Ajaib
Menu

Saham

Prospek IPO JELI: Layakkah Saham INACO Dilirik Investor?

SalsabillaJune 22, 2026

Prospek IPO JELI: Layakkah Saham INACO Dilirik Investor?

Key Takeaways:

  • INACO merupakan salah satu merek dessert berbasis kelapa yang telah dikenal luas selama lebih dari 35 tahun, dengan jaringan distribusi nasional dan pasar ekspor yang sudah terbentuk.
  • Laba bersih JELI melonjak signifikan dalam dua tahun terakhir meski pendapatan masih mengalami penurunan, menunjukkan adanya perbaikan efisiensi dan profitabilitas.
  • Dana hasil IPO akan difokuskan untuk ekspansi kapasitas produksi dan penguatan operasional, yang berpotensi menjadi katalis pertumbuhan pada periode mendatang.

Mengapa IPO JELI Menarik Dicermati Investor?

Pasar modal Indonesia kembali kedatangan emiten baru dari sektor consumer noncyclicals melalui IPO JELI, yaitu PT Niramas Utama Tbk, produsen makanan dan minuman penutup yang dikenal melalui merek INACO. Perusahaan menawarkan hingga 350 juta saham baru atau setara 25,93% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah penawaran umum.

Di tengah meningkatnya tren gaya hidup sehat dan permintaan produk makanan berbasis serat alami, kehadiran JELI menjadi salah satu IPO yang cukup menarik untuk dipantau. Bagi investor yang rutin mengikuti pasar perdana, memahami prospek bisnis, kinerja keuangan, serta valuasi perusahaan menjadi langkah penting sebelum mengambil keputusan investasi.

Sekilas Tentang PT Niramas Utama Tbk

PT Niramas Utama didirikan pada tahun 1990 dan dikenal sebagai pionir produk makanan penutup berbasis kelapa di Indonesia. Melalui merek INACO, perusahaan memproduksi berbagai produk seperti nata de coco, jelly, puding, aloe vera, gummy candy, hingga minuman berbasis kelapa.

Selama lebih dari tiga dekade beroperasi, INACO berhasil membangun posisi yang kuat di pasar domestik sekaligus memperluas jangkauan ke pasar internasional, termasuk Jepang, Amerika Serikat, Australia, Kanada, dan Singapura.

Perusahaan juga memiliki integrasi rantai pasok yang cukup kuat melalui empat fasilitas produksi yang berlokasi di Bekasi, Sukabumi, Pontianak, dan Pasuruan. Struktur operasional ini memungkinkan perusahaan mengelola proses produksi dari hulu hingga hilir secara lebih efisien.

Prospek Industri Mendukung Pertumbuhan JELI

Prospek bisnis JELI tidak terlepas dari perkembangan industri makanan dan minuman yang masih menunjukkan pertumbuhan positif dalam jangka panjang.

Beberapa faktor yang menjadi pendukung antara lain:

  • Tren gaya hidup sehat yang terus meningkat di Indonesia.
  • Pertumbuhan pasar healthy food nasional yang diproyeksikan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan.
  • Meningkatnya permintaan produk berbasis kelapa di pasar global.
  • Besarnya pasar konsumen domestik dengan populasi Indonesia yang terus bertambah.
  • Industri makanan dan minuman yang tetap menjadi salah satu kontributor terbesar terhadap perekonomian nasional.

Selain itu, INACO memiliki posisi yang relatif kuat dalam kategori dessert berbasis kelapa dan serat alami. Pada beberapa kategori produk utama seperti jelly, nata de coco, dan puding, perusahaan masih mempertahankan pangsa pasar yang kompetitif dan tingkat pengenalan merek yang tinggi di kalangan konsumen.

Perbandingan JELI dengan IPO Consumer Lain

Berdasarkan data prospektus dan informasi publik perusahaan, berikut perbandingan JELI dengan beberapa emiten sektor consumer yang melaksanakan IPO dalam beberapa tahun terakhir.

EmitenDana IPOPertumbuhan Laba FY2025Valuasi IPO (P/E TTM)Performa Hari Pertama Listing
JELIRp392 miliar+236,2%31,1x – 38,7xBelum listing
GOODRp979,5 miliar+10,0%17,54x+24,68%
CMRYRp3,6 triliun+33,8%16,41x+10,7%
YUPIRp2,04 triliun-2,5%20,3x+2,14%

Struktur Pemegang Saham JELI

Setelah penawaran umum, mayoritas saham perusahaan masih akan dikuasai oleh pemegang saham lama.

Pemegang SahamSebelum IPOSetelah IPO
PT Niramas Utama International99,80%73,92%
Sadikun Wiratno0,20%0,15%
Publik25,93%

Struktur ini menunjukkan bahwa pengendalian perusahaan tetap berada di tangan pemegang saham utama, sementara investor publik memperoleh porsi kepemilikan yang cukup untuk meningkatkan likuiditas saham setelah tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Kinerja Keuangan JELI

Kinerja keuangan JELI menunjukkan dinamika yang cukup menarik dalam beberapa tahun terakhir. Dari sisi pendapatan, perusahaan mencatatkan penurunan dari Rp838,9 miliar pada FY23 menjadi Rp753,0 miliar pada FY25. Namun, di tengah penurunan penjualan tersebut, perusahaan berhasil meningkatkan profitabilitas secara signifikan.

Laba operasional meningkat dari Rp246,2 miliar pada FY23 menjadi Rp290,7 miliar pada FY25. Sementara itu, laba bersih melonjak dari Rp1,6 miliar menjadi Rp39,0 miliar pada periode yang sama. Peningkatan tersebut didorong oleh berbagai langkah efisiensi, perbaikan struktur biaya, optimalisasi produk dengan margin lebih tinggi, serta pengelolaan bahan baku yang lebih efektif.

Margin operasional (Operating Profit Margin/OPM) juga meningkat dari 29,3% menjadi 38,6%, sedangkan Net Profit Margin naik dari 0,2% menjadi 5,2%. Secara sederhana, meskipun pendapatan mengalami tekanan, perusahaan berhasil menghasilkan laba yang jauh lebih besar dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Segmen Pendapatan dan Basis Operasional

Kontribusi pendapatan grup pada FY25 masih didominasi oleh PT Niramas Utama sebagai entitas induk dengan porsi sekitar 88% dari total pendapatan.

Sementara itu, dua anak usaha lainnya berkontribusi sekitar 12% secara gabungan, yaitu:

  • PT Supra Natami Utama yang memproduksi bahan baku nata de coco.
  • PT Niramas Pandaan Sejahtera yang berfokus pada produk confectionery seperti gummy candy dan permen jeli.

Komposisi ini menunjukkan bahwa bisnis utama perusahaan masih bertumpu pada merek INACO, sementara anak usaha berperan mendukung integrasi rantai pasok dan ekspansi kapasitas produksi.

Rencana Penggunaan Dana IPO JELI

Salah satu aspek yang cukup diperhatikan investor dalam IPO JELI adalah penggunaan dana hasil penawaran umum yang sebagian besar diarahkan untuk ekspansi. Sekitar 51,04% dana IPO akan digunakan sebagai penyertaan modal kepada anak usaha untuk pembelian dan instalasi mesin produksi gummy candy dan jelly. Kemudian sekitar 18,36% akan digunakan untuk belanja modal berupa pembelian mesin baru serta peningkatan kapasitas gudang dan logistik.

Selain itu:

  • 10,63% dialokasikan untuk pembayaran sebagian pinjaman jangka pendek.
  • 19,97% digunakan sebagai modal kerja guna mendukung operasional dan ekspansi bisnis.

Fokus penggunaan dana yang lebih besar untuk ekspansi dibanding sekadar pelunasan utang menjadi salah satu faktor yang dinilai dapat mendukung pertumbuhan perusahaan dalam jangka menengah.

Valuasi IPO JELI

Pada rentang harga penawaran Rp900-Rp1.120 per saham, perusahaan berpotensi menghimpun dana sebesar Rp315 miliar hingga Rp392 miliar.

Harga Rp900Harga Rp1.120
Dana IPORp315 miliarRp392 miliar
Market CapRp1,2 triliunRp1,5 triliun
P/E FY2531,1x38,7x
P/BV2,6x2,8x

Dari sisi valuasi, JELI diperdagangkan pada kisaran yang relatif premium dibanding beberapa emiten konsumer yang sudah tercatat di bursa. Namun demikian, sebagian pelaku pasar menilai valuasi tersebut masih dapat ditopang apabila perusahaan mampu menjaga pertumbuhan laba dan merealisasikan rencana ekspansi pasca-IPO. Berdasarkan prospektus awal, masa bookbuilding berlangsung pada 15–22 Juni 2026.

Di sisi lain, investor juga perlu memperhatikan bahwa tren pendapatan perusahaan masih menunjukkan penurunan dalam beberapa tahun terakhir sehingga keberhasilan ekspansi menjadi faktor penting yang akan menentukan prospek jangka panjang.

Underwriter IPO JELI

Dalam pelaksanaan IPO ini, PT Niramas Utama Tbk menunjuk PT Sucor Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Nama ini cukup dikenal di pasar modal karena terlibat dalam sejumlah IPO yang mencatatkan performa positif pada awal perdagangan. Meski kinerja saham pasca-IPO pada akhirnya tetap ditentukan oleh fundamental perusahaan dan kondisi pasar, rekam jejak underwriter sering menjadi salah satu faktor yang turut diperhatikan investor.

Jadi, Layakkah JELI Masuk Radar Investor?

JELI menawarkan kombinasi antara merek yang sudah kuat, posisi pasar yang mapan, serta rencana ekspansi yang cukup agresif pasca-IPO. Tren peningkatan laba yang signifikan juga menjadi poin positif yang menarik perhatian investor.

Namun di sisi lain, valuasi yang relatif premium dan tren penurunan pendapatan dalam beberapa tahun terakhir tetap menjadi faktor yang perlu dicermati. Keberhasilan perusahaan dalam meningkatkan kapasitas produksi, menjaga pertumbuhan penjualan, serta mengeksekusi strategi ekspansi dapat menjadi penentu utama kinerja saham ke depan.

Bagi investor yang tertarik mengikuti pasar perdana, memahami profil bisnis, prospek industri, dan risiko perusahaan merupakan langkah penting sebelum memutuskan untuk beli saham IPO. Kamu bisa memantau jadwal dan memesan saham IPO langsung melalui aplikasi Ajaib. Mulai perjalanan investasi kamu di Ajaib dan jangan lewatkan peluang dari IPO terbaru lainnya!

Google Play StoreApple App Store

Artikel Populer

Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi

Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!

Prospek IPO JELI: Layakkah Saham INACO Dilirik Investor? - Ajaib