Bisnis & Kerja Sampingan, Teknologi

Pengusaha Sukses Cybersecurity Ditunggu Pasar Indonesia

Ajaib.co.id – Semakin hari semakin total kamu akan berdigital. Meskipun sedikit terlambat, pertumbuhan industri digital Indonesia tak terbendung lagi, begitu pun beragam risikonya. Dengan size pasar sebesar Indonesia plus bonus demografinya, industri digital domestik selayaknya juga menjadi ladang subur bagi para pengusaha sukses di bidang cybersecurity (pengamanan cyber).

Mayoritas analis tim pengamanan informasi kini kewalahan meneliti log pengamanan, menggagalkan upaya pelanggaran, dan menyelidiki potensi penipuan. Didominasi BUMN, industri cybersecurity Indonesia masih sepi pemain swasta, padahal peluang bisnisnya masih luar biasa besar. Artikel Ajaib ini akan membantu meyakinkanmu, bahwa industri ini adalah jalan tol bagimu untuk menjadi pengusaha sukses yang memimpin masa depan.

Masa Depan Emas Pengusaha Sukses Cybersecurity

Seperti dilansir oleh Forbes Maret 2020 lalu, menurut forecast terbaru tentang keamanan informasi dan manajemen krisis Gartner, pengeluaran dunia untuk pengamanan informasi dan manajemen risiko akan mencapai US$131 miliar di 2020, lalu naik ke US$174 miliar di 2022, dan paling banyak US$50 miliar akan didedikasikan untuk memproteksi  titik akhir.

Tingkat penjualan platform dan aplikasi cloud security diperkirakan akan tumbuh dari US$636 juta ke US$1,63 miliar di 2023, mencapai 36,8% dari Compound Annual Growth Rate (CAGR). Industri cybersecurity diproyeksikan akan tumbuh menjadi US$66,9 miliar tahun ini, meningkat dari US$62 miliar di 2019.

Pengusaha Sukses Cybersecurity Cepat Kaya Karena Berburu Hacker 

Setahun yang lalu, dunia belum tahu tentang CrowdStrike dan sang co-founder yang berusia 49 tahun – George Kurtz malah mensyukuri hal itu. Seperti dirilis oleh Forbes Staff Billionaire – Angel Au-Yeung di www.forbes.com, situasi itu langsung berbalik saat kasus sensitif transkrip percakapan Presiden Trump yang meminta Presiden Ukraina – Volodymyr Zelensky menyelidiki peran CrowdStrike yang ditunjuk Democratic National Committee (DNC = Partai Nasional Demokrat) dalam menyimpan server mereka di Ukraina, terpublikasikan.

Kurtz menyatakan tak pernah menyangka bahwa namanya akan dibicarakan oleh 2 kepala negara Amerika Serikat, dan menegaskan perusahaannya tidak melanggar hukum, apalagi set-up server di Ukraina.

Ketika klien seperti DNC menyewa Crowdstrike, perusahaan Sunnyvale, California akan menyebarkan software berbasis cloud pendeteksi pelanggaran yang bernama Falcon, untuk meng-scan keberadaan para hacker. Ini lalu menjadi usaha yang menguntungkan.

Crowdstrike bisa disewa per-proyek seperti yang dilakukan oleh DNC, namun 4000 daftar klien lain termasuk Amazon dan Credit Suisse membayar jasa Falcon secara bulanan untuk memonitor sistem mereka, senilai US$8,99 per komputer.

Semua jasa ini setidaknya menghasilkan pendapatan sekitar US$465 juta (=Rp6.510.000.000.000) sepanjang tahun fiskal yang berakhir pada 31 Januari 2020 lalu, yang lebih kurang merupakan kenaikan 86% dibanding setahun sebelumnya. Andrew Nowinski – analis D.A. Davidson & Co. menyatakan bahwa database Crowdstrike bertambah cerdas seiring bertambahnya jumlah klien mereka.

Meskipun nilai saham naik-turun sejak IPO di bulan Juni tahun lalu, saham milik George Kurtz yang hanya 10% mampu mencapai nilai US$800 juta (= Rp11.200.000.000.000)! Ia menjadi pengusaha sukses luar biasa selama beberapa minggu sebelum pasar modal akhirnya jatuh karena pandemi.

Perjalanan Pejuang Cyber Jadi Pengusaha Sukses

George Kurtz adalah bungsu dari 2 bersaudara, tumbuh di tengah keluarga sederhana di Parsippany, New Jersey, Amerika Serikat. Saat ia berusia 7 tahun, ayahnya wafat karena stroke. Ia mengawali karirnya sebagai pejuang cyber setelah studi 4 tahun di Seton Hall University, yang mengantarkannya pada sebuah tugas di Price Waterhouse.

Tugas itu dimulai di back end kantor perusahaan konsultan Tampa, Florida, dengan jenis pekerjaan yang persis sesuai impiannya, yaitu pengujian penetrasi. Kurtz digaji untuk jasa menerobos komputer orang lain, alias jadi hacker!

Ribuan klien Price Waterhouse mengantri dalam tagihan time sheet Kurtz, memintanya untuk meng-hack sistem digital mereka, lalu mengidentifikasi kelemahannya. Kurtz menganggap pekerjaan itu sebagai The Coolest Job Ever!

Selang beberapa tahun kemudian Kurtz mendirikan perusahaannya sendiri bernama Foundstone di 1999, yang membuat software dan hardware penyegel lubang-lubang pengaman dalam network. Produknya ini menarik klien-klien seperti Microsoft, yang otomatis juga menarik klien-klien besar lainnya.

Setelah menghabiskan waktu 5 tahun untuk mengembangkan bisnis Foundstone, Kurtz menjualnya ke McAfee senilai US$86 juta (= Rp1.204.000.000.000) secara cash! Ia kemudian menjadi Executive Vice President dan Chief Technology Officer di 2009.

Kemudian, suatu hari di 2010 ia mendapat ide untuk membuat sistem CrowdStrike yang lebih mudah, cepat dan berbasiskan teknologi cloud ketika ia mengamati seorang pria yang duduk bersebelahan dengannya di pesawat, sedang nyantai memindai laptopnya dengan McAfee sambil ngobrol dengan pramugari, baca koran, dan melakukan aktivitas lainya.

Sebagai pimpinan teknologi perusahaan McAfee, Kurtz menyadari bahwa produknya berdampak sangat buruk bagi efisiensi produktivitas tenaga kerja perusahaan manapun yang menggunakannya. Di momen itu Kurtz memutuskan bahwa memindahkan semuanya ke cloud adalah solusi terbaik.

Namun ketika ia menyampaikan ide itu ke manajemen McAfee, perusahaan itu tidak berminat menggelontorkan dana dan waktu untuk membiayai perubahannya.

Kurtz mengundurkan diri di 2011, dan segera menggalang dana untuk perusahaan berikutnya: Crowdstrike. Ketika CrowdStrike berjalan di 2012, Kurtz mendemonstrasikan bukan hanya bakat dalam menciptakan teknologi yang canggih, tapi juga marketing yang insightful.

Pada Juni 2014, CrowdStrike mempublikasikan laporannya tentang Putter Panda, julukan yang diberikannya pada sebuah kelompok hacker yang terhubung dengan militer Cina, yang telah meretas dinding-dinding digital perusahaan nuklir, metal, dan industri solar Amerika, termasuk U.S. Steel and Westinghouse.

74% dari jumlah klien Crowdstrike berasal dari Amerika, namun Eropa pun menjadi pasar yang menjanjikan. Mayoritas klien Crowdstrike menuntut penyamaran identitas. Sameer Gandhi – investor utama di Accel yang membawa CrowdStrike ke venture miliknya mengatakan bahwa rekam jejak kinerja Crowdstrike akan selalu menjadi bagian dari berita high-profile, termasuk investasi pelanggaran berat dan bencana ekonomi. Kurtz tidak memprotes pujian itu, dan malah menegaskan bahwa visi mereka ke depan adalah menjadi pemimpin dunia dalam cybersecurity.

10 perusahaan cybersecurity terbaik selain CrowdStrike, adalah: Absolut, Centrify, Deep Instinct, Infoblox, Kount, Mimecast, MobileIron, One Identity, Security.ai, dan Transmit Security.

Praktisi Cybersecurity di Indonesia

Telkomtelstra

Seperti dilansir infokomputer.grid.id pada 26 November 2019 lalu, Erik Meijer –  President Director Telkomtelstra memprediksi bahwa cybersecurity bakal segera booming di Indonesia. Layanan perusahaan ini dulu hanya dipakai untuk keperluan Telkom, namun sekarang bisa digunakan semua perusahaan.

Keunggulannya adalah Managed Disaster Recovery (DR) yang mendukung pengelolaan proses perlindungan, pemulihan data dari bencana, meminimalkan risiko kehilangan data berharga di ekosistem cloud manapun.

PT. PINDAD (PERSERO) 

Seperti dilansir pindad.com, PT. PINDAD (PERSERO) melakukan inovasi produk dan layanan cybersecurity dengan tiga mata rantai, yaitu: 

  1. Peningkatan Kompetensi Sumber daya manusia (people)
  2. Penataan Proses Tata Kelola Keamanan Informasi (process)
  3. Teknologi sebagai Solution Integrator dan Pengembangan Produk (technology).

Pada UU No 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, telah ditetapkan bahwa selain Regular Military Forces dan Special Forces, Hybrid Warfare menjadi ancaman berwujud perang informasi dan propaganda, perang diplomasi, serangan cyber, dan perang untuk penguasaan dominasi ekonomi.

Potensi Investasi Bisnis Cybersecurity

Terkait dengan kesuksesan dalam pengembalian investasi digital, Erik Meijer menilai tidaklah mudah menentukan pengembalian investasi (return on investment/RoI), karena merupakan proses kompleks yang tergantung pada persyaratan bisnis tertentu.

Pada pameran Cybersecurity Indonesia 2019 dan Indonesia Fintech Show 2019 yang diselenggarakan Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) di JCC Senayan – Jakarta, seperti dilansir oleh tribunnews.com pada 6 November 2019, dipamerkan beragam teknologi dari ratusan perusahaan asal Indonesia, Singapura, Polandia, Hungaria, Amerika, Rusia, Inggris dan Korea.

Seperti dilansir kominfo.go.id, saat ini dunia membutuhkan 15.000.000 tenaga pakar cybersecurity. Eva Noor – CEO PT Xynexis International mengungkap pihaknya melahirkan inovasi gagasan program Born To Control bekerjasama dengan KOMINFO, berupa program pencarian bakat cybersecurity di Indonesia.

Jika kamu seorang calon pengusaha sukses Indonesia yang akan menguasai masa depan, kamu pasti nggak akan menyia-nyiakan peluang bisnis yang masih sangat luas di industri ini. Kejar dan wujudkan mimpimu. Siapkan juga kebebasan finansial di masa depan dengan memilih platform investasi yang berintegritas seperti Ajaib, yang memungkinkan investasi saham dan reksa dana sekaligus dalam satu aplikasi, biaya jual dan beli saham s/d 50% lebih murah, dan daftar 100% online tanpa minimum setoran awal. 

Sumber: Top 10 Cybersecurity Companies To Watch In 2020, Ini Alasan Bisnis Cyber Security Bakal Segera Booming di Indonesia, dan Cyber Security, dengan perubahan seperlunya.

Artikel Terkait