Ekonomi

Fakta Perang Dagang Amerika dan China di Tengah Pandemi

Ajaib.co.id – Perang dagang Amerika dan China yang sempat mereda awal tahun ini kembali memanas akibat pernyatan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akhir April lalu. Presiden AS Donald Trump mengatakan ia bisa saja melakukan sesuatu yang berhubungan dengan tarif dagang jika diperlukan.

Dilansir dari Reuters, Trump kembali mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait China. Ia menyatakan bahwa China adalah penyebab pandemi COVID-19 yang membuat puluhan ribu warga Amerika meninggal, mengakibatkan kontraksi ekonomi, hingga mengancam potensi kembali terpilihnya ia sebagai presiden November ini.

Sikap ini muncul karena wabah COVID-19 di China turun sedangkan jumlah kasus di Amerika terus naik hingga sudah mencapai lebih dari 1 juta. China juga dituduh tidak memberikan data lengkap mengenai penyebaran virus corona di Wuhan.

Trump juga menuduh virus Corona adalah hasil rekayasa manusia dari laboratorium Institut Virologi Wuhan. Ia juga menuntut China untuk membuka akses pada para pakar untuk memeriksa lokasi tersebut.

Tak mau kalah China menolak untuk memberikan permintaan Amerika dan balik menuduh keterlibatan Amerika dalam penyebaran virus. Saat Amerika mencabut bantuan anggaran untuk World Health Organization (WHO), China justru memberikan jutaan dolar tambahan dana pada organisasi kesehatan dunia tersebut.

Apa itu perang dagang Amerika dan China? Berikut adalah beberapa fakta mengenai perang dagang dari dua negara penguasa ekonomi dunia yang bisa mempengaruhi kondisi ekonomi Indonesia dan global.

Penyebab Perang Dagang Amerika dan China

Perang dagang Amerika dan China dimulai tahun 2018 saat Amerika Serikat menerapkan kenaikan tarif/bea masuk 25% untuk produk China. China tidak mau kalah dengan ikut menaikkan bea masuk untuk produk pertanian dari Amerika, terutama kedelai yang jadi bahan ekspor utama.

Puncaknya pada akhir 2019, Amerika telah mengenakan tarif lebih dari USD360 miliar pada barang-barang dari China, sementara China membalas dengan memberikan bea impor untuk produk dari Amerika sekitar USD110 miliar.

Mengapa tarif bisa menjadi penyebab perang dagang Amerika dan China? Tarif impor adalah pajak yang diterapkan pada barang-barang yang diimpor oleh suatu negara dan bisa menjadi penerimaan negara.

Dampak positif dari penerapan tarif impor sebetulnya adalah mendorong pertumbuhan produksi barang dalam negeri. Karena jika tarif tinggi, suatu negara biasanya enggan untuk melakukan impor karena harga barang impornya tinggi juga.

Dampak Perang Dagang Terhadap Teknologi

Tak hanya berdampak pada kondisi ekonomi kedua negara, perang dagang juga sempat merembet ke sektor teknologi Amerika dan China. Trump sempat melarang penggunaan teknologi China di Amerika.

Awal 2019 lalu, pemerintah Amerika melarang perusahaan Amerika berbisnis dengan Huawei yang berimbas pada terhentinya kerja sama Google, Intel, dan Qualcomm.

China membalas dengan melarang penggunaan perangkat lunak dan keras dari perusahaan asing di kantor pemerintahan publik. China bahkan akan membangun sistem operasi untuk menggantikan Microsoft Windows atau iOS.

Kesepakatan Dagang Fase Satu

Titik terang dari kondisi perang dagang AS-China yang berlangsung selama kurang lebih dua tahun ini muncul saat mereka menandatangani kesepakatan dagang fase satu pertengahan Januari lalu.

Kesepakatan dagang ini menyebutkan bahwa kedua negara akan menurunkan beberapa tarif dan China akan meningkatkan pembelian produk barang dan jasa Amerika sebanyak USD200 triliun selama dua tahun ke depan.

Barang dan jasa tambahan yang akan dibeli China dari Amerika adalah manufaktur sebanyak USD77 miliar, energi sebanyak USD52 miliar, pertanian sebanyak USD32 miliar, dan servis sebanyak USD38 miliar.

Selain itu ada juga pembelian sejumlah jasa turisme, servis keuangan, dan servis komputasi awan (cloud services). Selain itu, China juga berjanji menghilangkan hambatan ekspor Amerika untuk makanan, produk pertanian, dan hasil laut.

Dampak Perang Dagang AS-China Terhadap Ekonomi Indonesia

Lantas, apa dampak perang dagang Amerika dan China terhadap kondisi ekonomi Indonesia? Ternyata, salah satu dampaknya adalah memperlemah ekspor Indonesia yang berimbas pada neraca perdagangan.

Perang dagang menyebabkan Indonesia akan sulit melakukan ekspor bahan baku yang sebelumnya dilakukan Indonesia karena pengurangan produksi yang dilakukan dua negara tersebut.

Selain itu, pasar modal juga bisa terancam karena perekonomian nasional masih sangat tergantung pada pertumbuhan ekonomi global.

Hal ini bisa diselesaikan dengan melakukan penguatan nasional dari sisi pasokan (supply) dengan meningkatkan instrumen dan basis jumlah emiten serta permintaan (demand) dengan mendorong jumlah investor.

Jika kondisi dua negara ini kembali memanas ditambah perlambatan ekonomi yang terjadi akibat pandemic COVID-19, Indonesia harus waspada. Pertumbuhan ekonomi Amerika tercatat minus 4% dan China minus 6% akhir April lalu.

Dampak pertumbuhan ekonomi Amerika dan China yang minus ini berdampak pada kepanikan yang muncul di sektor keuangan Indonesia. Walaupun demikian, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa ia optimistis perekonomian Indonesia akan terus bertumbuh di kisaran 4,4%-4,7% pada kuartal I 2020.

Namun, mengingat pandemi di Indonesia baru menyebar Maret 2020 dan menyebar ke berbagai wilayah, tentunya kita perlu waspada pada potensi tekanan ke depannya.

Artikel Terkait