Pavel Durov Turun Gunung! Telegram Siap Cetak Rekor Peluncuran Wallet Kripto Terbesar dalam Sejarah
Panji Yudha•July 22, 2026

Key Takeaways:
- Telegram akan meluncurkan wallet kripto non-kustodian untuk 1 miliar pengguna.
- Wallet menawarkan transaksi instan dan bebas biaya dalam ekosistem TON.
- Telegram memperkuat strategi Web3 dengan rebranding Toncoin menjadi GRAM.
Aplikasi pesan raksasa Telegram bersiap mengukir sejarah baru di dunia aset digital. Tidak tanggung-tanggung, Telegram berencana menghadirkan dompet kripto (wallet) non-kustodian yang dapat diakses langsung oleh seluruh penggunanya di berbagai belahan dunia.
Sinyal adopsi massal ini disampaikan langsung oleh CEO sekaligus pendiri Telegram, Pavel Durov. Melalui unggahan di saluran resminya, Durov mengumumkan bahwa proses peluncuran dompet digital ini akan dimulai pada musim panas tahun ini. Ia bahkan tanpa ragu mengklaim langkah ini sebagai peluncuran dompet kripto non-kustodian terbesar yang pernah ada dalam sejarah manusia.
Transaksi Instan Tanpa Biaya untuk Satu Miliar Pengguna
Bukan sekadar ekspansi biasa, dompet kripto berbasis jaringan Telegram ini ditargetkan untuk menjangkau sekitar 1 miliar pengguna aktif aplikasi tersebut.
Meski detail jadwal pasti dan mekanisme lengkapnya masih disimpan rapat, Durov membocorkan dua keunggulan utama yang bakal memanjakan pengguna:
- Kecepatan Tinggi: Mendukung transaksi kripto secara instan.
- Bebas Biaya: Pengguna dapat bertransaksi dengan skema zero fee alias tanpa biaya tambahan.
Dominasi Ekosistem TON dan Rebranding Token GRAM
Langkah berani ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Telegram untuk memperkuat posisinya di industri Web3 melalui ekosistem The Open Network (TON).
Sebelumnya, Telegram memang telah membenamkan fitur Wallet dengan sistem self-custody yang sudah mengantongi lebih dari 150 juta pengguna terdaftar. Namun kini, Telegram makin agresif dalam mengambil alih kendali ekosistem:
- Perubahan Nama Token: Telegram resmi mengubah nama aset kripto native TON, yaitu Toncoin, menjadi GRAM.
- Pengelola Utama: Telegram mengambil peran langsung sebagai pengelola utama sekaligus validator terbesar dalam jaringan, menggantikan posisi TON Foundation.
Dengan basis pengguna jumbo yang mendekati 1 miliar orang, Telegram berada di posisi yang sangat strategis untuk mendorong adopsi kripto ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Bangkit dari Lilitan Kasus Hukum SEC
Inisiatif baru ini sekaligus menjadi babak baru dari perjalanan panjang Telegram di dunia blockchain. Langkah Telegram di industri ini sebenarnya sudah dimulai sejak 2018 lalu saat pertama kali memperkenalkan proyek Telegram Open Network dan token GRAM.
Namun, ambisi tersebut sempat terhenti menghantam dinding tebal pada tahun 2020 akibat gugatan dari Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC). Kala itu, SEC menilai penjualan token GRAM melanggar aturan sekuritas Amerika Serikat, yang memaksa Telegram menghentikan distribusi token dan menyerahkan pengembangannya kepada komunitas independen.
Kini, setelah melintasi dinamika panjang dan restrukturisasi ekosistem, Telegram kembali memegang kendali penuh untuk mewujudkan visi awal mereka: membawa kripto ke genggaman masyarakat global.
Analisis dibuat pada Rabu, 22 Juli 2026 oleh Panji Yudha, Financial Expert Ajaib Sekuritas.
Disclaimer: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Harga aset digital dapat berubah secara signifikan dalam waktu singkat; berinvestasilah sesuai analisis dan keputusan pribadi.
Artikel Terkait





Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!