Ajaib
Menu

Berita

IHSG Terkoreksi Setelah Sempat Menguat, Rupiah Masih Tertekan di Tengah Penguatan Dolar AS

SarifaJune 26, 2026

Penyebab IHSG Terjun 1% Lebih hingga Sentuh Level 7.074

Pagi ini, Kamu mungkin melihat kabar bahwa IHSG sempat dibuka dengan sentuhan hijau. Namun harapan itu cepat sirna. Hanya dalam waktu sekitar setengah jam, indeks berbalik arah dan terjun bebas ke zona merah. Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga masih belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi dan bagaimana Kamu sebagai investor pemula bisa menyikapi kondisi ini? Yuk, kita bahas bersama.

Ringkasan

  1. IHSG berbalik melemah setelah sempat menguat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 1,11% atau 66,38 poin ke level 5.932,66 pada perdagangan Jumat pagi, meski sempat dibuka di zona hijau.
  2. Rupiah masih tertekan di bawah Rp18.000 per dolar AS. Nilai tukar rupiah melemah 44 poin ke Rp17.987 per dolar AS, dipengaruhi data inflasi AS yang meningkat dan pernyataan hawkish dari pejabat Federal Reserve.
  3. Tekanan berasal dari dalam dan luar negeri. Mayoritas bursa Asia juga terkoreksi, dengan Nikkei turun 3,70% dan KOSPI merosot 4,52%, menambah sentimen negatif bagi pasar modal Indonesia.

Apa Itu IHSG dan Mengapa Pergerakannya Penting?

Sebelum membahas lebih jauh, mari pahami dulu apa itu IHSG. IHSG adalah singkatan dari Indeks Harga Saham Gabungan. Bayangkan IHSG seperti termometer kesehatan pasar saham Indonesia. Ketika IHSG naik, artinya secara rata-rata harga saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sedang mengalami kenaikan. Sebaliknya, ketika IHSG turun, itu menandakan rata-rata harga saham sedang melemah.

Buat Kamu yang baru terjun ke dunia investasi, IHSG adalah salah satu indikator paling sederhana untuk melihat sentimen pasar secara keseluruhan. Tentu saja, ini bukan satu-satunya patokan, tapi cukup membantu untuk membaca arah pergerakan pasar modal Tanah Air.

Hari Ini: IHSG Dibuka Menguat, Lalu Berbalik Melemah

Pada perdagangan Jumat (26/6) pagi, IHSG sebenarnya sempat memberikan secercah harapan. Indeks dibuka di level 6.010,34, lebih tinggi dibandingkan penutupan sebelumnya di 5.999,04. Namun, kenaikan itu tidak bertahan lama.

Hingga pukul 09.33 WIB, IHSG justru terkoreksi 66,38 poin atau 1,11% ke level 5.932,66. Dalam waktu setengah jam pertama, indeks bergerak dalam rentang 5.929,28 hingga 6.045,26—cukup fluktuatif, ya?

Apa yang terjadi di balik layar? Tekanan jual mendominasi perdagangan pagi. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 469 saham melemah, sementara hanya 141 saham yang menguat dan 349 saham stagnan. Artinya, lebih banyak investor yang memilih untuk melepas sahamnya daripada membeli.

Meski begitu, aktivitas transaksi terbilang ramai. Volume perdagangan mencapai 4,09 miliar saham dengan nilai transaksi Rp2,36 triliun dari 381.100 kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun tercatat sebesar Rp10.394 triliun.

Mayoritas Indeks Sektoral Ikut Merah

Pelemahan tidak hanya terjadi pada IHSG. Hampir semua indeks utama BEI ikut terkoreksi:

  • LQ45 (indeks 45 saham likuid) turun 0,98% ke 581,99
  • Jakarta Islamic Index (JII) melemah 2,12%
  • IDX30 turun 0,95%
  • ISSI (Indeks Saham Syariah Indonesia) terkoreksi 1,69%

Menariknya, di awal perdagangan, sektor keuangan sempat menjadi penopang IHSG bersama sektor properti dan barang konsumen non-siklikal. Namun tekanan jual yang meluas pada akhirnya membuat semua sektor terseret ke zona merah.

Rupiah Ikut Tertekan, Tembus Rp17.987 per Dolar AS

Di pasar valuta asing, kabar buruk juga datang dari nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda melemah 44 poin atau 0,25% ke level Rp17.987 per dolar AS pada perdagangan Jumat pagi.

Pelemahan ini terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang bervariasi. Beberapa mata uang Asia seperti ringgit Malaysia (+0,31%), peso Filipina (+0,07%), dan dolar Hong Kong (+0,01%) justru menguat. Namun rupiah masih terpantau melemah bersama won Korea Selatan (-0,38%), dolar Singapura (-0,05%), yen Jepang (-0,03%), dan yuan China (-0,01%).

Mengapa Rupiah Melemah? Ini Biang Keroknya

Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa rupiah masih berpotensi tertekan oleh penguatan dolar AS. Ada dua pemicu utama:

  1. Data inflasi AS meningkat – Inflasi inti Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat naik ke level tertinggi sejak Oktober 2023. Inflasi yang tinggi membuat dolar AS semakin diminati sebagai aset aman.
  2. Pernyataan hawkish dari The Fed – Beberapa pejabat Federal Reserve menyampaikan pernyataan yang mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga AS. Ketika suku bunga AS naik, dolar AS biasanya menguat karena investor berbondong-bondong menaruh uangnya di instrumen berdenominasi dolar yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

Bursa Asia Juga Tertekan, Sentimen Global Memburuk

Kabar buruk tidak hanya datang dari dalam negeri. Mayoritas bursa saham di kawasan Asia juga kompak bergerak melemah pada perdagangan pagi ini:

  • Nikkei 225 (Jepang) turun 3,70%
  • KOSPI (Korea Selatan) terkoreksi 4,52%
  • Hang Seng (Hong Kong) melemah 1,65%
  • SSE Composite (China) turun 1,22%

Satu-satunya yang masih bertahan di zona hijau adalah indeks S&P/ASX 200 Australia yang naik tipis 0,23%.

Pelemahan bursa Asia ini menunjukkan bahwa tekanan yang dihadapi IHSG bukanlah fenomena isolasi. Sentimen global sedang tidak bersahabat dengan aset berisiko seperti saham, terutama di negara berkembang.

Lalu, Apa yang Harus Dilakukan Investor Pemula?

Kondisi pasar yang fluktuatif seperti ini memang bisa bikin deg-degan, terutama buat Kamu yang masih baru di dunia investasi. Tapi jangan panik dulu! Berikut beberapa tips yang bisa Kamu terapkan:

1. Jangan Terburu-buru Jual

Saat IHSG turun, godaan untuk menjual saham sering kali sangat besar. Tapi ingat, fluktuasi adalah hal wajar dalam investasi saham. Yang penting adalah alasan Kamu berinvestasi—apakah untuk jangka pendek atau jangka panjang? Jika tujuan Kamu jangka panjang, koreksi seperti ini bisa jadi momen akumulasi daripada likuidasi.

2. Perhatikan Fundamental, Bukan Sekadar Harga

Jangan hanya melihat harga saham yang turun. Luangkan waktu untuk mempelajari fundamental perusahaan: apakah bisnisnya masih sehat? Bagaimana kinerja keuangannya? Jika fundamentalnya baik, penurunan harga bisa menjadi kesempatan beli yang menarik.

“Investasi saham memiliki risiko tinggi. Pastikan lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan keuangan.”

3. Diversifikasi Portofolio

Jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang. Sebarkan investasi Kamu ke berbagai sektor atau bahkan instrumen yang berbeda. Dengan diversifikasi, risiko Kamu bisa lebih terkendali.

4. Pantau Perkembangan Makroekonomi

Perhatikan faktor-faktor makro seperti nilai tukar rupiah, inflasi, dan kebijakan bank sentral. Seperti yang kita lihat hari ini, pelemahan rupiah dan penguatan dolar AS bisa berdampak signifikan pada pergerakan IHSG.

5. Manfaatkan Momen untuk Belajar

Setiap pergerakan pasar adalah pelajaran berharga. Perhatikan bagaimana berita dan sentimen mempengaruhi harga. Semakin sering Kamu mengamati, semakin baik insting investasi Kamu ke depannya.

Tetap Tenang dan Fokus pada Strategi Jangka Panjang

Hari ini, IHSG mengalami koreksi 1,11% ke level 5.932 setelah sempat dibuka menguat. Di saat yang sama, rupiah melemah ke Rp17.987 per dolar AS, tertekan oleh penguatan dolar AS akibat data inflasi yang meningkat dan prospek kenaikan suku bunga The Fed.

Kondisi ini mengingatkan kita bahwa pasar saham dan nilai tukar adalah dua sisi mata uang yang saling terkait. Pelemahan rupiah bisa menjadi pukulan bagi IHSG, terutama bagi perusahaan-perusahaan yang memiliki utang dalam dolar AS atau yang bergantung pada bahan baku impor.

Namun, bagi Kamu sebagai investor pemula, kunci utama adalah tetap tenang dan tidak terbawa emosi. Fluktuasi adalah bagian tak terpisahkan dari dunia investasi. Yang terpenting adalah konsisten pada strategi, terus belajar, dan selalu melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan.

Ingat, investasi saham bukanlah ajang untuk cepat kaya, melainkan perjalanan jangka panjang untuk membangun kekayaan secara bertahap. Terus pantau pergerakan IHSG dan rupiah, tapi jangan biarkan fluktuasi harian mengganggu rencana investasi Kamu.

Disclaimer: Konten ini bersifat edukasi dan informasi, bukan ajakan untuk membeli atau menjual aset tertentu. Investasi saham memiliki risiko tinggi. Pastikan lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan keuangan.

Google Play StoreApple App Store

Referensi:
1. https://money.kompas.com/read/2026/06/26/093907326/ihsg-dibuka-menguat-lalu-berbalik-melemah-111-persen-ke-5932
2. https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260626090847-78-1373468/rupiah-melemah-ke-rp17987-per-dolar-as-pagi-ini

Artikel Populer

Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi

Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!