Ekonomi

Sistem Barter dan Penerapannya di Era Modern

Sumber: The New York Times

Ajaib.co.id – Sebelum dunia mengenal alat tukar seperti saat ini, pada zaman dahulu, masyarakat melakukan kegiatan tukar menukar untuk mendapatkan barang yang diinginkan. Kegiatan tukar menukar ini lazim disebut sistem barter. 

Dahulu kala, bisa jadi kamu menukarkan 1 karung beras, untuk mendapatkan 5 ekor ayam. Lucu, bukan? Nah, kalau begitu, bagaimana penerapan kegiatan tukar menukar barang tersebut dengan era sekarang? Apakah sistem barter masih umum digunakan? Simak penjelasannya, berikut ini yuk!

Apa itu Barter?

Dewasa ini, alat pembayaran yang sah adalah uang. Sebagai alat pembayaran sah yang dikeluarkan oleh pemerintah suatu negara, uang digunakan untuk menilai suatu barang. Alhasil, bila kamu menginginkan barang, kamu harus mengeluarkan sejumlah uang yang sesuai dengan nominal barang tersebut.

Namun, sebelum masyarakat mengenal mata uang sebagai alat pembayaran, barter adalah cara transaksi yang lazim digunakan. Sistem barter sebenarnya sudah terlebih dahulu dilakukan yaitu pada masa 6000 tahun sebelum masehi oleh suku-suku di Mesopotamia. Kala itu, masyarakat menyadari bahwa hasil produksi mereka tidak dapat memenuhi semua kebutuhan. Karenanya, barang yang banyak digunakan dalam kegiatan barter adalah makanan, rempah-rempah, bahkan senjata.

Menurut KBBI, barter adalah perdagangan dengan saling bertukar barang. Dalam hal tukar-menukar tersebut, suatu barang tidak memiliki nilai yang pasti. Hal ini yang kemudian menjadi masalah. Transaksi tukar-menukar tersebut selayaknya harus disepakati oleh kedua belah pihak, sehingga barang tersebut memiliki nilai yang berbeda-beda dalam transaksi dalam masyarakat.

Selanjutnya, yang perlu kamu ketahui adalah barter memiliki beberapa sifat, yaitu:

  • Pihak yang mau melakukan pertukaran harus memiliki barang untuk ditukarkan;
  • Pihak yang akan melakukan pertukaran harus saling membutuhkan barang yang akan ditukarkan dan penukarannya dilakukan dalam waktu bersamaan;
  • Barang yang ditukarkan harus memiliki nilai yang setara.

Nah, akibat mengutamakan asas manfaat, dalam  pelaksanaannya, sulit untuk mencari orang yang mau menukarkan barang miliknya. Misalnya, bila kamu membutuhkan sekarung beras tetapi tetangga kamu hanya memiliki seekor sapi, relatif tidak mungkin kalau tetanggamu mau menukarkan seekor sapinya hanya untuk mendapatkan sekarung beras darimu.

Dengan demikian, jalan terbaik adalah dengan memotong seekor sapi tersebut menjadi beberapa bagian kecil. Masalahnya, berapa banyak potongan yang sapi yang harus diberikan tetanggamu sehingga bisa senilai dengan sekarung beras? Jawabannya, tergantung kesepakatan!

Dalam praktiknya, ada beberapa jenis barter yang umum digunakan yakni:

  1. Barter langsung, yaitu kegiatan tukar menukar yang dilakukan oleh kedua belah pihak secara langsung.
  2. Barter alih, yaitu ketika penerima barter mengalihkan barang hasil barter ke pihak lain yang lebih dapat memanfaatkan nilai barang tersebut.
  3. Barter imbal alih, yaitu barter yang terjadi akibat adanya kerjasama untuk saling bertukar barang atau jasa. 

Barter membuat manusia menjadi lebih selektif dalam memilih barang sehingga kualitas barang bisa tetap terjaga dengan baik. Sistem barter juga dapat mengurangi kesenjangan sosial antara kaya dan miskin karena masing-masing individu saling membutuhkan suatu barang. 

Bagaimana Penerapan Sistem Barter di Era Saat ini?

Walaupun barter adalah warisan lama dalam sistem perdagangan, bukan berarti menggunakan sistem barter sudah tidak digunakan lagi. Sistem barter secara tradisional masih sering dijumpai di beberapa daerah di Indonesia seperti Pasar Terapung Lok Baintan (Kalimantan Selatan) dan Pasar Flores (Nusa Tenggara Timur). 

Di era saat ini, penerapan barter lebih modern, kompleks, dan variatif. Hal yang dibarterkan bukan lagi barang untuk kebutuhan pangan, melainkan barang-barang sandang hingga aktiva perusahaan baik yang berwujud dan tidak berwujud. Menarik, kan?

Nah, di bawah ini adalah contoh penerapan barter di era modern, antara lain:

  1. Tukar tambah atau trade in, yaitu menukar barang baru dengan barang lama. Lalu apa yang membedakan dengan barter tradisional? Tukar tambah diibaratkan menambah sejumlah nilai umumnya berupa uang terhadap selisih antara barang yang lama dengan yang baru. Tukar tambah ini lebih sering terjadi pada barang-barang elektronik seperti laptop, telepon genggam, TV dan barang elektronik lainnya. Buat kamu yang ingin mendapatkan barang baru tetapi anggaran kamu masih belum memadai, opsi yang bisa kamu ambil adalah dengan menggunakan tukar tambah. Jangan khawatir, praktik ini sudah banyak terjadi di berbagai toko dan berbagai platform penjualan, kok.
  2. Menukarkan kewajiban atau utang perusahaan menjadi saham (debt to equity swap). Hal ini mungkin yang paling berbeda dengan konsep barter tradisional. Utang dan saham adalah aktiva yang tidak memiliki wujud. Saat sebuah perusahaan mengonversi utangnya menjadi saham, tindakan ini harus mendapatkan persetujuan dari pemberi utang. Selama masing-masing pihak setuju, cara ini lazim dalam kegiatan bisnis antar perusahaan. Salah satu contohnya adalah yang dilakukan oleh PT Hanson International Tbk (MYRX). Perseroan pernah melakukan negosiasi dengan pemberi utang yakni Bank Victoria untuk menukar pinjamannya sebesar Rp20,5 miliar dengan 25 persen kepemilikan sahamnya di PT Putra Asih Laksana. 
  3. Pengambilalihan aset sebagai bentuk penyelesaian utang. Hal ini umumnya terjadi dalam kredit dengan agunan, karena memiliki sifat yang sama yaitu masing-masing pihak mempunyai barang yang akan dipertukarkan dan menyetujui nilai penukarannya. Sistem kredit dengan agunan merupakan turunan dari sistem barter. Umumnya, dalam sistem kredit dengan agunan, penerima pinjaman juga dapat menukarkan utang yang dimiliki dengan aset yang dijaminkan sebagai bentuk penyelesaian. 

Walau sudah ada sejak zaman dulu, nyatanya barter masih sering terjadi dalam sistem ekonomi dengan sedikit mengalami perubahan dalam penerapannya. Bahkan, barter adalah salah satu opsi Indonesia untuk mendapatkan alat utama sistem pertahanan (alutsista) negara lain.

Pada tahun 2017 yang lalu, Indonesia dan Rusia sepakat melakukan barter terhadap pembelian alutsista berupa pesawat tempur Sukhoi SU-35 yang ditukarkan dengan nilai ekspor Indonesia ke Rusia. Nilai pembelian pesawat SU-35 sebesar US$1,14 miliar ini memberikan potensi ekspor ke Rusia sebesar 50 persen dari nilai pembelian tersebut, atau setara sebesar US$570 juta. Hebat, bukan?

Oh iya, jika saat ini kamu juga sedang memikirkan untuk berinvestasi, tidak ada salahnya untuk mencari tahu instrumen seperti reksa dana ataupun saham. Kamu juga bisa memulainya dengan menggunakan aplikasi investasi Ajaib yang menyediakan platform investasi online yang praktis, aman, dan nyaman.

Sumber: Apa itu Barter?, Barter Adalah, RI Barter Sukhoi Rusia dengan Kopi, Begini Mekanismenya, dan Sejarah Uang dalam Peradaban Manusia: Dari Barter Hingga Bitcoin, dengan perubahan seperlunya.

Artikel Terkait