Investasi

Nasib Kurs Dollar Australia Sejak Pandemi Virus Corona

kurs dollar australia

Ajaib.co.id – Wabah virus corona menghantui perekonomian global, termasuk kurs dollar Australia. Lalu, bagaimana nasib dari kurs dollar Australia ini? Untuk menjawabnya, simak ulasan berikut ini.

Nilai tukar rupiah terpantau menguat tajam dalam upaya melawan dollar Australia di awal perdagangan pada akhir pekan ini. Namun menjelang penutupan, penguatan terus terjadi dan kurs dollar Australia semakin tergerus.

Pada awal perdagangan, nilai tukar rupiah sempat menguat 1,45 persen yakni pada level Rp9.726 per dollar Australia. Namun demikian, penguatan mata uang terus terpangkas sampai dengan berbalik melemah 0,19 persen yakni pada level Rp9.887 per dollar Australia tengah sesi perdagangan.

Pergerakan ini juga sama yang mana terjadi pada pekan lalu dimana rupiah terpantau pada awal perdagangan melesat menguat bahkan hingga nyaris menuju penguatan 3 persen, tetapi pada akhir perdagangan justru rupiah malah berbalik melemah 0,7 persen.

Rupiah saat ini berada pada dekat level terlemah selama 9 bulan yakni Rp9.988 per dollar Australia atau setelah sempat amblas pada lebih dari 10 persen dalam sepekan terakhir. Padahal hari Rabu pekan lalu, rupiah sempat bertengger dan berada pada level terkuat sejak Desember 2011 dalam melawan kurs dollar Australia.

Disisi lain dollar Australia malah justru mendapat tenaga untuk menguat setelah bank sentral Australia atau yang dikenal dengan Reserve Bank of Australia ataupun RBA melakukan pemangkasan suku bunga acuannya kepada rekor terendah di pekan lalu.

Disisi lain, saat RBA memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) melaju ke rekor terendah sepanjang masa yakni 0,25 persen, maka pandemi virus corona atau Covid-19 yang mengancam pertumbuhan pada ekonomi Australia dan juga global menjadi sebuah penyebab suku bunga menjadi terpangkas.

Adapun jumlah kasus Covid-19 di Australia saat ini mengalami lonjakan yang sangat signifikan. Ini dimulai pada awal pekan yang mana ada 1.314 kasus positif virus corona, yang sementara pada hari ini terus mengalami pertambahan lebih daripada dua kali lipat menjadi 2.810 kasus.

Guna melakukan peminimalisiran daripada dampak Covid-19 kepada perekonomian global, maka selain melakukan pemangkasan suku bunga, RBA juga sudah melakukan pengelontorkan daripada program pembelian aset ataupun quantitative easing/QE.

Dalam RBA ini juga mengatakan akan melakukan pembelian pada obligasi pemerintah di pasar sekunder hingga yield tenor 3 tahun yang berada pada level 0,25 persen.

Adapun suku bunga yang diterapkan adalah sebesar 0,25 persen dan akan ditahan sampai dengan pasar tenaga kerja menuju bentuk daripada full employment dan juga RBA yakin dengan tingkat inflasi yang akan menuju target 2 persen sampai dengan 3 persen.

Meski demikian, pada dasarnya ini bukanlah merupakan sebuah kebijakan RBA yang terus membawa dollar Australia menguat, namun lebih tepatnya melanjutkan aksi jual di pasar keuangan Indonesia yang juga dengan membuat rupiah terus menerus mengalami kemerosotan. Adapun aksi jual tersebut terlihat dari anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditransaksikan di Bursa saham serta naiknya yield obligasi.

Disisi lain Bank Indonesia atau BI mengatakan bahwa aliran modal asing saat ini sudah keluar atau capital outflow yang baik dari Surat Berharga Negara (SUN), obligasi, dan saham yang sudah mencapai angka Rp125 triliun secara year-to-date (YTD).

Disisi lain, dalam dua hari terakhir, adapun aliran modal terus kembali masuk, yang mana IHSG mampu mencetak penguatan tajam dan ini diikuti dengan yield obligasi yang juga turun. Namun, sayangnya ini belum mampu mendongkrak kinerja rupiah dalam upaya untuk melawan dollar Australia. Walau demikian ini tentunya akan meski menjadi lebih stabil apabila dibandingkan dengan kondisi pada pekan lalu yang terus mengalami pelemahan.

Adapun kurs dolar Australia yang mengalami penguatan tipis melawan rupiah pada perdagangan, tapi jika melihat sejak awal tahun mata uang Kanguru ini sudah merosot tajam, dan berada di level terlemah sejak Agustus 2013.

dollar Australia juga terpantau mengalami pelemahan tipis sebesar 0,03 persen di pasar spot, sementara apabila ini dilihat sejak perdagangan pertama 2020, maka kurs dollar Australia sudah mengalami penurunan sebesar 4,2 persen melawan rupiah.

Dengan model kondisi ekonomi global yang demikian, maka diharapkan kondisi ini akan terus bisa membaik pada tahun ini setelah berbagai kesepakatan dagang fase I antara Amerika Serikat (AS) dengan China suadah memasuki kesepakatan. Sementara itu rupiah juga sudah mendapat keuntungan mengingat nilai daripada investasi di Indonesia sudah memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai investasi di Australia.

Sementara itu, imbal hasil daripada obligasi Indonesia dengan tenor 10 tahun hari ini sudah berada pada level 6,755 persen, sementara dengan obligasi Australia tenor yang sama memberikan imbal hasil sebesar 1,118 persen.

Adapun selisih daripada yield yang besar ini serta kondisi ekonomi Indonesia yang terliaht cukup lebih stabil membuat rupiah terus berjaya. Semntara itu, Australia juga masih mengalami pelambatan ekonomi pada pasar tenaga kerja yang juga melemah, diikuti dengan nilai inflasi yang rendah.

Bank sentral Australia juga sudah melakukan prediksi bahwa tidak lama lagi akan melakukan pemangkasan suku bunga , yang mana ini bisa membuat kurs dollar Australia bisa mengalami penurunan secara lebih dalam lagi.


 Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.

Artikel Terkait