3 Pertanyaan Penting Sebelum Membeli Investasi Pertama

Semua orang pasti memiliki banyak pertanyaan ketika melakukan hal yang baru, termasuk pula ketika membeli investasi pertama. Mulai dari apa saja produk investasi yang baik, cara menilai kinerja investasi dan banyak hal lainnya.

Pertanyaan yang juga sering ditanyakan oleh para investor yang baru melakukan investasi pertama adalah, “Bagaimana saya bisa membangun portofolio investasi sebaik mungkin?” Masalahnya adalah tidak ada yang bisa disebut sebagai portofolio “terbaik” karena setiap individu, dan setiap keluarga, memiliki serangkaian peluang, risiko, kemampuan, dan temperamen emosional yang unik.

Apa yang berhasil untuk tetangga atau saudara mungkin saja tidak cocok untukmu. Faktanya, apa yang berhasil untukmu di usia 20-an mungkin tidak bekerja ketika nanti di usia 70 tahun saat kamu sudah berpikir untuk menyiapkan dana perwalian untuk cucu atau bahkan cicit. Hal serupa juga berlaku dalam melakukan investasi pertama.

Pertanyaan yang Harus Kamu Jawab Sebelum Membeli Investasi Pertama

Usiamu saat ini, kemampuan finansial yang dimiliki dan banyak faktor lain sangat mempengaruhi instrumen investasi yang dipilih. Nilai investasi yang ingin dicapai juga penting, berkaitan pula dengan risiko yang bersedia kamu tanggung. Ada banyak faktor yang mempengaruhi sehingga setiap orang pasti memiliki portofolio yang berbeda satu sama lainnya.

Namun paling tidak ada tiga pertanyaan yang harus kamu tanyakan pada diri sendiri sebelum memulai investasi pertama dan membangun portofoliomu. Tiga pertanyaan ini tidak boleh luput terjawab agar investasimu lebih terarah. Strategi investasi yang diambil juga tentunya berbeda tergantung dengan portofolio milikmu.

1. Di Kelas Aset Manakah Kamu Akan Mengkonsentrasikan Danamu dan Mengapa?

Setiap kelas aset memiliki perilaku yang berbeda. Itulah sebabnya strategi alokasi aset sangat penting. Menyeimbangkan kelebihan dan kelemahan dari masing-masing kelas aset serta memperhitungkan kebutuhan yang dimiliki akan membantumu menentukan keputusan tentang cara mengalokasikan uang yang akan digunakan untuk berinvestasi.

  • Investasi saham

Saham secara historis memberikan pengembalian jangka panjang tertinggi karena mewakili kepemilikan saham dalam bisnis nyata yang menjual produk dan layanan nyata. Sebagian laba dibayarkan sebagai dividen tunai dan sebagian dikembalikan ke laba ditahan di neraca untuk mendanai pertumbuhan perusahaan di masa depan.

Sayangnya, saham berfluktuasi dalam nilai pasar sehari-hari dan bahkan tahun-ke-tahun, seringkali dalam jumlah signifikan. Bukan hal yang membuat kaget untuk menyaksikan nilai pasar dari saham menurun 30% atau lebih setidaknya sekali setiap 36 bulan. Setidaknya beberapa kali dalam hidupmu, kamu akan melihat saham milikmu menurun 50% dari puncak ke palung.

Ini adalah sifat dari peluang. Untuk perusahaan yang baik dengan keuntungan nyata, hal ini tidak terlalu menjadi masalah.

  • Investasi properti

Real estat adalah kepemilikan jangka panjang terbaik kedua. Meskipun cenderung tidak tumbuh jauh melampaui inflasi. Kecuali kamu cukup beruntung untuk memiliki properti di landlocked area seperti San Francisco atau New York di mana tanah terbatas sementara pertumbuhan populasi terus meningkat, umumnya pertumbuhan mengikuti laju inflasi.

  • Investasi obligasi

Obligasi dan surat berharga pendapatan tetap merupakan klaim legal atas outputperusahaan atas pengembalian uang yang dipinjamkan (pokok) dan “sewa” atas uang (bunga) selama perusahaan menggunakannya. Obligasi memiliki mekanisme keamanan bahwa tidak peduli seberapa jauh harga obligasi menurun, selama perusahaan tersebut memiliki uang untuk memenuhi kewajiban kontraknya, obligasi tersebut akan ditebus pada nilai nominal pada tanggal jatuh tempo.

Sayangnya, ketika tingkat inflasi meningkat, nilai setiap rupiah di masa depan juga akan menurun. Hal ini dapat menurunkan keuntungan berinvestasi terhadap obligasi jangka panjang dengan suku bunga tetap yang terkunci selama 20 atau 30 tahun.

  • Uang tunai

Uang tunai dan setara kas, seperti deposito bank dan obligasi jangka pendek, termasuk di antara kelas aset sangat aman untuk portofolio investasi karena mereka menyediakan uang tunai yang dapat digunakan untuk membeli saham murah, obligasi, dan real estat saat pasar jatuh atau membayar tagihan atas kebutuhan mendadakmu.

Namun, aset ini memberikan pengembalian yang tidak signifikan. Bahkan, tergantung pada caramu menyimpan uangmu apakah tepat atau tidak khususnya implikasinya pada finansialmu. Kamu bahkan bisa saja kehilangan daya beli setelah inflasi. Hitunglah keperluan persediaan uang tunai yang dibutuhkan dan investasikan sisanya pada aset lain termasuk dengan mulai berinvestasi.

  • Investasi reksa dana

Reksa dana dianggap paling cocok bagi investor pemula apalagi dengan dana terbatas. Adanya manajer investasi yang mengelola dana yang kamu tanamkan membuatmu berkesempatan memahami sistem dan pola pasar modal dan pasar keuangan lainnya. Ada banyak jenis reksa dana yang bisa dipilih tergantung kebutuhanmu baik konvensional maupun syariah.  

Sebagai contoh, reksa dana saham dianggap paling menguntungkan namun resiko reksadana saham juga cukup tinggi. Sedangkan reksa dana pasar uang bagi beberapa orang dianggap ideal karena bebas pajak dan administrasi. Salah satunya bisa kamu pilih tentuanya sesuai dengan portofolio investasimu. Kamu juga bisa berinvestasi di reksa dana jika merasa masih akan menarik dananya sewaktu-waktu.

2. Akankah Kamu Memprioritaskan Arus Kas Daripada Pertumbuhan Jangka Panjang?

Tiap jenis investasi memiliki ciri khas yang berbeda pula. Satu investasi memberikan uang yang bisa langsung digunakan hari ini, investasi yang lain bisa memberikan uang yang jauh lebih besar di masa depan. Bahkan beberapa perusahaan yang membayar dividen dapat menjadi kendaraan untuk pertumbuhan jangka panjang jika kamu memilih untuk menanamkan kembali dividen tersebut untuk membeli lebih banyak saham.

Setelah beberapa dekade, perbedaan antara menginvestasikan kembali dan tidak menginvestasikan kembali pendapatan dividen akan menjadi sangat besar. Investor yang berinvestasi pada perusahaan-perusahaan yang besar, yang menjual produk beragam, dan umumnya memiliki pertumbuhan yang sudah stabil dan selalu membayar dividen juga sangat berbeda dengan investor pada perusahaan-perusahaan start up, yang umumnya belum membagikan dividen dan menyimpan pendapatannya untuk perkembangan perusahaan.

Hal yang sama berlaku untuk investasi real estat. Beberapa proyek, terutama yang memanfaatkan leverage atau melibatkan pengembangan proyek baru, mungkin memerlukan banyak arus kas untuk membangun ekuitas tetapi pada akhirnya dapat memberikan hasil yang lebih besar. Sementara investasi yang lain tidak menawarkan banyak peluang untuk reinvestasi, seperti bangunan apartemen yang menguntungkan tetapi tidak memiliki lahan.

Intinya susun priorotasmu sebaik mungkin dengan berbagai kemungkinannya.

3. Berapa Kebutuhan Likuiditasmu?

Likuiditas sangat penting bahkan hal ini harus diutamakan sebelum kamu memikirkan tentang pengembalian yang diinginkan. Berapa kebutuhan likuiditasmu? Apakah ada kemungkinan kamu perlu memanfaatkan uang yang telah disisihkan? Jika kamu tidak memiliki setidaknya horizon waktu selama tiga tahun, sebagian besar saham dan real estat sebaiknya tidak masuk dalam investasimu.

Beberapa investor mengikuti aturan umum, seperti selalu menjaga setidaknya 10% dari portofolio mereka dalam setara kas demi likuiditas. Kalau tidak, pilihlah aset yang kurang likuid dengan alokasi yang lebih tinggi, seperti tidak pernah menyimpan kurang dari 25% dana dalam obligasi berkualitas tinggi. Jawaban yang tepat tergantung pada harga yang kamu dapatkan pada waktu tertentu dan tujuan yang dimiliki untuk portofoliomu.

Pertanyaan-pertanyaan di atas perlu direnungkan jawabannya sebelum kamu melakukan investasi pertama. Dengan mengetahui jawaban tersebut, kamu akan mengetahui investasi apa yang cocok dengan kebutuhan dan kemampuan finansialmu. Investasi berbeda untuk setiap orang karena setiap orang memiliki kebutuhan, tujuan dan profil risiko yang tentunya berbeda satu sama lainnya.

Pastikan juga kamu berinvestasi dengn aman dan terjamin. Pilihlah lembaga yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar tidak terjebak investasi bodong. Perkembangan industri fintech menghadirkan berbagai platform investasi yang menawarkan jasanya kepada masyarakat.

Namun belum tentu entitas itu legal dan terdaftar di pemerintah. Salah pilih bisa saja kamu malah akan terjebak investasi palsu dan malah kehilangan uangmu. Pastikan investasimu aman dan berada di tangan yang tepat.


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.

Ayo bergabung dengan Ajaib, investasi online terbaik! Bebas biaya pendaftaran, bisa tarik dana kapan saja. Modal awal min. Rp10.000.
Ikuti Kami
Artikel Populer
Artikel Terkait