Investasi

Orang-Orang ini Jadi Crazy Rich Berkat Resesi, Kamu Juga Bisa!

Orang-Orang ini Jadi Crazy Rich Berkat Resesi, Kamu Juga Bisa!

Ajaib.co.id – Pandemi COVID-19 yang datangnya tak pernah terduga ini sempat meluluhlantakkan segala sendi kehidupan masyarakat. Pembatasan kegiatan telah menyebabkan kerugian bagi banyak industri yang terdampak dan menguntungkan segelintir industri lainnya.

Hal ini jelas memberikan efek kepada dunia investasi; pasar modal sempat terkoreksi, dana asing keluar, masyarakat bertransaksi emas untuk melindungi asetnya, kurs rupiah terhadap dollar AS. berfluktuasi dengan hebat dan resesi membayangi.

Namun seperti semua hal, sebuah krisis juga mendatangkan hikmah. Dalam dunia investasi, krisis tidak selalu buruk karena setiap krisis selalu melahirkan miliarder baru. Sejarah meriwayatkan bahwa ada banyak pengusaha dan investor yang menjadi kaya raya berkat keputusan yang mereka ambil ketika resesi, krisis atau bahkan depresi ekonomi. Beberapa bahkan berseru bahwa market menjadi lebih menarik ketika “ada darah di jalanan” yang mengacu pada kekacauan ekonomi yang begitu parah.

Alasan mengapa krisis bisa menjadi peluang investasi yang menakjubkan adalah karena pada saat ekonomi melambat, kebanyakan investor baik lokal maupun asing berbondong-bondong keluar dan menjual sahamnya.

Akibatnya banyak saham-saham terjerembab jauh lebih rendah dari harga wajarnya. Ini adalah periode diskon yang jarang terjadi. Hanya mata yang jeli yang bisa memanfaatkan keadaan dan meraup keuntungan daripadanya. Berikut kisah-kisah para legenda pasar modal yang berhasil memanfaatkan krisis untuk membeli efek di harga rendah.

John Paulson

John Paulson terkenal setelah ia mengantongi keuntungan dari krisis finansial Amerika Serikat di tahun 2008. Menyadari bahwa ada sesuatu yang salah, ia membeli Credit Default Swap. Itu adalah sebuah asuransi yang akan cair bila krisis terjadi. Dengan modal US$150 juta, Paulson meraup keuntungan hingga empat miliar dollar di tahun 2008.

Keuntungannya kemudian dibelikan saham Bank of America dan dua juta lembar saham bank Goldman Sachs, Citigroup dan JP Morgan Chase yang saat itu sedang murah-murahnya. Di tahun 2009 menjelang kebangkitan saham-saham sektor perbankan, Paulson menjual saham-saham bank miliknya dan meraup keuntungan total hinggal 15 miliar. 

Bermodalkan US$ 150 juta dan berakhir dengan keuntungan US$15 miliar, artinya Paulson telah menghasilkan 10.000 % di tahun 2008 dan 2009. 

Warren Buffet

Pada Bulan Oktober 2008 dalam sebuah artikel New York Times, Warren Buffet mendeklarasikan bahwa dirinya membeli saham-saham Amerika. Saat itu beliau membeli saham-saham Goldman Sachs, General Electric dan Swiss re and Dow Chemical. Dari pembeliannya, di tahun-tahun selanjutnya Buffet membukukan keuntungan miliaran dolar. Beliau juga membantu beberapa perusahaan Amerika yang kesulitan pasca krisis 2008.

Jesse Livermore

Jesse Livermore sudah bekerja di perusahaan sekuritas sejak usia 14 tahun, hal yang lumrah di tahun 1891. Ia mengawali karirnya sebagai tukang catat harga di papan bursa, dan mulai trading di usia 15 segera setelah terlibat dalam aktivitas trading di kantor tempatnya bekerja. 

Dengan modal US$1000 ia trading dan menjadi terkenal karena telah membukukan keuntungan besar. Keuntungan besarnya diraup bukan hanya sekali namun dua kali pada dua krisis kejatuhan finansial Amerika Serikat. Yang pertama adalah di tahun 1907 dan berikutnya di 1930. 

Dua krisis hebat telah membuatnya menjadi trader pertama yang menghasilkan US$100 juta yang setara dengan US$1327 miliar saat ini. Teknik trading Price Action-nya masih digunakan sampai sekarang. 

Sayangnya Jesse berakhir gagal setelah beberapa tahun karena gaya hidup mahal nan mewahnya. Akhirnya ia terlibat spekulasi ugal-ugalan, menikahi wanita yang salah yang membuatnya bangkrut dan berakhir dengan kematian. 

Lo Kheng Hong

Lo Kheng Hong adalah investor lokal asal Indonesia yang pandai memanfaatkan kondisi krisis. Beliau membeli saham sebuah perusahaan petrokimia dengan harga Rp200 kemudian turun menjadi Rp60 di tahun 2008. Mengingat fundamentalnya yang masih baik, pria yang kerap disapa LKH ini malah membeli lebih banyak lagi. Kemudian beliau akhirnya menjual saham petrokimia tersebut di harga Rp600 di tahun-tahun berikutnya. 

Beliau adalah saksi hidup yang telah melewati beberapa kali krisis. Di tahun 1997-1998, LKH sempat mengalami kerugian besar sehingga dana cadangan miliknya berkurang menyisakan 15% saja. LKH lebih memilih menambah jumlah saham yang dimiliki dan dari kondisi merugi, posisinya berbalik menjadi untung. Beliau selalu yakin jika fundamental saham yang dibelinya baik, maka baik pula lah masa depannya sehingga tak perlu khawatir. 

Secara jangka panjang bursa saham kita terus mengalami kenaikan yang signifikan, meski krisis datang dan berlalu dalam 18 tahun terakhir Indeks Harga Saham Gabungan telah naik 14.760% dari 2002 ke 2020, dari 330 menjadi 4872. Itu berarti saham-saham utama yang menyokong IHSG juga tumbuh kira-kira sebesar itu juga. 

Kesimpulan

Ungkapan “Takutlah saat semua orang serakah dan serakahlah saat orang lain ketakutan” memang lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Ketakutan akan jatuhnya pasar saham memang besar terutama setelah melihat beberapa guru saham di forum-forum telah menyatakan “Cash is King” saat krisis tiba. 

Pasar saham memang irasional, ketika diskon justru banyak yang menghindar. Malah ketika harga-harga saham sedang tinggi-tingginya di akhir 2017 dan awal 2018 masyarakat berbondong-bondong berbelanja saham. Melakukan trading maupun investasi di pasar saham yang sedang bullish/naik tinggi memang menarik. Tapi justru kondisi pasar yang bearish lah yang lebih banyak melahirkan crazy rich pasar modal. 

Kamu telah menyaksikan orang-orang yang membeli saham perbankan di Amerika Serikat, dan saham petrokimia di Indonesia saat harganya jatuh. Mereka meraup untung setelah kondisi membaik dan saham-sahamnya pulih. Justru peluang diskon harga saham terbuka saat krisis.

Memang tidak mudah menemukan “berlian kasar” di antara ratusan saham di bursa. Mencari yang masih dihargai murah di bawah harga wajarnya memang sulit dan dibutuhkan ketelitian. Namun peluang menjadi lebih terbuka ketika krisis terjadi. Seketika saham-saham yang dihargai premium menjadi jatuh di kala krisis. Diskon bertebaran dan hanya mata yang jeli saja yang bisa melihat peluang. Apakah kamu salah satunya?

Artikel Terkait