Saham

Waktu Terbaik dan Terburuk Untuk Trading Saham

aplikasi autopilot trading forex

Ajaib.co.id – Dalam trading saham, kamu harus pintar memperhatikan waktu terbaik dan terburuk untuk trading saham untuk memaksimalkan keuntungan. Mengapa? Jawaban singkatnya adalah karena likuiditas. Kita menginginkan semua transaksi kita baik jual maupun beli tereksekusi dengan lancar tanpa tertunda, bukan?

Tidak ada masalah dengan pembelian, karena dalam segala situasi kita hampir selalu bisa membeli saham dengan jumlah lot yang kita inginkan. Kecuali di saat-saat tertentu ketika semua orang berebut ingin membeli. Ada kalanya ketika kamu mengirimkan order beli sebanyak 100 lot, market hanya bisa memberimu 50 lot saja di harga yang kamu inginkan. Biasanya terjadi saat IPO saat bursa mengizinkan saham-saham mencapai Auto Reject Atas sebesar 75% di hari pertama melantai di bursa. Di hari-hari biasa, kamu bisa membeli tanpa takut tidak kebagian.

Lain halnya dengan penjualan. Kadangkala kamu tidak bisa menjual sahammu karena tidak ada yang transaksi. Istilahnya tidak likuid.

Di hari-hari biasa, beberapa saham-saham yang sepi peminat cenderung minim transaksi atau bahkan tidak terjadi transaksi. Dengan tidak adanya transaksi, kamu tidak akan bisa menjual sahammu karena tidak ada yang beli. Kamu akan menjumpai di forum-forum trading saham orang-orang yang berkata “daganganku nggak laku”, istilah ‘dagangan’ mengacu pada saham yang hendak dijual.

Perlu kamu ketahui bahwa untuk memastikan sahammu sedang likuid/ramai transaksi atau tidak, kamu perlu memperhatikan volume transaksi. Info tentang volume dan frekuensi/jumlah orang yang transaksi terdapat di OLT-mu. Semua OLT akan memuat info ini. Kamu bisa perhatikan jumlah bid dan offer lalu bandingkan dengan volume dan frekuensi yang terjadi. Kamu akan tahu sahammu sedang ramai ditransaksikan atau tidak di sana.

Saham yang likuid artinya ramai transaksi, kamu akan lihat itu di running trade di sebelah kanan di OLT-mu. Kamu akan lihat jual beli secara realtime yang dilakukan orang-orang melalui sekuritas masing-masing yang ditandai dengan kode-kode broker. Semakin cepat transaksi berlangsung maka semakin likuid.

Volume dan frekuensi setiap harinya tidak selalu sama. Ada saat-saat tertentu di mana volume transaksi cenderung lebih besar dari biasanya. Berikut ulasan tentang waktu-waktu terbaik dan terburuk untuk trading saham;

Window Dressing

Window Dressing terjadi di kuartal empat setiap tahun mulai dari bulan Oktober hingga Desember. Istilahnya ini adalah momen percantik Annual Report/Laporan Tahunan yang akan dirilis di akhir tahun fiskal dengan mengangkat harga saham. Di momen makeup harga ini, emiten-emiten akan melakukan serangkaian aksi korporat yang ditujukan untuk mengangkat harga sahamnya. Aksi yang dilakukan mulai dari buyback, Right Issue, hingga sekedar merilis Paparan Publik dan artikel di media massa tentang penggunaan Pengeluaran Modal atau pencapaian target korporat.

Harga saham di akhir tahun akan dilampirkan dalam Laporan Tahunan. Semua emiten akan berusaha memberikan angka terbaik untuk dilaporkan kepada para investornya dalam Laporan Tahunan. Usahakan transaksi saham yang benar-benar laba ya, karena saham yang merugi akan sulit ‘terangkat’ kalau hanya mengandalkan aksi korporat semata.

Momen Window Dressing ini akan memuncak di bulan Desember. Dalam kondisi normal mayoritas trader akan cuan di bulan ini, transaksi sangat likuid dan kamu bisa jual-beli bebas khawatir.

January Effect

Efek Window Dressing rupanya tidak berhenti di Desember! Setelah libur natal dan tahun baru usai, saham-saham secara umum masih terkerek naik di bulan Januari. Hal ini sebenarnya hanya efek domino dari apa yang sudah dilakukan emiten-emiten di bulan Desember. Kenaikan harga ini dibahan-bakari oleh para trader dan investor. Secara umum January Effect akan terlihat pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Namun hal ini biasanya tidak berlangsung lama. Euforia kenaikan dan profit yang mudah ini biasanya hanya berlangsung selama tiga minggu saja. Di minggu keempat di bulan Januari biasanya trader-trader kompak melakukan aksi jual, istilahnya Distribusi. Segera setelah tampak tanda-tanda distribusi, semua trader akan berbondong-bondong ikut menjual.

Sell on May

Ada istilah terkenal di pasar saham baik dalam mau pun luar negeri yaitu Sell in May and Go Away. Sering juga disebut dengan fenomena Sell on May. Ini adalah salah satu momen terburuk untuk trading saham.

Ini adalah istilah yang populer setelah Perang Dunia II di mana para pelaku pasar memutuskan untuk berlibur menyambut musim panas. Para trader cenderung melepas saham-sahamnya sebelum libur panjang untuk menghindari kemungkinan terburuk yang tak terduga. Penjualan saham besar-besaran memicu timbulnya gelombang jual yang tak tertahankan dan menyebabkan market anjlok secara umum. Diketahui efeknya terasa kuat di pasar keuangan negara-negara Eropa.

Investopedia bahkan melakukan riset dan menemukan bahwa pada rentang 1950 hingga 2013 pada indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Amerika Serikat. Mereka menemukan bahwa DJIA sepi transaksi selama Mei hingga Oktober dan hanya memberikan imbal hasil sebesar 0,3% saja selama bulan-bulan itu.

Di Indonesia fenomena ini cenderung kurang begitu berdampak nyata karena kita tidak mengalami empat musim seperti di negara-negara yang mempopulerkan istilah ini. Kita tidak mengambil libur musim panas di sini karena Indonesia yang terletak di khatulistiwa biasa menikmati sinar mentari setiap harinya.

Direktur PT Panin Asset Management, Rudiyanto, bahkan dalam presentasinya membeberkan bahwa Sell in May and Go Away di Indonesia hanya berdampak 38% saja. “Teori ini hanya benar 8 kali dari 21 tahun” ujar beliau.

Namun bukan bermaksud terlalu mengindahkan, para trader di Indonesia cukup terdampak oleh naik-turunnya Dow Jones. Setiap pagi sembari sarapan para trader biasanya mendapat pesan terusan dari sekuritas masing-masing tentang kondisi pasar secara umum termasuk harga komoditas dan DJIA. Seringkali jika DJIA turun, IHSG pun secara jangka pendek ikut terseret. Kemungkinan inilah penyebab mengapa Sell on May juga memberikan dampak kepada pasar saham Indonesia.

Pada Pembukaan dan Penutupan Bursa

Harga pembukaan akan terbentuk di setengah jam pertama pembukaan bursa dan harga penutupan akan terbentuk di setengah jam terakhir di penutupan bursa. Kedua waktu tersebut amat krusial untuk diketahui. Karena bursa tidak buka selama 24 jam maka apa pun yang terjadi di malam hari atau di akhir pekan hanya baru bisa dieksekusi di jam buka market yaitu jam 9 pagi hingga 4 sore Senin sampai Jumat.

Misalnya pabrik Mayora kebakaran di malam hari, maka semua trader jangka pendek akan berusaha mengeksekusi transaksinya di pembukaan market esok pagi. Ini dikenal dengan istilah ‘tarikan pagi’. Saking krusialnya dua waktu tersebut ada sebuah strategi trading yang dikenal dengan ‘Copetan’.

Istilah ini mengacu pada teknik curi kesempatan trading singkat dengan hanya 1-3% target kenaikan saja yang dilaksanakan di pagi hari. ‘Copetan’ juga sering dilaksanakan dengan cara beli sore, jual esok pagi tepat di waktu jam buka bursa.

Jam buka dan tutup bursa adalah waktu paling likuid dari semua waktu. Hampir semua saham ditransaksikan paling ramai di kedua jam tersebut. Seringkali saham-saham menyentuh batas Auto Reject-nya di pembukaan pagi dan sore hari menjelang penutupan.

Kalau kamu trading, kamu harus memperhatikan jam buka dan tutup bursa. Itu akan memberikan peluang yang menguntungkan bagimu.

Saat ada Berita dan Aksi Korporat

Di kalangan trader saham, seolah tidak ada rahasia di kaki langit yang tidak mereka ketahui jika itu berhubungan dengan emiten. Semua berita korporat, tentang akuisisi, gosip sepupu CEO grup MNC hingga desas-desus anak usaha TELE yang dijerat kebangkrutan semua akan terdengar lebih dahulu di forum saham daripada berita CNBC. Dan sebagian dari desas-desus tersebut seringkali hanya berakhir sebagai isu belaka tanpa fakta yang valid.

Meskipun hanya sebagai isu, tapi saham-saham yang sedang dibicarakan, digosipkan dan didebat tersebut sukses naik-turun menjadi likuid karena banyaknya transaksi. Trader-trader yang memanfaatkan berita biasanya adalah mereka yang melihat peluang, namun seringkali berakhir nahas.

Atau jika ada aksi korporat seperti Right Issue, Akuisisi, Merger atau lainnya. Buy on News adalah istilah untuk hal semacam ini. Memanfaatkan berita bisa menjadi peluang sekaligus kewaspadaan untuk kamu. Misalnya ketika MNC mengumumkan akuisisi First Media, sebelum akuisisinya final sahamnya sudah terlebih dahulu naik.

Sebelum masuk karena ada ‘berita baik’, kamu harus yakinkan diri dulu apakah kamu hanya akan melakukan trading jangka pendek atau jangka panjang. Tidak jarang trader semi investor yang terjebak ‘berita baik’ ini berakhir dengan kondisi tidak likuid atau ‘tidak laku dijual’ karena harganya hanya naik sementara lalu membeku dan turun lagi.

Rilisnya berita bisa menjadi waktu terbaik sekaligus terburuk untuk kamu para trader saham.

Waktu Terbaik dan Terburuk Trading Saham untuk Pemula

Jika kamu seorang trader pemula mungkin ada baiknya untuk memperhatikan waktu-waktu berikut ini;

  • Trading-lah dengan analisis yang baik di bulan Oktober hingga minggu terakhir Desember sebelum libur natal dan tahun baru. Kamu juga disarankan untuk trading di bulan Januari di tahun setelahnya hingga minggu ketiga Januari. Di waktu-waktu tersebut setiap trader termasuk para pemula akan mendapat peluang lebih besar untuk cuan daripada waktu-waktu yang lain. Kalian akan menemukan kondisi yang menyenangkan, likuid dan semua orang happy.
  • Jika kamu mengincar harga rendah, hindari membeli di pagi hari saat pembukaan bursa. ‘Tarikan pagi’ cenderung akan memberikan kamu pilihan harga yang tinggi, begitupun dengan jam market closing saat para trader ‘beli sore jual pagi’ eksekusi strateginya.
  • Kalau kamu tertarik untuk trading swing dengan melihat indikator dan Price Action kamu bisa mempertimbangkan membeli di jam 11 hingga 11.30 sebelum jam makan siang. Biasanya sebelum jam makan siang banyak trader yang melepas sahamnya sehingga harga-harga cenderung sedikit lebih murah di jam sebelum istirahat.
  • Hindari ‘copetan’ di pagi hari dan sore hari. Kamu diwajibkan gesit jika kamu tertarik untuk ‘copetan’ di waktu ini. Jika jempol kamu belum terbiasa cekatan klik buy dan sell sambil mata membaca volume bid dan offer maka strategi trading ini sangat tidak disarankan untuk kamu. Kalau kamu dikelilingi trader semacam ini, mungkin ada baiknya sedikit menjauh dan temukan komunitas yang lebih sesuai.

Oh iya, hindari juga membeli saham saat rilis berita yang sumbernya belum jelas. Sekalipun sumbernya sudah jelas, pastikan info yang kamu dapat sudah final, bukan hanya sebatas wacana. Misalnya bank BCA hendak melakukan akuisisi. Tunggu saja setelah selesai akuisisi, itu sama sekali belum terlambat. Lebih baik mendapat harga sedikit lebih tinggi daripada terjebak dalam ketidajelasan.

Artikel Terkait