Analisis Saham, Saham

Saham PPRE: Ekspansi Bisnis ke Jasa Pertambangan

Sumber: PP-Presisi

Ajaib.co.id – Emiten saham PPRE memulai usahanya pada 2004 dengan nama PT Prima Jasa Aldodua (PJA). Saat itu, fokus bisnis perusahaan adalah menyediakan jasa penyewaan alat berat konstruksi.

10 tahun kemudian, PT PP Tbk mengakuisisi PJA dan nama perusahaan berubah menjadi PT PP Alat Konstruksi (Alkon). Tak lama, nama berubah lagi menjadi PT PP Peralatan Konstruksi. 

Fokus bisnis perseroan adalah konstruksi berbasis alat berat dengan kemampuan untuk melayani tujuh jasa konstruksi mulai dari pekerjaan sipil, ready mix, pondasi, pekerjaan form, erector, jasa pertambangan, dan persewaan alat berat. Seperti membangun proyek jalan tol dan bendungan.

Pada 2017, nama perseroan diubah menjadi PT PP Presisi. Di tahun yang sama, perseroan tercatat sebagai emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Adapun susunan pemegang saham PPRE per Desember 2019 adalah PT PP (Persero) Tbk dengan porsi kepemilikan 77%, Koperasi Karyawan Pemegang Saham PT PP (Persero) Tbk sebesar 6,3%, PT Taspen (Persero) memiliki 6,3%, dan publik dengan 10,4%.

PPRE Targetkan Kontrak Baru Rp3,7 Triliun

Untuk periode 2021, PPRE memiliki target memperoleh kontrak baru dari sektor konstruksi dan jasa pertambangan senilai Rp7,3 triliun, Kontan.co.id (21/03/2021). Target perseroan lainnya adalah pemasaran sebesar Rp3,7 triliun, pendapatan mencapai Rp3,4 triliun, dan laba bersih komprehensif bisa meraih hingga Rp145 miliar.

Direktur PP Presisi Benny Pidakso menjelaskan bahwa perseroan berhasil mendapatkan kontrak baru di 2021. Beberapa kontrak baru sampai Februari 2021 di antaranya Hauling Road Tambang Nickel Weda Bay sebesar Rp126 miliar, Shoulder Taxiway Bandara Sepinggan dengan nilai Rp32 miliar, serta Tol Padang Sicincin sebesar Rp69 miliar.

Saat ini, lanjut Benny, perseroan tengah mengikuti beberapa tender proyek seperti proyek jalan di Sumatera dan Kalimantan, proyek di sektor jasa pertambangan nikel dan batubara, dan tender jalan hauling di Sumatera Selatan.

Dengan target tersebut, perseroan mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp336 miliar sepanjang 2021. Namun perseroan masih melakukan kajian mengenai penambahan nilai capex untuk mendukung pengembangan bisnis dan jasa pertambangan.

Pendapatan PPRE Turun Signifikan

Pendapatan PPRE pada 2020 turun signifikan yeEmiten saham PPRE memulai usahanya pada 2004 dengan nama PT Prima Jasa Aldodua (PJA). Saat itu, fokus bisnis perusahaan adalah menyediakan jasa penyewaan alat berat konstruksi.

Secara rinci, pendapatan perseroan disumbangkan oleh jasa konstruksi hingga Rp1,96 triliun yoy, tahun sebelumnya Rp3,25 triliun. Sedangkan pendapatan dari ready mix turun menjadi Rp139,16 miliar, tetapi penyewaan peralatan naik menjadi Rp240,32 miliar.

Kinerja PPRE Selama Lima Tahun

Kinerja PPRE periode 2015 hingga 2019 menunjukkan penguatan, data dari laman pp-presisi.co.id. Perseroan mampu mencatatkan kinerja positif setiap tahunnya. Bahkan kinerja 2016 ke 2017 meroket signifikan.

Kinerja PPRE pada 2019 didorong oleh kontrak baru senilai Rp5,9 triliun. Sebagian besar kontrak tersebut berasal dari proyek Jalan Tol Indrapura-Kisaran, pembuatan Jalan Tambang Batubara Kalimantan Tengah-Kalimantan Timur, dan proyek Bandara Kediri, Jawa Timur.

Selain itu, perseroan menjadi kontraktor utama dalam proyek Jalan Tol Non Trans Jawa Selatan Lot 9 Balekambang, Kedungsalam, Malang, Jawa Timur; kontraktor utama untuk proyek Overlay Runway Bandara Internasional Minangkabau, Sumatera Barat; serta meningkatkan kapabilitas di bidang soil improvement melalui kerja sama dengan PT Pratama Widya dan Sunward Intelligent Equipment Co Ltd.

Laporan Laba Rugi20192018201720162015
Pendapatan BersihRp3,85 triliunRp3,1 triliunRp1,8 triliunRp371 miliarRp223 miliar
Laba KotorRp850,4 miliarRp743,3 miliarRp445,9 miliarRp95,2 miliarRp71,3 miliar
Laba BersihRp439,3 miliarRp432,3 miliarRp244,5 miliarRp41,4 miliarRp28,3 miliar

Meski kinerja keuangan lima tahun menguat, kinerja 2020 ambruk karena pandemi. Namun kondisi keuangan perseroan masih terjaga dengan baik. Adapun rasio keuangan 2019 mengalami penurunan jika dibandingkan 2018, kecuali CR dan DER. Data dari Ajaib, rasio keuangan PPRE:

Rasio 20192018
ROA4,3%5,2%
ROE13,2%14,3%
NPM8,6%10,7%
CR132,3%179,2%
DER183%150%

Meski pandemi masih berlangsung, bisnis PPRE masih berjalan lancar. Kinerja keuangan periode 2020 merosot dibanding tahun-tahun sebelumnya. Namun perseroan optimis bahwa 2021 adalah tahun untuk meningkatkan kinerja keuangan.

Menurut Sekretaris Perusahaan PP Presisi Adelia Auliyanti, manajemen PPRE telah menyiapkan strategi bisnis, Bisnis.com (18/03/2021), yaitu:

  • Memperluas pasar baik dari pihak swasta maupun pemerintah, di luar PT PP (Persero) Tbk.
  • Meningkatkan sinergi serta kolaborasi dengan induk perusahaan, PT PP Tbk. Tujuannya adalah meningkatkan kinerja dari PT PP serta mengelola sumber daya secara optimal dan efisien.
  • Mengembangkan jasa pertambangan terintegrasi sebagai sumber pendapatan. Tahun ini, perseroan bersiap untuk ekspansi ke pertambangan khususnya nikel.

Benny mengatakan perseroan mencoba untuk memperbesar kontrak baru di bidang non konstruksi. Saat ini, kontrak masih berimbang 50:50 untuk konstruksi dan non konstruksi, Liputan6.com (07/03/2021).

PPRE sedang membidik tambang nikel di wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Karena potensi volume pekerjaan di tambang tersebut mencapai dua hingga 4,5 juta ton per tahun.

Selain itu, perseroan menyelesaikan proyek yang sedang dikerjakan. Salah satunya merampungkan proyek Bandara Dhoho di Kediri, Jawa Timur. Proyek dari Gudang Garam tersebut telah groundbreaking pada 15 April 2020.

Saham PPRE Layak Koleksi atau Tidak?

Saham PPRE layak untuk dikoleksi oleh investor. Pasalnya, kinerja keuangan dalam kondisi baik dan prospek bisnisnya menjanjikan. Ditambah lagi perseroan melebarkan sayap bisnisnya ke bidang pertambangan tahun ini.

Sekadar perbandingan antara saham PPRE dan saham PTPP, induknya, data dari Ajaib:

PPRE
PER: 98,11 kali
PBV: 0,99 kali
Harga: Rp206 (26/03)
PTPP
PER: 71,98 kali
PBV: 0,87 kali
Harga: Rp1.485 (26/03)

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait