Reksa Dana

4 Mitos Seputar Reksa Dana Dollar yang Perlu Kamu Ketahui

Sumber: Pexels

Ajaib.co.id – Dalam pertemuan FOMC tanggal 16 Juni 2021, Bank Sentral Amerika Serikat alias The Federal Reserves (The Fed) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di 0%-0,25% untuk merangsang pertumbuhan ekonomi.

The Fed juga menargetkan inflasi sebesar sedikitnya 2% hingga 3,4% di tahun 2021. Isu peningkatan suku bunga di negeri Paman Sam memang kerap menjadi salah satu sentimen yang mampu membuat nilai tukar USD ke IDR bergejolak.

Dikutip dari Reuters, bahwa konsensus memperkirakan kenaikan suku bunga Fed Fund Rate baru akan terjadi di tahun 2023. Dan mengenai kebijakan pengurangan likuiditas alias Tapering Off oleh The Fed, diperkirakan baru akan dilakukan paling cepat di November 2022.

Menantikan ekonomi AS kembali pulih, publik di negara-negara berkembang seolah bersiap menyambut pelemahan mata uangnya. Sebagian investor mulai mengakumulasi dollar sebagai bahan investasi, sebagian lainnya membeli reksa dana dollar sambil menantikan inflasi terealisasi di negeri Paman Sam.

Mengenai reksa dana dollar, ternyata perubahan pada kurs dollar juga dapat mempengaruhi kinerja pengembangan aset reksa dana dollar. Jadi anggapan bahwa perubahan kurs USD/IDR akan berpengaruh pada Reksa Dana Dollar adalah nyata dan bukan mitos.

Apa saja mitos-mitos seputar reksa dana dollar yang dipercayai publik yang nyatanya tidak benar? Berikut pembahasannya.

Mitos #1 : Portofolio Berisikan Aset Asing

Dalam POJK 23 /POJK.04/2016 tentang Reksa Dana Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif, pasal 4 B dikatakan bahwa:

” Manajer Investasi wajib menentukan komposisi Portofolio Efek dari Reksa Dana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif dengan ketentuan sebagai berikut paling banyak 15% (lima belas persen) dari Nilai Aktiva Bersih Reksa Dana diinvestasikan pada Efek yang diperdagangkan di Bursa Efek luar negeri yang informasinya dapat diakses dari Indonesia melalui media massa atau situs web”

Artinya hanya 15% dari total dana kelolaan reksa dana yang diperbolehkan untuk dibelanjakan efek yang diperdagangkan di luar negeri. Sisa total dana, yakni sebesar 85% tetap harus dibelanjakan efek yang diperdagangkan di dalam negeri.

Jika kamu belum tahu, efek adalah segala aset atau instrumen keuangan yang dapat diperdagangkan. Yang termasuk efek adalah surat utang alias obligasi, saham dan surat-surat berharga lainnya.

Makanya ada surat utang negara dalam bentuk mata uang asing. Dan sebagian besar reksa dana USD memang terdiri dari surat utang negara dalam bentuk mata uang dolar AS misalnya saja RI0035, RI0037, RI0038.

Untuk jenis reksa dana USD jenis campuran dan saham, 85% aset dalam portofolionya berisikan saham dalam negeri namun dalam perhitungan Nilai Aset Bersih per Unit kemudian diubah nilai tukarnya ke mata uang USD. 

Mitos #2: Tidak Terpengaruh Perubahan Kurs

Logika umum adalah reksa dana dollar sudah dalam bentuk mata yang dollar makanya gejolak pada kurs USD ke IDR tidak akan mempengaruhi reksa dana dollar.

Nyatanya menurut POJK 23 /POJK.04/2016, 85% dari total dana kelolaan harus dibelanjakan aset dalam negeri dengan mengonversi dollar ke rupiah. Oleh karena itu penguatan rupiah akan berpengaruh positif.

Sebagai gambaran, misalnya sebuah reksa dana USD memiliki aset saham lokal senilai Rp 850 juta dalam portofolionya dengan kurs saat pembelian yakni sebesar Rp 14.000 per 1 USD. Artinya ada sebesar $60,714 (Rp 850 juta / Rp 14 ribu per USD) yang dibelanjakan saham lokal.

Kemudian dalam beberapa bulan terjadi penguatan pada rupiah, menjadi misalnya Rp 13.000 per 1 USD. Kita asumsikan harga sahamnya tidak berubah. Ketika penguatan terjadi, saham yang senilai Rp 850 juta tersebut jadinya setara dengan $65,384 (Rp 850 juta / Rp 13 ribu per USD), atau cuan $4,670. Padahal harga sahamnya sendiri tidak mengalami peningkatan.

Jadi karena sebagian besar dana dibelanjakan aset lokal maka reksa dana dollar juga terpengaruh oleh perubahan kurs USD/IDR. Nah, jika kamu yakin bahwa kurs akan menguat maka reksa dana dollar justru menguntungkan untuk dibeli.

Mitos #3: Semua Reksa Dana Dollar Pasti Jenis Pendapatan Tetap

Sebagian besar Reksa Dana Dollar memang berisikan obligasi yang dihargai dengan mata uang USD yang diterbitkan oleh negara Indonesia ataupun perusahaan yang berdomisili di Indonesia. Reksa dana yang berisikan obligasi disebut juga dengan reksa dana pendapatan tetap.

Namun saat ini reksa dana dollar tidak juga melulu berjenis pendapatan tetap. Reksa dana saham bermata uang dollar pun ada, namun hanya saja dibatasi sebanyak 15% saja. Sisanya dibelikan saham dalam negeri, itupun perhitungan NAB/UP nya diubah ke USD.

Mitos #4: Reksa Dana Dollar Mulai dari $1000 per Unit

Reksa dana biasa dengan mata uang rupiah memang diterbitkan pertama kali senilai Rp 1000 per unit. Namun untuk reksa dana dollar, per unit dibuka mulai dari $1 dengan desimal hingga 6 angka di belakang titik.

Sumber: Infovesta

Di atas adalah sebagian kecil dari daftar seluruh reksa dana dollar di Indonesia. Kamu bisa lihat bahwa NAB/UP memiliki nilai dalam dollar AS dan memiliki hingga desimal 6 angka di belakangnya. Beberapa di antaranya mengalami penurunan NAB hingga turun di bawah $1 per unit. Namun ketika pertama kali diterbitkan semuanya dimulai dari $1.

Sumber: Ramalan BI soal Tapering Off The Fed dan Siasat Mengantisipasinya dan U.S. fed funds futures raise rate hike chances in early 2023 after Fed statement, dengan perubahan seperlunya.

Artikel Terkait