Banking, Reksa Dana

Bedanya Reksa Dana dan Deposito Yang Wajib Diketahui

Apa bedanya reksa dana dan deposito? Tidak dapat dipungkiri lagi, kedua instrumen investasi tersebut menarik perhatian berbagai kalangan setahun terakhir ini. Dibandingkan dengan pilihan instrumen investasi lainnya, baik reksa dana maupun deposito cocok untuk para investor pemula, yang baru pertama kali mencoba untuk berinvestasi.

Memilih sebuah investasi yang tepat memang bukanlah perkara yang mudah, hal ini dikarenakan kamu perlu mempertimbangkan hal-hal seperti tingkat risk dan juga return dari kedua produk investasi tersebut.

Sebelum memutuskan mana yang tepat untuk menjadi pilihan investasimu, mari kita simak bersama perbedaan reksa dana dan deposito yang wajib kita ketahui!

Pengertian Reksa dana dan Deposito

Sebelum kita membahas lebih jauh terkait perbedaan reksadana dan deposito, kamu harus tahu terlebih dulu pengertian dari reksa dana dan deposito.

Deposito merupakan produk investasi yang diterbitkan atau dikeluarkan oleh layanan perbankan yang tidak kalah menggiurkan dibanding produk investasi reksa dana. Cara kerjanya sederhana. Nasabah hanya perlu membuka akun tabungan berjangka pada bank. Nasabah dapat menyimpan dana pada tabungan berjangka tersebut dalam waktu tertentu.

Bedanya dengan tabungan biasa adalah, jika tabungan biasa bebas setor dan tarik dana sesukanya, dana dalam deposito tidak dapat ditarik sebelum jatuh tempo. Bila nasabah tetap ingin menarik dana tersebut, bank akan mengenakan pinalti atau potongan dana. Oleh karena itu, deposito lebih cocok bagi nasabah yang sudah memiliki rencana keuangan jangka panjang, dan memiliki alokasi dana khusus deposito. Dalam artian, nasabah percaya bahwa uang dalam deposito tidak akan ia gunakan sebelum jatuh tempo.

Layanan investasi deposito biasanya beragam, dan tersedia dalam jangka pendek, misalnya 1,3,6, dan 12 bulan. Tingkat pengembalian dari dananya tergantung dari seberapa besar dana yang kamu taruh dan juga bunga per tahun yang diberikan oleh pihak bank. Pada umumnya, semakin lama dana disimpan di deposito, bunganya semakin besar. Sebut saja suatu bank yang memberikan suku bunga 6,25% per tahun untuk deposito 3 bulan, bisa menawarkan suku bunga deposito 6,5% untuk jangka waktu setahun.

Kamu bisa melihat simulasi deposito dari berbagai bank ternama dalam negeri melalui tautan berikut.

Sedangkan, reksa dana merupakan salah satu instrumen investasi yang merupakan pola pengelolaan modal bagi sekumpulan investor untuk berinvestasi dengan bantuan Manajer Investasi (MI), sehingga kamu tidak perlu pusing akan instrumen-instrumen investasi yang tersedia di pasar dengan cara membeli unit penyertaan reksa dana. Dalam skema investasi reksa dana, uang kamu dikelola oleh Manajer Investasi (MI)

Dalam reksa dana, dana yang kamu investasikan akan digabungkan dengan orang lain, barulah dikelola bersama demi memperoleh keuntungan. Inilah yang memungkinkan kamu untuk berinvestasi tanpa memerlukan modal besar. Anggap saja kamu ingin membeli instrumen investasi seharga Rp3.000.000, jumlah yang tidak terjangkau olehmu. Melalui reksa dana, kamu bisa berinvestasi minimal Rp10.000 pada instrumen investasi tersebut, dan membiarkan Rp2.990.000 sisanya dipenuhi oleh investor-investor lainnya. Tentunya persentase hasil yang kamu terima akan seimbang dengan jumlah investasimu.

Reksa dana juga menekankan konsep diversifikasi dalam investasinya, di mana akan dilakukan penempatan dana atau aset investasi ke dalam beberapa instrumen yang berbeda dengan pertimbangan potensi keuntungan (return), risiko, serta likuiditasnya. Melalui investasi reksa dana, kamu otomatis memiliki beberapa produk investasi sekaligus sesuai kebijakan manajer investasi, sehingga potensi kehilangan modal investasi sungguhlah kecil, bahkan tidak mungkin.

Kamu bisa mempelajari berbagai istilah dalam reksa dana melalui tautan berikut.

Bagaimana Tingkat Risk dan Return Reksa dana dan Deposito?

Semua produk investasi pasti menawarkan tingkat pengembalian dan risiko yang berbeda-beda. Oleh karena itu, kamu harus mempertimbangkan dengan cermat dalam memilih pilihan investasi terbaik antara reksa dana dan deposito.

Risk (Risiko)

Risiko, secara harfiah diartikan sebagai konsekuensi yang dapat terjadi akibat kejadian yang akan datang, maupun proses yang sedang berlangsung. Dalam konteks investasi, risiko berarti situasi ketidakpastian yang menimbulkan turun atau hilangnya nilai investasi. Inilah yang biasanya ditakutkan oleh calon investor, dan sering membuat orang batal berinvestasi.

Bagi deposito, risiko yang dapat muncul adalah kalahnya bunga terhadap inflasi, kesulitan dan pinalti tarik dana bila belum jatuh tempo, dan tidak bisa cair apabila bank terkena likuidasi. Meskipun LPS memberikan jaminan hingga 2 miliar, dengan bunga yang sesuai. Risiko bank terkena likuidasi ini cenderung rendah, meskipun tidak menutup kemungkinan untuk terjadi.

Bagi reksa dana, risiko yang harus menjadi pertimbangan investor adalah kemungkinan turunnya nilai investasi (karena situasi pasar), tidak ada jaminan pemerintah, reksa dana bisa dibubarkan dan uang investor dikembalikan secara proporsional, dan pengembalian dana bisa memakan waktu hingga maksimal tujuh hari kerja.

Return (Pengembalian/Imbal Hasil)

Return, dalam konteks investasi, merupakan selisih antara nilai investasi kini, dibandingkan dengan nilai investasi awal. Misalnya, seseorang berinvestasi Rp5.000.000 selama setahun. Di akhir tahun, ia menarik dana investasinya sebesar Rp5.100.000. Ada selisih Rp100.000 di sini, itulah yang disebut dengan return atau imbal hasil investasi.

Bagi deposito, pengembalian didapat dari bank tempat tabungan berjangka tersebut dibuka. Bunganya tetap, sehingga nasabah bisa mendapatkan return yang pasti. Namun, nasabah tidak dapat menentukan dari mana bunga tersebut didapatkan. Selain itu, nilai pokok investasi juga tidak akan bertambah dan akan ada pajak yang dikenakan ke nasabah.

Bagi reksa dana, return didapat melalui selisih NAB (Nilai Aktiva Bersih), yang dihitung setiap hari bursa. NAB merupakan adalah jumlah total dana kelolaan MI (Manajer Investasi) dalam suatu produk rekssa dana tertentu. NAB dihitung berdasarkan total harga pasar atas aset (seperti saham, obligasi, dan deposito) dalam portofolio/koleksi investasi suatu reksa dana, ditambah dengan biaya pencadangan bunga dari surat utang atau deposito pada portofolio. Kemudian, biaya tersebut dikurangi biaya-biaya operasional produk reksa dana, misalnya biaya pengelolaan, biaya kustodian, pajak dan lain-lain. Karena itulah, NAB adalah nilai yang sudah bersih (nett) yang tidak lagi terkena pajak.

Kita juga mengenal yang namanya Nilai Aktiva Bersih per Unit Penyertaan (NAB/UP). Jika NAB merupakan jumlah total dana kelolaan suatu produk reksa dana, NAB/UP adalah harga/nilai setiap satu unit penyertaan reksa dana yang dapat dihitung dengan membagi NAB dengan total unit penyertaan yang dimiliki seluruh investor dalam suatu produk reksa dana tersebut.

Nah, ketika membeli suatu produk reksa dana, seorang investor kan menjadi pemegang unit penyertaan. Banyaknya unit penyertaan akan tergantung pada NAB/UP reksa dana maupun dana investasinya. Sama seperti NAB, NAB/UP juga dapat berubah setiap hari, mengikuti harga pasar dari instrumen-instrumen investasi yang dikelola manajer investasi pilihan tersebut.

Contohnya, kamu punya dana sebesar Rp10.000.000, dan diinvestasikan pada reksa dana Selalu Maju Berseri. Pada saat kamu berinvestasi, NAB/UP-nya senilai Rp2.500. Maka, jumlah unit penyertaan yang akan kemu terima adalah:

Rp10.000.000 : Rp2.500 = 4.000 unit

Lima tahun berlalu, kamu sekarang berminat untuk menjual unit reksa dana Selalu Maju Berseri yang kamu punya. Saat ini, NAB/UPnya Rp5.500. Harap diingat ketika kamu sudah berinvestasi pada reksa dana, nilai investasi yang kamu punya sudah dalam bentuk unit, bukan uang tunai lagi. Oleh karena itu, untuk menghitung return, begini caranya:

NAB/UP saat penarikan Rp5.500 x Jumlah unit milikmu 4.000 unit = Rp22.000.0000

Pada situasi seperti ini, return yang kamu dapatkan dengan berinvestasi pada reksa dana Selalu Maju Berseri adalah:

Nilai yang kamu dapatkan pada saat penarikan Rp22.000.000 – Rp10.000.000 = Rp12.000.000.

Karena return reksa dana sangat terkait dengan nilai unit, disarankan untuk tidak menjual/menarik investasi reksa danamu ketika nilai unit sedang turun. Pasalnya, nilai unit tersebut bisa naik kembali dalam waktu dekat. Selain itu, disarankan juga untuk berinvestasi reksa dana untuk jangka panjang. Pasalnya, pengembaliannya cukup besar jika dilakukan dalam jangka panjang.

Setelah mengetahui informasi terkait perbedaan reksa dana dan deposito, dapat disimpulkan sebagai berikut.

Kelebihan Reksa Dana Dibanding Deposito

Kelebihan reksa dana dibanding deposito dapat ditilik dari beberapa faktor, yakni:

  • Kebebasan setor-tarik dana: tidak seperti deposito yang dananya tidak bisa diambil sebelum jatuh tempo, reksa dana menawarkan fleksibilitas. Investor dapat memilih untuk menyetor/menambah investasinya kapan saja tidak terkait waktu, dan dapat ditarik kapanpun dibutuhkan tanpa harus terkena pinalti.
  • Jangka waktu fleksibel: reksa dana tidak mengharuskan investornya untuk menyimpan dana dalam waktu tertentu.
  • Modal awal minim: serendah-rendahnya modal deposito, kamu membutuhkan minimal Rp1.000.000 untuk dapat mulai berinvestasi pada tabungan berjangka ini. Sedangkan, reksa dana menawarkan modal awal sedikitnya Rp10.000 untuk dapat mulai menghasilkan pengembalian.
  • Tahan inflasi: NAB reksa dana mengikuti kondisi pasar. Oleh karena itu, ketika pasar mengalami inflasi, NAB reksa dana pun turut mengalami peningkatan.
  • Bebas pajak: Bunga yang kamu dapat dari deposito akan dipotong pajak. Sedangkan, reksa dana merupakan instrumen investasi bebas pajak karena NAB yang kamu dapatkan sudah dipotong semua biaya pengelolaan.
  • Bebas menentukan aliran dana: Reksa dana terdiri dari berbagai jenis, baik reksa dana saham, reksa dana campuran, reksa dana pendapatan tetap, dan lain-lainnya. Melalui tipe reksa dana, investor bebas memilih mau berinvestasi di instrumen investasi apa. Sedangkan di deposito, nasabah cukup mempercayakan pada bank untuk mengelola dana.

Itulah beberapa perbedaan reksadana dan deposito yang wajib kamu ketahui, sebelum kamu benar-benar akan terjun dan memulai investasi reksa dana ataupun deposito. Pastinya, kamu harus memastikan bahwa dana investasimu disalurkan ke instrumen yang terpercaya, terdaftar, dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Ajaib Hadir Sebagai Platform yang Memudahkan Investasi Reksa Dana kamu!

Seiring dengan meningkatnya pendidikan, dan biaya lain-lainnya dari waktu ke waktu, seseorang dituntut untuk rajin menabung dan cerdas memilih instrumen investasi yang tepat, baik reksa dana maupun deposito.

Untuk deposito, setiap bank terdepan yang memiliki reputasi baik dapat menjadi bahan pertimbanganmu. Suku bunga, nilai minimum setoran, dan lain-lainnya juga dapat kamu pilih sesuai kebutuhan.

Untuk reksa dana, kamu bisa memilih untuk berinvestasi online di Ajaib. Kamu tidak perlu bingung lagi mengenai jenis investasi reksa dana apa yang cocok dengan profil risiko kamu. Pasalnya, Ajaib bisa secara otomatis merekomendasikan reksa dana terbaik untuk kamu sehingga kamu tidak perlu lagi menganalisis ratusan opsi sendiri.

Praktis dan menyenangkan bukan, berinvestasi reksa dana bersama Ajaib?

Tunggu apa lagi? Ayo mulai investasi reksa dana di Ajaib sekarang!


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.   

Artikel Terkait