Saham Nikel di Persimpangan RKAB 2026, Masih Ada Peluang?
Gloria•January 15, 2026

Ketidakpastian penerbitan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 menjadi faktor krusial yang memengaruhi pergerakan saham-saham penambang nikel seperti INCO, NCKL, ANTM, hingga MBMA. Molornya persetujuan RKAB dinilai berpotensi memperlambat penjualan domestik maupun ekspor bijih nikel, sehingga menahan kinerja sektor ini dalam jangka pendek. Pemerintah melalui Kementerian ESDM juga berencana mematok produksi nikel sekitar 250–260 juta ton pada 2026, lebih rendah dibandingkan realisasi RKAB 2025 yang mencapai 264 juta ton. Kebijakan ini memperkuat persepsi pengetatan pasokan dari Indonesia sebagai produsen utama nikel dunia.
Persepsi Pengetatan Pasokan Mulai Menopang Saham Nikel
Meski dihadapkan pada ketidakpastian regulasi, sejumlah analis menilai kondisi tersebut justru dapat menopang harga dan saham nikel setidaknya sepanjang kuartal I/2026. Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM No.17/2025, penambang yang telah mengajukan RKAB masih dapat beroperasi menggunakan persetujuan sebelumnya hingga Maret 2026. Di sisi lain, pemasok utama bijih nikel belum sepenuhnya mengamankan RKAB baru. Ditambah dengan potensi pengisian kembali stok menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, pasar mulai membangun ekspektasi pasokan bijih yang lebih ketat, yang membuka peluang kenaikan harga nikel.
Dari sisi fundamental global, pasar nikel memang masih berada dalam fase lemah. Persediaan nikel gabungan di LME dan Shanghai tercatat meningkat 29% secara year to date hingga September 2025 menjadi sekitar 253.000 metrik ton. Kendati demikian, harga nikel LME relatif stabil di kisaran US$15.085 per ton. Indonesia, dengan pangsa sekitar 21% dari produksi nikel olahan global, memegang peran strategis dalam menjaga keseimbangan pasar. Peralihan kebijakan pemerintah dari sistem kuota RKAB tiga tahunan menjadi satu tahunan dipandang sebagai langkah awal menuju disiplin pasokan yang lebih ketat, meskipun berpotensi menimbulkan gesekan operasional jangka pendek.
Ke depan, prospek permintaan nikel pada 2026 diperkirakan lebih sehat, terutama dari sektor baja tahan karat yang diproyeksikan pulih seiring stabilnya aktivitas industri global. Bahkan, sejumlah proyeksi memperkirakan neraca nikel global dapat berbalik menjadi defisit pada 2026, setelah sebelumnya berada dalam kondisi surplus. Kombinasi antara pengetatan pasokan, arah kebijakan yang lebih konstruktif, dan pemulihan permintaan ini menjadikan saham-saham nikel tetap menarik untuk dicermati secara selektif oleh investor.
Pantau Peluang Saham Nikel dengan Lebih Praktis
Di tengah dinamika RKAB dan fluktuasi harga komoditas, investor perlu memantau pergerakan saham nikel secara cermat dan berbasis data. Melalui Ajaib, kamu bisa mengikuti perkembangan saham-saham tambang, menganalisis peluang, dan mengambil keputusan investasi saham dengan lebih praktis sesuai strategi dan profil risikomu.
Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Sekuritas membuat informasi ini berdasarkan riset internal dan tidak dipengaruhi pihak mana pun. Informasi ini bukan merupakan ajakan atau paksaan untuk membeli atau menjual Efek tertentu. Harga saham dapat berubah secara real-time; berinvestasilah sesuai analisis dan keputusan pribadi.
Artikel Terkait





Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!