Dunia Kerja

Bank Sinarmas Online Recruitment, Jadi Solusi Kerja Milenial?

bank sinarmas

Ajaib.co.id – Pernahkah kamu dengar nama Sinarmas? Familiar banget kan? Ya, meskipun masa ngetopnya agak jauh ke belakang di tahun 2000-an, sepak-terjang legendarisnya itu ternyata masih terngiang hingga saat ini. Nama itu terasosiasi erat dengan drama kerajaan bisnis Group Sinarmas, yang sempat malang-melintang mengguritai pasar bisnis Indonesia di berbagai sektor berkapital raksasa seperti sawit dan kertas, yang dibumbui kasus kontroversial di era pra-digital. Kini salah satu bisnisnya adalah Bank Sinarmas, yang bergerak di sektor perbankan swasta.

Lahirnya Bank Sinarmas

PT Bank Sinarmas Tbk didirikan pada tahun 2005. Kala itu PT. Sinar Mas Multiartha Tbk yang beroperasi di bawah group usaha Financial Services, mengambil alih PT. Bank Shinta Indonesia yang didirikan pada tahun 1989.

Selanjutnya PT. Bank Shinta Indonesia berubah nama menjadi Bank Sinarmas, dan tepat pada 13 Desember 2006 melakukan Initial Public Offering dan mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia.

Guna mempertahankan daya saing di industri bank swasta Indonesia, pada tahun 2007 Bank Sinarmas memfasilitasi teknologi perbankan Phone Banking, Internet Banking, dan Automatic Teller Machine (ATM).

Masa Lalu Ala Drama Kungfu Manajemen Bank Sinarmas

Nama Grup Sinar Mas selalu menjadi buah bibir. Kesuksesan, dosa, dan stigma lama bisnis konglomerasi yang dirintis Eka Tjipta Widjaja ini selalu bangkit lagi, meski jatuh berkali-kali, hingga kerap merajai headline media tanah air. Malah hingga kini pun, masih tercatat sebagai salah satu grup usaha terbesar di tanah air. 

Sinar Mas Group goyah di 2001 akibat menanggung utang USD13,5 miliar dari bisnis kelapa sawit serta pulp and paper, dan mereka menyalahkan sepenuhnya pada harga pasar internasional yang saat itu terjun bebas, ditambah country rating Indonesia juga sudah sangat rendah.

Bisnis keuangan Sinar Mas yang beken dengan nama Bank International Indonesia (BII) di momen itu juga nyaris kolaps, gara-gara menanggung utang Sinar Mas sebesar USD 1,43 miliar! Dengan intervensi jaminan dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), Sinar Mas kemudian merestrukturisasi bisnis, dan melepas BII karena merupakan perusahaan sektor keuangan terbesar, yang saat dijual, nilainya mampu efektif membayar utang bisnis Asia Pulp & Paper (APP). 

Di samping itu, memprioritaskan perusahaan yang menyerap tenaga kerja terbanyak digembar-gemborkan sebagi amanah sang pendiri, sehingga BII yang menyerap tenaga kerja paling sedikit dianggap lebih pantas dikorbankan, dibanding APP yang mempekerjakan hingga 300.000 orang.

Maka selanjutnya, keluarga Eka Tjipta Widjaja sebagai pemilik lama Bank Internasional Indonesia (BII) pun harus melepaskan seluruh kepemilikannya di bank tersebut.

BII Masih Buram

Secara moral dan etika bisnis, pemilik lama tidak boleh lagi memiliki saham perbankan. Mar’ie Muhammad sebagai Ketua Oversight Committee Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) saat itu, memanggil BPPN untuk memastikan tak ada lagi pengelola aktif yang berafiliasi dengan pemilik lama, karena berpotensi menyeret permasalahan lama, seperti pada Bank Lippo.

Pun kepemilikannya sudah dilepas oleh Group Sinar Mas, pada 9 September 2013, PT Daeyu yang bergerak di sektor garmen di Tambun, Bekasi, melaporkan BII ke Mapolda Metro Jaya atas tindakan perkara pemalsuan, penipuan dan penggelapan dalam Perbankan, dengan nomor laporan TBL/3115/IX/2013/PMJ/Dit Reskrimum. Laporan ini terkait dengan pasal 263, 378, 372 KUHP dan pasal 47 a pasal 50 UU RI no.7 tahun 1992 tentang perbankan, terkait penipuan tersebut.

PT Daeyu mengakui kehilangan dana nasabah di rekening BII cabang Juanda senilai total Rp681.100.000 pada 10 April 2013, akibat pencairan ganda oleh BII atas 6 cek, tanpa konfirmasi terlebih dulu ke pihak nasabah. Bahkan salah satu cek yang masih terjilid di buku cek dengan coretan batal malah kemudian muncul dan dicairkan!

BII Jadi Maybank

Setelah ditinggal keluarga Eka Tjipta, pada 24 Agustus 2015, BII (PT Bank Internasional Indonesia Tbk) akhirnya resmi berubah nama menjadi PT Bank Maybank Indonesia Tbk.

Sinar Mas Nggak Ada Matinya

Pepatah Jepang Shichiten Hakki, yang berarti jatuh 7x, bangun 8x, cukup menggambarkan betapa Group Sinar Mas imortal. Sejarah pahit BII tak membuat mereka jera. Sembari mencicil utang, tahun 2005, Group Sinar Mas membeli Bank Shinta sebagai cikal bakal Bank Sinarmas.

Bank Sinarmas Milik DOT

Saat bank bermasalah direkap, Badan Penyehatan Perbankan Nasional mewajibkan para pemilik lama BII (Eka Tjipta), Bank Universal dan Bank Lippo yang termasuk dalam Daftar Orang Tercela (DOT) dan punya hak konversi SBH untuk menjualnya ke pihak lain yang diperbolehkan memegang saham bank, atau meng-offset utang di BPPN dengan konversi SBH tersebut.

Bank Sinarmas, Regenerasi Bisnis Atau Etos Kerja?

Pada 3 Oktober 2001, sambil menyerahkan berkas-berkas dugaan tindakan penyelewengan, 160 karyawan anggota serikat pekerja Bank International Indonesia mendatangi gedung Kejaksaan Agung dan meminta dilakukannya pencekalan dan investigasi terhadap dugaan tindak pidana perbankan yang dilakukan Eka Tjipta Widjaja melalui Sinar Mas Grup sehingga BII terpuruk.

Eka Tjipta lahir dari latar belakang ekonomi keluarga yang jauh dari layak, di mana ayahnya terlibat utang rentenir. Eka Tjipta hanya berijazah SD, namun berkat tekatnya yang Shichiten Hakki tadi, bak karakter robot T-800 di film Terminator, sejak 1940an–1980an Eka Tjipta tangguh berbisnis kopra, bahan makanan, perkebunan kopi dan karet, bubur kertas, bahan kimia, perkebunan sawit, hingga akhirnya tahun 1982 membeli Bank International Indonesia (BII) yang dan memulai bisnis properti Sinar Mas Group. Beberapa pihak mengklain bahwa Eka Tjipta Widjaja punya prinsip hidup jujur, bertanggung jawab, peduli pada keluarga, pekerjaan dan lingkungan, tak suka berfoya-foya dan meyakini bahwa sukses bukanlah hal instan. Eka Tjipta Widjaja wafat pada 2 Februari 2019 lalu, keluarganya berharap Sinar Mas jadi yang terbesar, dan nama besar Eka Tjipta dikenang sepanjang masa sebagai penegak tradisi upaya menyediakan lapangan kerja bagi banyak orang.

Rekrutmen Epik IT Bank Sinarmas Juru Selamat Era Resesi?

Menyadari bahwa kebutuhan di sektor IT terus berkembang seiring bisnis, sejak pertengahan 2019 lalu Bank Sinarmas melalui program rekrutmennya membuka lowongan masif bagi calon tenaga kerja milenial. Dengan rekrutmen kerja via online ke alamat bit.ly/careerbanksinarmas ini, perusahaan mencari individu yang memenuhi kriteria skill IT Programmer, Senior Relationship Officer dan berbagai posisi lainnnya, serta mampu bekerjasama secara mutualisma dengan perusahaan.

Entah semua lowongan sudah terisi, atau belum, tertarikkah kamu ikutan mencoba peruntunganmu di bank swasta besutan Eka Tjipta ini? Mungkin kamu bisa mempelajari dan mewarisi semangat pantang menyerahnya, asalkan jangan kejahatan perbankannya ya!

Jika ya, good luck ya! Semoga bank Sinarmas bisa menjadi juru selamat bonus tenaga kerja milenial saat ini. Kalau sudah keterima, jangan lupa sisihkan gajimu untuk rutin berinvestasi demi kebebasan finansial di masa depan dengan meningkatkan investasi reksa dana yang berintegritas, fleksibel dan menguntungkan seperti Ajaib. Dengan aplikasi mudah, menu pilihan paket investasi variatif, minimum modal hanya Rp10.000 dan menyandang status kelulusan dari program pembinaan inkubator startup terkemuka Y Combinator di Silicon Valley, serta pengawasan penuh Otoritas Jasa Keuangan. Ajaib tetap jadi pilihan keren untuk kaum milenial!

Artikel Terkait