Ekonomi

Devaluasi dan Dampaknya bagi Perekonomian Indonesia

Ajaib.co.id – Pernah mendengar istilah devaluasi? Apakah sebenarnya devaluasi itu? Apakah berbahaya atau malah menguntungkan bagi Indonesia? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), devaluasi adalah penurunan nilai tukar rupiah yang dilakukan dengan sengaja terhadap uang luar negeri atau terhadap emas.

Secara sederhana, devaluasi adalah keadaan di mana pemerintah menurunkan nilai tukar rupiah sehingga mempunyai nilai tukar yang rendah secara internasional. Hal ini dilakukan supaya nilai tukar rupiah kita tetap stabil dalam dunia internasional karena kebijakan devaluasi ini ternyata sangat memengaruhi perdagangan internasional negara, loh!

Dalam sejarahnya, Indonesia tercatat sudah 7 kali melakukan devaluasi yaitu; 30 Maret 1950, 24 Agustus 1959, tahun 1966, 21 Agustus 1971, 15 November 1978, 30 Maret 1983 dan 12 September 1986. Hampir seluruhnya dilakukan saat Indonesia dilanda inflasi yang tinggi. Bahkan, semasa kepemimpinan Presiden RI Soeharto, pemerintah melakukan devaluasi mata uang sebanyak 4 kali! 

Berdasarkan sumber Tirto, devaluasi yang terbesar yang pernah terjadi di Indonesia adalah pada masa pemerintahan orde baru pada 15 November 1978. 

Kala itu, Indonesia yang merupakan salah satu anggota Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia diwajibkan menggunakan sistem nilai tukar tetap dalam kebijakan ekonominya dan menetapkan nilai tukar mata uang rupiah sebesar Rp250 per dolar Amerika Serikat. 

Nah, sistem nilai tukar tetap ini mengharuskan Indonesia untuk memiliki cadangan devisa yang besar agar dapat melakukan intervensi aktif untuk menjaga pelemahan nilai tukar di pasar valuta asing. 

Namun, akibat nilai tukar mata uang rupiah yang over-valued atau terlalu mahal, pada Agustus 1971, pemerintahan orde baru melakukan devaluasi untuk pertama kalinya dengan nilai tukar mata uang rupiah sebesar Rp415 per dolar AS. Pemerintah juga mengganti sistem nilai tukar tetap menjadi sistem mengambang terkendali.

Pada tahun 1973 sampai 1974, harga minyak bumi di dunia mengalami kenaikan yang pesat. Indonesia yang merupakan salah satu negara penghasil minyak mendapatkan keuntungan yang sangat besar dalam penjualan minyak mentah melalui perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT Pertamina (Persero). Dengan memanfaatkan naiknya harga minyak, Pertamina melebarkan sayapnya dengan melakukan ekspansi dan investasi pada sektor-sektor non-komoditas secara besar-besaran.

Tak beberapa tahun berselang, tepatnya pada 15 November 1978, pemerintah menurunkan nilai mata uang rupiah lagi. Mengapa hal ini bisa terjadi, ya? Ternyata keputusan tersebut diambil akibat lemahnya pengawasan terhadap pengelolaan dana yang akhirnya menyebabkan pendapatan negara dari hasil minyak bumi menyusut. Hal ini kemudian diperparah lagi dengan tingginya laju inflasi Indonesia dibandingkan negara-negara lain sehingga Pertamina terjebak dalam lilitan utang baik di dalam maupun di luar negeri menembus angka 10,5 miliar dolar AS! Waduh!

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pada pemerintah orde baru, Indonesia kembali melakukan devaluasi nilai tukar mata uang rupiah sebesar 33,6 persen yakni yang semula Rp415 per dolar AS menjadi Rp625 per dolar AS.

Dampak nyata devaluasi pada perekonomian negara adalah mendorong aktivitas ekspor dan membatasi impor sehingga dapat memperbaiki posisi balance of payment (BOP) dan balance of trade (BOT) agar menjadi equilibrium (setara/seimbang) atau setidaknya mendekati equilibrium.

Dengan tercapainya keseimbangan, nilai tukar valuta asing diharapkan dapat menjadi relatif stabil. Ketika nilai tukar mata uang asing naik, harga barang impor menjadi lebih mahal dibanding barang produksi dalam negeri. Keadaan ini akan berdampak pada perekonomian negara dalam jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. 

Dampak devaluasi ini lebih memberikan efek terhadap perdagangan internasional karena jenis kegiatan tersebut mengacu kepada mata uang internasional. Dampak devaluasi yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia adalah:

1. Meningkatnya Jumlah Ekspor

Nilai tukar mata uang rupiah yang dinilai rendah dalam perdagangan internasional, menjadikan harga barang dari dalam negeri akan dinilai rendah pula oleh negara lain. Hal ini akan menyebabkan kenaikan jumlah barang yang di ekspor. Hal ini memberikan keuntungan bagi warga negara Indonesia karena bisa memasarkan produknya hingga ke luar negeri.

2. Berkurangnya Jumlah Impor

Meningkatnya jumlah ekspor membuktikan bahwa banyak barang produksi dalam negeri yang beredar, sehingga hal ini akan mempengaruhi terhadap daya beli dari masyarakat. Barang dalam negeri akan lebih banyak dibeli karena harganya yang lebih murah daripada produk impor. Berkurangnya daya beli masyarakat kepada barang impor, akan berpengaruh terhadap berkurangnya jumlah impor barang ke Indonesia. 

3. Meningkatnya Devisa dalam Negeri

Tingginya jumlah ekspor daripada impor akan mengakibatkan cadangan devisa meningkat. Semakin banyak devisa yang didapatkan, maka dapat membantu keadaan ekonomi secara nasional dan membuat jumlah pengangguran semakin berkurang karena banyaknya lapangan kerja yang tersedia. Keuntungan ini akan semakin meningkatkatkan kualitas produk ekspor.

4. Persaingan Barang Lokal

Meningkatnya jumlah ekspor akan mendorong para pengusaha lokal untuk bisa bersaing dalam dunia internasional. Barang-barang yang diproduksi dalam negeri akan semakin bervariatif untuk meningkatkan nilai jualnya agar banyak diminati oleh masyarakat luar negeri karena harganya yang lebih murah.

Hal ini juga akan mengubah cara pandang masyarakat luar negeri untuk lebih memilih barang impor karena harganya yang murah, dibandingkan barang dalam negerinya yang dianggap lebih mahal. 

5. Meningkatnya Jumlah Wisatawan Asing

Selain dalam sektor ekspor impor, nilai tukar rupiah yang rendah juga memberikan dampak terhadap sektor pariwisata, lho!

Paket-paket wisata yang ditawarkan akan lebih murah sehingga dapat mendatangkan lebih banyak wisatawan luar negeri ke Indonesia. Jadi, tidak hanya pihak pengelola wisata yang mendapatkan keuntungan dari hal ini, tapi juga sejumlah pengusaha seperti penjual souvenir dan tempat makan juga akan mendapat keuntungan.

Salah satu faktor ekonomi penting adalah komponen investasi masyarakatnya. Dari situ, kami hadir dengan aplikasi Ajaib yang memudahkan kamu untuk melakukan transaksi investasi lewat instrumen saham ataupun reksa dana yang sudah bisa kamu unduhmelalui Google Play dan Apple App Store.

Sumber: Sejarah Devaluasi Rupiah 1978 & Menggunungnya Utang Pertamina, dengan perubahan seperlunya.

Artikel Terkait