Investasi, Reksa Dana

Mengenal Benchmark dalam Reksa Dana

Gambar Ilustrasi Langkah Awal Mengenal Investasi Reksa Dana
Gambar Ilustrasi Langkah Awal Mengenal Investasi Reksa Dana

Ajaib.co.id – Untuk bisa mengetahui apakah sebuah reksa dana memiliki kinerja yang baik atau tidak maka kita harus mengenal sebuah tolak ukur atau benchmark yang dijadikan acuan kinerja.

Benchmark untuk setiap jenis reksa dana berbeda-beda. Misalnya saja reksa dana saham, maka benchmark yang dipakai adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Jika kamu memilih reksa dana saham maka kamu harus bandingkan kinerjanya dengan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI). Begitu pula dengan reksa dana pasar uang misalnya saja Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia (MJPASY).

Tabel di atas adalah tabel kinerja dari MJPASY. Sebuah reksa dana yang dikelola dengan baik maka akan menghasilkan kinerja yang lebih tinggi dari benchmark-nya. Dalam hal ini benchmark yang digunakan adalah Time Deposit Sharia karena MJPASY adalah Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) syariah. Portofolio RDPU syariah sendiri terdiri dari instrument pasar uang syariah seperti deposito syariah dan sukuk.

Kerja seorang fund manager adalah memilih instrumen keuangan yang sesuai lalu meraciknya menjadi sebuah portofolio. Racikannya bisa dianggap mujarab jika bisa jauh mengalahkan benchmark yang dijadikan acuannya. Kinerja reksa dana bisa dilihat dalam jangka waktu 1 bulan (1M), 3 bulan (3M), 6 bulan (6M), sejak awal tahun (Ytd), 1 tahun (1Yrs), 3 tahun (3Yrs), hingga sejak pembentukannya.

 Kamu bisa lihat di atas bahwa MJPASY sedikit lebih baik dari benchmark-nya. Dalam satu bulan terakhir (1M) kinerja benchmark menghasilkan keuntungan sebesar 0,37% sedangkan MJPASY menghasilkan 0,52%. Ternyata sepanjang produk ini diluncurkan MJPASY telah mengalahkan benchmark-nya, walau tipis saja, artinya sejauh ini kinerja MJPASY sudah baik. Semakin jauh persentase keuntungan yang diberikan sebuah reksa dana dibandingkan dengan benchmark-nya maka semakin baik.

Untuk memilih yang reksa dana terbaik kamu bisa cek terlebih dahulu apakah kinerjanya senantiasa  mengungguli benchmark, minimal menyamainya, atau tidak. Nah, kamu bisa tahu itu dari Fund Factsheet yang disediakan masing-masing reksa dana. Seperti ini misalnya;

Nah, kamu bisa perhatikan kotak merah yang sudah penulis tandai di atas. Kamu bisa nilai dan memperhatikan apakah kinerjanya sudah melebihi benchmarknya, minimal menyamainya, lalu kamu tentukan sendiri apakah reksa dana ini sudah sesuai ekspektasimu. Jika kamu mau, kamu bisa cek masing-masing kinerja melalui fund factsheet yang disediakan yang bisa kamu download di Tab keterangan di aplikasi penjual reksa dana Ajaib.

Rasio Keuangan untuk Evaluasi Kinerja

Untuk membantu kamu menilai perbandingan antara sebuah reksa dana dengan benchmarknya maka kamu perlu tahu beberapa rasio keuangan untuk evaluasi kinerja. 

  • Beta

Koefisien beta atau Beta saja adalah rasio untuk mengukur volatilitas atau risiko sistematik dibandingkan pasar secara keseluruhan. Koefisien beta didapat dari analisis regresi, kamu tidak perlu menghitungnya secara manual karena kini banyak tersedia secara instan di situs-situs keuangan, bahkan dalam fund factsheet juga disediakan.

Beta yang lebih besar dari 1,0 mengindikasikan NAB reksa dana naik dengan volatilitas lebih tinggi dari benchmarknya. Jika lebih rendah dari 1,0 maka nilai sebuah reksa dana naik tapi di bawah volatilitas benchmarknya. Jika bernilai negatif artinya berlawanan dengan benchmarknya.

Beberapa reksa dana tidak mencantumkan koefisien beta dalam rasio keuangan pada fund factsheet yang ditampilkan kepada investor padahal hal itu cukup berguna. Investor konservatif yang tidak menginginkan risiko tinggi bisa memili reksa dana dengan beta yang sama dengan 1,0 berbeda halnya dengan investor agresif yang mengingkan hasil yang lebih besar. Jika kamu adalah investor yang berani mengambil risiko untuk mendapat hasil yang lebih besar kamu bisa cari investasi dengan beta yang tinggi.

  • Standar Deviasi

Standar deviasi dalam reksa dana akan mengungkap seberapa jauh return reksa dana terdeviasi dari riwayat kinerjanya sendiri. Misalnya sebuah reksa dana biasa menghasilkan 5% per tahun, ada kondisi dimana pada tahun-tahun tertentu kinerjanya jauh melebihi 5%, atau bisa juga sebaliknya jatuh menjadi hanya 3% saja. Tolak ukur dalam perhitungan standar deviasi adalah kinerja sang fund manager di tahun-tahun sebelumnya.

Kamu tahu bahwa kinerja di masa lalu tidak menggambarkan kinerja di masa depan, seorang fund manager yang baik sekalipun pernah gagal dalam satu atau dua tahun tertentu. Kita sebagai investor menginginkan hasil yang terus meningkat, setidaknya stabil. Kita bisa pantau kinerja pengelola reksa dana dengan melihat standar deviasinya. Standar deviasi dilihat dari tingkat hasil per tahun sebuah investasi untuk mengukur volatilitas, dalam hal ini besar persentase keuntungan sebuah investasi.

Semakin besar standar deviasi yang diberikan maka artinya kinerja fund manager tersebut semakin baik dibandingkan kinerjanya sendiri di tahun-tahun sebelumnya. Misalnya seperti ini;

Kamu bisa lihat contoh di atas bahwa MJPASY dalam setahun terakhir menghasilkan kinerja yang lebih baik sebesar 0,03% dari biasanya. Kamu tidak perlu mengharapkan standar deviasi yang besar, minimal sebesar sebelumnya sudah cukup, yang penting bernilai positif. Selama bernilai positif, artinya kinerjanya positif lebih baik dari sebelum-sebelumnya, minimal setara konsisten seperti sebelumnya.

Tapi jika ada satu hari dimana standar deviasi sebuah reksa dana bernilai negatif maka kamu bisa waspada bahwa kinerja sang fund manager sedang kurang baik lebih jelek dari biasanya. Adakah yang seperti demikian? Ada. Oleh karena itu sebaiknya kamu pantau fund factsheet reksa danamu minimal tiga bulan sekali atau enam bulan sekali untuk lihat apakah kinerja fund managermu masih on track atau tidak.

  • Rasio Sharpe

Rasio Sharpe dikembangkan oleh William Sharpe, seorang ekonom dan pemenang nobel, yang mengukur kinerja dengan menyesuaikan risikonya. Sebuah investasi yang bagus menghasilkan excess return yang lebih besar dari risiko yang dihasilkan. Semakin besar rasio Sharpe sebuah reksa dana maka semakin baik kinerjanya dibandingkan dengan risikonya.

Dengan kata lain jika ada dua reksa dana memberikan return yang sama, pilihlah yang rasio sharpe nya lebih besar karena itu artinya mengandung lebih sedikit risiko. Nilai sharpe juga bisa bernilai negatif, artinya risiko bebasnya lebih besar dari return yang diberikan.

 Perhitungan sharpe ratio didasari pada rumus perhitungan di bawah ini:

Sharpe Ratio = (R– Rf ) / σp

Dimana:

Rp = Return of portofolio

RRisk – free rate

σpStandard deviation of the portofolio’s excess return

Kamu tidak perlu menghitungnya secara manual, kamu bisa dapatkan salah satunya melalui fund factsheet. Jika tidak tersedia kamu bisa cari di situs-situs keuangan seperti Yahoo Finance atau lainnya. Demkian semoga berguna!

Artikel Terkait