
Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Sekuritas membuat informasi ini melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.
*Artikel ini menggunakan data tanggal 28 Agustus 2026
Profil Penulis
Writer
-
Artikel Terkait





Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!