Ekonomi

Cara Menghitung Rumus Elastisitas Permintaan

Ajaib.co.id – Ekonomi bukanlah ilmu yang mutlak, beda dengan ilmu eksak seperti Fisika atau Kimia. Ilmu ekonomi lebih memperhitungkan banyak kualitas dan perilaku manusia, yang kadang-kadang, tidak dapat diukur.

Dengan kata lain, para ekonom harus melakukan yang terbaik untuk memprediksi kemungkinan sebuah peristiwa terjadi berdasarkan data yang diberikan pada saat tertentu.

Salah satu contoh prakiraan perilaku yang dihitung oleh para ekonom adalah rumus elastisitas permintaan. Secara definisi, elastisitas permintaan mengacu pada menentukan perubahan kuantitas permintaan dari barang atau jasa tertentu ketika harga barang atau jasa tersebut berubah dengan persentase tertentu.

Pada umumnya, hal ini disebut sebagai elastisitas harga permintaan karena harga barang atau jasa adalah faktor ekonomi yang paling umum digunakan untuk mengukurnya.

Barang elastis diartikan sebagai barang di mana perubahan harga menyebabkan perubahan signifikan. Secara umum, semakin banyak substitusi untuk suatu barang atau jasa, permintaan akan semakin elastis.

Rumus elastisitas permintaan untuk barang atau jasa tertentu dihitung dengan membagi persentase perubahan kuantitas yang diminta dengan persentase perubahan harga. Jika hasil bagi elastisitas lebih sama dengan satu, maka permintaan dianggap elastis.

Mengingat harga barang atau jasa yang paling umum digunakan untuk menghitung elastisitas permintaan, ada beberapa ukuran lain dari elastisitas permintaan, di antaranya elastisitas pendapatan dari permintaan dan elastisitas substitusi permintaan.

Permintaan biasanya diplot dalam grafik: kurva permintaan menunjukkan bagaimana kuantitas yang diminta menanggapi perubahan harga. Semakin datar kurva, permintaan semakin elastis.

Sebelum kita mengetahui rumus elastisitas permintaan, mari kita memahami elastisitas harga permintaan, elastisitas pendapatan dari permintaan, dan elastisitas substitusi permintaan terlebih dahulu.

Elastisitas Harga Permintaan

Elastisitas permintaan biasanya disebut elastisitas harga permintaan karena harga barang atau jasa adalah faktor ekonomi yang paling umum digunakan untuk mengukurnya. Misalnya, perubahan sepatu Nike Air Jordan 1 dapat menyebabkan perubahan kuantitas yang diminta.

Jika produsen Nike mengalami surplus Air Jordan, mereka dapat menurunkan harga sebagai upaya untuk meningkatkan permintaan, tapi meski penawaran dari Air Jordan 1 sedikit, mereka tidak perlu menurunkan harga, sebab permintaannya sudah tinggi.

Elastisitas harga dari permintaan dihitung dengan mengambil perubahan proporsional dari jumlah yang dibeli (sebagai respon terhadap perubahan kecil dalam harga), dibagi dengan perubahan harga proporsional.

Elastisitas Pendapatan dari Permintaan

Elastisitas pendapatan dari permintaan juga dikenal sebagai efek pendapatan. Tingkat pendapatan suatu populasi dapat mempengaruhi elastisitas permintaan barang dan jasa. Misalnya, suatu peristiwa ekonomi menyebabkan banyak pekerja di-PHK.

Selama satu periode ini, orang memutuskan untuk menabung alih-alih membeli smartphone baru atau membeli kebutuhan tersier lainnya. Hal ini akan menyebabkan barang mewah menjadi lebih elastis.

Dengan kata lain, sedikit perubahan pada tingkat pendapatan akan menyebabkan perubahan yang signifikan pada suatu barang.

Elastisitas Substitusi Permintaan

Jika ada barang atau jasa pengganti yang lebih murah, maka substitusinya akan membuat permintaan barang menjadi lebih elastis. Kehadiran barang atau jasa alternatif membuat barang atau jasa asli lebih sensitif secara keseluruhan terhadap perubahan harga.

Misalnya, jika harga iPhone naik 10%, ini bisa menyebabkan permintaan konsumen lebih sedikit. Akibatnya, permintaan terhadap smartphone flagship Android yang satu tingkat dengan iPhone akan meningkat, mengingat smartphone flagship Android adalah subtitusi yang paling dekat dari segi kualitas dan harga.

Rumus Elastisitas Permintaan

Elastisitas permintaan secara matematis dirumuskan seperti ini:

Kesimpulan yang diperoleh dari perhitungan elastisitas adalah bernilai negatif. Kenapa? Karena harga dan jumlah barang yang diminta biasanya berbanding terbalik (mengalami arah yang berbalikan).

Hasilnya, penurunan harga akan menaikkan permintaan atau kenaikan harga akan menurunkan permintaan, tapi biasanya tanda negatif diabaikan dalam menghitung koefisien elastisitas.

Dalam perhitungan elastisitas permintaan, terdapat beberapa kemungkinan.

1. Permintaan bersifat elastis terjadi apabila koefisien elastisitas bernilai lebih dari 1. Artinya, barang atau jasa tersebut sangat peka dengan perubahan harga. Contohnya adalah pakaian atau makanan ringan.

2. Permintaan bersifat inelastis terjadi apabila koefisien elastisitasnya kurang dari 1. Artinya, nilai perubahan harga lebih besar dibandingkan perubahan kuantitas barang atau jasa yang diminta, dengan kata lain perubahan yang besar dalam harga tidak diiringi perubahan yang berarti dalam kuantitas permintaan.

3. Permintaan bersifat uniter mempunyai angka koefisien elastisitas sama dengan 1. Artinya, perubahan harga sama dengan perubahan kuantitas permintaan.

4. Permintaan elastis sempurna memiliki angka koefisien elastisitasnya sama dengan tak terhingga (Ed = ~). Artinya, permintaan bisa mencapai jumlah yang tidak terbatas, meski harga barang tetap. Perhitungan

5. Permintaan Inelastis Sempurna memiliki angka koefisien sama dengan 0 bersifat inelastis sempurna.

Contoh Permintaan Elastis

Ketika kamu menyusuri lorong bahan makanan di minimarket, kamu mungkin melihat gula murni serta gula dari merek lainnya. Jika harga gula murni besok naik Rp5,000 per kantong, apakah kamu bersedia membayar tambahan Rp,5,000 untuk sekantong gula itu sebagai pengganti gula?

Kebanyakan orang akan mengubah preferensi mereka dari gula murni ke pengganti gula biasa, sehingga mengurangi jumlah permintaan gula murni.

Contoh Permintaan Inelastis

Setelah mengetahui rumus elastisitas permintaan,kamu bisa mengetahui barang atau jasa apa saja yang permintaannya elastis atau inelastis. Salah satu contoh barang yang sifanya inelastis adalah bensin.

Bisnis dan konsumen sama-sama membutuhkan bensin untuk berkembang dalam perekonomian, Meskipun ada pergerakan menuju bahan bakar alternatif, banyak orang yang bergantung pada bensin di kehidupan sehari-hari mereka dan tidak mungkin atau tidak bisa beralih ke bahan bakar alternatif.

Jadi, jika harga bensin naik 30%, apakah kamu tidak akan berhenti bekerja? Kebanyakan orang rela membayar harga tinggi karena kebutuhan.

Dalam pasar normal, bensin atau gas adalah merupakan barang yang relatif tidak elastis. Bensin dan gas tidak elastis, permintaan tetap relatif konsisten meskipun ada kenaikan harga.

Kesimpulan

Elastisitas harga adalah bagaimana ekonom mencoba mengukur sensitivitas permintaan sebagai akibat dari perubahan harga barang atau jasa. Pengukuran ini bermanfaat untuk memprediksi perilaku konsumen serta memprediksi peristiwa besar, seperti resesi atau pemulihan ekonomi

Jika harga suatu barang naik dan kita tidak dapat hidup tanpanya, atau banyak pengganti yang ada, maka kita mengkonsumsinya lebih sedikit atau mungkin tidak sama sekali.

Artikel Terkait