IHSG Anjlok ke Bawah 6.000, Rupiah Melemah ke Rp17.900 per Dolar AS
Salsabilla•June 3, 2026

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026. Setelah sempat dibuka menguat, indeks berbalik arah dan jatuh lebih dari 3% hingga menembus level psikologis 6.000. Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang menyentuh Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS). Sentimen eksternal seperti penguatan dolar AS dan ketegangan geopolitik global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk pasar saham Indonesia.
Pergerakan IHSG Berbalik Tajam pada Perdagangan Pagi
IHSG sebenarnya memulai perdagangan dengan cukup positif. Pada awal sesi, indeks sempat naik 11,67 poin atau 0,19% ke posisi 6.207 dengan nilai transaksi mencapai Rp256 miliar. Sebanyak 229 saham menguat, 74 saham melemah, dan 309 saham bergerak stagnan. Namun, beberapa menit setelah perdagangan berlangsung aktif, IHSG berbalik turun dan terus mengalami tekanan jual. Hingga sekitar pukul 10.32 WIB, indeks tercatat melemah 3,37% ke level 5.986. Aktivitas perdagangan juga meningkat dengan nilai transaksi sekitar Rp9,4 triliun.
| Indikator | Data |
|---|---|
| Posisi IHSG awal perdagangan | 6.207 |
| IHSG pukul 10.32 WIB | 5.986 |
| Pelemahan IHSG | 3,37% |
| Saham turun | 609 saham |
| Saham naik | 87 saham |
| Saham stagnan | 114 saham |
| Nilai transaksi | Rp9,4 triliun |
| Volume perdagangan | 12,77 miliar saham |
| Frekuensi transaksi | 1,075 juta kali |
Tekanan terjadi hampir merata di pasar, dengan ratusan saham berada di zona merah. Saham-saham berkapitalisasi besar dan kelompok konglomerasi juga tercatat menjadi yang paling aktif diperdagangkan sepanjang sesi pagi.
Pelemahan Rupiah dan Sentimen Global Membebani Pasar
Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah pelemahan nilai tukar rupiah. Pada perdagangan pagi, rupiah kembali melemah ke level Rp17.900 per dolar AS. Level tersebut disebut sebagai rekor terlemah baru terhadap dolar AS dan semakin mendekati area psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Dari sisi eksternal, tingginya ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong permintaan terhadap aset safe haven, termasuk dolar AS. Selain itu, data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang masih solid membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed berkurang, sehingga mendukung penguatan dolar AS secara global.
Beberapa faktor yang menjadi perhatian pasar antara lain:
- Penguatan indeks dolar AS (DXY) yang meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
- Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang masih memicu ketidakpastian pasar global.
- Kebutuhan valas domestik yang meningkat untuk pembayaran bunga dan pokok utang luar negeri.
- Repatriasi investasi pada kuartal II yang mendorong permintaan dolar AS.
- Potensi dampak rebalancing FTSE Russell pada akhir Juni yang masih dicermati pelaku pasar.
Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat investor cenderung lebih berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk saham di pasar domestik.
Data Ekonomi Domestik Tunjukkan Sinyal Campuran
Di tengah tekanan pasar, sejumlah indikator ekonomi Indonesia sebenarnya menunjukkan perkembangan yang cukup beragam. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Mei 2026 tercatat berada di level 50,0, membaik dibandingkan April yang berada di 49,1 dan menandakan sektor manufaktur kembali keluar dari fase kontraksi.
Perbaikan PMI didorong oleh peningkatan permintaan domestik, di mana pesanan baru tumbuh untuk bulan kedua berturut-turut dengan laju tercepat sejak Februari. Namun, permintaan ekspor masih menjadi tantangan karena pesanan luar negeri turun untuk bulan ketiga berturut-turut dan mencatat penurunan terdalam sejak Agustus 2021.
Sementara itu, data ekonomi lainnya menunjukkan:
- Neraca perdagangan April 2026 masih mencatat surplus sebesar US$90 juta.
- Surplus tersebut lebih rendah dibandingkan Maret 2026 yang mencapai US$3,32 miliar.
- Indonesia telah mencatat surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
- Inflasi Mei 2026 tercatat 0,28% secara bulanan.
- Inflasi tahunan mencapai 3,08%.
- Undisbursed loan atau kredit yang telah disetujui namun belum dicairkan mencapai Rp2.527 triliun per Maret 2026.
Besarnya kredit yang belum dicairkan tersebut menjadi sinyal bahwa sebagian pelaku usaha masih cenderung menahan ekspansi di tengah ketidakpastian ekonomi dan kondisi pasar global yang dinamis.
Investasi Saham Lebih Mudah di Ajaib
Di tengah pergerakan pasar yang dinamis dan berbagai sentimen yang memengaruhi IHSG, penting bagi kamu untuk selalu mendapatkan informasi pasar terkini serta memantau peluang investasi secara praktis dalam satu aplikasi. Mulai perjalanan investasi saham dengan lebih mudah melalui Ajaib. Kamu bisa mengakses berbagai informasi pasar, analisis saham, hingga bertransaksi secara praktis. Download aplikasi Ajaib!
Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko. Pastikan Anda melakukan analisis mendalam sebelum mengambil keputusan investasi.
Sumber:
- https://www.cnbcindonesia.com/market/20260603102341-17-739664/breaking-news-dolar-sentuh-rp-17900-ihsg-anjlok-303
- https://investor.id/market/441281/ihsg-tibatiba-longsor-ini-biang-keroknya
Artikel Terkait





Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!