Perencanaan Keuangan

Bekerja dengan Sistem Otak: 5 Langkah untuk Finansial Lebih Baik

Ajaib.co.id – Sudah menjadi rahasia umum jika bias kognitif dapat mengganggu kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan investasi. Namun, bagaimana jika kali ini kita balikkan fenomenanya: bagaimana jika kita menggunakan fungsi sistem otak yang saling terhubung untuk memudahkan dalam membuat keputusan tepat terkait finansial? 

Pada artikel ini, kita akan menemukan lima strategi yang berbeda, tiap strategi memiliki peran penting di otak manusia: metode fresh start, visualisation, automation, metode naming, dan values framing. Mari sama-sama kita ulas metode mana yang sesuai dengan preferensi kamu.

Metode Fresh Start: Membuat Kebiasaan Baru Bertahan

Pernah mengelola resolusi Tahun Baru yang kemungkinan besar hal tersebut hanya akan terjadi di beberapa bulan awal dan kamu akan melupakan sisanya hingga akhir tahun.

Kisah yang cukup akrab didengar, bukan? Premis semacam tersebut merupakan efek dari fresh start atau memulai sesuatu dari yang baru.

Katherine Milkman, seorang profesor dari Universitas Pennsylvania melakukan sebuah studi yang menemukan bahwa efek “fresh start”, seperti Tahun Baru, ulang tahun, atau perayaan hari jadi dapat membantu individu lebih efektif dalam mengelola hidupnya dan menciptakan perubahan yang berarti dalam hidup mereka.

Dengan kata lain, sesuatu yang dimulai dari titik yang paling baru dapat mengubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baru yang lebih baik. 

Psikolog klinis dan penasihat keuangan di Keystone Wealth Partners Dr Dan Pallesen mengungkapkan bahwa efek dari fresh start membuat kita termotivasi terhadap peristiwa penting di dalam hidup, seperti awal tahun dan ulang tahun.

Momen-momen tersebut sangat penting sebab kita merasa hal-hal apapun yang kamu lakukan di masa lalu akan dihapus, hilang, atau diatur ulang dari awal. Kita tidak lagi mendefinisikan diri kita dari masa lalu, tetapi kebiasaan baru yang diciptakan setelah momen tersebut tiba.

Mungkin tahun masih sekitar beberapa bulan kemudian dan kamu punya banyak kesempatan untuk berkata, “mulai besok saja” atau mungkin ulang tahun kamu sudah lewat?

Jangan khawatir kamu bisa menemukan momen signifikan lain dalam hidup untuk memulai kebiasaan yang baru, misalnya yang berhubungan dengan finansial seperti berinvestasi atau menabung. 

Visualization: Membuat Target Finansial Menjadi Nyata 

Jika kamu tengah berjuang memprioritaskan uang tabungan atau investasi jangka panjang dari pengeluaran tidak penting atau pembelian impulsif yang bisa kamu nikmati saat ini, maka kamu tidak sendirian. Dr Pallesen menyebutkan bahwa otak manusia saling terhubung untuk membuat keputusan sesaat yang mengarahkan ke kesenangan alih-alih kesengsaraan. 

Di beberapa kasus, secara umum kita cenderung membuat keputusan keuangan yang menciptakan kebahagiaan saat itu juga atau meringankan kesulitan yang kamu hadapi, meski kesulitan tersebut adalah menabung atau berinvestasi jangka panjang untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan. 

Salah satu metode yang bisa digunakan untuk mengatasinya adalah dengan visualization atau penggambaran. Dr. Pallesen mengungkapkan dengan memvisualisasikan hasil yang diinginkan, seperti berlibur di kemudian hari, memiliki rumah idaman, atau menjalani kebebasan finansial dapat membantu mengurangi pengeluaran tidak penting dengan melihat tujuan akhir dari menabung atau berinvestasi. 

Sebuah studi mengungkapkan bahwa individu yang membayangkan mereka di kehidupan di masa yang akan datang cenderung menabung lebih banyak dibandingkan individu yang tidak memiliki penggambaran tersebut.

Ketika menyangkut masalah finansial, apakah kamu akan hidup dengan tenang di masa tua atau sebaliknya? Semakin kamu memiliki visual tentang dirimu di masa depan, semakin besar kemungkinan kamu menabung, membaca buku tentang strategi perencanaan keuangan, atau berinvestasi. 

Automation: Mengandalkan Sesuatu yang Lebih Kuat dari Tekad 

Penasihat keuangan bersertifikasi sekaligus founder Money Health Solutions, Derek Hagen mencatat untuk meningkatkan keuntungan adalah dengan menemukan tekad individu dan bekerja dengan sistem otak untuk mengotomatisasikan keputusan finansial.

Sikap ini akan sangat efektif karena berdasarkan penelitian meski dapat membangun niat, justru tekad disebut sebagai sumber daya yang terbatas.

Dengan menempatkan perilaku finansial yang positif secara autopilot akan membuat kamu terbiasa dalam melakukan hal yang berhubungan dengan finansial. Seperti mengatur perencanaan keuangan yang teratur, meninjau rekening secara berkala, atau mungkin membawa kopi sendiri dari rumah alih-alih mengeluarkan uang untuk membeli kopi seharga lebih dari Rp20.000. 

Beri Nama Akun Finansial: Ciptakan Hubungan Emosional Kuat yang Berhubungan dengan Perilaku Finansial 

Salah satu cara bekerja dengan sistem otak yang membantu kamu mengelola finansial adalah menggunakan metode naming atau memberi nama. Mungkin kamu takut untuk mengalihkan keuangan ke rekening tabungan atau akun investasi karena satu dan lain hal.

Untuk mengatasi kebiasaan negatif tersebut, kamu bisa memberikan nama untuk semua akun finansial dikelola untuk menciptakan hubungan emosional yang positif. 

Dr. Pallesen merekomendasikan untuk memberi nama akun tersebut dengan sesuatu yang sangat kamu hargai untuk membantu meningkatkan motivasi menyimpan uang tanpa adanya paksaan.

Kamu bisa memulai dengan nama-nama berdasarkan tujuan dari akun tersebut sehingga perasaan bersalah akan muncul jika kamu melewatkan untuk mengalihkan dana ke akun tersebut. Misalnya, “tabungan rumah yang setiap tahun harganya naik” atau “tabungan mobil karena lelah berdesak-desakan”.

Value Framing: Menyelaraskan Keputusan Finansial Berdasarkan Prinsip Hidup

Strategi lain bekerja dengan sistem otak yang direkomendasikan adalah mempertahankan keputusan finansial tetap pada jalurnya dengan memegang teguh prinsip yang individu miliki dalam hidup.

Hagen mengungkapkan bahwa individu yang menjalani keputusan finansial berdasarkan kompas moral atau sesuai keyakinan yang dimilikinya dalam hidup akan membuatnya jauh lebih masuk akal. 

Misalnya, jika kamu memiliki impian membeli rumah dengan halaman depan yang luas untuk membuat taman sendiri, tapi kamu kesulitan mengumpulkan uang karena rumah tersebut cukup mahal, kamu bisa mulai mengurangi pengeluaran tidak penting yang menurut kamu menghalangi prinsip dalam membantu mencapai impian tersebut.

Jadi, bekerja dengan sistem otak mana yang sesuai dengan kebutuhan kamu?

Artikel Terkait