Reksa Dana

Mengenal Diversifikasi dalam Reksa Dana dan Manfaatnya

Ajaib.co.id – Di tengah gejolak pasar keuangan yang terjadi awal tahun 2020 ini, banyak produk reksa dana terutama saham yang kinerjanya memerah. Tak tanggung-tanggung, catatan return satu tahunan untuk produk reksa dana saham tertentu bahkan anjlok hingga 20-30 persen atau lebih. Karena itu, diperlukan diversifikasi dalam reksa dana supaya risiko menjadi tersebar.

Semua investor perlu memahami bahwa kondisi pasar itu tidak menentu. Setiap investasi mengandung risiko penurunan yang sebanding dengan potensi keuntungannya. Penurunan bisa berlangsung sementara saja ataupun secara permanen. Inilah alasan mengapa kamu perlu melakukan diversifikasi dalam reksa dana. Jangan simpan uangmu dalam satu jenis reksa dana yang sama.

Reksa dana dapat digolongkan menjadi beberapa jenis, yaitu reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, campuran, dan saham. Ada pula jenis reksa dana terproteksi dan reksa dana dolar yang memiliki kekhasan tersendiri.

Setiap jenis reksa dana itu mengandung potensi laba dan tingkat risiko berbeda-beda.

Boleh jadi kamu sudah menyimpan uangmu dalam beberapa produk reksa dana dari manajer investasi berbeda, misalnya BNI AM, Sinarmas, dan Trimegah. Namun, kalau semua produk itu tergolong satu jenis reksa dana yang sama (misalnya reksa dana saham), maka risiko yang kamu tanggung tetap akan lebih besar daripada jika kamu membagi uangmu ke dalam beberapa jenis reksa dana berbeda.

Cara Melakukan Diversifikasi dalam Reksa Dana

Secara umum, diversifikasi investasi adalah penganekaragaman jenis produk investasi yang dilakukan oleh investor untuk menyeimbangkan potensi keuntungan dan tingkat risiko kerugian. Contohnya, seorang investor saham mengoleksi beberapa emiten dari sektor berbeda dalam portofolionya, termasuk ITMG (tambang), TLKM (infrastruktur), dan BBCA (perbankan).

Bagaimana cara melakukan diversifikasi dalam reksa dana? Sederhana saja: bagikan dana investasimu ke dalam beragam produk reksa dana yang memiliki tingkat risiko berbeda-beda.

Perhatikan urutan tingkat risiko reksa dana dari terendah hingga tertinggi berikut ini:

  1. Reksa dana pasar uang (risiko rendah)
  2. Reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana campuran (risiko menengah)
  3. Reksa dana saham (risiko tinggi)

Nah, sekarang periksa portofoliomu. Berapa persentase dana yang dialokasikan ke setiap jenis reksa dana? Jika semua dana investasi hanya dimasukkan ke reksa dana saham, maka kamu perlu mengoleksi reksa dana lain yang memiliki tingkat risiko lebih rendah hingga mencapai persentase tertentu dari keseluruhan nilai portofoliomu.

Berapa besar persentase yang tepat untuk diversifikasi reksa dana ideal? Setiap investor dapat merancang rencana diversifikasi portofolio masing-masing sesuai tujuan investasinya. Sebagai gambaran awal, simak beberapa contoh berikut ini:

  1. Investor konservatif atau investor yang memiliki target investasi jangka pendek (di bawah 2 tahun): Reksa dana pasar uang 70-80% dan reksa dana pendapatan tetap 20-30%.
  2. Investor moderat atau investor yang memiliki target investasi jangka menengah (2-5 tahun): Reksa dana pendapatan tetap 70-80% dan reksa dana pasar uang 20-30%.
  3. Investor agresif atau investor yang memiliki target investasi jangka panjang (lebih dari 5 tahun): Reksa dana saham 70-80% dan reksa dana pasar uang atau pendapatan tetap 20-30%.

Beberapa contoh tersebut hanya gambaran saja. Kamu bisa merancang proporsi sendiri. Misalnya investor yang punya target jangka panjang dan profil risiko moderat dapat mengatur reksa dana pasar uang 40%, reksa dana pendapatan tetap atau campuran 40%, dan reksa dana saham 20%.

Manfaat Diversifikasi dalam Reksa Dana

Ada orang menginginkan keuntungan sebesar-besarnya dan bersedia menanggung risiko tinggi (agresif), sehingga memilih untuk berinvestasi pada jenis reksa dana saham saja. Ada pula orang yang diarahkan oleh agen untuk membeli reksa dana saham karena hasil survei menunjukkan dia punya profil risiko tinggi. Dalam hal ini, kamu perlu tahu bahwa profil risiko dari hasil survei itu cuma petunjuk awal.

Hanya karena kamu punya profil risiko agresif, tidak lantas berarti kamu harus mengikuti reksa dana saham saja. Hanya karena kamu punya profil risiko konservatif, tidak lantas berarti kamu harus mengikuti reksa dana pasar uang saja. Investor dengan profil risiko apa pun perlu melakukan diversifikasi. Toh, kamu pasti tidak mau seluruh uangmu langsung ludes ketika terjadi gejolak kan!?

Diversifikasi memang tidak menjamin kamu tidak akan mengalami kerugian sama sekali. Namun, ada dua manfaat diversifikasi yang menjadikannya penting bagi semua investor, yaitu:

1. Mengurangi risiko investasi

Pepatah mancanegara mengatakan, “Don’t put all your eggs in one basket (jangan taruh semua telurmu dalam satu keranjang)”. Pepatah ini perlu diingat-ingat oleh semua investor. Mengapa demikian? Karena jika semua telur (“dana investasi”) ditaruh dalam satu keranjang, maka semuanya akan pecah ketika keranjang itu jatuh.

Hal itu berlaku pula dalam investasi reksa dana. Ketika bursa saham ambruk, investasi reksa dana saham akan ikut turun. Tapi investasi dalam jenis reksa dana lain bisa jadi tetap positif. Sebaliknya, ketika return investasi reksa dana pasar uang menipis karena bunga terus menurun, return reksa dana lain bisa jadi malah melonjak.

2. Mengoptimalkan return

Ibarat kamu mengirim “telur” dalam “beberapa keranjang” kepada orang tuamu via dua atau tiga ojek online, maka salah satu keranjang bisa jadi akan sampai lebih cepat ke rumah mereka. Demikian pula, ketika kamu membagi dana investasi ke dalam beberapa jenis reksa dana, maka kamu bisa mencapai target investasi lebih cepat.

Seandainya kamu punya profil risiko konservatif, maka kemungkinan kamu merasa ragu untuk membeli produk reksa dana pendapatan tetap atau reksa dana saham yang mengandung risiko lebih besar dari reksa dana pasar uang. Tapi menyimpan uangmu dalam reksa dana pasar uang saja bukanlah solusi untuk menghindari skenario “keranjang jatuh” seperti perumpamaan di atas.

Jadi, diversifikasi tetap penting untuk dilakukan. Kamu malah bisa mendapatkan return lebih optimal ketika berani mengoleksi jenis reksa dana non-pasar uang juga.

Hanya saja, ada satu hal yang perlu diingat: Jangan sampai melakukan diversifikasi secara berlebihan. Diversifikasi seperti apa yang berlebihan itu? Diversifikasi berlebihan bisa terjadi ketika investor mengoleksi terlalu banyak ragam produk reksa dana. Dalam situasi seperti itu, investor akan kebingungan mengelola persentase alokasi dan memantau kinerja setiap produk reksa dana.

Yang penting dalam diversifikasi ini, kamu perlu menyeimbangkan proporsi persentase alokasi dana investasi ke setiap jenis reksa dana. Agar tidak berlebihan, fokuslah pada 1-2 produk saja untuk setiap jenis reksa dana.

Aplikasi Ajaib menyediakan semua jenis reksa dana yang dibutuhkan oleh investor dalam melakukan diversifikasi. Calon investor dapat memanfaatkan fitur filter untuk memilih produk reksa dana berdasarkan jenisnya, kemudian mengurutkan berdasarkan histori return tertinggi hingga terendah. Setiap produk reksa dana dikelola oleh manajer investasi terkemuka yang sudah dipercaya investor Indonesia selama bertahun-tahun.

Artikel Terkait