Kepopuleran Vape Bikin Perusahaan Rokok Kelimpungan

kepopuleran vape
kepopuleran vape

Di awal tahun 2010-an, anak muda di seluruh dunia mulai mengenal vape atau rokok elektrik. Kepopuleran vape melejit sampai seakan menjadi simbol ‘anak gaul’ di berbagai negara, tidak terkecuali di Indonesia.

Menurut situs Direct Vapor, rokok elektrik dibuat prototipenya pertama kali di tahun 1920-an. Lalu pada tahun 2003, sebuah perusahaan di Tiongkok mengenalkan rokok elektrik sesungguhnya. Misi mereka saat itu adalah membantu perokok berhenti mengebul asap. Meski banyak klaim tentang efek positif rokok elektrik, organisasi kesehatan dunia WHO meluncurkan kampanye dampak buruh dari e-cigarette.

Kontroversi Kepopuleran Vape

Banyak negara yang kemudian melarang pemakaian dan penjual vape. Beberapa hanya membuat regulasi yang ketat untuk melindungi warganya. Kemudian di tahun 2010-an, memodifikasi rokok elektrik menjadi tren di kalangan anak muda. Sayangnya, tren tersebut diikuti oleh kasus-kasus seperti meledaknya vape saat masih berada di mulut. Bahkan Juni tahun ini, seorang remaja di Salt Lake City, Amerika Serikat, mengalami kerusakan pada dagunya. Rokok elektrik yang sedang ia hisap meledak.

Beberapa kasus tersebut tidak menghalangi Adam Bowen and James Monsees untuk mendirikan Juul. Berkat pendanaan dari investor, mereka berhasil meluncurkan Juul menjadi rokok elektrik terpopuler di Amerika Serikat. Bonnie Herzog, analis dari Wells Fargo, memperikirakan market share Juul mencapai 75% saat ini.

Menanjaknya kepopuleran vape dirasa menjadi ancaman bagi produsen rokok konvensional. JTI Malaysia Bhd, misalnya, harus melalukan perampingan karyawan hingga 40% karena penjualan produk tembakau yang menurun. JTI Malaysia menuduh popularitas vape sebagai dalangnya. Mereka menambahkan bahwa penjualan produk tembakau ilegal menggerus keuntungan perusahaan.

British American Tobacco (BAT) juga dikabarkan akan melakukan efisiensi karyawan mulai 2020 nanti. Di Indonesia, BAT dikenal sebagai pemilik anak perusahaan Bentoel Group. Kinerja perusahaan-perusahaan di bawah BAT tidak menunjukkan hasil yang memuaskan karena berkurangnya konsumsi rokok. Hal tersebut kemudian dikaitkan dengan semakin populernya vape.

Sikap Raksasa Perusahaan Rokok

Berbeda dengan pesaing-pesaingnya, induk perusahaan PT HM Sampoerna TBK (HMSP), Philip Morris International (PMI), justru ingin ikut terjun ke industri rokok elektrik. Awalnya, PMI berencana untuk merger dengan Altria Group Inc, yang memiliki 35% saham di Juul.

Namun, wacana tersebut kandas setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan pernyataan akan menarik produk-produk rokok elektrik sehubungan dengan kasus-kasus berbahaya vape belakangan ini.

Menyusul gagalnya merger dua perusahaan raksasa tersebut, saham Philip Morris loncat hingga 6% sedangkan saham Altria turun 2,4%. Di Indonesia, nilai saham HMSP tidak terpengaruh keputusan gagal merger tersebut. Saham HMSP menetap di level Rp2.250 seperti penutupan hari sebelumnya.

PMI mengatakan mereka akan fokus kepada rokok elektrik buatas mereka sendiri yang bernama IQOS. PMI mengklaim bahwa produk tersebut sudah digunakan oleh 8 juta orang di 48 negara terutama di Kanada, Inggris, Jepang, dan Korea Selatan.

HMSP sendiri belum menunjukkan tanda-tanda akan menjual IQOS di Indonesia. Direktur Urusan Eksternal HM Sampoerna, Elvira Lianita, mengatakan pada Kontan bahwa mereka sedang menjajaki permasalahan regulasi dan kebijakan fiskal produk ini.


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.

Share to :
Kembangkan uangmu sekarang juga Lakukan deposit segera untuk berinvestasi
Artikel Terkait