IHSG Hari Ini Melemah 1,33%, Tapi Big Banks Justru Diborong Asing Hingga Rp500 Miliar
Ratih Mustikoningsih•October 15, 2026

Key Takeaways
- IHSG ditutup melemah 1,33% ke level 5.863,78 pada perdagangan Kamis (15/10/2026), meski investor asing mencatatkan net buy Rp520,03 miliar di pasar reguler.
- Saham perbankan menjadi incaran investor asing, dipimpin BBCA dengan net buy Rp286,1 miliar, disusul BBRI Rp78,4 miliar dan BMRI Rp34,3 miliar.
- SQMI berpotensi mengalami perubahan pengendali tidak langsung melalui transaksi di perusahaan induknya, Wilton Resources Corporation Limited (WRC), dengan nilai bruto mencapai US$69,9 juta atau sekitar Rp1,25 triliun.
- Progres pembangunan fasilitas CA-EDC TPIA bersama mitra strategis mencapai 80% per September 2026, dengan target operasi komersial pada 2027.
IHSG Hari Ini Melemah 1,33%, Asing Kembali Catat Net Buy

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi 1,33% atau turun 79,24 poin ke level 5.863,78 pada perdagangan Kamis (15/10/2026). Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak pada rentang 5.804 hingga 5.917.
Di tengah pelemahan indeks, investor asing kembali membukukan arus masuk dana atau net foreign buy sebesar Rp520,03 miliar di pasar reguler. Sementara itu, total nilai transaksi pasar tercatat Rp13,53 triliun, dengan volume perdagangan mencapai 352 juta lot dan frekuensi transaksi sebanyak 1,69 juta kali. Nilai transaksi di pasar reguler tercatat sebesar Rp10,28 triliun.
Kembalinya aliran dana asing terjadi seiring penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury yield setelah rilis data inflasi. Pergerakan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap suku bunga global dan menjadi salah satu faktor yang mendukung daya tarik aset ekuitas di pasar negara berkembang (emerging markets).

Saham perbankan berkapitalisasi besar mendominasi daftar akumulasi investor asing. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan net buy terbesar senilai Rp286,1 miliar, diikuti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp78,4 miliar dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp34,3 miliar.
Akumulasi tersebut terjadi di tengah perhatian investor terhadap potensi imbal hasil dividen sejumlah saham perbankan. Berdasarkan data riset per 15 Oktober 2026, estimasi dividend yield BMRI mencapai 13,3%, sedangkan BBRI sebesar 12,1%.
SQMI Berpotensi Berganti Pengendali Tidak Langsung, Transaksi Induk Capai Rp1,25 Triliun
PT Wilton Makmur Indonesia Tbk (SQMI) mengalami potensi perubahan pemegang saham pengendali tidak langsung melalui aksi korporasi perusahaan induknya, Wilton Resources Corporation Limited (WRC).
Pada 9 Oktober 2026, WRC menandatangani Perjanjian Penempatan Saham dan Perjanjian Obligasi Konversi dengan Maxglory Capital Limited (MCL).
Melalui perjanjian penempatan saham, MCL akan mengambil 1,07 miliar saham baru WRC dengan harga SGD0,011 per saham, senilai sekitar US$9,28 juta. Sementara itu, perjanjian obligasi konversi mencakup potensi penerbitan 7 miliar saham baru dengan nilai bruto US$60,62 juta.
Secara keseluruhan, nilai bruto transaksi tersebut mencapai US$69,9 juta atau setara sekitar Rp1,25 triliun, dengan asumsi kurs Rp17.900 per dolar AS.
Dana hasil aksi korporasi tersebut direncanakan untuk melunasi kewajiban mendesak perusahaan, mendanai Proyek Emas Ciemas, serta menambah modal kerja operasional.
Melalui penempatan saham awal, MCL akan memiliki 29% saham WRC. Kepemilikannya berpotensi meningkat menjadi 75,47% apabila seluruh obligasi konversi dikonversi menjadi saham. Dengan skema tersebut, MCL berpotensi menjadi pemegang saham pengendali tidak langsung baru SQMI.

Di sisi perdagangan saham, SQMI juga tercatat berada dalam fase akumulasi sejak awal Oktober 2026. Berdasarkan data Ajaib Terminal, sejumlah broker, antara lain AK, TP, LG, CC, dan BK, mencatatkan net buy kumulatif hingga puluhan miliar rupiah.
Perubahan struktur kepemilikan dan pendanaan tersebut berkaitan dengan kebutuhan pendanaan perusahaan, termasuk untuk mendukung operasional tambang Ciemas. Pada semester I 2026, SQMI mencatatkan rugi bersih sebesar Rp20,67 miliar.
Progres Proyek CA-EDC TPIA Bersama Danantara Capai 80%
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) bersama Danantara Investment Management (DIM) dan Indonesia Investment Authority (INA) terus mengembangkan fasilitas Chlor Alkali-Ethylene Dichloride (CA-EDC) dengan nilai investasi lebih dari US$800 juta.
Hingga September 2026, progres pembangunan fisik proyek tersebut telah mencapai 80%. Fasilitas ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2027.
Proyek CA-EDC dirancang untuk menghasilkan hingga 827.000 ton soda kaustik cair dan 500.000 ton ethylene dichloride (EDC) per tahun.
Pengembangan fasilitas tersebut ditujukan untuk memperkuat rantai pasok industri nasional, mengurangi ketergantungan terhadap impor, serta mendukung potensi ekspor produk kimia Indonesia.
Proyek ini diproyeksikan dapat menghemat biaya impor hingga US$293 juta per tahun dan menghasilkan devisa ekspor sebesar US$300 juta per tahun.
Top Gainer dan Top Loser LQ45 Hari Ini
Di tengah pelemahan IHSG pada perdagangan 15 Oktober 2026, sejumlah saham anggota indeks LQ45 masih mencatatkan penguatan. Sebaliknya, beberapa saham lainnya mengalami koreksi cukup dalam.
Top 5 Gainer LQ45
Berikut lima saham dengan kenaikan tertinggi di indeks LQ45:
| Peringkat | Kode Saham | Perubahan |
|---|---|---|
| 1 | AMMN | +1,39% |
| 2 | KLBF | +1,28% |
| 3 | UNTR | +1,00% |
| 4 | PGAS | +0,72% |
| 5 | BMRI | +0,51% |
Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menempati posisi teratas dengan penguatan 1,39%, diikuti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) yang naik 1,28% dan PT United Tractors Tbk (UNTR) sebesar 1,00%.
Top 5 Loser LQ45
Sementara itu, berikut lima saham dengan penurunan terdalam di indeks LQ45:
| Peringkat | Kode Saham | Perubahan |
|---|---|---|
| 1 | DEWA | -7,88% |
| 2 | HRTA | -6,40% |
| 3 | WIFI | -5,84% |
| 4 | CUAN | -5,26% |
| 5 | INDY | -5,10% |
PT Darma Henwa Tbk (DEWA) menjadi saham dengan penurunan terbesar di antara daftar tersebut, yakni 7,88%. Posisi berikutnya ditempati PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) yang turun 6,40% dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) sebesar 5,84%.
Pantau Saham Potensial dan Mulai Trading di Ajaib
Pergerakan IHSG, aliran dana investor asing, serta perkembangan aksi korporasi dapat menjadi informasi yang dipantau investor dalam menyusun strategi perdagangan.
Pantau pergerakan harga saham, analisis aktivitas transaksi, dan identifikasi saham potensial menggunakan fitur yang tersedia di Ajaib. Kamu juga dapat memanfaatkan Ajaib Terminal untuk memantau aktivitas broker dan pergerakan saham sesuai strategi trading.
Pantau saham potensial dan mulai trading di Ajaib.
Sumber: Ajaib Research, Keterbukaan Informasi BEI, Ajaib Terminal.
Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruh risiko menjadi tanggung jawab investor. Informasi ini disusun berdasarkan riset internal Ajaib Sekuritas, tidak dipengaruhi pihak mana pun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual atau beli efek. Harga saham dapat berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan dan profil risiko masing-masing.
Profil Penulis

Financial Expert Ajaib
Ratih Mustikoningsih merupakan Financial Expert di Ajaib yang memiliki pengalaman lebih 10 tahun di pasar modal Indonesia, khususnya dalam analisis saham dan strategi investasi. Melalui artikel dan edukasi yang ia sajikan, Ratih membantu investor memahami fundamental perusahaan, dinamika pasar, serta mengambil keputusan investasi saham yang lebih tepat.
Artikel Terkait



Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!

