Ajaib
Menu

Saham

Mengenal BACH: Emiten Infrastruktur Telko & Genset Afiliasi Grup Djarum yang Siap IPO

TikaJune 24, 2026

Pesan IPO di Ajaib

Key Takeaway

  • BACH adalah emiten infrastruktur yang terafiliasi dengan Grup Djarum melalui PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), bergerak di dua lini bisnis: penjualan & penyewaan genset, serta konstruksi dan pemeliharaan sekitar 41.000 site telekomunikasi di seluruh Indonesia. TradingView
  • Kinerja keuangan BACH tumbuh kuat: pendapatan 2025 mencapai Rp1,73 triliun (naik 39,66% YoY) dan laba bersih Rp152 miliar (naik 97,54% YoY). Cetro
  • Dengan P/E di kisaran 10–13 kali, valuasi IPO BACH tergolong salah satu yang paling murah di antara emiten yang listing Juli 2026, dengan jadwal pencatatan saham di BEI pada 7 Juli 2026.

Di tengah derasnya gelombang IPO Juli 2026, satu nama yang mulai banyak diperbincangkan investor adalah PT Bach Multi Global Tbk dengan kode saham BACH. Bukan tanpa alasan — di balik nama yang mungkin masih asing di telinga banyak orang, BACH adalah perusahaan infrastruktur yang bermain di dua sektor strategis sekaligus: energi cadangan dan digital connectivity. Dan yang membuatnya semakin menarik, perusahaan ini bernaung di bawah ekosistem Grup Djarum.

Artikel ini membahas tuntas profil bisnis, kinerja keuangan, struktur pemegang saham, dan jadwal IPO BACH — semua yang perlu kamu ketahui sebelum mengambil keputusan investasi.

Apa Itu PT Bach Multi Global Tbk?

Bach Multi Global didirikan pada September 2006 dan awalnya berfokus pada penjualan genset untuk mendukung kebutuhan listrik, terutama di sektor telekomunikasi. Seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia, perusahaan kemudian memperluas bisnisnya ke jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi, dan tetap menjalankan usaha penjualan dan penyewaan genset, termasuk untuk sektor non-telekomunikasi.

Sejak Juli 2023, BACH telah menjadi bagian dari grup PT Sarana Menara Nusantara Tbk — salah satu grup infrastruktur digital independen terkemuka di Indonesia yang memiliki dan mengoperasikan sekitar 36.049 menara telekomunikasi serta sekitar 170.500 km jaringan fiber optik yang tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi.

Koneksi ke Grup Djarum melalui TOWR ini bukan sekadar nama besar di atas kertas — ini adalah akses langsung ke ekosistem infrastruktur digital yang sudah mapan dan memiliki kontrak-kontrak besar dengan operator telekomunikasi nasional.

Dua Lini Bisnis Utama BACH

1. Penjualan & Penyewaan Genset (Power Generation)

BACH bertindak sebagai agen tunggal dan distributor eksklusif untuk genset premium merek Himoinsa asal Spanyol, serta memasarkan unit Austin Power System. Produk yang ditawarkan meliputi genset berbahan bakar diesel, bensin, maupun gas dengan rentang kapasitas mulai dari 7 kVA hingga 3.000 kVA. Lini ini melayani penjualan, instalasi, hingga penyewaan untuk kebutuhan sektor komersial, telekomunikasi, dan PLTD.

Sebagai agen tunggal Himoinsa di Indonesia, BACH memiliki keunggulan eksklusif yang tidak bisa begitu saja direplikasi pesaing. Selain Himoinsa, perusahaan juga memasarkan merek-merek genset global ternama seperti Cummins, Perkins, Mitsubishi, Kubota, Yanmar, dan Doosan — memberikan pilihan yang luas kepada pelanggan di berbagai segmen.

2. Konstruksi & Pemeliharaan Infrastruktur Telekomunikasi

BACH bertindak sebagai kontraktor end-to-end untuk pembangunan menara BTS, instalasi jaringan kabel fiber optik, hingga jasa pemeliharaan (Operation & Maintenance). Lini bisnis ini tercatat telah mengelola sekitar 41.000 site di berbagai wilayah Indonesia.

Angka 41.000 site bukan angka kecil — ini mencerminkan skala operasional yang sudah sangat besar dan kontrak pemeliharaan jangka panjang yang memberikan recurring revenue yang relatif stabil.

Klien Kakap yang Jadi Fondasi Bisnis

Salah satu indikator kualitas bisnis yang sering diabaikan investor ritel adalah siapa pelanggan perusahaan. Untuk BACH, daftar kliennya cukup meyakinkan.

Di sektor perbankan dan telekomunikasi, klien BACH mencakup BUMN seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), hingga perusahaan swasta seperti PT Indosat Tbk (ISAT) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL). Sementara untuk lini menara dan fiber optik, BACH disokong penuh oleh internal emiten Grup Djarum seperti Protelindo Group, PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR), dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), serta bermitra dengan PT Link Net Tbk (LINK).

Kombinasi klien BUMN, swasta besar, dan internal Grup Djarum ini menciptakan basis pendapatan yang terdiversifikasi sekaligus memberikan stabilitas kontrak jangka panjang.

Kinerja Keuangan: Angka yang Bicara

Sebelum masuk ke detail IPO, mari lihat dulu kondisi keuangan BACH — karena inilah yang paling penting bagi investor fundamental.

Indikator (Rp Miliar)202320242025Growth YoY
Pendapatan Neto1.0041.2411.733+39,66%
Laba Bruto160198311+57,28%
Laba Bersih3579155+97,54%
Total Aset6808161.233+51,13%
Total Ekuitas372434536
Sumber: Prospektus Awal IPO BACH, 22 Juni 2026

Lonjakan laba tersebut ditopang oleh pendapatan neto sebesar Rp1,73 triliun, dengan kontribusi utama dari penjualan dan penyewaan genset senilai Rp977,95 miliar serta jasa infrastruktur telekomunikasi sebesar Rp754,98 miliar melalui PT Bach Multi Infrastruktur.

Yang menarik perhatian dari tabel di atas adalah pertumbuhan laba yang jauh melampaui pertumbuhan pendapatan. Ini adalah sinyal efisiensi operasional yang nyata. Kinerja positif ini didorong oleh efisiensi biaya operasional: beban penjualan dan pemasaran turun menjadi Rp40,98 miliar dari Rp47,48 miliar, dan beban umum dan administrasi juga susut menjadi Rp32,37 miliar dari Rp37,78 miliar.

Dengan kata lain, BACH bukan hanya tumbuh — tapi tumbuh sambil menjadi lebih efisien.

Struktur Pemegang Saham & Koneksi Grup Djarum

Memahami siapa yang ada di balik sebuah perusahaan adalah langkah penting sebelum investasi. Untuk BACH, ada cerita menarik yang perlu dicermati.

Struktur kepemilikan saham sebelum IPO dikuasai oleh PT Bach Multi Sukses Investama sebesar 61,55 persen dan PT Global Telekomunikasi Prima sebesar 30 persen. Pasca-IPO, porsi kepemilikan masyarakat akan menjadi 15,06 persen.

Namun ada perkembangan korporasi yang lebih penting dari sekadar angka kepemilikan tersebut:

Pada 7 Januari 2026, pemegang saham perseroan, yaitu PT Global Telekomunikasi Prima (GTP) dan PT Bach Multi Sukses Investama (BMSI), menandatangani Perjanjian Opsi. Dalam perjanjian tersebut, BMSI memberikan hak kepada GTP untuk membeli saham tertentu sehingga kepemilikan GTP menjadi 51% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.

Berdasarkan penelusuran, GTP adalah salah satu anak usaha entitas Djarum, PT iForte Solusi Infotek (iForte), yang mengakuisisi 98,21% saham GTP per Juli 2023 lalu. Prospektus awal IPO BACH juga menyebutkan bahwa BMSI dan GTP telah menandatangani perjanjian opsi, di mana pada 13 Januari 2026, GTP menyatakan akan melaksanakan hak opsi atas 1,04 miliar lembar saham BMSI — tak lebih dari 5 hari setelah pencatatan saham BACH di BEI. Hal ini akan membawa kepemilikan GTP di BACH menjadi 51%.

Artinya: tidak lama setelah BACH listing di BEI, Grup Djarum akan secara resmi menjadi pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan 51%. Ini adalah salah satu katalis korporasi yang menarik untuk diperhatikan investor jangka menengah.

Prospek Industri: Dua Sektor yang Sedang Tumbuh

BACH beruntung bermain di dua sektor yang sama-sama sedang dalam tren pertumbuhan jangka panjang.

Pasar Genset Nasional

Selain mengandalkan bisnis genset yang memproyeksikan pertumbuhan pasar nasional hingga 1,76 miliar dollar AS pada 2035 dari US$679,5 juta pada 2024, permintaan backup power terus meningkat seiring maraknya pembangunan pusat data (data center), kawasan industri, dan ekspansi layanan kesehatan di seluruh Indonesia. Boom kecerdasan buatan (AI) secara global pun turut mendorong kebutuhan data center yang rakus listrik — dan data center butuh genset sebagai backup power yang handal.

Pasar Infrastruktur Telekomunikasi

Pasar menara telekomunikasi Indonesia diproyeksikan mencapai US$1,87 miliar pada 2026 dengan CAGR sekitar 4,13% hingga 2031. Permintaan didorong oleh pertumbuhan internet, konsumsi data, serta pengembangan jaringan 4G dan 5G.

Detail IPO BACH: Angka yang Perlu Diketahui

Informasi IPODetail
Kode SahamBACH
Nama PerusahaanPT Bach Multi Global Tbk
Saham Ditawarkan615 juta saham baru (15,06% modal setelah IPO)
Harga PenawaranRp400 – Rp500 per saham
Target Dana IPORp246 miliar – Rp307,5 miliar
Market Cap (harga atas)~Rp2,04 triliun
P/E Ratio (estimasi)10 – 13 kali
Book Building22–24 Juni 2026
Masa Penawaran Umum1–3 Juli 2026
Listing BEI7 Juli 2026
UnderwriterPT Erdikha Elit Sekuritas

Di antara calon emiten Juli 2026, BACH dan PRDL menawarkan valuasi paling murah dengan rasio harga terhadap laba (P/E) sekitar 10–13 kali, sementara JECX menjadi emiten dengan valuasi tertinggi hingga 61,7 kali. Bagi investor yang berorientasi value, selisih valuasi ini cukup signifikan.

Penggunaan Dana IPO

Sekitar Rp91,02 miliar akan digunakan untuk pembayaran sebagian utang kepada PT Bank Permata Tbk, yang berasal dari fasilitas pinjaman jangka panjang Omnibus Revolving Loan dengan penarikan pada periode Januari hingga Maret 2026. Sementara itu, sisa dana sekitar Rp213,48 miliar akan difokuskan sebagai modal kerja, khususnya untuk pembelian genset yang akan dijual maupun disewakan kepada pelanggan.

Perlu dicatat bahwa sebagian besar dana (sekitar 69%) akan langsung digunakan untuk kebutuhan produktif (penambahan armada genset), bukan semata-mata untuk melunasi utang. Ini adalah sinyal bahwa manajemen optimistis terhadap permintaan genset ke depan dan ingin memperkuat kapasitas bisnis secara nyata.

Kebijakan Dividen

Setelah IPO, perseroan berencana membagikan dividen kas hingga maksimal 50% dari laba bersih mulai tahun 2027 dengan dasar kinerja tahun buku 2026. Dengan laba bersih FY2025 sebesar Rp155 miliar dan tren pertumbuhan yang kuat, potensi dividen ke depan cukup menarik untuk investor yang berorientasi income.

Hal yang Perlu Dicermati Investor

Setiap investasi memiliki dua sisi. Selain peluang, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan:

Ketergantungan pada Pemasok Luar Negeri
BACH bergantung pada pemasok luar negeri untuk pemenuhan kebutuhan produk dan komponen utama, yaitu Himoinsa Asia Pacific Pte. Ltd. dan Guangdong Westinpower Co. Ltd. Ini menciptakan risiko nilai tukar dan gangguan rantai pasokan global.

Konsentrasi Klien Internal Grup
Sebagian besar klien di lini telekomunikasi adalah entitas dalam Grup Djarum sendiri (TOWR, Protelindo, SUPR). Ini memberikan stabilitas, tapi juga menciptakan ketergantungan pada keputusan korporasi internal grup.

Penggunaan Dana untuk Bayar Utang
Sekitar Rp91 miliar dari dana IPO dialokasikan untuk pelunasan utang Bank Permata. Investor perlu mencermati apakah sisa modal kerja cukup untuk mendorong pertumbuhan organik yang diharapkan.

Ringkasan: Cocok untuk Investor Tipe Apa?

BACH menawarkan kombinasi yang tidak biasa: pertumbuhan tinggi dengan valuasi murah, dalam ekosistem Grup Djarum yang sudah mapan. P/E 10–13 kali untuk bisnis yang tumbuh hampir 100% dalam laba adalah angka yang jarang ditemukan di IPO Indonesia.

Untuk investor jangka menengah-panjang yang percaya pada thesis pertumbuhan infrastruktur digital dan energi Indonesia, BACH layak masuk dalam watchlist. Namun seperti semua investasi, selalu baca prospektus secara menyeluruh dan sesuaikan dengan profil risiko pribadi sebelum mengambil keputusan.

Pesan Saham IPO BACH di Ajaib

Tertarik dengan saham BACH? Kamu bisa memesan saham IPO BACH langsung melalui aplikasi Ajaib. Bebas biaya IPO dan tanpa saldo ditahan.

Google Play StoreApple App Store

Artikel Populer

Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi

Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!

Mengenal BACH: Emiten Infrastruktur Telko & Genset Afiliasi Grup Djarum yang Siap IPO - Ajaib