Ajaib
Menu

Berita

Saham Bank Lagi Bersinar atau Tekor? Intip Kondisi Terbarunya 2025

SarifaOctober 20, 2025

kondisi saham bank

Sebagai salah satu pilar utama pasar modal Indonesia, saham perbankan selalu jadi perhatian, terutama bagi kamu yang baru memulai investasi. Saham-saham bank besar yang akrab disebut “Big Banks” seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI, sering menjadi andalan portofolio. Lantas, di penghujung 2025 ini, bagaimana kondisi sebenarnya? Apakah mereka sedang bersinar atau justru tekor? Artikel ini akan mengupas tuntas tren, kinerja, dan strategi untuk kamu yang ingin memulai investasi.

Apa Saja Tren & Sentimen Terbaru di Saham Perbankan?

Memasuki kuartal terakhir 2025, sektor perbankan dihadapkan pada sentimen yang beragam. Di satu sisi, ada peluang pemulihan yang didorong kebijakan bank sentral, tapi di sisi lain, tekanan global dan ketidakpastian politik dalam negeri masih membayangi.

Aksi Investor Asing dan Sentimen Domestik

Pada periode September-Oktober 2025, arus modal asing sempat keluar cukup besar dari pasar saham Indonesia, termasuk dari saham-saham bank besar seperti BBCA dan BMRI . Namun, situasi mulai berbalik. Menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 22 Oktober 2025, investor asing mulai merespons positif potensi penurunan suku bunga acuan dan kembali melakukan akumulasi pada saham perbankan .

Prospek Pemangkasan Suku Bunga BI

Konsensus pasar memprediksi BI akan memangkas BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,50% dalam RDG Oktober 2025 . Pemangkasan suku bunga biasanya menjadi stimulus bagi sektor perbankan karena dapat mendorong permintaan kredit dan menggerakkan roda ekonomi. Ini adalah salah satu sentimen positif yang sedang diperhatikan pelaku pasar.

Analisis Fundamental & Kinerja Keuangan

Secara fundamental, kinerja emiten perbankan pada tahun 2025 menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah melewati tantangan di awal tahun.

Laba Bersih Mulai Rebound

Laba bersih agregat bank-bank besar pada Februari 2025 menunjukkan pemulihan yang solid dengan pertumbuhan +14% (year-on-year) dan +13% (month-on-month) . Beberapa bank seperti BBRI bahkan mencatatkan lonjakan laba yang sangat signifikan. Sementara itu, di semester pertama 2025, BBCA membukukan laba bersih sebesar Rp 29 triliun, tumbuh 8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya .

Kualitas Aset dan Likuiditas Membaik

Salah satu pendorong pemulihan laba adalah membaiknya kualitas aset, yang tercermin dari penurunan Cost of Credit (CoC) atau biaya risiko kredit. Sebagai contoh, CoC BBRI dilaporkan turun drastis ke level 3,3% pada Februari 2025 . Bank-bank besar juga mencatatkan peningkatan likuiditas, dengan rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) yang mulai turun, menunjukkan dana yang dimiliki bank lebih banyak daripada kredit yang disalurkan .

Performa Saham Perbankan Periode 2025

Untuk memberikan gambaran visual, tabel di bawah ini merangkum performa beberapa saham bank utama per Oktober 2025. Harga dan data kinerja dapat berubah setiap saat.

Tabel Perbandingan Performa Big Banks & Lainnya

Kode SahamHarga Penutupan (20/10/25) Kinerja Laba TerkiniSentimen & Catatan Khusus
BBCALaba Bersih S1 2025: Rp 29 T (+8% YoY) Bank dengan laba tertinggi; fundamental kuat.
BBRILaba Feb 2025: +129% (MoM) Pemulihan laba signifikan; CoC turun.
BMRILaba (Jan-Mei 2025): Rp 19,65 T Pertumbuhan kredit solid di atas 13%.
BBNILaba Bersih S1 2025: Rp 10,09 T Pertumbuhan tabungan +10% (YoY) .
BRISRp 2.640 Pertumbuhan Pendapatan: +10% (YoY, Feb 2025) Saham syariah dengan pertumbuhan pendapatan menarik.

*Keterangan: YoY = Year-on-Year, MoM = Month-on-Month. Data harga historis BRIS tersedia, sementara harga saham Big Banks lainnya pada 20/10 dapat dicek langsung di platform broker.*

Apa yang Menyebabkan Saham Turun?

Meski ada sinyal positif, penting juga memahami faktor-faktor yang dapat membuat saham perbankan terkoreksi:

  • Sentimen Global: Ketegangan geopolitik dan kebijakan The Fed AS dapat memicu aksi jual investor asing dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia .
  • Ketidakpastian Domestik: Gejolak sosial-politik dalam negeri dapat memicu ketidakpastian dan tekanan jual, karena sektor perbankan sangat terekspos dengan kondisi perekonomian domestik .
  • Kekhawatiran atas Pelemahan Rupiah: Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi perhatian serius, karena dapat mempengaruhi stabilitas sistem keuangan dan membatasi ruang gerak BI untuk memangkas suku bunga .

Rekomendasi & Strategi untuk Investor

Menghadapi kondisi yang dinamis, berikut adalah beberapa strategi yang bisa kamu pertimbangkan:

🟢 Untuk Investor Jangka Panjang

  1. Fokus pada Fundamental Kokoh: Pilih bank dengan fundamental terbukti kuat, seperti pertumbuhan laba konsisten, rasio NIM (Net Interest Margin) yang sehat, dan kualitas aset terjaga (NPL rendah). Strategi “buy on dip” (beli saat harga terkoreksi) bisa diterapkan pada saham bank dengan kriteria ini.
  2. Diversifikasi di Dalam Sektor: Jangan menaruh semua dana di satu saham bank. Alokasikan investasi ke beberapa “Big Banks” atau tambahkan saham bank dengan karakteristik berbeda, seperti BRIS yang mewakili segmen syariah yang tumbuh pesat.
  3. Investasi Berkala: Lakukan rata-rata biaya beli (cost averaging) dengan berinvestasi secara rutin. Cara ini mengurangi risiko kesalahan timing dan membangun posisi investasi dalam jangka panjang.

🟡 Untuk Investor Jangka Pendek

  1. Memanfaatkan Volatilitas: Trader dapat memanfaatkan fluktuasi harga harian atau mingguan yang dipicu sentimen berita, seperti menjelang dan setelah pengumuman RDG BI.
  2. Gunakan Analisis Teknikal: Gunakan indikator teknikal seperti Moving Average atau RSI untuk membantu menentukan titik masuk dan keluar yang potensial. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa kombinasi indikator MACD dengan algoritma machine learning seperti Support Vector Machine (SVM) dapat memberikan sinyal yang baik untuk trading saham perbankan .
  3. Kelola Risiko dengan Ketat: Tentukan level stop-loss (batas kerugian) untuk setiap posisi trading guna melindungi modal dari koreksi dalam yang tidak terduga.

Kapan Saat yang Baik Membeli Saham Perbankan?

Timing yang baik untuk membeli saham perbankan adalah ketika beberapa kondisi ini terpenuhi:

  • Valuasi Menarik: Seperti diungkapkan pengamat, valuasi sektor perbankan sempat berada pada level terendah sejak 2022, yang bisa menjadi peluang akumulasi .
  • Suku Bunga Turun: Siklus penurunan suku bunga BI biasanya menjadi katalis positif jangka menengah bagi saham perbankan.
  • Pasar Tenang dari Gejolak: Membeli saat sentimen politik dalam negeri atau global mulai mereda dapat mengurangi risiko penurunan harga lebih lanjut.

Mulai Investasi di Ajaib Sekuritas Sekarang!

Ajaib Sekuritas adalah aplikasi investasi all-in-one yang memudahkan kamu berinvestasi di berbagai instrumen, mulai dari saham Indonesia, reksadana, obligasi, kripto, hingga saham Amerika. Kamu bisa memantau dan membeli saham perbankan favorit seperti BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, dan BRIS secara real-time. Dirancang untuk investor pemula maupun berpengalaman, Ajaib menawarkan pengalaman investasi yang cepat, aman, dan handal. Proses pendaftarannya mudah, sepenuhnya online, serta sudah berizin dan diawasi oleh OJK dan BAPPEBTI.

Google Play StoreApple App Store

Artikel Populer

Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi

Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!

Saham Bank Lagi Bersinar atau Tekor? Intip Kondisi Terbarunya 2025 - Ajaib