Notulen FOMC Rilis! The Fed Proyeksikan Suku Bunga Naik 1 Kali Lagi Hingga Akhir 2026
Muhammad Razid Alvian•October 8, 2026

Key Takeaways
- Notulen FOMC September menunjukkan mayoritas pejabat The Fed masih melihat peluang satu kali kenaikan suku bunga tambahan hingga akhir 2026.
- The Fed telah menaikkan Fed Funds Rate 25 bps menjadi 3,75%-4,00% pada pertemuan 15-16 September.
- Inflasi di atas target 2%, permintaan domestik, harga energi, serta investasi AI dan data center menjadi sejumlah faktor yang diperhatikan dalam menentukan kebijakan.
- Kenaikan suku bunga pada Oktober belum pasti, sementara pasar mencermati kemungkinan pause pada Oktober dan kenaikan pada Desember.
- Trader saham AS perlu memantau inflasi, pasar tenaga kerja, harga energi, perkembangan AI, dan ekspektasi suku bunga sebagai katalis pergerakan pasar.
The Fed Buka Peluang Naikkan Suku Bunga 1 Kali Lagi
Notulen Federal Open Market Committee (FOMC) September menunjukkan mayoritas pejabat Federal Reserve (The Fed) masih melihat kemungkinan satu kali kenaikan suku bunga tambahan hingga akhir 2026.
Namun, keputusan tersebut belum bersifat final dan akan bergantung pada perkembangan inflasi, pasar tenaga kerja, serta kondisi ekonomi AS.
Dalam pertemuan pada 15-16 September 2026, seluruh peserta FOMC sepakat menaikkan target federal funds rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4,00%. Keputusan tersebut diambil secara bulat karena inflasi masih berada di atas target 2%, sementara aktivitas ekonomi AS dinilai tetap solid dan konsumsi domestik masih resilien.
Menariknya, perdebatan di internal The Fed bukan lagi mengenai kenaikan pada September, melainkan seberapa ketat kebijakan moneter perlu dipertahankan setelah kenaikan tersebut.
Mayoritas peserta menilai kenaikan tambahan hingga akhir tahun kemungkinan diperlukan, tetapi mereka juga menegaskan bahwa keputusan pada setiap pertemuan akan bergantung pada data ekonomi terbaru.
Kenapa The Fed Masih Hawkish? Ini yang Jadi Perhatian
Inflasi menjadi salah satu faktor utama yang membuat The Fed masih mempertahankan opsi pengetatan kebijakan. Tingkat inflasi AS masih berada di atas target bank sentral sebesar 2%.
Selain tekanan harga, The Fed juga memperhatikan kondisi permintaan dalam negeri yang masih kuat. Ekonomi AS dinilai tetap resilien, sementara tingkat pengangguran relatif stabil.
Faktor lain yang mulai mendapat perhatian adalah meningkatnya investasi pada artificial intelligence (AI) dan data center. Investasi tersebut berpotensi meningkatkan permintaan dan biaya dalam jangka pendek sehingga menjadi salah satu aspek yang diperhitungkan dalam melihat risiko inflasi.
Tekanan harga juga tidak hanya berasal dari kondisi domestik. Harga energi dan perkembangan geopolitik turut menjadi faktor yang dapat memengaruhi prospek inflasi AS.
Cari Peluang Saham AS Setelah FOMC di Ajaib

Perubahan ekspektasi terhadap arah suku bunga The Fed dapat menciptakan pergerakan baru di pasar saham AS. Bagi trader, momentum tersebut dapat menjadi acuan untuk memantau saham yang merespons perkembangan kebijakan moneter dan kondisi ekonomi terbaru.
Melalui Ajaib, kamu dapat memantau pergerakan saham AS dan mencari peluang trading setelah pasar merespons notulen FOMC. Dengan menggabungkan katalis makro dan pergerakan masing-masing saham, kamu dapat menyesuaikan strategi dengan kondisi pasar dan profil risikonya.
Ekonomi AS Masih Resilien, tetapi Pasar Tenaga Mulai Jadi Sorotan
Di sisi pertumbuhan, kondisi ekonomi AS masih menjadi faktor yang memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Namun, perkembangan pasar tenaga kerja menjadi salah satu faktor yang dapat mengubah arah kebijakan. Data setelah pertemuan September menunjukkan pertumbuhan tenaga kerja lebih lemah dari perkiraan.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar perlu melihat keseimbangan antara dua risiko. Di satu sisi, inflasi masih berada di atas target. Di sisi lain, pelemahan pasar tenaga kerja dapat menjadi alasan bagi The Fed untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunga.
Perbedaan kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa keputusan FOMC berikutnya masih sangat bergantung pada data ekonomi terbaru.
Apakah The Fed Akan Naikan Suku Bunga Lagi Pada Oktober?
Meskipun mayoritas pejabat masih melihat peluang kenaikan tambahan hingga akhir tahun, rate hike berikutnya belum tentu terjadi pada Oktober.
Data setelah pertemuan September menunjukkan inflasi mulai lebih dingin dan pertumbuhan tenaga kerja melemah dibandingkan perkiraan. Sejumlah pejabat The Fed juga telah mengindikasikan belum adanya urgensi untuk kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Situasi tersebut membuat pasar mencermati dua kemungkinan utama, yaitu pause pada Oktober dan kenaikan pada Desember. Namun, skenario tersebut masih dapat berubah apabila data inflasi, tenaga kerja, atau kondisi ekonomi menunjukkan perkembangan berbeda.
Apa yang Harus Dipantau Trader Jelang FOMC Berikutnya?
Setelah notulen FOMC September dirilis, sejumlah indikator akan menjadi perhatian pasar menjelang keputusan kebijakan berikutnya.
- Inflasi AS
Perkembangan tekanan harga akan menjadi indikator penting untuk melihat apakah ruang kenaikan suku bunga masih diperlukan. - Pasar Tenaga Kerja
Pelemahan pertumbuhan pekerjaan dapat memengaruhi pertimbangan The Fed dalam menentukan tingkat suku bunga berikutnya. - Harga Energi dan Geopolitik
Perubahan harga energi dapat memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi dan memengaruhi prospek kebijakan moneter. - Investasi AI dan Data Center
Besarnya investasi pada sektor tersebut perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan permintaan dan biaya dalam jangka pendek. - Ekspektasi Terhadap Suku Bunga
Perubahan ekspektasi menjelang pertemuan FOMC dapat memengaruhi sentimen dan volatilitas saham AS.
Pantau Pasar AS dan Mulai Trading di Ajaib
Perkembangan kebijakan The Fed masih menjadi salah satu katalis penting bagi pasar saham AS hingga akhir 2026. Pantau pergerakan saham AS, ikuti momentum pasar, dan mulai trading melalui Ajaib.
Download Ajaib di Play Store & App Store sekarang!
Disclaimer: Transaksi US Stocks mengandung risiko dan berpotensi menyebabkan kerugian. Kinerja suatu produk investasi saat ini atau di masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa datang. Informasi yang terkandung dalam tulisan/artikel ini merupakan opini yang disiapkan melalui proses riset pasar dan analisis internal perusahaan. Anda tetap berkewajiban untuk menganalisis setiap produk investasi untuk memastikan setiap keputusan investasi dan keputusan untuk menjual dan/atau membeli produk investasi adalah berdasarkan pertimbangan dan keputusan anda sendiri. Tulisan/artikel ini bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi. Kami tidak bertanggung jawab terhadap segala bentuk kerugian maupun keuntungan yang timbul dari pengambilan keputusan transaksi.
Profil Penulis
Writer
-
Artikel Terkait





Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!