Saham SMAR vs TBLA: Siapa yang Lebih Diuntungkan dari Kebijakan B50?
Tika•August 10, 2026

Key Takeaways
- Mandatori biodiesel B50 resmi berlaku sejak 1 Juli 2026 dan alokasi biodiesel nasional dinaikkan menjadi sekitar 16,7 juta kiloliter.
- Pada skema B40, SMAR memegang alokasi lebih besar dibanding TBLA, di antara emiten lain yang tercatat di bursa.
- Kontrak Fatty Acid Methyl Ester (FAME) TBLA untuk tahun 2026 tercatat 722.434 kiloliter, lebih rendah dari kontrak 2025 sebesar 808.749 kiloliter.
- Laporan keuangan semester I 2026 masih merekam periode B40, sehingga berfungsi sebagai titik awal perbandingan.
Program mandatori biodiesel B50 sudah berjalan satu bulan sejak diberlakukan pada 1 Juli 2026. Kebijakan ini mewajibkan pencampuran 50% biodiesel berbasis minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) ke dalam bahan bakar solar, naik dari 40% pada skema sebelumnya.
Di Bursa Efek Indonesia, ada dua emiten atau perusahaan tercatat yang memiliki eksposur cukup tinggi terhadap biodiesel, yaitu PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) dan PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA). Keduanya sama-sama memproduksi FAME, yaitu nama teknis untuk biodiesel berbahan sawit.
Pertanyaannya, bagaimana posisi kedua emiten ini berbeda ketika kebijakan B50 mulai berjalan, dan indikator apa yang sebenarnya perlu dibaca sebelum menyimpulkan siapa yang lebih diuntungkan?
Apa yang Berubah Sejak B50 Berlaku 1 Juli 2026?
Sebelum menganalisis posisi masing-masing emiten, perubahan alokasi di tingkat nasional perlu dipahami lebih dulu karena data inilah yang menentukan ruang produksi setiap produsen biodiesel.
Tabel 1. Alokasi Biodiesel Nasional Sebelum dan Sesudah B50
| Kategori | Skema B40 | Skema B50 |
| Dasar hukum | Kepmen ESDM 439.K/EK.01/MEM.E/2025 | Kepmen ESDM 271.K/EK.01/MEM.E/2026 |
| PSO | 7.454.600 kL | Sekitar 8,2 juta kL |
| Non-PSO | 8.191.772 kL | Sisa dari total alokasi |
| Total | 15.646.372 kL | Sekitar 16,7 juta kL |
| Jumlah BU BBN | 26 badan usaha | 26 badan usaha |
*Angka skema B40 bersumber dari rilis Kementerian ESDM. Angka skema B50 bersumber dari pemberitaan media industri energi atas Kepmen 271. Rincian volume per badan usaha belum dipublikasikan secara terbuka.
PSO atau public service obligation adalah porsi biodiesel bersubsidi yang disalurkan untuk transportasi umum, layanan publik, pertanian, dan usaha mikro. Sisanya masuk kategori non-PSO yang dijual pada harga komersial. Adapun BU BBN adalah badan usaha bahan bakar nabati, yaitu produsen yang ditunjuk pemerintah untuk memasok biodiesel.
Perubahan ini tidak terjadi sekaligus. Kepmen ESDM Nomor 113.K/EK.05/MEM.E/2026 lebih dulu menetapkan penahapan pemanfaatan bahan bakar nabati sebagai dasar transisi dari B40 menuju B50. Setelah itu, Kepmen Nomor 271.K/EK.01/MEM.E/2026 menetapkan badan usaha yang ditunjuk beserta volume alokasi masing-masing.
Pemerintah juga menyatakan akan mengevaluasi kesiapan produksi dan distribusi secara berkala dalam enam bulan ke depan. Artinya, alokasi yang berlaku saat ini masih terbuka untuk direvisi, baik naik maupun turun, menyesuaikan kapasitas produksi dan kebutuhan nasional.
Bagaimana Posisi SMAR dan TBLA Menjelang B50?
Dari gambaran nasional tersebut, langkah berikutnya adalah menurunkannya ke porsi masing-masing emiten dengan indikator yang sama agar perbandingannya setara.
Tabel 2. Profil Kedua Emiten di Rantai Biodiesel
| Indikator | SMAR | TBLA |
| Alokasi skema B40 2026 | 981.971 kL | 722.434 kL |
| Alokasi skema B50 | Belum dipublikasikan per badan usaha | Belum dipublikasikan per badan usaha |
| Kapasitas FAME terpasang | Dua pabrik, kapasitas merujuk publikasi resmi perseroan | 765.000 ton per tahun, dua pabrik di Lampung |
| Kontribusi biodiesel | Sekitar 24% penjualan semester I 2026 | Penjualan ke Pertamina Patra Niaga setara 33,61% pendapatan |
*Alokasi skema B40 mengacu Kepmen 439. Kontribusi biodiesel SMAR bersumber dari komposisi penjualan pada Smartnews Juni 2026, sedangkan angka TBLA dihitung dari Catatan 28 laporan keuangannya.
1. Skala Alokasi dan Kapasitas Terpasang
Pada skema B40 tahun 2026, selisih alokasi kedua emiten mencapai sekitar 259 ribu kiloliter, dengan porsi SMAR yang lebih besar. Selisih ini menempatkan SMAR pada skala volume yang lebih tinggi, meskipun keduanya sama-sama berada di kelompok produsen biodiesel yang ditunjuk pemerintah.
Untuk skema B50, perbandingan setara belum dapat dibuat. Rincian volume per badan usaha di dalam Kepmen 271 belum dipublikasikan secara terbuka, sehingga angka yang beredar di pasar sebaiknya diperlakukan sebagai estimasi sampai dokumen resminya dapat diakses publik.
2. Titik Berangkat Volume Kontrak
Salah satu data yang dapat diverifikasi langsung dari dokumen perseroan adalah kontrak pengadaan biodiesel milik TBLA, yang dirinci per pelanggan di dalam laporan keuangannya.
Tabel 3. Kontrak Pengadaan FAME TBLA per Pelanggan
| Pelanggan | 2026 (kL) | 2025 (kL) |
| PT Pertamina Patra Niaga | 524.641 | 565.404 |
| PT Kilang Pertamina Internasional | 165.560 | 213.989 |
| PT AKR Corporindo Tbk | 32.233 | 29.356 |
| Jumlah | 722.434 | 808.749 |
*Bersumber dari Catatan 40b laporan keuangan konsolidasian TBLA per 30 Juni 2026. Kontrak berjangka waktu satu tahun. SMAR tidak mengungkap rincian kontrak biodiesel per pelanggan, sehingga perbandingan setara belum dapat disajikan.
Angka kontrak TBLA untuk tahun 2026 sebesar 722.434 kiloliter persis sama dengan alokasi yang ditetapkan pemerintah pada Kepmen 439. Hal ini menunjukkan bahwa kontrak komersial perseroan mengikuti pagu yang ditetapkan regulator, bukan ditentukan sendiri berdasarkan kapasitas pabrik.
Yang menarik, volume kontrak 2026 tersebut masih berada di bawah kontrak 2025 sebesar 808.749 kiloliter. Dengan demikian, kenaikan alokasi nasional pada skema B50 umumnya dibaca sebagai peluang untuk mengembalikan volume ke kisaran tahun sebelumnya, bukan semata sebagai lompatan ke level yang belum pernah dicapai.
Apa yang Terbaca dari Laporan Semester I 2026?
Perlu dicatat bahwa periode laporan semester I 2026 berakhir pada 30 Juni, yaitu sehari sebelum B50 mulai berlaku. Laporan tersebut karena itu berfungsi sebagai basis pembanding, bukan sebagai bukti dampak kebijakan. Berikut adalah ringkasan laporan keuangan semester I 2026 masing-masing emiten.
Tabel 4. Ringkasan Kinerja Semester I 2026
| Indikator | SMAR | Perubahan yoy | TBLA | Perubahan yoy |
| Pendapatan | Rp43,73 triliun | naik 1% | Rp11,63 triliun | naik 10,8% |
| Laba kotor | Rp6,93 triliun | naik 59% | Rp2,05 triliun | naik 13,8% |
| Margin laba kotor | 15,8% | dari 10,1% | 17,6% | dari 17,2% |
| Laba bersih induk | Rp2,34 triliun | naik 184% | Rp430,1 miliar | turun 3,7% |
| Earnings per share | Rp816 | naik | Rp71,63 | dari Rp74,37 |
*Bersumber dari laporan keuangan konsolidasian kedua emiten per 30 Juni 2026 serta Smartnews Juni 2026. Margin laba kotor dihitung dari laba kotor dibagi pendapatan.
Tabel 5. Struktur Beban dan Sinyal Persiapan Menjelang B50
| Pos | SMAR | TBLA |
| Penjualan domestik semester I 2026 | Rp21,39 triliun, dari Rp23,50 triliun | Rp14,60 triliun sebelum eliminasi, dari Rp13,99 triliun |
| Penjualan ekspor semester I 2026 | Rp22,34 triliun, dari Rp19,77 triliun | Rp1,44 triliun, dari Rp0,96 triliun |
| Beban penjualan | Rp3,00 triliun | Rp430,5 miliar, naik 82% |
| Pungutan atau pajak ekspor | Naik sejak Maret 2026 | Rp159,0 miliar, dari Rp44,0 miliar |
| Persediaan biodiesel | Tidak dirinci terpisah | Rp1,28 triliun, dari Rp971,8 miliar |
| Uang muka kontrak penjualan | Rp571,8 miliar, dari Rp616,6 miliar | Tidak dirinci terpisah |
*Sebagian pos tidak tersedia pada kedua emiten karena perbedaan format pengungkapan laporan keuangan.
1. Membaca Sumber Perbedaan Kinerja
Perbedaan laju laba pada semester I 2026 belum berhubungan dengan B50 karena kebijakan tersebut belum berjalan pada periode itu. Pendorongnya lebih berkaitan dengan harga jual rata-rata, komposisi produk yang dijual, serta struktur beban masing-masing emiten.
Pada SMAR, pendapatan hanya tumbuh tipis, tetapi laba kotor naik cukup besar seiring turunnya beban pokok penjualan. Pada TBLA, pendapatan tumbuh dua digit, namun kenaikan beban penjualan dan beban bunga menahan laba bersih sehingga tercatat sedikit lebih rendah dibanding periode sebelumnya.
2. Faktor yang Sama-Sama Melatari Keduanya
Selain faktor internal, ada satu variabel eksternal yang disebut oleh kedua emiten, yaitu kenaikan tarif pungutan ekspor sejak Maret 2026. Pungutan ini menambah beban penjualan, terutama bagi porsi produk yang dipasarkan ke luar negeri.
Menariknya, pungutan ekspor tersebut juga menjadi sumber pembiayaan insentif Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDP untuk program biodiesel. Dengan kata lain, kedua emiten menanggung biaya di sisi ekspor untuk program yang berpotensi menambah permintaan di sisi domestik.
Di luar itu, neraca kedua emiten memperlihatkan aktivitas persiapan menjelang B50. Persediaan biodiesel TBLA per 30 Juni 2026 tercatat lebih tinggi dibanding posisi akhir 2025, sementara SMAR mencatat uang muka dari pihak ketiga untuk kontrak penjualan biodiesel dan sejumlah produk turunan lainnya.
Sebulan Berjalan, Siapa yang Lebih Diuntungkan?
Jawaban atas pertanyaan tersebut umumnya bergantung pada indikator yang dipakai, bukan pada satu faktor tertentu. Berikut beberapa sudut pandang yang dapat digunakan untuk menimbangnya.
- Dari sisi volume alokasi dan skala usaha. Pada skema B40, SMAR memegang alokasi yang lebih besar dan mencatat pendapatan konsolidasian jauh di atas TBLA. Skala ini memberi ruang penyerapan volume tambahan yang lebih lebar, meskipun kontribusi biodiesel terhadap total penjualannya berada di kisaran seperempat saja.
- Dari sisi sensitivitas pendapatan. Bobot biodiesel terhadap pendapatan TBLA relatif lebih besar, terlihat dari porsi penjualan ke Pertamina Patra Niaga yang mencapai sepertiga pendapatan. Perubahan volume biodiesel karena itu berpeluang terbaca lebih cepat pada laporan keuangan TBLA dibanding pada SMAR yang lini usahanya lebih beragam.
- Dari sisi ruang konversi volume menjadi laba. Tambahan volume tidak selalu berujung pada tambahan laba dengan efisiensi yang sama. Struktur beban penjualan dan beban keuangan masing-masing emiten ikut menentukan berapa besar bagian dari kenaikan volume yang benar-benar sampai ke laba bersih.
- Dari sisi faktor risiko yang berlaku untuk keduanya. Realisasi penyaluran biodiesel dapat berbeda dari alokasi yang ditetapkan, pencairan insentif BPDP belum tentu selaras dengan jadwal produksi, dan alokasi itu sendiri masih terbuka untuk direvisi dalam evaluasi berkala pemerintah.
Dalam banyak kasus, periode satu bulan memang terlalu pendek untuk menarik kesimpulan. Laporan kuartal III 2026 akan menjadi periode pertama yang benar-benar memuat dampak B50, sehingga perbandingan yang lebih meyakinkan baru dapat dilakukan setelah laporan tersebut terbit.
Temukan Beragam Emiten Sektor Sawit, Energi, dan Sektor Lainnya Di Ajaib
Dampak kebijakan seperti B50 terhadap sebuah emiten bukan soal menebak nama yang paling ramai diberitakan, melainkan soal membaca alokasi kuota, kapasitas produksi terpasang, dan bobot segmen biodiesel terhadap pendapatan. Perubahan kebijakan umumnya baru terbaca di laporan keuangan beberapa kuartal setelahnya, sehingga membandingkan kinerja antarperiode dan antaremiten dapat membantu Anda melihat gambaran yang lebih utuh.
Jika Anda ingin menganalisis kinerja keuangan emiten, temukan berbagai pilihan saham dari sektor sawit maupun sektor lainnya di Ajaib. Aplikasi ini menyajikan data fundamental, seperti kinerja keuangan secara real time dalam satu genggaman, sehingga memudahkan Anda memantau perkembangan emiten yang sedang diamati. Unduh aplikasi Ajaib sekarang dan mulai perjalanan investasi Anda di berbagai aset, mulai dari saham, kripto, saham AS, reksa dana, hingga obligasi.
Profil Penulis
SEO Writer
Tika Azaria adalah SEO Writer di Ajaib yang menulis berbagai konten seputar saham, reksa dana, kripto, hingga saham AS dan keuangan secara umum. Ia menggabungkan strategi SEO dengan konten edukatif agar informasi investasi lebih mudah ditemukan dan dipahami oleh masyarakat.
Disclaimer: Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Sekuritas membuat informasi ini melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.
Sumber: Kementerian ESDM (rilis penetapan alokasi biodiesel tahun 2026), Kepmen ESDM (No. 439.K/EK.01/MEM.E/2025, No. 113.K/EK.05/MEM.E/2026, dan No. 271.K/EK.01/MEM.E/2026), Laporan keuangan konsolidasian SMAR dan TBLA per 30 Juni 2026, Smartnews Juni 2026 dan materi Production Infrastructure TBLA, Argus Media dan Palm Oil Magazine untuk pemberitaan alokasi B50, Bloomberg Technoz untuk pernyataan Ditjen EBTKE soal skema kuota
Artikel Terkait





Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!