Investasi

4 Alasan Investor Harus Melakukan Switching Reksa Dana

Switching Reksa Dana

Ajaib.co.id – Reksa dana dapat memberikan imbal hasil cukup tinggi saat kondisi ekonomi melemah. Namun jika kinerjanya tak sesuai harapan, investor bisa melakukan switching reksa dana.

Reksa dana merupakan investasi yang memiliki beragam produk berdasarkan tujuan dan tipe investor. Mulai dari reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, saham, dan campuran. Namun transaksi reksa dana tak sekadar membeli dan menjualnya saja.

Ada transaksi lain, yaitu switching atau pengalihan. Switching reksa dana adalah proses pengalihan reksa dana, dari reksa dana A ke B. Meski demikian tak semua produk dapat dilakukan switching.

Pada umumnya, syarat pengalihan/switching reksa dana adalah produk harus berada di bawah satu Manajer Investasi (MI) dan bank kustodian yang sama.

Namun ada pula produk-produk yang dikelola MI dan bank kustodian yang sama tidak bisa dilakukan switching. Semua syarat tergantung peraturan MI.

Alasan Switching Reksa Dana

Apakah harus melakukan switching reksa dana? Tentu tidak. Keputusan switching atau tidak kembali ke keputusan masing-masing investor. Biasanya investor melakukan switching reksa dana dengan alasan:

●      Tujuan Tercapai

Jika tujuan keuangan investasi telah tercapai, tak sedikit investor yang mengalihkan ke reksa dana lain. Misal investor berinvestasi di reksa dana pendapatan tetap yang keuntungannya akan digunakan untuk membayar masuk kuliah S2.

Target investasi delapan tahun. Namun pada tahun keempat, ia telah memperoleh imbal hasil yang diinginkan. Karena tujuan sudah tercapai, kamu bisa switching reksa dana dengan risiko yang lebih rendah yaitu ke reksa dana pasar uang.

●      Aksi Ambil Untung

Profit taking atau aksi ambil untung juga bisa dijadikan alasan switching reksa dana. Misal investor berinvestasi pada reksa dana saham. Namun karena reksa dana pendapatan tetap berkinerja baik, investor akan mengalihkan dananya.

Dalam hal ini, investor tak hanya memperoleh keuntungan. Melainkan juga menginvestasikan dananya ke portofolio yang risikonya lebih rendah. Investor harus jeli melihat peluang jika ingin mendulang untung dari reksa dana.

Hal yang perlu diperhatikan adalah setelah memperoleh imbal hasil tinggi. Lalu apa rencana selanjutnya? Tetap bertahan pada reksa dana tersebut atau switching ke produk lain. Investor harus meek situasi ini, jika tak ingin merugi.

●      Perubahan Tujuan

Alasan switching reksa dana juga berkaitan dengan perubahan tujuan hidup. Misal investor berencana pensiun dini, sehingga menginginkan dana yang ia simpan aman termasuk dana di reksa dana.

Maka ia harus mereview portofolionya. Jika portofolio di reksa dana saham, maka ia harus mengalihkan dana ke portofolio dengan risiko lebih rendah dan memberikan imbal hasilnya stabil. Pilihannya bisa ke reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, atau campuran.

●      Diversifikasi Investasi

Diversifikasi investasi merupakan upaya membeli produk investasi beragam. Tujuannya untuk meminimalisir kerugian sekaligus mendulang keuntungan.

Misal seorang investor telah berinvestasi pada saham, tetapi kinerjanya sejak 2020 kurang bagus. Maka ia dapat melakukan diversifikasi investasi ke reksa dana pendapatan tetap yang kinerjanya cukup stabil sejak 2019.

Apapun alasan perubahannya, ada baiknya mempertimbangkan beberapa hal. Seperti:

–         Kinerja reksa dana pengalihan. Kenali produk tersebut, apakah sesuai dengan tujuan berinvestasi atau tidak.

–         Biaya switching. Pada umumnya biaya pengalihan sekitar 1 persen hingga 1,5 persen.

–         Jika portofolio anjlok terlalu dalam, misal terkoreksi hingga 50 persen dan reksa dana pengalihan berjenis pendapatan tetap yang kinerjanya positif, sebaiknya tahan. Ada baiknya investor membeli reksa dana jenis lain, tanpa melakukan switching.

Mekanisme Switching Reksa Dana

Jika sudah mantap melakukan switching, lakukan mekanismenya. Jika kamu bertransaksi di platform digital reksa dana, lalu ikuti langkah-langkahnya.

–         Cek portofolio.

–         Cek reksa dana yang dituju. Seperti prospektus dan lembar fakta.

–         Pilih reksa dana yang akan dialihkan.

–         Lakukan switching atau pengalihan.

–         Tulis unit yang dialihkan. Unit tersebut akan dikonversi oleh sistem berdasarkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) penutupan pada hari itu (sebelum pukul 13.00 WIB) atau NAB penutupan pada hari selanjutnya (di atas pukul 13.00 WIB).

–         Pilih reksa dana yang dituju.

–         Jika sistem telah menyetujui, reksa dana switching akan muncul di laman portofolio.

Mengenali Profil Risiko

Mekanisme switching reksa dana tidaklah sulit. Namun pemilih reksa dana pengalihan harus sesuai dengan profil risiko.

Dengan mengenali profil risiko, calon investor dapat mengoptimalkan imbal hasil.

●      Konservatif

Investor dengan profil risiko konservatif ingin berinvestasi pada produk yang tak terlalu bergejolak, menginginkan hal yang pasti, dan bersifat likuid. Oleh karena itu, produk yang cocok baginya adalah reksa dana pasar uang.

Alokasi dana investasi ini adalah instrumen pasar uang (obligasi, deposito, dan SBI) sebesar 80 persen.

●      Moderat

Profil risiko moderat sedikit berani mengambil risiko dalam menghadapi gejolak pasar. Ia ingin keuntungan agak tinggi dibanding pasar uang tetapi stabil. Di sisi lain, ia ingin mempertahankan dana investasinya tak tergerus.

Maka pilihan produknya adalah reksa dana pendapatan tetap. Produk ini mengalokasikan dana ke obligasi minimal 80 persen dan dapat digunakan untuk investasi jangka menengah.

●      Agresif

Tipe investor agresif berani mengambil risiko tinggi demi memperoleh imbal hasil besar, meski kondisi pasar yang sangat fluktuatif.

Produk yang sesuai adalah reksa dana saham yang sesuai untuk investasi jangka panjang. Produk menempatkan dana ke instrumen saham sebesar 80 persen.

●      Moderat Agresif

Moderat agresif adalah tipe yang menginginkan keuntungan dan risiko tinggi, tetapi tidak nyaman dengan pasar yang fluktuatif.

Maka ia bisa memilih reksa dana campuran yang menaruh dana ke instrumen saham atau obligasi sebesar 79 persen.

Jika masih bingung, tipe investor manakah kamu? Ada baiknya mengikuti tes profil investor atau menghitung potensi keuntungan reksa dana. Lakukan hal tersebut melalui Ajaib.

Artikel Terkait