Kinerja GOTO Positif, Investor Masih Menanti Kenaikan Saham
Salsabilla•August 6, 2026

Key Takeaways
- GOTO mencetak laba bersih Rp252 miliar pada kuartal II 2026 dan menjadi kuartal kedua berturut turut dengan laba, sementara adjusted EBITDA Grup menembus Rp1,01 triliun untuk pertama kalinya.
- Pendapatan bersih tumbuh 31% menjadi Rp5,65 triliun dengan Core GTV melonjak 83% menjadi Rp164,3 triliun.
- Segmen fintech menjadi penopang utama dengan adjusted EBITDA Rp481 miliar atau naik 447%, sedangkan on demand services (ODS) tetap solid di Rp464 miliar.
- Panduan adjusted EBITDA Grup 2026 dipertahankan di Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun, meski target ODS diturunkan akibat penyesuaian komisi ojol 8%.
- Harga saham masih tertahan di Rp50 karena penjualan bersih investor asing senilai Rp1,74 triliun dan antrean jual yang menumpuk hingga ratusan juta lot.
Sepanjang 2026, banyak investor dan trader menghadapi situasi yang terasa membingungkan. Laporan keuangan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) terus membaik dari kuartal ke kuartal, tetapi harga sahamnya nyaris tidak bergerak.
Pada paruh pertama tahun ini, emiten teknologi tersebut mencetak laba bersih dua kuartal berturut turut. Adjusted EBITDA Grup bahkan menembus Rp1 triliun dalam satu kuartal untuk pertama kalinya.
Jarak antara kinerja dan harga saham itu sebenarnya bisa ditelusuri penyebabnya. Mari simak pembahasan berikut mengenai kinerja GOTO pada kuartal II 2026, kontribusi setiap segmen usaha, alasan harga tertahan, serta hal yang perlu dipantau ke depan oleh investor dan trader.
Seberapa Kuat Kinerja GOTO pada Kuartal II 2026?
Sebelum menilai pergerakan harga, ada baiknya melihat lebih dulu kinerja fundamental yang menjadi dasar optimisme manajemen. Pada kuartal II 2026, GOTO berhasil membukukan laba bersih Rp252 miliar, naik dari Rp171 miliar pada kuartal sebelumnya. Laba usaha tercatat Rp364 miliar, sementara sepanjang semester I mencapai Rp782 miliar dan berbalik dari rugi usaha Rp172 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Perbaikan juga terlihat pada adjusted EBITDA, yaitu laba sebelum bunga, pajak, penyusutan, dan amortisasi yang telah disesuaikan dari pos non rutin. Indikator tersebut menembus Rp1,01 triliun dalam satu kuartal. Adjusted free cash flow atau arus kas bebas setelah penyesuaian juga berbalik positif menjadi Rp809 miliar, dengan saldo kas dan setara kas Rp23,7 triliun per akhir Juni 2026.
Tabel 1. Ringkasan Kinerja GOTO Kuartal II 2026 Dibanding Periode yang Sama Tahun Sebelumnya
| Indikator | 2Q25 | 2Q26 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Core GTV | Rp89,76 triliun | Rp164,33 triliun | naik 83% |
| Pendapatan bersih | Rp4,33 triliun | Rp5,65 triliun | naik 31% |
| Adjusted EBITDA Grup | Rp427 miliar | Rp1,01 triliun | naik 137% |
| Laba usaha | Rp21 miliar | Rp364 miliar | naik signifikan |
| Adjusted free cash flow | negatif Rp413 miliar | positif Rp809 miliar | berbalik positif |
Segmen Mana yang Menjadi Penopang Utama?
Angka konsolidasi tersebut akan lebih mudah dipahami bila dilihat dari kontribusi masing masing lini usaha. Berikut dua segmen yang menentukan arah kinerja pada kuartal II 2026.
1. Fintech Melalui GoPay yang Tumbuh Paling Agresif
Segmen fintech mencatat adjusted EBITDA sebesar Rp481 miliar atau naik 447% secara tahunan, sekaligus menjadi kontributor laba operasional terbesar di dalam grup. Core GTV segmen ini mencapai Rp157,3 triliun dengan pendapatan bersih Rp2,07 triliun atau tumbuh 53%. Dari sisi pengguna, monthly transacting users atau jumlah rata rata pengguna yang bertransaksi tiap bulan berada di angka 28,8 juta, dengan total 2,4 miliar transaksi atau naik 91%. Loan book, yaitu total pinjaman yang masih beredar, tumbuh menjadi Rp11 triliun dengan rasio kredit macet di atas 90 hari tetap terjaga di 0,8%.
2. On Demand Services Menjaga Margin di Tengah Perlambatan GTV
Segmen on demand services (ODS) yang menaungi Gojek juga berhasil membukukan adjusted EBITDA positif sebesar Rp464 miliar atau naik 41%, dengan margin terhadap Core GTV naik dari 2,0% menjadi 2,8%. Meskipun nilai transaksi segmen ini hanya tumbuh 2%, tetapi pendapatan bersih naik 20% sehingga menunjukkan perbaikan pada sisi monetisasi. Lini mobility mencatat adjusted EBITDA Rp290 miliar atau naik 58% meski nilai transaksinya turun 3%, sementara lini delivery mencatat Rp223 miliar atau naik 20% dengan nilai transaksi tumbuh 5%.
*Angka mobility dan delivery disajikan sebelum alokasi biaya korporasi.
Mengapa Harga Saham GOTO Belum Ikut Naik?
Pertanyaan yang kemudian muncul, mengapa rangkaian angka positif tersebut belum tercermin pada harga saham di bursa. Setidaknya ada empat faktor yang saling berkaitan. Berikut penjelasannya.
1. Tekanan Jual Bersih Investor Asing yang Sangat Besar
Pergerakan harga saham tidak hanya ditentukan oleh laporan keuangan, tetapi juga oleh pihak yang menguasai sisi jual dan beli di pasar. Foreign broker summary sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencerminkan selisih yang cukup lebar antara aktivitas pembelian dan penjualan.
Tabel 2. Arus Dana Investor Asing pada Saham GOTO Periode Januari sampai Juli 2026
| Komponen | Nilai | Volume |
|---|---|---|
| Total net buy | Rp116,2 miliar | 8,53 juta lot |
| Total net sell | Rp1.853,5 miliar | 414,09 juta lot |
| Net foreign flow | negatif Rp1,74 triliun | negatif 405,56 juta lot |
Nilai penjualan bersih tersebut hampir enam belas kali lipat dari nilai pembelian bersih. Selama pasokan saham sebesar itu belum terserap pasar, harga akan sulit beranjak meski fundamental emiten terus membaik.
2. Penyesuaian Komisi Ojol yang Baru Terasa pada Paruh Kedua
Komisi mitra pengemudi roda dua Gojek turun menjadi 8% efektif 1 Juli 2026 sesuai ketentuan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026. Lini tersebut menyumbang sekitar 7% dari pendapatan bersih grup, sehingga dampaknya tidak menyentuh seluruh bisnis. Meskipun begitu, manajemen memperkirakan dampak bersih sekitar Rp300 miliar terhadap adjusted EBITDA segmen ODS pada semester II 2026, dan panduan segmen tersebut untuk 2026 diturunkan menjadi Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun.
3. Kekhawatiran atas Status di Indeks Global
MSCI, penyedia indeks acuan yang menjadi rujukan banyak manajer investasi global, memutuskan untuk tidak melakukan perubahan terkait GOTO pada peninjauan indeks Mei 2026. Keputusan tersebut dipengaruhi oleh pertimbangan likuiditas saham serta harga yang masih bertahan di batas minimum perdagangan bursa. Peninjauan berikutnya dijadwalkan pada Agustus 2026, namun hasilnya masih belum dapat dipastikan. Kondisi ini membuat sebagian investor dan trader memilih menunggu kejelasan sebelum meningkatkan eksposur investasinya.
4. Pasar Menunggu Bukti Konsistensi Laba
Dua kuartal laba umumnya belum dianggap cukup untuk membentuk track record yang meyakinkan, terutama bagi investor institusi. Sebagian laba pada periode ini juga dipengaruhi pos non operasional seperti selisih kurs, sehingga kualitas laba masih dicermati. Proses re-rating atau penilaian ulang valuasi oleh pasar biasanya baru terjadi setelah profitabilitas terbukti bertahan dalam beberapa periode berturut turut.
Apa yang Perlu Dipantau Investor dan Trader ke Depan?
Alih-alih menebak arah pergerakan harga, investor dan trader dapat fokus memperhatikan indikator yang paling menentukan. Dua hal berikut layak dipantau secara berkala.
1. Perbandingan Antrean Permintaan dan Penawaran
Orderbook merupakan indikator yang paling mencerminkan keseimbangan antara permintaan dan penawaran saham. Melalui data ini, investor dan trader dapat melihat jumlah saham yang sedang menunggu untuk dijual maupun dibeli pada berbagai tingkat harga.

Sisi bid yang kosong menandakan tidak ada pembeli yang perlu mengantre, sebab setiap permintaan langsung terserap oleh antrean jual di harga Rp50. Antrean pada harga tersebut setara sekitar Rp1,12 triliun, sedangkan nilai transaksi yang terserap pada potret itu hanya Rp1,14 miliar.
Dengan laju serapan seperti itu, dibutuhkan waktu yang sangat panjang untuk menghabiskan antrean di harga Rp50. Selama tumpukan tersebut belum terkikis, harga cenderung bertahan di batas bawah, dan setiap upaya kenaikan masih dibatasi oleh antrean lanjutan di harga Rp51 sampai Rp59.
2. Katalis Fundamental yang Menentukan Arah Berikutnya
Selain kondisi papan perdagangan, sejumlah katalis fundamental akan menentukan arah harga berikutnya. Laporan kuartal III 2026 menjadi periode pertama yang memuat dampak penuh komisi 8%, sekaligus menguji konsistensi adjusted EBITDA Grup terhadap panduan Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun.
Realisasi panduan segmen fintech yang dinaikkan menjadi Rp1,7 triliun hingga Rp1,8 triliun serta kualitas loan book juga perlu diperhatikan, begitu pula hasil peninjauan indeks pada Agustus 2026 dan perkembangan likuiditas saham. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah munculnya pembeli berskala besar yang mampu menyerap antrean di harga Rp50, serta keberlanjutan arus kas bebas yang mulai positif sebagai indikator kesehatan operasional. Seluruh uraian dalam artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi investasi.
Pantau Perkembangan GOTO Secara Berkala dengan Aplikasi Ajaib
Kini Anda sudah memahami bahwa perbaikan kinerja GOTO belum otomatis diikuti kenaikan harga sahamnya. Laba yang mulai konsisten dan segmen fintech yang tumbuh pesat berhadapan dengan antrean jual yang masih menahan harga di level terbawah.
Kombinasi antara pembacaan laporan keuangan dan pemantauan orderbook secara harian akan memberi gambaran yang lebih utuh. Anda dapat mengikuti pembaruan data dan analisis saham berikutnya melalui aplikasi Ajaib yang tersedia di Google Play Store dan Apple App Store.
Profil Penulis
Writer
-
Disclaimer: Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Sekuritas membuat informasi ini melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.
Sumber: GoTo Group 2Q 2026 Results Presentation, Laporan keuangan konsolidasian PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk per 30 Juni 2026, Rekapitulasi broker summary saham GOTO periode Januari sampai Juli 2026, Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026, Pengumuman MSCI Global Standard Indexes, Mei 2026
Artikel Terkait





Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!