Milenial

Kenapa Kita Sering Berbelanja Impulsif? Ini Cara Mengatasinya

Ajaib.co.id – Sudah tidak bisa dipungkiri, berbelanja baik itu offline atau pun online merupakan salah satu kegiatan yang menyenangkan dan memiliki banyak manfaat. Pertama, kamu mendapatkan barang yang kamu inginkan dan yang kedua sebagai salah satu hiburan untuk menenangkan diri dari kesibukan sehari-hari. Namun, di balik aktivitas berbelanja yang menyenangkan tersebut, tersembunyi perilaku negatif yang berpotensi merugikan kondisi finansial di jangka panjang yang dikenal dengan berbelanja impulsif.

Secara tidak sadar pola konsumsi masyarakat, salah satunya generasi milenial tidak lagi sekedar menyenangkan diri, tetapi juga berbelanja impulsif yaitu kecenderungan membeli barang tanpa perencanaan yang belum tentu dibutuhkan. Sebuah survei mengungkapkan bahwa sebanyak 46% responden dari generasi milenial dengan kelompok umur 25 -34 tahun mengaku melakukan pembelian pakaian karena impulsif saat belanja.

Menariknya, berbelanja impulsif tidak hanya terjadi di lingkup individu, tapi secara kolektif bahkan setiap negara memiliki alasan yang berbeda mengapa masyarakatnya melakukan pembelian spontan. Di Vietnam, berbelanja impulsif terbentuk karena individualisme, usia, dan gaji konsumen, sementara di Inggris kecenderungan perilaku tersebut didasari suasana hati, sifat impulsif, identitas diri, dan konsumen, lain di Vietnam dan Inggris, lain juga di Amerika Serikat, faktor utama dari pembelian impulsif dipengaruhi perkembangan teknologi dan internet.

Survei lain dari Princeton Survey Research Associates International mengungkapkan lima dari enam penduduk Amerika Serikat diketahui kerap kali berbelanja impulsif, satu dari enamnya tidak ingin mengakuinya. Hal ini wajar, sebab menurut Kyle Murray selaku direktur School of Retailing Alberta School of Business, sebagian besar pembelian yang kita lakukan tidak direncanakan secara khusus.

Melakukan pembeliaan secara spontan memang tidak akan menimbulkan rasa bersalah pada dirimu. Apa bedanya membeli sekarang dan nanti? Pada akhirnya uang tersebut juga akan digunakan untuk berbelanja. Namun, studi Harris Interactive menemukan fakta 71% responden yang menghabiskan sebanyak Rp2,8 juta setiap bulannya untuk pembelian tidak terencana merasa menyesal. 

Kesulitan menolak melakukan pembelian secara spontan didasari stigma bahwa berbelanja merupakan hobi yang dapat diterima. CEO Credit Canada Debs Solutions Laurie Campbell menambahkan bahwa glorifikasi pembelanjaan tanpa rencana sudah umum bagi masyarakat, bahkan kita cenderung senang ketika orang terdekat kita membeli barang impiannya, meski pembelian tersebut tanpa direncanakan.

Pembelian impulsif juga sulit dihindari karena terlibatnya emosi dan bagaimana perusahaan memasarkan produknya ke individu sebagai konsumen. Berikut sejumlah penjelasan bagaimana individu bisa berbelanja impulsif dan bagaimana cara mengatasinya.

Kita Mudah untuk Diprovokasi

Perusahaan saling berkompetisi untuk mendapatkan uang dari konsumen, dan mereka terus berusaha untuk menemukan cara agar kita sebagai konsumen membelanjakan uang untuk produk atau jasa mereka. Perusahaan memanfaatkan psikologi bagaimana manusia berperilaku terhadap produk.

Perusahaan ini pada umumnya meletakkan hal-hal yang mereka tahu konsumen akan membelinya (seperti susu dan roti di minimarket) di area belakang, kemudian membuat konsumen mengelilingi lorong-lorong lainnya untuk menarik minat membeli sebuah barang yang belum tentu dibutuhkan.

Penggunaan lampu terang pada produk-produk tertentu, seperti outfit musim terbaru di ritel fashion, serta penggunaan aroma semerbak yang akan membuat konsumen merasa santai dan nyaman. Ini semua tentang bagaimana membuat kamu tinggal lebih lama di toko, melihat produk lainnya lalu membelinya. Penelitian membuktikan hanya membutuhkan 30 detik untuk membuat kamu memegang suatu barang dan memutuskan untuk membelinya.

Kita Takut Kehilangan

Perusahaan memanfaatkan bias kelangkaan, yaitu kondisi di mana sebuah produk atau jasa dibuat seakan-akan kuantitasnya terbatas. Hal ini akan menimbulkan rasa takut kehilangan pada barang tersebut bagi konsumen. Individu cenderung menghargai sesuatu lebih besar saat persediaannya terbatas. Mental “dapatkan selagi tersedia” sudah mengakar kuat dalam diri konsumen.

Pada era berburu dan mengumpulkan makanan ratusan tahun lalu, jika bahan makanan langka manusia akan mengambil apapun yang tersedia untuk bertahan hidup. Hal ini juga terjadi beberapa waktu lalu ketika awal pandemi COVID-19 masuk ke Indonesia. Stok masker dan hand sanitizer menipis, konsumen rela membayar masker berkali-kali lipat dari harga aslinya. Semakin langka sebuah produk atau jasa, semakin tinggi kemauan konsumen untuk mendapatkan produk tersebut.

Ritel dan bisnis B2C lainnya memanfaatkan ketakutan konsumen akan kehilangan sebuah produk karena adanya bias kelangkaan. Contoh lain dari berbelanja impsulf akibat dari ketakutan akan kehilangan adalah kamu mendapatkan informasi promo 50% di e-commerce favorit yang hanya berlangsung hingga malam hari, tanpa menunggu apapun tentu kamu akan langsung membuka aplikasinya untuk membeli barang idaman yang sudah masuk di wishlist, bukan?

Terasa Menyenangkan

Proyeksi dari membeli barang yang kita inginkan, misal smartphone flagship terbaru atau sepatu edisi khusus adalah rasa senang. Hal ini wajar karena ketika senang, tubuh kamu akan memproduksi hormon dopamin. Namun untuk beberapa orang, terapi berbelanja untuk menyenangkan diri hanya sementara, sebab hanya membutuhkan beberapa hari bagi mereka untuk menyesali pembelian tersebut.

Bagaimana Mengatasinya?

Mengatasi pembelian tidak terencana membutuhkan usaha ekstra, terlebih bagi milenial, karena kamu harus memiliki niat dan motivasi yang jelas kenapa kamu harus berhenti melakukan pembelian tersebut. Mulai dengan menetapkan anggaran dan mengambil keputusan finansial berdasarkan anggaran tersebut. 

Jika kamu berlangganan beberapa newsletter yang sering mengirim informasi flash sale, pertimbangkan untuk menghindarinya dengan berhenti langganan untuk sementara waktu. Selain itu, pastikan untuk menyediakan waktu 24 jam sebelum membeli sesuatu. Jika kamu masih menginginkannya, maka belilah. Namun, kemungkinan besar kamu akan melupakannya di hari berikut.

Sumber: Why Do We Impulse Shop?, dengan perubahan seperlunya.

Artikel Terkait