Indeks Saham Anjlok Berdampak Pada Reksa Dana Non Saham

indeks saham
indeks saham

Pengertian Indeks Dalam Kamus Ekonomi

Berbeda dengan arti sejatinya dalam kamus besar bahasa Indonesia, indeks dalam “kamus” ekonomi adalah suatu konsep yang dapat memberikan gambaran tentang perubahan-perubahan variable, dari suatu periode ke periode berikutnya berupa besaran persentase (%) terhadap aspek lainnya.

Dalam dunia pasar modal, indeks atas saham maupun obligasi merupakan portofolio imaginer. Gunanya untuk mengukur perubahan harga dari suatu pasar atau sebagian dari pasar tersebut. Ketika indeks saham bergerak naik, berarti harga sebagian besar saham-saham yang diukur oleh indeks tersebut bergerak naik. Begitu pun sebaliknya.

Seorang investor dapat mengetahui performa harga secara umum atas saham-saham yang dimilikinya dengan melihat pergerakan suatu indeks saham. Indeks saham saat ini juga semakin populer digunakan sebagai acuan produk investasi, seperti reksa dana maupun Exchange Traded Fund (ETF).

Sejauh ini ada 24 indeks di Bursa Efek Indonesia. 2 diantaranya yang paling populer dipergunakan dan diperbincangkan adalah:

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

Ini adalah indeks yang mengukur pergerakan semua saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Indeks LQ45

Ini adalah indeks yang mengukur performa harga dari 45 saham-saham yang memiliki likuiditas tinggi. Selain itu, mereka memiliki kapitalisasi pasar besar serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik.

Sementara indeks yang lainnya juga memiliki paradigma kategorisasi perusahaan tersendiri. Mereka bisa bersifat sangat khusus, dan bisa dilihat penjelasan lengkapnya di www.idx.co.id .

Tekanan Terhadap Indeks Saham Gabungan

Dalam 1 bulan terakhir, rata-rata performa investasi saham memang melemah. Hal ini terlihat dari penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 0,64% di periode sebulan terakhir. Otomatis kondisi tersebut mempengaruhi kinerja reksa dana, terutama yang memiliki saham dalam portofolionya.

Data Infovesta Utama memaparkan bahwa kinerja rata-rata reksa dana saham, yang tercermin dari pergerakan Infovesta Equity Fund Index turun 5,25% selama bulan November 2019.

Tren Index Harga Saham Gabungan Akhir 2019

Beberapa perusahaan sekuritas seperti Mandiri Sekuritas, Oso Sekuritas, Panin Sekuritas, dan Infovesta Utama memangkas target performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir 2019.

Setelah merevisi target IHSG-nya dari 6.800 menjadi 6.600, Kepala Riset Oso Sekuritas Ike Widiawati menyatakan, “Kami melihat ada tekanan dari ancaman krisis global sehingga Oso Sekuritas merevisi target IHSG hingga akhir tahun nanti.”

William Hartanto – Analis Panin Sekuritas juga menjelaskan walaupun di akhir tahun ini IHSG tetap berpotensi menguat, tapi terus akan dibayangi resesi ekonomi Amerika Serikat sehingga ekonominya juga terhambat. Menurutnya, sentimen global juga berdampak besar pada ekonomi Indonesia. Dampak perang dagang juga menyebabkan ekonomi Indonesia stagnan di level 5%.

Berikutnya William merekomendasi buy untuk sejumlah saham karena dibayangi sentimen positif, seperti CPIN, hingga UNTR karena secara teknikal, saham-saham tersebut hingga akhir tahun harganya masih bagus dan berpotensi naik. Hal ini dilihat dari stochastic sudah oversold, sehingga berpotensi rebound.

Wawan Hendrayana – Kepala Riset Infovesta Utama menyatakan Infovesta juga turut merevisi target IHSG akhir tahunnya. Sejalan dengan turunnya proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang di bawah 5%.  Hal ini jelas akan memperlambat penjualan dan laba tiap emiten (perusahaan penerbit saham) di tahun ini.

Sektor Keuangan Memiliki Bobot Besar di Composite Index

Selanjutnya Wawan memaparkan bahwa salah satu sektor yang akan mempengaruhi IHSG saat ini adalah sektor keuangan. Pasalnya sektor ini punya bobot besar di composite index, yang dalam beberapa bulan terakhir sahamnya paling besar dilepas investor asing. Meski demikian, ia masih percaya bahwa secara proyeksi jangka menengah sektor keuangan bisa jadi penopang bursa di akhir tahun nanti. Kemungkinan besar efek tren penurunan suku bunga pun baru mulai terasa di akhir tahun. Proyeksi skenario terburuknya, jika pertumbuhan ekonomi terus di bawah dan suku bunga tidak jadi turun, IHSG akan anjlok ke level 6.300. 

Rekomendasi Wawan untuk strategi menghadapi tekanan pada IHSG adalah: saat ini sebaiknya investor buy on weakness

saham di sektor keuangan, karena secara fundamental paling diuntungkan dengan tren penurunan suku bunga. Kemudian menyusul properti karena ada insentif pajak.

Ketegaran Dana Kelolaan Reksa Dana Indeks

Di lain pihak, walaupun industri reksa dana saham tengah menghadapi cobaan berat akibat imbas longsornya IHSG sebulan terakhir, serta buntut sanksi OJK berupa pembekuan dan pembubaran manajer investasi nakal seperti: Narada Aset Manajemen dan Minna Padi Aset Manajemen, Dana Kelolaan Reksa Dana Indeks yang tumbuh pesat dalam lima tahun terakhir tetap menguat. Penjelasan Infovesta Utama adalah bahwa peningkatan literasi terhadap reksa dana mendorong minat investor. Terutama ke arah reksa dana dengan pengelolaan pasif. Hingga akhir Oktober lalu, Infovesta mencatat, dana kelolaan reksa dana indeks mencapai Rp 7,05 triliun.

Tingkat performa pasar keuangan Indonesia yang baik di Oktober 2019 membuat dana kelolaan (assets under management – AUM) industri reksa dana tumbuh pesat.

Menurut data Infovesta Utama, AUM industri reksa dana yang pada September 2019 Rp 12,46 triliun meningkat menjadi Rp 542,22 triliun di Oktober 2019. Dalam jangka setahun terakhir, dana kelolaan industri reksa dana naik Rp 58,80 triliun. Lonjakan tertinggi terjadi pada dana kelolaan reksa dana pasar uang, yang bertambah Rp 7,84 triliun menjadi Rp 70,90 triliun.

Intinya, rugi kalau cepat “alergi” dan melepas potensi return dalammenyikapi tekanan ekonomi global akhir tahun.

Karena masih menjadi salah satu instrumen investasi terkuat, pilih jenis reksa dana yang paling “tegar”dan relatif “jauh” dari gonjang-ganjing indeks harga saham, demi keselamatan finansial masa depan. Ingatlah: “When the going gets tough, The Tough gets going!”

Bacaan menarik lainnya:

Jogiyanto, H. (2015). Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Jakarta: Rajawali Pers.


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.  

Mulai Investasi Reksa Dana Dengan Ajaib.
Ayo bergabung dengan Ajaib, aplikasi investasi online terbaik! Bebas biaya pendaftaran, bisa tarik dana kapan saja. Modal awal min. Rp10.000.
Facebook Comment
Artikel Terkait