Mengenal Holding Period dalam Dunia Investasi

holding period
holding period

Holding period berkaitan dengan dunia investasi. Holding period maksudnya adalah waktu yang digunakan investor untuk menyimpan suatu saham selama periode tertentu. Ketika kamu masuk ke pasar modal memang harus menyusun sebuah strategi agar keuntungan berada di pihakmu terus, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan menerapkan strategi holding period.

Holding Period Bisa Mendatangkan Keuntungan dan Menyelamatkan Keuangan

Saat ini cukup banyak orang yang mulai berbisnis di dunia investasi reksa dana maupun investasi saham. Meski risikonya terbilang tinggi, tapi berbisnis di pasar modal bisa menghasilkan keuntungan yang berlipat-lipat dan potensi untuk balik modal dengan cepat sangatlah mudah didapatkan.

Keuntungan bisa didapatkan ketika kamu mengerti benar bagaimana saham itu bekerja, kapan waktu yang tepat ketika kamu menahan saham dan kapan waktu yang tepat untuk menjual saham.

Selain itu dengan menjadi investor kamu akan memberikan keuntungan pada banyak pihak. Yang pertama adalah negara karena negara mendapatkan pendapatan dari pajak kegiatan jual-beli saham yang kamu lakukan.

Lalu emiten yang kamu beli sahamnya akan menguntungkan mereka karena artinya kamu membantu emiten tersebut mendapatkan modal untuk melakukan ekspansi dalam dunia bisnisnya hingga semakin besar.

Tentu saja keuntungan itu akan kamu dapatkan secara pribadi karena itulah tujuanmu di awal. Pembagian dividen biasanya dilakukan setahun sekali tergantung pada keputusan rapat para pemegang saham dan juga berapa banyak profit yang didapatkan oleh perusahaan.

Di sini kamu harus pintar-pintar memilih saham mana yang ingin dibeli, walaupun tidak menutup kemungkinan kamu memilih saham tertentu karena alasan pribadi.

Yang harus kamu ingat dunia saham termasuk sukar diprediksi. Bisa saja saham yang kamu beli mengalami harga yang tiba-tiba naik, besok ketika dibuka di pasar modal untuk jam pertama malah mengalami penurunan yang begitu besar.

Karena dunia saham itu sukar diprediksi, belum tentu dengan membeli banyak saham kamu akan mengalami keuntungan. Ini sangat bergantung pada berbagai macam hal, misalnya yang paling berpengaruh adalah sehat atau tidaknya keuangan perusahaan yang kamu beli sahamnya.

Maka dari itu ada aturan-aturan yang sebaiknya kamu ketahui ketika melakukan pembelian dan penjualan saham. Salah satunya adalah melakukan holding period. Para investor yang memiliki saham begitu banyak di suatu emiten sering melakukan holding period demi mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Erat Kaitannya dengan Prediksi

Biasanya investor melakukan holding period ketika memprediksi nantinya saham yang bersangkutan akan naik. Hanya periodenya tetap ditentukan berapa lama. Jika investor mengetahui bahwa harga sahamnya turun, maka ia akan menjualnya agar tidak mengalami kerugian yang begitu besar.

Menjual saham adalah cara yang tepat untuk terhindar dari kerugian yang sedang mengintai. Cara ini bisa dilakukan di berbagai jenis saham seperti saham properti, saham ritel, saham pertambangan, saham minyak dan gas bumi, dan saham lainnya. Tidak ada larangan sama sekali karena ini termasuk strategi yang paling bisa diandalkan.

Holding period dapat dilakukan untuk menghindari kerugian besar karena semakin sering kamu melakukan jual-beli saham, semakin besar pula uang yang harus kamu keluarkan.

Uang yang kamu keluarkan itu akan diterima oleh broker saham sehingga tidak akan berbalik padamu kembali. Dalam proses jual-beli saham juga kamu diwajibkan untuk membayar pajak. Semakin sering kamu melakukan jual-beli saham, maka besar pajak yang dibayarkan akan semakin besar, hal ini tentu perlu kamu perhitungkan.

Karena dalam saham sendiri seseorang akan mendapatkan keuntungan dari berapa jumlah saham yang dapat dibeli dan dijualnya, tapi bagaimana caranya mengatur saham-saham itu agar menghasilkan keuntungan padanya.

Hal ini juga bisa diterapkan dalam menahan sebuah obligasi. Investor bisa menahan obligasinya dalam waktu dua tahun untuk mendapatkan bunga yang cukup besar. Jadi, holding period bisa dilakukan di berbagai macam jenis bisnis lain.

Ada Dua Macam yang Perlu Diketahui

Holding period dibagi menjadi dua menurut lamanya waktu sebuah saham atau obligasi ditahan. Holding period disebut sebagai jangka panjang apabila penahanan saham dilakukan lebih dari satu tahun atau lebih tanpa adanya masa kedaluwarsa.

Meski tidak ada masa kadaluarsa, kamu harus tetap memperhitungkan kenaikan dan penurunan saham yang telah kamu beli. Karena hal itu akan memengaruhi pendapatan juga. Sedangkan holding period jangka pendek adalah penahanan saham atau obligasi dalam waktu kurang dari setahun.

Waktu penahanan ini ditentukan dengan melihat potensi saham yang bersangkutan akan mengalami kenaikan atau tidak. Untuk memilih holding period jangka panjang atau jangka pendek, kamu bisa berkonsultasi dengan pihak broke. Kamu juga bisa berdiskusi dengan mereka yang menurutmu lebih ahli dalam hal ini. Hal tersebut dilakukan agar kamu tidak salah dalam memilih jangka waktu holding period.

Waktu Melakukan Holding Period

Lalu kapankah waktu dikatakan sebagai masa holding period itu? Misalnya di tanggal 5 Januari 2016 kamu membeli sebuah saham, maka keesokannya yaitu tanggal 6 Januari 2016 adalah masa dimulainya penahanan yang kamu lakukan sampai hari ketika kamu menjual saham itu.

Selama dalam masa holding period ini tentu saja akan ada keuntungan yang bisa kamu kumpulkan. Lamanya holding periode ini akan menentukan implikasi pajak.

Jadi, holding period perlu dilakukan ketika harga saham yang kamu beli sedang baik, dan hal itu terjadi secara simultan. Jika kamu tetap memiliki saham tersebut ketika dalam masa baiknya, maka potensi keuntungan yang akan kamu dapatkan tentu saja semakin besar.

Itulah beberapa hal terkait holding periode yang perlu kamu ketahui untuk berinvestasi. Selain itu, sebagai investor pemula, sebelum kamu memahami holding periode, kamu juga harus memerhatikan investasi reksadana dan saham yang ingun kamu beli. Pastikan kamu memilih instrumen investasi yang tepat sesuai dengan jangka waktu yang kamu inginkan, juga sesuai dengan tujuan kamu memulai berinvestasi.

Selain itu, pastikan juga kamu telah memilih manajer investasi yang pas, apalagi jika instrumen reksa dana yang kamu pilih. Pastikan, kamu memilih platform investasi online yang telah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dengan begitu kamu bisa lebih nyaman dan aman meski menyimpan modal besar didalamnya.

Pastikan juga kamu memonitor grafik saham melalui Bursa Efek Indonesia atau aplikasi lain seperti RTI Business, ini bisa membantu kamu memahami risiko investasi sekaligus melihat naik turunnya nilai investasi kamu. Jadi tunggu apalagi? Yuk mulai investasi reksa dana atau saham dengan lebih mudah, kapan dan di mana saja lewat Ajaib.

Bacaan menarik lainnya:

Fahmi, I., & Hadi, Y. L. (2009). Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Bandung: Alfabeta.


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.  

Mulai Investasi Reksa Dana Dengan Ajaib.
Ayo bergabung dengan Ajaib, aplikasi investasi online terbaik! Bebas biaya pendaftaran, bisa tarik dana kapan saja. Modal awal min. Rp10.000.
Facebook Comment
Artikel Terkait